
...Jangan lupa untuk memberikan jejak dukungannya sebelum membaca👍 Terimakasih🤗...
Hari sudah gelap Saat Ricky tiba di rumah. Dan ia yakin mamanya pasti ada sudah pulang dari toko.
Raisa buru-buru membukakan pintu tatkala mendengar ada yang membunyikan bel, dan ia berharap Ricky yang ada di luar sana.
"Ma...."
Raisa merasa lega melihat Ricky benar-benar ada di hadapannya. "Ricky..., bagaimana keadaan mu? Apa kamu udah minum vitaminnya?" Tanya Raisa dengan wajah yang terlihat panik.
"Ricky gak butuh vitamin itu, yang Ricky butuhin cuma mama," ucapnya.
"Ayo masuk," Raisa menutup pintu dan mengajak Ricky duduk di sofa ruang tamu. "Ricky, maafin mama karena nggak kasi tau kamu sebelumnya."
"Ricky yang salah, seharusnya Ricky lah yang minta maaf. Maafin Ricky ya ma" Ricky berlutut di pangkuan Raisa.
"Mama udah maafin kamu, tolong kamu jangan pergi lagi."
"Iya, Ricky janji."
"Yaudah, kamu mandi dulu, setelah itu kamu makan, mama akan masak dadar telor kesukaan kamu! Jangan lupa pake air hangat dan mandinya jangan lama-lama, ini udah malam nanti kamu sakit!" Pesan Raisa.
Biasanya Ricky akan menggerutu jika mendengar ocehan mamanya, tapi kali ini ia tersenyum dan merasa bahagia.
Setelah mandi Ricky buru-buru menemui ibunya di dapur.
"Rick, mama minta maaf, bahan-bahan di dapur udah habis dan mama lupa belanja."
"Satu biji telor pun gak ada?" Ucap Ricky ikut memeriksa lemari penyimpanan bahan dapur. Ricky heran, tidak biasanya lemari itu kosong.
"Kita pesan aja ya?" Ujar Raisa.
"Kita makan martabak aja yah, biar Ricky yang beli?"
"Ya udah, hati-hati."
Ricky pun bergegas membeli martabak di tempat langganan nya. Setelah mendapatkan pesanannya Ricky kembali menuju pulang.
"Ma...."
"Yaa?" Jawab Raisa sambil menikmati martabaknya.
"Bagaimana perasaan mama terhadap om Herman?"
"Kamu tuh nanya apa sih, kamu kan tau om Herman itu temen mama. Emang kenapa?" Tanya Raisa kembali.
"Jadi mama gak ada perasaan apa-apa sama om Herman?"
"Kamu koq jadi mengintrogasi mama gini? Ya nggak lah," Raisa menegaskan jawabannya sambil terus memakan martabaknya karena ia memang sedang lapar.
"Kalo Bara gimana?"
"Uhukk uhukk...!"
Ricky memberikan gelas berisi air putih dan Raisa pun segera meminumnya.
"Mama gak pa-pa kan?"
"Nggak, mama ngantuk mau tidur dulu," seraya beranjak dari tempat duduknya.
"Tapi mama belum jawab pertanyaan Ricky."
"Ini udah malam banget sebaiknya kamu cepat istirahat," sambil berlalu menuju kamarnya.
...-----***-----...
Raisa sudah tampak rapi pagi itu, seulas senyum kebahagiaan nampak di bibirnya.
"Ricky... kamu gak kuliah?" Tanya nya sambil mengetuk pintu kamar.
__ADS_1
Berualang kali ia mengetuk tapi tidak ada jawaban, saat pintu di buka ternyata Ricky sudah tidak ada disana. Raisa tampak takjub melihat kamar Ricky yang terlihat rapi tidak seperti biasanya.
Raisa kembali menutup pintu kamar dan berjalan menuju teras, motor Ricky pun sudah tidak ada di halaman.
"Tumben dia udah pergi jam segini?"
Raisa pun menutup pintu rumah dan pergi ke toko.
Pagi-pagi Ricky sudah nongkrong duluan di bawah pohon belakang kampus, tempat biasa ia dan Adit menghabiskan jam kosongnya saat menunggu kelas berikutnya.
Ia menoleh saat ada seseorang yang ikut duduk di sampingnya.
"Maaf, gue gak tau harus gimana ngejelasin semuanya ke loe," ucap Adit.
"Iya, maafin gue juga," balas Ricky.
"Jadi loe udah gak marah sama gue?" Adit mulai normal dengan gaya khasnya meskipun agak heran dengan perubahan Ricky yang begitu cepat, padahal ia menyangka Ricky tidak akan mau menemuinya lagi.
Ricky mulai bercerita saat ia berada di rumah Om Herman.
"Kayaknya gue harus nemuin Bara...," ucapnya.
Adit menatap penuh selidik ke arah Ricky. "Apa dia masih nemuin nyokap loe?"
"Bukan itu, tapi ada masalah lain yang harus gue bicarain."
"Loe gak lagi pengen nikam dia kan?" Adit sambil memegangi bagian tubuh Ricky, seperti sedang memeriksa sesuatu.
"Apaan shi loe, ya nggak lah!"
