
Beberapa saat Raisa sudah keluar dari ruangan tersebut dengan Bara yang setia berada di sampingnya.
Ia berniat untuk melihat Ricky sebentar sebelum ia kembali pulang untuk beristirahat. Karena memang itulah tujuan utamanya pergi kesana.
"Jangan lama-lama, setelah ini kita pulang ke rumah dan kamu harus banyak istirahat," ucap Bara.
Meski ia mendengar dengan jelas ucapan suaminya, tapi Raisa enggan untuk menjawab. Ia bahkan tidak ingin berbicara samasekali setelah mengetahui dirinya hamil.
"Mbak, Raisa. Apa kabar!" Sapa Nia yang ternyata juga berada di rumah sakit tersebut. Ia berdiri dari tempatnya duduk.
"E..hm, aku baik. Kamu bagaimana?" Raisa mencoba membalas sapaan Nia meski dengan senyum yang sangat di paksakan.
"Alhamdulillah, aku juga baik."
Melihat Adit dan Bara yang masih berbicara, akhirnya Raisa ikut mendudukan tubuhnya juga kursi ruang tunggu bersebelahan dengan Nia.
Sudah lama ia tidak bertemu dengan atasannya tersebut, dan hanya beberapa kali bertemu di ruang sakit yang sama ketika ia menemani Adit untuk melihat keada Ricky. Nia merasa prihatin dengan keadaan Raisa saat ini. Lebih terlihat kurus, dan tidak bersemangat.
Tak sengaja Raisa melihat amplop yang ada di tangan Nia. Itu seperti amplop miliknya yang ia dapatkan setelah ia di nyatakan hamil beberapa menit yang lalu.
"Kamu sakit?" Raisa bertanya untuk menghilangkan rasa penasaran yang ada di dalam dirinya.
"Tidak, Mbak. Tapi aku sedang hamil," jawab Nia di sertai senyum bahagia yang terpancar di wajahnya.
Ia dan Adit awalnya memang berniat untuk melihat keadaan Ricky. Karena kebetulan sedang berada di rumah sakita, dia iseng untuk memeriksakan dirinya karena memang saat itu ia sedang telat datang bulan. Ia sangat bahagia ketika dokter menyatakan bahwa ia sedang hamil.
-
-
-
Bara sudah selesai mengurus semua administrasi untuk melanjutkan perawatan Ricky ke Singapura. Rencananya sore itu mereka akan pergi menuju ke negara dengan julukan negeri singa tersebut.
Kiara sudah memarkirkan mobilnya di halaman rumah sakit. Ia keluar dari mobilnya kemudian ia menuju ke ruangan rumah sakit di mana Ricky sedang di rawat.
Sebelumnya Kiara sudah meminta ijin untuk melihat langsung keadaan Ricky.
Ia ingin melihat Ricky sebelum pria yang di cintainya itu di bawa pergi untuk melanjutkan perawatannya.
__ADS_1
Kiara sudah berdiri di depan pintu dengan memakai baju khusus menjenguk pasien. Ia menguatkan hatinya untuk pertama kalinya ia berada sedekat ini setelah kecelakaan yang di alami Ricky.
Ia tak bisa membendung air matanya melihat keadaan pria yang sangat di cintainya itu berbaring lemah dengan peralatan rumah sakit yang menempel di sekujur tubuhnya.
"Maaf, waktu itu aku tidak bermaksud untuk menolakmu. Aku...,aku hanya tidak ingin lebih terluka lagi jika aku tetap mencintaimu. Hiks...hiks...." Tangisan Kiara menenggelamkan suara monitor yang memperdengarkan irama detak jantung. Ia menangis hingga sesegukan.
"Bangun lah, dan marah lah padaku. Hukum aku dengan kemarahanmu saja, tapi tolong jangan hukum aku dengan membuatku khawatir seperti ini. Hiks...hiks..., aku mencintaimu, aku tidak bisa kehilanganmu." Ia tau Ricky tidak mungkin bisa mendengar semuanya. Tapi ia merasa puas telah menumpahkan semua yang ia rasakan selama ini.
Entah halusinasi saja atau karena terlalu banyak menangis. Kiara melihat ada pergerakan samar-samar dari Ricky. Ia mengusap air matanya untuk memperjelas penglihatannya. Dengan jelas ia melihat jari Ricky yang bergerak bahkan pergerakan itu sangat jelas di lihatnya.
Dengan panik Kiara berlari keluar menemui suster yang sedang berjaga. Tidak lama dokter pun datang dan masuk ke ruangan tersebut. Sementara Kiara menunggu di luar.
Setengah jam berlalu, tampak dokter dan dua orang perawat sudah keluar dari ruangan tersebut.
"Apa anda kelurga pasien?"
"Saya temannya," jawab Kiara cepat. "Bagaimana keadaan teman saya dok?" Tanyanya kembali.
