Mencintai Ibu Sahabatku

Mencintai Ibu Sahabatku
Episode 66


__ADS_3

Sudah sebulan Adit bekerja di cafe dan hari ini ia menerima gaji pertamanya. Ia memandangi uang gaji yang ada di tangannya. Meski tak seberapa tapi kini ia bisa merasakan betapa nikmatnya hasil dari jerih payahnya sendiri. Ia berniat untuk mengajak Nia makan di luar selepas jam kerja nanti dan kebetulan ada sesuatu yang ingin ia sampaikan pada wanita yang kini sudah merubah pandangannya tersebut.


"Kita mau pergi kemana?" Tanya Nia pada Adit yang mengajaknya untuk pergi dengan satu motor saja. Adit mengajak Nia untuk naik ke motornya.


"Udah, jangan bawel," ucap Adit, dan Nia pun menurut saja dengan rasa penasaran yang bersarang di dadanya.


Debaran-debaran itu kini datang lagi bahkan lebih besar dan terasa kuat ketika Nia berada dekat dengan pria yang kini memboncengnya. Sambil fokus menyetir Adit sudah mempersiapkan kata-katanya kelak untuk mengungkapkan perasaannya pada wanita yang ada di belakangnya saat ini.


Tibalah mereka di sebuah tempat makan di mana Nia mengajaknya tempo hari. Karena tengah asik melamun Nia sampai tidak sadar kalau motor sudah berhenti.


"Udah nyampe, loe masih mau duduk di sini?" Suara Adit membuyarkan lamunan Nia.


"Eh, e iya. Kita ngapain kesini?" Saking gugupnya sampai-sampai Nia lupa apa tujuan orang-orang jika pergi ke rumah makan.


"Bulan madu," sahut Adit membuat Nia menunduk dengan pipi yang memerah. "Ya makan lah. Ayo," ajak Adit. Nia pun mengikuti Adit dari belakang lalu mereka mencari tempat duduk dan memesan makanan.


Sambil menunggu makanan yang pesan datang, Adit pun memulai pembicaraan dengan mengucapkan rasa terimakasihnya pada Nia. "Sebelumnya gue ucapin terimakasih banget buat loe karena selama ini loe udah bantuin gue," ucap Adit.


Ahh, Nia sempat berpikir kalau Adit akan mengatakan kalau dia menyukainya. Melihat dari perubahan sikap yang di tunjukan Adit selama ini, ia sangat yakin kalau Adit memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Ternyata lelaki yang duduk di hadapannya itu hanya bersikap baik karena merasa berhutang budi saja. Bukan ini yang ia harapkan. Ia tulus membantu dan jujur saja ia menyukai lelaki yang dulu selalu adu mulut dengannya itu.


"Iya, bukannya sesama manusia harus saling tolong menolong. Lagian loe juga pernah bantuin gue waktu motor gue mogok waktu itu," jawab Nia memasang senyum. Sementara hati kecilnya menjerit kecewa.


"Dia nolongin gue karena hanya karena atas dasar rasa kemanusiaan? Ternyata ucapan gue beberapa waktu lalu kini telah berbalik." Adit membatin sembari mengingat dulu ia pernah membantu Nia atas dasar rasa kemanusiaan. Mana ia tau kalau ternyata wanita yang dulu ia anggap tukang nyolot itu kini telah menempati hatinya. Kata-kata yang sudah di persiapkan kini mengambang begitu saja. Ia tidak tau harus berkata apa beruntung makanan yang mereka pesan sudah datang memecah kecanggungan kedua orang yang sedang jatuh cinta ini namun masih malu-malu untuk berterus terang. Adit yang biasanya selalu blak-blakan bahkan kadang tidak pakai takaran jika berbicara kini terlihat kikuk di hadapan cinta. Cinta yang sesungguhnya.


Usai makan mereka pun pergi dan Adit mengantarkan Nia ke cafe tempat mereka bekerja di mana Nia memarkirkan motornya di area cafe tersebut.


"Terimakasih atas traktiran nya," ucap Nia setelah turun dari motor Adit.

