
...Jangan lupa untuk memberikan jejak dukungannya sebelum membaca👍 Terimakasih🤗...
Pagi itu Raisa sudah bersiap untuk kembali ke rumah.
"Ayo mandi," perintah nya pada Bara yang baru terbangun dari tidurnya.
"Sayang...,beri aku semangat dulu," ucap Bara sambil memajukan wajahnya.
"Semangat yaa," Raisa menepuk pelan pipi Bara. "Buruan mandi."
"Sayang..., kenapa hanya seperti itu?" Rengek Bara.
"Kamu maunya gimana...? Apa aku harus meneriakkan yel yel!?"
"Seperti ini!" Bara mendaratkan c****n di b*bir lembut milik Raisa, dan lagi-lagi Raisa harus terkejut dengan aksi bocah yang kini menjadi suaminya.
Hanya ciuman yang mendarat, yang lain belum bisa ya 🤫
Setelah sukses membuat Raisa menjadi salah tingkah. Bara akhirnya masuk ke kamar mandi sambil membawa pertanyaan yang berkecamuk di pikirannya. "Gue tau dia bukan ibu kandung Ricky, tapi gak mungkin dia gak pernah melakukan hal-hal yang layaknya di lakukan oleh pasangan suami istri! Bahkan dia gak ngebales ciuman gue dari tadi malem! Apa jangan-jangan dia lupa caranya!?" Bara terus membatin.
Saat sedang melakukan aktivitas mandinya tiba-tiba ia melirik pada sabun mandi dan mulai memikirkan ide jalan pintas.
"Nggak nggak, gue kan udah nikah ngapain gue ngelakuin sendiri!" Bara berbicara di dalam hatinya, namun ia juga tidak bisa mengabaikan keinginannya tersebut. Ia mulai dilema antara harus menyalurkan hasratnya atau harus menahan hingga cuaca buruk berlalu.
"S*al!" Umpatnya, lalu buru-buru menyudahi mandinya karena takut akan membuatnya semakin tergoda.
Saat keluar dari kamar mandi Bara melihat Raisa tengah sibuk menelepon dan lagi-lagi ia merasa kesal karena Raisa selalu mengabaikannya. Ia berdiri di depan cermin sambil mengusap-usap rambutnya yang masih basah berharap mendapat perhatian dari sang istri.
Karena Raisa tak kunjung memperhatikannya, Bara pun menghampiri dan mengambil alih pembicaraan tersebut.
"Loe sarapan aja dulu bareng Adit, setelah itu kalian pulang duluan deh! Loe gak usah khawatir, sekarang gue yang akan jagain nyokap loe, jadi mulai sekarang loe pinter-pinter deh jaga diri sendiri!" Ucap Bara lalu memutus panggilan.
"S*alan loe Bar!" Umpat Ricky.
"Bara, aku belum selesai ngomong sama Ricky!"
"Ricky itu bukan anak kecil lagi, dia pasti bisa ngurus diri sendiri lagian dia gak sendiri, ada Adit yang nemenin! Bara merangkup wajah Raisa dengan kedua tangannya lalu kembali 😘
"Jika kamu lupa lagi dengan panggilanku, maka aku gak segan-segan ngelakuinnya di depan Ricky," ucapnya setelah mengakhiri ciuman singkatnya.
"Jangan pernah ngelakuin itu di depan Ricky, meskipun kalian berteman tapi kamu itu lebih tua dari Ricky dan kamu udah janji sama aku buat jadi contoh yang baik!" Ucap Raisa memperingati
"Sayaang...,mending kamu buruan pake baju, entar kamu masuk angin."
Dan akhirnya Bara pun menyudahi kejahilannya. Beberapa saat mereka sudah pergi meninggalkan hotel dan menuju pulang ke rumah Raisa. Mereka sudah sepakat untuk tinggal disana sampai Ricky menyelesaikan kuliahnya.
Di teras sudah ada Adit dan Ricky yang duduk berdua bagaikan sepasang kekasih yang tak terpisahkan.
__ADS_1
"Kalian udah makan?" Tanya Raisa.
"Kita udah sarapan tadi pagi di hotel," jawab Ricky.
"Ya udah, mama masuk dulu," ujar Raisa, sementara Bara ikut nimbrung di teras.
"Koq gak semangat gitu muka loe?" Tanya Adit kepo.
"Entar loe juga bakal tau gimana capeknya jadi penganten baru," jawab Bara dengan masih terlihat tidak bersemangat. "Rick, ambilin minum dong haus nih," perintah Bara pada Ricky.
"Eh, loe kenapa jadi berani merintah-merintah gue!? Ambil sendiri sana," Tolak Ricky.
"Nih anak gak sadar-sadar juga, sekarang gue ini bokap loe! Faham!?" Jelas Bara.
Sementara Adit hanya bisa terkekeh melihat kelakuan dua sahabatnya. "Ya udah, mending loe anterin gue balik ke kostan dulu, setelah itu kalian bisa lanjutin lagi deh perdebatannya, gue puyeng!" Tukas Adit menengahi perdebatan antara anak dan bapak tiri tersebut.
