
Sebenarnya masih banyak yang ingin di bicarakan oleh Ricky pada Kiara. Bahkan kalimatnya tadi saja belum lagi tuntas setelah akhirnya Arfan datang dan menggagalkan niatnya.
Ricky menarik nafasnya dengan berat. "Baikalah, mungkin lain kali saja kita bicara. Masih ada banyak hal yang ingin aku bicarakan. Dan bila ada waktu aku akan menjemputmu untuk pergi keluar." Sambil memandang tidak suka pada Arfan yang berdiri menunggu di sana.
Kiara membuang wajahnya mendengar kalimat "akan menjemput" yang keluar dari mulut Ricky. Atas dasar apa pria dingin ini tiba-tiba berubah menjadi lebih hangat. Perasaan bersalahkah atau mungkin ada perasaan yang lain? Tapi ia tidak ingin terlalu cepat menyimpulkan. Walau bagaimana pun ia pernah kecewa pada pria yang ada di hadapannya itu. Ia tidak ingin lagi berharap terlalu banyak dan bahkan saat ini ia sedang berusaha melupakan perasaannya.
"Bukan kah kita sudah tidak ada apa-apa lagi? Dan kamu sendiri yang menginginkan agar kita menyudahi perjanjian yang menurut kamu konyol tersebut!"
Kini Kiara mengembalikan kata-kata yang pernah di lontarkan Ricky padanya beberapa waktu lalu. Ricky pun bagai menjilat ludahnya sendiri.
"Untuk itu lah aku minta maaf. Aku terlalu egois hanya memikirkan perasaan ku saja tanpa memikirkan perasaan mu. Aku ingin menebus kesalahanku padamu dan untuk waktu yang tersisa aku ingin kita bisa menyelesaikannya." Berusaha mendapatkan kesempatan namun tanpa sadar yang ia lakukan malah semakin menambah rasa kekecewaan Kiara padanya.
Yang ada di pikiran Kiara saat ini adalah Ricky hanya datang untuk menyelesaikan perjanjian tersebut. Lalu bagaimana setelah waktu dari perjanjian itu berakhir? Apakah setelah itu Ricky akan tetap menolaknya? Jika memang Ricky mencintainya lalu kenapa tidak langsung mengatakannya saja tanpa harus mengungkit perjanjian yang membuat dadanya sesak bila ia mengingatnya.
"Ayo, sebaiknya kita pergi sekarang sebelum terlalu larut." Suara Arfan akhirnya kembali memutus pembicaraan antara Ricky dan Kiara.
Kiara menoleh pada Arfan yang sudah berdiri di sampingnya lalu ia pun mengangguk. "Aku pergi," ucapnya pada Ricky yang masih mematung di hadapannya.
Tak terima rasanya melihat wanita yang dulu selalu berjalan dan berdampingan dengannya namun kini berada di samping pria lain. Ingin rasanya ia menjauhkan Arfan dari Kiara saat itu juga. Namun ia tak punya kuasa untuk itu.
Akhirnya Ricky hanya bisa menatap pasrah saja melihat wanita yang kini baru di sadarinya telah mencuri bagian terpenting dalam hidupnya. Kemudian ia pun keluar dari rumah megah tersebut lalu menaiki mobilnya untuk pulang.
Ricky menjatuhkan tubuhnya di tempat tidurnya sambil memejam sebentar.
__ADS_1
Ia hanya bisa mengingat bagaimana beberapa waktu lalu Kiara begitu sangat memperhatikannya. Dari pagi siang dan malam Kiara tak hentinya memberikan perhatian, baik itu sekedar mengingatkan untuk makan bahkan Kiara juga hapal vitamin yang biasa di minumnya. Kini ia telah kehilangan semua momen tersebut karena ulahnya sendiri.
Pagi yang cerah dengan suasana hati yang gelisah. Ricky mengumpulkan nyawanya untuk beranjak dari tempat tidurnya lalu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah mandi dan mengenakan seragam kantornya ia pun langsung menuju ke dapur untuk sarapan. Ia mendesah kesal baru ingat kalau ia belum belanja keperluan dapur. Ia ingin sekali pergi ke rumah utama untuk sarapan di sana. Namun teringat Mamanya yang masih mendiamkan nya akhirnya ia mengurungkan niatnya dan memilih untuk sarapan dengan menyeduh sereal yang masih ada tersisa di lemari penyimpanan nya.