__ADS_1


Adit hanya mengangguk sambil menimbang keinginan untuk menyatakan perasaannya atau ia harus menundanya. Lalu, "sebenernya ada yang mau gue omongin ke loe," ucap Adit dan Nia pun mengucapkan hal yang sama. Dan suasana canggung pun semakin meliputi dua orang yang sedang kasmaran ini.


"Loe duluan," ucap Adit.


"Loe aja deh," balas Nia mencoba untuk mengalah.


"Loe aja."


Tidak ingin berdebat terlalu lama masalah siapa yang harus ngomong duluan akhirnya Nia pun mengambil keputusan kalau dia lah yang akan memulai lebih dulu. Huufft, dengan satu tarikan nafas Nia memulai kata-katanya.


"Gue gak tau harus mulai darimana, entah sejak kapan rasa ini ada dan gue gak peduli apa yang loe pikirkan tentang gue jika gue mengatakan kalau sebenernya GUE SUKA SAMA LOE." Usai mengatakan itu Nia langsung berbalik. Seketika wajahnya menjadi panas dan ingin rasanya ia segera meninggalkan tempat itu dengan menaiki motornya lalu memacunya dengan sekencang-kencangnaya.


Adit sempat terdiam mendengar kata-kata Nia yang sangat mengejutkannya. Ini di luar dugaan. Terlalu mudah bagi dirinya tapi ia sangat bahagia meski ia kalah dalam segi keberanian. Sebelum wanita yang ia cintai pergi dari hadapannya ia segera menahan langkah itu.


"Tunggu, loe belum dengar apa yang mau gue omongin,kan?" Membuat Nia terdiam namun ia masih sangat malu untuk membalikan badannya.


"Kania, kamu mau kan jadi pacar aku?"


Hanya dengan satu kali anggukan maka mereka akan resmi jadian malam itu. Meski ia yang menyatakan lebih dulu, tapi Nia tidak ingin langsung menjawabnya. Ia menunggu agar Adit mengatakan lagi. Ia menjadi sangat gugup saat tiba-tiba ada yang menyentuh pundaknya. Ya, itu sentuhan dari Adit yang secara tidak langsung ingin agar ia berbalik membalas tatapannya. Nia pun membalikan badannya. Ia melihat sorot mata dari pria di hadapannya itu penuh ketulusan. Tidak sedang bergurau, bahkan ia hampir tidak mengenali kalau pria itu lah yang dulu pernah bertengkar dengannya.


"Kania,, kamu mau kan jadi pacar aku?" Tanya Adit lagi.


Nia yang sempat terhanyut oleh tatapan itu pun langsung tersadar. "E i iya, aku mau." Sambil mengangguk.


"Mau apa?" Tanya Adit.


"A -- aku mau jadi pacar kamu," jawab Nia tergagap.

__ADS_1


"Kirain mau langsung jadi istri aja." Adit tergelak.


Nia sadar ternyata Adit masih saja mengerjainya dan ternyata ia salah mengira kalau pria itu akan berubah menjadi pria yang serius. "Tapi semoga cintanya serius," batin Nia.


"Emang kamu punya modal buat nikahin aku?" Balas Nia.


"Ya kita nabung dulu biar bisa honeymoon ke bulan."


Uhh, malam yang cerah meski hanya berada di sebuah parkiran jika sudah berduaan maka yang ketiga adalah setan (wkwkwk)


...***...


Satu tahun kemudian


Ricky mulai sibuk menyiapkan bahan skripsinya. Sudah beberapa hari ini ia berjibaku dengan lembaran-lembaran kertas tersebut. Karena merasa gerah akibat AC di kamarnya tersebut sedang rusak maka ia membawa pekerjaannya ke ruang tengah.


"Rick, tolong jagain adek loe bentar. Nyokap loe lagi keluar sama mbak Tari. Gue kebelet," ucap Bara seraya memberikan Ayara pada Ricky.


Kini bayi mungil itu sudah berubah menjadi balita yang sangat menggemaskan. Ia sedang aktif-aktifnya saat ini.


-


-


-


Jangan lupa jejak dukungannya yaa,,

__ADS_1


Terimakasih 😘😘


__ADS_2