
"Sampai saat ini belum ada pendonor yang cocok dengan golongan darah Ricky," jawab Adit dengan wajah frustasi dan tampak ia sangat berduka sekali dengan kejadian yang menimpa sahabatnya itu.
"Apa golongan darahnya?"
"O negatif." Menyebut golongan darah sahabatnya saja sudah membuatnya sangat frustasi.
"O negatif? Jika benar, maka ambil saja darahku sekarang. Darahku juga O negatif."
Seketika Adit menoleh ke arah Nia yang berada di sampingnya. Dengan wajah penuh dengan harapan ia mencari kesungguhan pada ucapan istrinya tersebut. Semua yang ada di situ juga mendengar apa yang di ucapkan Nia.
"Sayang...,kamu serius?" Adit menanyai karena hampir tidak percaya kalau istrinya ternyata memiliki golongan darah yang sama dengan Ricky.
"Aku serius. Mana mungkin aku berbohong dalam keadaan seperti ini," jelas Nia.
Mereka yang ada di situ saling bertukar pandang. Antara panik dan juga merasa senang kalau ternayata ada golongan darah yang cocok dan bisa menolong nyawa Ricky.
Tanpa menunggu lagi Ricky pun langsung di bawa ke ruang operasi.
Raisa masih menangis meski tak sehisteris sebelumnya. Dengan sabar Bara terus berusaha menenangkannya.
"Apa mungkin dia kelelahan karena beberapa waktu belakangan ini aku tidak mengurusinya. Pasti dia pergi dalam keadaan belum sarapan sehingga dia tidak fokus saat mengemudi." Raisa terus saja berbicara dengan air mata yang terus mengaliri pipinya. Ia menyalahkan dirinya karena akhir-akhir ini ia tidak begitu memperhatikan Putranya tersebut. Karena hal itu di sengajanya untuk memberikan pelajaran atas kesalahan Ricky pada Kiara. Sebagai seorang ibu ia merasa sangat berdosa setelah sebelumnya ia sempat mengabaikan putranya hanya karena ingin memberikannya sebuah pelajaran.
"Ssstt...." Bara meraih tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Mengusap punggung istrinya yang terguncang karena menangis. "Yakin lah, Ricky akan baik-baik saja. Dia sekarang sudah menjadi pria dewasa yang kuat, bukan Ricky yang manja lagi."
Di sudut lain ada Dimas dan Adit yang terduduk diam dengan pemikiran mereka masing-masing. Yang pasti mereka berharap untuk keselamatan Ricky.
Sudah lebih lima jam menunggu, namun lampu di ruang operasi tersebut masih menyala. Bara melihat ke arah istrinya yang masih setia duduk dengan wajah sembabnya karena terlalu banyak menangis. Tampak wajah kelelahan dari mereka yang sedang berada di ruangan tersebut. Namun tak menyurutkan niat mereka untuk menunggu hingga operasi selesai.
__ADS_1
Dimas memasukan ponselnya ke saku celananya setelah memberikan kabar pada Fitri tentang keberadaannya yang masih di rumah sakit. Kemudian ia beranjak dari tempat duduknya. Setelah beberapa saat ia kembali dengan membawa beberapa gelas kopi dan meletakannya di kursi tunggu yang kosong.
Adit mengambil kopi tersebut untuk membasahi tenggorokanny yang memang sudah terasa kering.
"Sayang...,apa kamu lapar?" Bara menanyai Raisa yang bersandar di bahunya. Raisa hanya menggelengkan kepalanya.
"Tapi kamu harus tetap makan, aku gak mau kalau kamu sampai sakit." Bara membujuk berharap istrinya mau mendengarkan ucapannya. Ia tau istrinya itu memang tidak merasa lapar karena terlalu gelisah memikirkan orang yang dia sayangi. Tapi ia tetap beranjak untuk mencarikan sesuatu yang bisa untuk mengganjal perut istrinya tersebut. Karena Raisa tidak ingin samasekali pergi dari sana. Ia akan menunggu hingga operasi selesai.
Bara kembali secepatnya setelah mendapatkan yang di butuhkannya.
"Sayang, makan lah dulu." Sambil memberikan satu bungkus roti kemasan pada istrinya. Lalu ia memberikan air mineral yang sudah di bukanya. "Makanlah demi putri kecil kita yang menunggu di rumah. Aya akan baik-baik saja jika kamu tetap sehat," tambahnya.