"Pasien sudah melewati masa kritisnya. Setelah kondisi pasien stabil, maka kami akan memindahkannya ke ruang rawat inap," jelas dokter. "Tolong hubungi keluarga terdekat pasien."
"Baik, dok," jawab Kiara. Ia berjalan menuju meja suster yang sedang berjaga di sana untuk meminjam telepon agar bisa menghubungi keluarga Ricky. Karena ponselnya ia tinggal di mobil bersama tasnya.
"Sayang, kenapa tidak di jawab?" Ujar Bara yang baru masuk ke dalam kamar mereka.
Dengan malas Raisa meraih ponselnya yang kembali berdering dan menempelkannya di telinga setelah ia menggeser tombol hijau. "Halo," jawabnya.
----- ----- -----
"Apa!?"
----- ----- -----
"Baik, kami akan segera kesana." Kemudian Raisa mematikan ponselnya.
Bara yang mendengarkan istrinya dari tadi semakin di buat penasaran dan cemas. "Ada apa?" Tanyanya.
"Kita harus ke rumah sakit sekarang," pinta Raisa dengan ekspresi yang sulit di artikan.
"Iya, tapi ada apa?"
__ADS_1
"Ricky...,Ricky sudah melewati masa kritisnya."
-
-
-
Kabar mengenai keadaan Ricky sudah di ketahui juga oleh Dimas dan Adit. Setelah dari kantornya Dimas langsung pergi ke rumah sakit. Begitu juga dengan Adit yang langsung menuju ke rumah sakit setelah pulang dari tempatnya bekerja.
Terlihat Kiara duduk sendiri di kursi ruang tunggu. Dimas menghampiri Kiara lalu menanyakan kebenaran tentang keadaan Ricky. Kiara hanya menjelaskan apa yang di katakan dokter siang itu. Untuk lebih lanjut ia juga belum tau pasti. Adit ikut mendengarkan pembicaraan Kiara dan Dimas. Beberapa saat terlihat Bara dan Raisa yang baru saja dari ruangan dokter, berjalan mendekat ke arah mereka.
Dimas dan Adit langsung menodong Bara dengan pertanyaan mengenai keadaan Ricky. Dengan sabar Bara menjelaskan pada kedua sahabatnya. Sedikit banyaknya Adit dan Dimas bisa bernafas lega setelah mendengarkan penjelasan Bara.
Mereka masih menunggu kabar dari dokter yang sedang melakukan beberapa pemeriksaan.
Mengingat istrinya sedang menunggunya di rumah, Dimas pamit untuk pulang. Tidak lama Adit juga berpamitan untuk pulang. Tinggal Kiara yang tak bergeser samasekali dari tempat duduknya. Ia masih ingin menunggu Ricky hingga sadar.
Tidak lama datang seorang laki-laki setengah baya yang hadir di ruangan itu. Terlihat Kiara berbicara dengan orang tersebut. Kemudian ia berpamitan untuk pulang pada Raisa dan Bara.
Beberapa saat dokter yang menangani Ricky memberikan kabar bahwa Ricky sudah bisa di pindahkan malam itu juga. Raisa kembali menangis namun kali ini tangisannya berbeda. Ia terharu mendengar kabar tersebut, kabar yang amat sangat di nantikannya.
Perlahan Ricky membuka matanya. Ia mengerjap-ngerjap untuk menyesuaikan penglihatannya. Kemudian ia memutar bola matanya mengitari ruangan tempatnya berbaring. Selang dan jarum infus yang menancap di lengannya cukup membuat ia sadar bahwa saat ini ia sedang berada di rumah sakit.
"Bang, loe udah sadar." Bara menghampiri Ricky yang sudah terbangun dari tidur panjangnya. Bara menekan tombol yang ada di dekat tempat tidur. Kemudian ia mengambil air minum dan membantu Ricky untuk meminum air tersebut. Tidak lama seorang perawat datang dan memeriksa keadaan Ricky.
Mendengar kabar bahwa putranya sudah sadar, Raisa langsung meminta supir untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Setelah sampai di halaman rumah sakit, dengan terburu-buru ia keluar dari dalam mobil dan menuju ke ruangan perawatan Ricky.
"Sayang...." Raisa memeluk tubuh Ricky sambil menangis.
"Ma..., " Ricky berucap pelan dengan suaranya yang terdengar serak.
"Sayang...,dia baru aja siuman. Jangan buat dia kembali koma dengan sikap kamu seperti ini." Bara mendekat seraya menasehati.
Kemudian seorang perawat datang untuk memberitahukan panggilan dari dokter kepada keluarga pasien.
"Biar aku aja," cegah Bara saat melihat Raisa ingin melangkah.
Raisa hanya mengangguk saja. Sejauh ini memang, Bara lah yang mengurus segalanya. Sementara yang ia lakukan hanya menangis saja ketika Ricky belum sadar dari komanya.
__ADS_1