Raisa memandang pada Putranya yang sudah tampak rapi melewatinya yang sedang menyiram bunga pagi itu. Ingin rasanya ia menanyai apakah Ricky sudah sarapan atau jangan-jangan pergi dalam keadaan perut yang kosong. Apa lagi mengingat Ricky sangat lemah dalam segi kesehatan. Namun di tekannya perasaan itu dan berusaha fokus pada bunga-bunga yang di siramnya agar perhatiannya teralihkan.
Namun bukan seorang ibu namanya jika bisa begitu saja mengabaikan kesehatan Putranya. Ia pergi ke dalam dan menemui Bara.
"Pah, tolong tanya Ricky apakah dia udah sarapan atau belum," pinta Raisa pada suaminya yang juga sudah bersiap hendak pergi ke kantornya.
Bara mengerti masalah yang terjadi pada ibu dan anak tersebut.
"Hmm," angguk Raisa.
-
-
-
Nia merapikan meja makan lalu mencuci piring kotor bekas mereka sarapan pagi itu. Kemudian ia pergi ke kampus dengan motornya. Sedangkan Adit sudah pergi lebih dahulu ke kantor tempat ia bekerja.
__ADS_1
Tidak ada yang berubah setelah mereka menikah. Mereka masih melakukan pekerjaan yang sama. Hanya saja mereka sekarang tinggal satu atap dan yang paling berkesan mereka bisa saling menguatkan dan memberikan dukungan untuk saling menyemangati dalam pekerjaan masing-masing.
Fokus pada satu tujuan saat ini untuk meraih sukses bersama dengan sama-sama berjuang.
Nia memarkirkan motornya lalu berjalan melewati halaman kampus yang sudah tampak ramai dengan beberapa mahasiswa dan mahasiswi. Pandangannya tertuju pada sebuah mobil mewah yang baru datang dari pintu gerbang kampus. Dari dalam mobil tersebut keluar lah seorang wanita cantik nan seksi, siapa lagi kalau bukan dosen cantik Kiara Maharani yang sering jadi bahan perbincangan anak-anak kampus terutama para mahasiswa.
Sedikit banyak nya ia juga mendengar kalau dosen cantik yang sering di panggil Bu Kiara tersebut pernah mengejar-ngejar salah satu mahasiswanya yang tak lain adalah salah satu sahabat suaminya.
Sekilas Nia tampak terkejut saat melihat laki-laki yang keluar dari mobil yang sama dan terlihat sangat akrab dengan Kiara. Sebelumnya ia juga sudah tau kalau Kiara dan Ricky sedang bersama. Tapi laki-laki yang keluar dari mobil tersebut jelas bukan Ricky. Siapakah laki-laki tersebut? Apakah bu Kiara sudah tidak lagi bersama Ricky? Nia beranta-tanya dalam hati.
Entah kenapa ke kepoan nya di masa lajang masih saja mengikutinya meski kini ia sudah menikah. Nia masih penasaran mengenai hubungan Kiara dan Ricky yang dulu sempat ia dengar dari dari suaminya.
Adit yang tak sengaja memperhatikan sikap Nia tersebut akhirnya bertanya. "Ada apa? Kuliah kamu baik-baik aja,kan? Gak ada masalah?"
Nia menoleh pada sang suami lalu menggeleng dan melanjutkan makannya.
"Lalu kenapa dari tadi diam aja?"
"Hmm, tadi aku melihat bu Kiara." Agak ragu Nia berucap.
"Di kampus kamu melihat bu Kiara. Aku rasa wajar aja karena bu Kiara memang bekerja di sana," sahut Adit acuh dan fokus dengan nasi di piringnya.
"Bagaimana perkembangan hubungan Ricky dengan bu Kiara?"
__ADS_1
Sejak mereka pacaran Nia tidak pernah sekli pun bertanya masalah mengenai para sahabatnaya. Kalau pun dia bercerita palingan selama ini Nia hanya akan mendengarkan saja tanpa berkomentar apa pun.