Mendengar nama putrinya di sebutkan air mata kembali membasahi pipinya. Karena sibuk dengan kesedihannya ia sampai melupakan putrinya yang masih kecil dan juga membutuhkan perhatian dari mereka.
"Ayo, buka mulutmu." Bara menyodorkan potongan roti yang sudah di bukanya ke mulut Raisa.
"Jangan pikirkan rasanya, tapi pikirkanlah kalau roti ini akan membuat keadaan kamu baik-baik saja." Dengan telaten Bara terus menyuapkan potongan roti yang ada di tangannya.
Tak dapat membendung rasa yang ada di dadanya Raisa kembali menangis dan memeluk tubuh suaminya.
"Bagaimana jika terjadi apa-apa dengannya? Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri." Sambil terisak Raisa kembali menumpahkan ke khawatirannya di pelukan suaminya.
Bara kembali menenangkan meski ia juga sudah kehabisan akal untuk menghadapi istrinya yang hari itu hampir tidak bisa berhenti menangis.
"Ini, kamu minum dulu," ucapnya seraya menyodorkan botol air mineral pada istrinya yang kembali sesegukan.
Lampu di ruang operasi mati. Beberapa saat dokter yang menangani pun terlihat keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1
Bara langsung berdiri dan menghampiri dokter tersebut untuk mengetahui keadaan Ricky. Langkah Bara juga di iringi oleh Raisa yang ingin mendengar langsung keadaan putranya.
"Bagaimana dok?" Tanya Bara harap-harap cemas. Khawatir jika dokter memberikan kabar yang kurang mengenakan mengingat istrinya yang pasti akan lebih histeris lagi.
"Kami sudah berusaha semampu kami. Operasinya juga berjalan lancar. Namun akan butuh waktu untuk menunggu pasien bisa sadar."
"Tapi anak saya baik-baik saja,kan dok?" Raisa mulai histeris karena merasa kurang puas dengan jawaban dokter tersebut.
"Untuk saat ini pasien belum bisa di pindahkan ke ruang perawatan. Karena masih memerlukan pengawasan ketat sebab pasien mengalami luka yang cukup parah di bagian kepala. Kita berdo'a saja semoga pasien bisa melewati masa kritisnya."
Raisa tak dapat membendung air matanya yang kembali berjatuhan membasahi wajah lelahnya yang sudah sembab karena terlalu banyak menangis. Dengan sigap Bara memeluk tubuh lemah istrinya yang terguncang karena isak tangis.
Dimas yang juga telah mendengar penjelasan dari dokter tadi hanya bisa mengusap kasar wajahnya yang juga tampak lelah dari tadi. Namun rasa lelahnya tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan rasa ke khawatirannya saat ini. Jika boleh memilih ia sangat rela lelah asal kondisi sahabatnya baik-baik saja.
Kiara menutup mulutnya menahan tangisnya yang hampir lolos. Ia baru datang saat mendengar dokter memberitahukan keadaan Ricky saat ini.
Adit mengalihkan pandangannya saat melihat kedatangan Kiara di sana. Entah kenapa ia merasa sangat yakin kalau kecelakaan yang di alami Ricky ada hubungannya dengan Kiara. Tapi di sisi lain ia juga tau bahwa Ricky memang baru beberapa waktu belakangan ini membawa mobil karena sebelumnya dulu ia juga pernah mengalami kecelakaan meski hanya sebuah kecelakaan kecil saja. Yang akhirnya membuat Ricky sempat trauma mengendarai mobil dan lebih memilih mengendarai motornya. Walau bagaimana pun ia tetap tidak bisa asal menuduh hanya karena ia terlalu mengkhawatirkan keadaan sahabatnya.
-
-
-
Akhirnya Bara berhasil membujuk Raisa untuk pulang setelah dengan susah payah membujuknya.
"Sudah..., jangan menangis seperti ini. Bagaimana jika Aya melihat Mamanya sedang menangis seperti ini?" Bara mengusap sisa-sisa bulir bening di sudut mata istrinya.
__ADS_1
Saat masuk ke dalam rumah ruang pertama yang di datangi Raisa adalah kamar putri kecilnya. Tapi putri kecilnya itu sudah tidur dengan nyenyaknya dengan boneka kesayangannya. Kemudian ia pergi ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa sangat lengket.