Mencintai Ibu Sahabatku

Mencintai Ibu Sahabatku
Episode 53


__ADS_3

Rosma yang merasa penasaran sejak kepulangan anaknya, memang sudah menunggu ingin segera menanyai.


Usai mandi dan berpakaian, Dimas pergi ke dapur untuk memeriksa barangkali ada sesuatu yang bisa ia makan. Ia pun menengok isi kulkas.


"Dim..., kamu gak mau ngomong sama Mama, kenapa kamu sampai pulang dengan keadaan seperti itu?" Tanya Rosma yang sudah berdiri di dekat kulkas.


Dimas sedikit terkejut mlihat Mamanya ada di sana.


"Tadi waktu di jalan pulang, Dimas bantuin nangkap Kambing warga yang terlepas," jawab Dimas.


"Kambing?"


Meski masih kurang puas dengan jawaban yang di berikan putranya, tapi Rosma berusaha melupakannya.


Dimas pun membawa piringnya menuju meja makan.Meski ada pembantu di rumahnya, ia cukup tau diri untuk tidak mengganggu jam istirahat mereka.


"Ya sudah, Mama mau istirahat dulu."


"Gak nemenin Dimas dulu?" Tanya Dimas pada Mamanya yang hendak pergi dari sana.


"Makanya, kamu buruan nyari pendamping biar ada yang nemenin," sahut Rosma meninggalkan putranya itu sendiri di meja makan.


Setelah menghabiskan makan malamnya Dimas kembali ke kamarnya. Ia kembali memkirkan apa yang telah di katakan Mamanya.


"Gue emang harus secepatnya buat dapetin hatinya Fitri," gumamnya.


Meski rencananya malam itu gagal, tapi ia cukup senang karena ia dan Fitri sudah tidak kaku lagi saat bertemu.


Ia mulai membayangkan bagaimana nanti impiannya untuk meminang Fitri segera terwujud.


Terlalu banyak berhayal membuat Dimas akhirnya terlelap dalam tidurnya.


...Di Rumah Pak Edy...


Setelah bersih-bersih Pak Edy duduk di ruang tamunya sambil menonton TV dan menikmati secangkir kopi yang telah di buatkan oleh Fitri.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya di dapur, Fitri ikut duduk di sebelah Ayahnya.


"Ayah...," panggil Fitri.


"Ada apa?" Sahut Ayahnya tanpa menoleh karena sedang menonton TV.


"Ayah tau, kenapa Bang Dimas tadi kesini?" Tanya Fitri.


"Siapa Dimas?" Tanya Ayahnya kembali.


"Yang tadi nolongin Ayah buat nangkap Kambing Pak Mamad...," jawab Fitri.

__ADS_1


"Astaghfirullah...," ucap Pak Edy seraya pergi keluar dan memeriksa teras rumahnya. "Kemana dia? Apa sudah pulang?" Tanyanya pada Putrinya.


"Ya pulang lah Yah..., orang Bang Dimas kotor gitu," jawab Fitri seraya mengambil cangkir kopi yang sudah kosong dan membawanya ke dapur.


"Ayah belum sempat ngucapin terimakasih sama anak itu," ucap Pak Edy seraya menuju ke kamarnya.


"Namanya Bang Dimas Yah...," ucap Fitri mengingatkan Ayahnya.


"Ya terserah lah siapa namanya, lain kali kalau ketemu lagi Ayah akan bilang terimakasih ke dia," ucap Pak Edy seraya menutup pintu kamarnya dan beristirahat karena besok pagi ia ingin segera melihat keadaan kebun sayurnya.


Fitri hanya menggeleng seraya tersenyum karena sudah sangat memaklumi penyakit pelupa Ayahnya itu.


...***...


Setelah insiden Kambing yang masuk ke kebun waktu itu, hubungan Dimas dengan Ayah Fitri kini mulai akrab. Dimas pun tak lagi sungkan saat bertamu ke rumah Fitri.


Melihat Dimas yang cukup berjuang untuk mendapatkan hati Ayahnya, Fitri pun mulai yakin bahwa Dimas tidak,lah main-main.


Malam itu Dimas datang ke rumah Fitri dan mengobrol dengan Ayah Fitri di bangku teras. Tidak lama ada beberapa warga yang datang ke rumah.


"Assalamu'alaikum," ucapan salah satu warga tersebut.


"Wa'alaikumsalam...," jawab Dimas dan Pak Edy bersamaan.


