Mencintai Ibu Sahabatku

Mencintai Ibu Sahabatku
Episode 57


__ADS_3

Setelah usai makan malam Dimas memberanikan diri untuk berbicara pada kedua orangtuanya.


"Ma, Pa, ada yang ingin Dimas omongin ke Mama dan Papa."


"Iya, silahkan. Ada apa?" Tanya Wijaya memandang pada Putranya.


"Ehm, begini...Papa kan tau aku sudah mencintai wanita lain yang pernah aku ceritakan waktu itu ke Papa."


"Lalu?"


"Jadi...aku nggak mau di jodohin sama Kiara anak dari teman Papa," jelas Dimas.


Rosma dan Wijaya saling berpandangan lalu mereka tersenyum.


"Emang Papa pernah ngomong mau jodohin kamu sama Kaira?" Tanya Wijaya pada anaknya.


"Dan mana katanya wanita yang kamu suka? Kok nggak di ajak kemari buat di kenalin sama Mama dan Papa?" Tanya Rosma.


Jangan kan untuk di bawa pergi, menemui ke rumahnya saja syukur-syukur jika di ijinkan mengobrol. Batin Dimas.


"Em, mungkin kapan-kapan Dimas akan ajak kemari, karena Ayahnya galak," jelas Dimas sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Rosma dan Wijaya tidak dapat menyembunyikan tawa mereka ketika mendengar penjelasan putranya itu.


"Kamu mengira Papa bakal menjodohkan kamu sama anaknya. Mana mau Om Usman punya menantu yang pesimis kayak kamu" ucap Wijaya seraya melewati putranya. Sementara Dimas hanya terdiam melihat tanggapan dari Papanya padahal ia belum selesai berbicara. Tapi ia sangat senang karena ternyata ia dan Kiara tidak di jodohkan. Tapi pertanyaan demi pertanyaan muncul di kepalanya.


"Dasar kepedean," ucap Rosma yang juga beranjak dari tempat duduknya lalu menyusul suaminya.


"Kalau gue nggak di jodohin terus kenapa Papa sampai ngundang Om Usman kemari tempo hari? Dan Mama juga sengaja kayak pengen aku sama Kiara biar dekat gitu?" Batin Dimas.


"Udah lah, pusing gue!" Ucap Dimas seraya pergi meninggalkan tempat duduknya lalu menuju ke kamarnya. Tiba di kamar ia meraih ponselnya lalu menghubungi Adit.


"Ada apa lagi? Loe mau ngabarin tentang hari bahagia loe,kan? Selamat --- "


"Eh loe kalo ngomong jangan asal! Main tebak aja loe!"


Adit pun terkekeh. "Terus ada apa?"


"Ternyata gue gak di jodohin sama Kiara," ungkap Dimas.


"Loe serius?"


"Ya serius lah."


"Padahal loe ngarep,kan?" Nyinyir Adit.


"Terserah loe, yang jelas gue udah bebas buat kembali ngejar Fitri."

__ADS_1


"Oh, baguslah. Berarti gue bebas dong buat narik perhatiannya Bu Kiara."


Dimas mematikan ponselnya lalu bersegera untuk istirahat berharap malam akan secepatnya berganti siang karena esok ia berniat pergi ke rumah Fitri.


-


-


-


Setelah pulang dari kantor Dimas langsung menuju ke rumah Fitri. Ia memarkirkan mobilnya di halaman yang cukup luas itu lalu mengetuk pintu.


"Eh Bang Dimas," ucap Fitri ketika melihat siapa tamu yang datang ke rumahnya.


"Selamat sore," ucap Dimas.


"Duduk dulu Bang." Seraya Fitri mempersilakan Dimas duduk di bangku terasnya.


"Kamu apa kabar?" Tanya Dimas.


"Alhamdulillah baik Bang. Abang sendiri gimana?"


"Baik. Ayah kamu bagaimana?"


"Ayah juga baik. Dan mungkin sebentar lagi Ayah pulang dari kebun. Dan akhir-akhir ini hampir setiap malam Ayah pulang larut terus karena sering dapat lawan buat main catur di pos ronda," jelas Fitri.


"Sebentar, Fitri buatin minum dulu ya Bang."


"Nggak usah, aku cuma sebentar. Sebenarnya ada yang pengen aku omongin."


"Oh, iya silahkan."


"Apa selama ini kamu punya seseorang yang --- "


"Asslamu'alaikum...."


"Wa'alaikumsalam...," jawab Fitri dan Dimas.


"Selamat sore Om," ucap Dimas menyapa Pak Edy yang baru datang dari kebunnya.


"Eh nak Dimas, sudah lama?"