"Emang loe mau ngomong apaan?"
"Nanti loe juga bakal tau, ayo ke kantin dulu gue belum sarapan," ajak Ricky.
"Tapi ini tanggal tua, gue belum gajian...!" Sahut Adit.
"Iya gue tau, itu lagu lama! buruan...!"
Setelah jam pelajaran terakhir telah usai, Ricky dan Adit berencana ingin menemui Bara di apartemen nya.
Adit yang memimpin sambil berjalan di depan Ricky, karena Adit lah yang pernah kesitu sebelumnya.
Begitu sampai di depan pintu Adit menekan bel yang ada disana. Beberapa kali mereka menekan bel secara bergantian tapi pintu itu belum terbuka.
"Apa jangan-jangan dia masih di kantor?" Ujar Ricky yang mulai merasa penat menunggu.
"Iya juga shi, tapi semenjak dia di tolak nyokap loe, dia jarang ke kantor," sahut Adit.
"O ya? Kayaknya Loe tau bener!?"
"Gimana gue gak tau, orang dia sendiri curhat ke gue, terus dia pake ninju-ninju tembok gak jelas gitu sampe tangannya berdarah. Dan gue kasian banget sama tembok nya!"
Beberapa saat menunggu akhirnya mereka pun pergi dari sana.
"Tunggu, kenapa gak kita teleponin aja?" Usul Adit.
"Kenapa gak dari tadi!? Buruan deh!" Ujar Ricky.
"Pulsa gue sekarat, pinjem HP loe biar gue yang ngomong," kata Adit.
"Kebiasaan loe!" Ricky pun menyerahkan HP nya ke Adit.
"Buat kepentingan loe juga!"
Bara seakan tidak percaya melihat nama pemanggil di layar HP nya.
"Kenapa Rick?"
"Bukan, tapi gue," jawab Adit.
__ADS_1
"Iya buruan ada apa?" Tanya Bara meskipun masih heran kenapa Adit menghubunginya menggunakan kontak Ricky.
"Loe dimana?"
"Gue di rumah," jawab Bara.
"Ya udah gue kesana, loe tungguin bentar," giliran Adit memutus sambungan seperti yang biasa di lakukan Bara padanya.
Adit dan Ricky pun segera menuju ke rumah Bara.
Bara tidak menyangka Adit membawa Ricky juga bersamanya.
"Udah, loe gak kaget gitu, gue kesini karena dia yang ngajak!" Ujar Adit.
"Bar gue mau minta maaf atas perkataan gue waktu itu," ucap Ricky tanpa membuang waktu.
"Nggak, gue yang harusnya minta maaf," Balas Bara.
"Kalo cuma itu kenapa gak lewat telepon aja shi, gue gak harus repot-repot juga!" Rutuk Adit.
"Bukan cuma itu, tapi ada hal penting lainnya yang harus gue sampein ke loe Bar," ujar Ricky.
"Bentar, gue terima telepon dulu," ucap Bara ketika ponselnya berbunyi.
"Iya mbak, ada apa?"
"Apa!? Iya sebentar Bara kesana!" Bara terlihat panik usai menerima telepon tersebut.
"Maaf, gue harus ke rumah sakit!" Ucapnya berpamitan.
"Siapa yang sakit!?" Tanya Adit berbarengan dengan Ricky.
"Nyokap gue," jawab Bara.
"Ya udah loe pergi deh, kita balik dulu," ujar Adit.
Bara mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit, disana sudah ada Tari yang terlihat panik menunggu di depan pintu ruang ICU.
"Gimana keadaan mama?" Tanya Bara
"Mbak juga belum tau," jawab Tari dengan mata yang masih sembab habis menangis.
Beberapa saat dokter yang menangani pun keluar dari ruang ICU.
"Bagaimana keadaan orangtua saya dok!?" Tanya Bara dan Tari bersamaan.
"Beliau mengalami serangan jantung, beruntung cepat di tangani," jawab dokter tersebut.
"Apa itu artinya orangtua kami baik-baik aja dok?" Tanya Tari yang dari tadi terlihat cemas.
"Untuk saat ini tidak ada yang perlu di cemaskan, kita berdoa saja."
"Baik dok, terimakasih," ucap Tari sedikit lega.
Selama dua hari Bara dan Tari bergantian menjenguk ibunya di rumah sakit, di hari ketiga keadaan ibu mereka pun berangsur membaik, meskipun masih harus dalam perawatan yang ketat.
"Bagaimana keadaan mama?" Tanya Tari
"Mama baik-baik aja. Kamu menangis?" Tanya Mala yang melihat wajah Tari seperti orang habis menangis. "Kamu menangis karena mama apa karena suami kamu?"
Tari yang tertunduk kini mengangkat wajahnya menatap kearah mamanya. "Mama ngomong apa?"
"
"Kamu masih ingin menyembunyikannya dari mama? Apa jangan-jangan kamu emang belum tau kalau Indra itu punya wanita lain di belakang kamu?"
"Jadi mama udah tau!"
__ADS_1
Batin Tari.
"Ma...,sebaiknya kita gak usah bahas itu dulu, Tari gak mau mama kenapa-kenapa lag," bujuk Tari.