"Ada apa ini rame-rame?" Tanya Pak Edy.


Pak Edy pun menyetujui dan tak lupa ia mengajak Dimas juga.


Ternyata disana sudah ada beberapa warga yang sudah menunggu kedatangan Pak Edy. Dan sudah ada lawan juga yang akan menantang Pak Edy bermain catur.


"Selamat malam Pak Edy...," ucap mereka yang ada di Pos ronda tersebut. "Wahh, siapa nih Pak Edy, calon mantunya,ya?" Tanya salah satu dari mereka.


"Ini namanya Nak Dimas," ucap Pak Edy memperkenalkan.


"Selamat malam bapak-bapak semua...," ucap Dimas seraya membungkuk kan badannya.


"Ganteng ya...."


"Ayoo..., kita mulai saja," ujar Pak Edy menyudahi.


Karena Dimas tidak mengerti samasekali tentang permainan itu, akhirnya ia hanya diam memperhatikan Pak Edy yang tengah bermain.


Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10. Dimas dan Pak Edy pun pamit pulang.


Dimas sudah sampai di rumahnya dan masuk ke kamarnya. Ia menghempaskan tubuhnya di tempat tidur dan memejamkan matanya sebentar seraya menarik nafas dalam-dalam.


Sebelum ia dan Pak Edy meninggalkan Pos ronda tadi, ia teringat ucapan beberapa warga yang entah benar atau hanya sedang iseng saja.

__ADS_1


Ia berdiri dan masuk ke kamar mandi. Beberapa saat ia keluar dan sudah berganti pakaian. Ia merebahkan kembali tubuhnya di tempat tidur. Beberapa saat ia pun terlelap.


...***...


Dimas membuka sebuah situs dan mempelajari cara bermain catur dari situs tersebut. Sudah hampir 30menit ia berkutat di depan laptopnya namun tidak sedikit pun ia memahami permainan tersebut.


Jam makan siangnya pun berlalu. Terasa lelah dan juga pusing di kepalanya.


"Apa aku harus cari orang yang bisa mengajariku bermain catur," batinnya.


Malam itu pun Dimas berniat untuk menemui Bara. Mungkin dengan menemui sahabatnya itu iya bisa mendapatkan solusi dari masalahnya saat ini.


Selain itu mereka memang sudah lama tidak bertemu dan ngumpul seperti biasanya karena kesibukan masing-masing.


"Wahh, akhirnya ada yang dateng juga," ucap Ricky saat membukakan pintu untuk Dimas. "Pasti loe mau ngundang kita buat hadir ke acara pernikahan loe,kan?"


"Apa kabar loe?" Tanya Dimas.


"Alhamdulillah..., gue baik. Loe sendiri gimana?"


"Gue juga baik. Bokap tiri loe gimana?" Tanya Dimas seraya terkekeh. Sudah lama mereka tidak bercanda.


"Ada di dalam..., sebentar lagi juga pasti keluar," jawab Ricky sambil menuju bangku teras yang di ikuti oleh Dimas pula.


Bangku teras tersebut adalah salah satu saksi bisu dari sekian lama persahabatan yang mereka jalin.


Tidak lama Bara pun keluar menemui Dimas dan Adit yang sedang berbincang di teras.


Setelah saling menanyakan kabar, akhirnya Dimas mulai bercerita tentang dirinya yang ingin belajar cara bermain catur. Dan apa yang menyebabkan dirinya ingin bisa bermain catur tersebut.


Bukan tidak mau membantu. Tapi, baik Ricky mau pun Bara sama-sama tidak tau sedikit pun masalah permainan catur.


"Loe tenang aja, ntar gue bantu buat nyari orang yang bisa ngajarin loe main catur. Sampe loe bener-bener mahir deh," ucap Bara.


"Tapi masalahnya kalo gue harus belajar lagi, maka akan membutuhkan waktu untuk itu. Keburu Fitri di lamar orang...," ungkap Dimas dengan wajah frustasinya.


"Loe berdo'a aja biar gak ada yang ngalahin bokap nya selama loe dalam proses belajar main catur...," ucap Ricky menimpali obrolan keduanya, karena sedari tadi ia hanya menjadi pendengar saja.


Karena sudah terlalu larut akhirnya Dimas pun pamit pulang.


-


-


-


Di beberapa episode kali ini Author fokus buat nyeritain perjalanan cinta Dimas sama Fitri dulu yaa...😂😂

__ADS_1


Terimakasih untuk kalian semua😘😘


__ADS_2