"Hati-hati di jalan, jangan kebut-kebutan!" Pesan Bara layaknya orangtua menasehati anaknya sebelum Ricky meninggalkan halaman rumah. Ricky ingin sekali membalas namun ia sudah mengenakan helm.
Bara pun masuk ke dalam menemui Raisa yang tampak sibuk mengatur kamarnya dan membongkar isi lemari demi bisa memasukkan beberapa pakaian Bara disana.
"Sayang..., aku kangen," ucap Bara memeluk tubuh Raisa dari belakang.
Raisa kaget dan reflek ingin menghindar apa lagi ia masih mengingat kejadian waktu di hotel pagi tadi, tapi lengan Bara jauh lebih kokoh melingkar di pinggang kecilnya.
"Kamu tuh ngomong apa, bukannya dari kemarin kita selalu bersama?" Ujar Raisa sambil berusaha melonggarkan pelukan Bara.
Mendengar peringatan itu Raisa seketika mematung. Perlahan Bara memutar tubuh Raisa dan menatapi wajah wanita yang sangat ia dambakan itu. "Kamu tau, bagaimana perjuanganku demi mendapatkan dirimu? Mendapatkan cinta dari ibu sahabatku?" Bara menahan dagu Raisa yang ingin memalingkan wajah darinya.
Saat Bara kembali ingin merasakan b*bir itu, Raisa sudah lebih dulu menahannya.
"Sudah aku bilang, kendalikan dirimu, atau kamu akan menyiksa dirimu sendiri," Bisik Raisa sama persis seperti yang tadi di lakukan Bara.
Bara merasa kalah telak dengan ucapan Raisa yang memang benar adanya, saat ini ia benar-benar tersiksa.
Hingga malam tiba, Bara tampak uring-uringan dan akhirnya ia terlelap dalam tidurnya.
Raisa hanya bisa tersenyum melihat tingkah suami bocahnya itu, lalu ia pun ikut merebahkan dirinya dan tertidur.
Pagi ini Ricky akan pergi ke kampus setelah libur selama dua hari. Seperti biasa sebelum berangkat ia akan sarapan terlebih dahulu.
"Loe ngapain pagi-pagi udah ada disini?" Ucapnya nya pada Bara yang sudah lebih dulu ada di meja.
"Ya iya lah, gue kan udah nikah sama nyokap loe! Nie anak bener-bener mau kualat kayaknya," sahut Bara.
"Sorry..., gue lupa," ujar Ricky sambil cengengesan dan memulai sarapannya.
"Loe gak bawa mobil aja?" Tanya Bara.
__ADS_1
"Nggak, naik motor lebih praktis! Lagian gue udah lama gak bawa mobil, takutnya nabrak!"
"Mending mulai sekarang loe biasain naik mobil, apa kata orang-orang tentang gue kalo loe masih naik motor!"
"Eh, gue juga punya mobil, tapi gue gak pamer kayak loe!" Sahut Ricky mengingat ia juga punya mobil hadiah terakhir yang di berikan papanya saat ulang tahunnya, hanya saja ia sudah terlanjur lengket dengan motornya.
Setelah merasa cukup Ricky pun berpamitan dengan Raisa seperti biasa.
"Apaan loe!?" Ucap Ricky menepis tangan Bara yang berharap Ricky melakukan hal yang sama dengan mencium tangannya.
"Eh, gue ini sekarang bokap loe juga!"
"Bodo amat! Sahut Ricky dan berlalu melewati Bara.
"Kualat loe!?"
"Biarin!"
"Gue bikinin film loe! Judulnya ANAK TIRI DURHAKA!"
"Sekalian, VS BOKAP TIRI AMATIRAN!" Sahut Ricky sambil terus melanjutkan langkahnya lalu menghilang di balik pintu.
Raisa hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah keduanya. Sepertinya ia harus membiasakan diri dengan suasana baru di dalam rumahnya.
"Sayang, masih lama lagi gak?" Tanya Bara pada Raisa yang sedang membereskan meja usai sarapan pagi itu.
"Mungkin tiga hari lagi," Raisa tersenyum seraya menoleh pada Bara. "Lebih baik kamu ke kantor aja, biar gak bosen di rumah."
"Kamu gak pengen bulan madu?"
"Kamu kan tau, Ricky itu gak bisa di tinggal sendiri, Ricky itu gak sedewasa fisiknya," jelas Raisa. "Lagian kan kamu juga harus kerja."
Ricky lagi Ricky lagi, udah kayak bayi aja tuh anak!
Bara mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
Ciiitt!!
Ricky ngerem mendadak saat ada kucing yang tiba-tiba menyebrang jalan.
"Hampir aja! Pekiknya. Entah kenapa ia jadi teringat ucapan Bara. "Apa jangan-jangan Bara lagi nyumpahin gue!?" Batinnya.
...👍...
...❤...
...🎁 Bila berkenan😚...
__ADS_1