"Baru koq Pak, dan sebentar lagi juga pulang. Saya hanya mampir sebentar."


"Ya sudah, saya masuk dulu mau bersih-bersih," ucap Pak Edy seraya masuk ke dalam.


"Oiya, Bang Dimas mau ngomong apa tadi?" Tanya Fitri.

__ADS_1


Dimas agak gugup saat ingin melanjutkan kata-katanya tadi. Belum pernah ia segugup ini saat berhadapan dengan seorang wanita.


"Apa kamu sudah punya kekasih atau calon pendamping yang akan --- "


"Belum." Jawab Fitri. "Fitri nggak pernah pacaran dan belum ada calon juga seperti yang Abang maksud. Kalau pun ada yang bersedia, semua akan Fitri serahin ke Ayah," jelas Fitri sedikit tertunduk karena malu.


Mendengar jawaban dari Fitri Dimas hanya bisa mengusap gusar wajahnya. "Sepertinya gue emang harus bisa naklukin bokapnya dulu," ucap Dimas dalam hatinya. Lalu setelah itu ia pun pamit pulang.


Setelah makan malam Pak Edy kedatangan beberapa warga yang menjemputnya untuk bermain catur.


"Apa sebaiknya Ayah tidak usah pergi dulu malam ini, Fitri khawatir dengan kesehatan Ayah," ucap Fitri berusaha mencegah Pak Edy agar tidak pergi.


"Hanya sebentar, Ayah belum bisa mengalahkan lawan Ayah yang satu ini." Pak Edy membetulkan simpul sarungnya lalu meraih cangkir kopinya untuk di bawa ke pos ronda. Fitri hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat Ayahnya tersebut.


Tiba di pos ronda permainan pun di mulai. Kali ini bahkan Pak Edy menyebut asma Allah berharap ia akan memenangkan permainan tersebut. Namun sepertinya Pak Edy sudah waktunya menerima kenyataan bahwa kini sudah ada yang berhasil mengalahkannya.


"Wahh...,beruntung banget jika saya yang mengalahkan Pak Edy, pasti saya bisa langsung di terima untuk jadi calon menantunya karena sudah berhasil ngalahin Pak Edy bermain catur," celetuk salah satu warga yang menyaksikan.


Pak Edy hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu menghabiskan sisa kopi di cangkirnya. "Udah malam, saya pamit dulu," ucap Pak Edy.


"Kalau begitu saya juga pamit. Selamat malam," ucap lawan main Pak Edy juga berpamitan.


Setelah makan siang Pak Edy bersantai di teras rumahnya. Lalu ia menatap sebuah mobil yang berhenti tepat di halaman rumahnya. Ia sedikit terkejut ketika melihat orang yang keluar dari mobil tersebut.


"Assalamua'laikum...."


"Wa'alaikumsalam," jawab Pak Edy. "Wahh suatu kehormatan saya kedatangan lawan tangguh seperti Pak Wijaya," ucap Pak Edy seraya tersenyum menyambut tamunya. "Mari silahkan masuk."


Setelah mengajak tamunya duduk di ruang tamu, Pak Edy memanggil putrinya untuk membuatkan minuman.


Fitri pun segera melaksanakan perintah Ayahnya. Setelah meletakan minuman di atas meja ia kembali ke kamarnya.


"Saya tidak ingin membuang buang waktu, dan sebaiknya saya sampaikan saja maksud kedatangan saya kemari. Bahwa saya ingin melamar putri Pak Edy," tutur Wijaya.


Pak Edy benar-benar terkejut saat mendengar maksud kedatangan teman barunya itu.


"Maksud saya adalah ingin melamar putri Pak Edy untuk anak saya," jelas Wijaya lagi. "Terlepas dari masalah permainan catur, saya sungguh-sungguh ingin melamar putri Pak Edy untuk di jadikan pendamping anak saya."


"Kalau begitu, kenapa Pak Wijaya harus memilih putri saya sebagai calon menantu?"


Wijaya akhirnya menceritakan tentang siapa dia dan tentang anaknya Dimas yang sangat ingin menikahi putrinya.


Pak Edy hanya mengangguk saja mendengar penjelasan Wijaya.


"Fitri itu adalah putri saya satu-satunya, saya hanya tidak ingin menyerahkan dia pada laki-laki yang salah. Layak atau tidaknya seorang laki-laki itu di lihat dari cara ia meminta restu pada orangtua sang perempuan. Jika dia bersungguh-sungguh,besok dampingi dia untuk meminta langsung kepada saya."


Ucapan Pak Edy membuat Wijaya merasa lega. "Baik, besok pagi kami akan datang."

__ADS_1


__ADS_2