
Merasa puas mengocehi sahabatnya Adit juga berpamitan pada Dimas dan Bara. "Gue pamit dulu deh, ntar di sambung lagi. Ngomong-ngomong gue belum belah duren nih," Adit berucap sambil memelankan suaranya.
"Sayang...!" Terdengar suara dari belakang Adit yang tak lain Nia yang memanggilnya. Adit buru-buru mematikan panggilan videonya.
Dimas dan Bara tertawa sambil menggeleng saja lalu mereka pun ikut mengakhiri panggilan video tersebut.
"Ayo makan dulu," ajak Nia seraya memberikan sepiring nasi pada Adit dengan lauk tempe dan tahu. "Maaf aku gak sempat belanja yang lain, ini pun beruntung ada yang jual di warung sebelah," jelas Nia.
Adit tersenyum sambil menerima piring tersebut. "Iya, gak apa-apa, lagian kita juga harus belajar untuk berhemat. Asal jangan keseringan aja, sekali-sekali juga harus ganti menu."
Nia hanya tersenyum sambil menyendok nasi ke mulutnya. Indah dan nikmat kesederhanaan. Namun di dalam kesederhanaan tersebut ada banyak cinta di dalamnya.
"Kamu nggak ngomong yang macem-macem kan sama mereka?" Nia bertanya di sela makannya.
"Ngomong apa?" Tanya Adit kembali karena tidak mengerti.
"Itu tadi ngomongin masalah belah duren segala!"
Adit mengangkat wajahnya seketika. Ternyata Nia benar-benar telah mendengar obrolannya dengan para sahabatnya. "Tapi...emang bener kan kalo kita belum sempat belah duren?"
"Uhuuk uhukk!" Nia jadi tersedak karena ulah suaminya tersebut. Nia langsung mengambil air putih yang ada di hadapannya lalu meminumnya.
Di lihatnya Adit juga sudah menghabiskan nasi di piringnya. Kemudian ia mengambil piring kotor bekas makan dia dan Adit lalu membawanya ke dapur dan mencucinya.
Melihat Nia yang sudah masuk ke kamar Adit pun langsung mengekori dari belakang.
"Ada apa?" Nia menatap Adit yang duduk di kasur lantai mereka dan tampak sedang menunggu.
Adit langsung merebahkan tubuhnya di sana. "Ayo kita tidur, kamu pasti sudah lelah karena seharian tadi belum istirahat." Adit menepuk sisi kasur di samping nya.
Hari yang sangat melelahkan bagi kedua pasangan pengantin baru tersebut. Setelah menempuh perjalanan dari kampung dan juga harus mencari kontrakan untuk tempat tinggal mereka berdua. Semua itu benar-benar menguras tenaga mereka.
__ADS_1
Nia berbaring di sebelah Adit yang tampak sudah memejamkan matanya.
Adit kembali membuka matanya saat merasakan tubuh Nia sudah berbaring di sampingnya.
Ahh, apa dia benar-benar akan tidur. Batinnya.
"Sayang...?" Adit memberanikan diri untuk memanggil. Berharap Nia belum tertidur dan bisa mendengarnya.
Nia yang belum tertidur itu pun langsung berbalik mengubah posisinya menghadap ke Adit. "Ya, ada apa?"
"Aku pikir kamu sudah tidur," ucapnya. Padahal ia tau Nia pasti belum tertidur karena baru saja merebahkan tubuhnya di sana.
"Ya aku baru mau tidur." Nia kembali berusaha memejamkan matanya.
Melihat istrinya yang kembali memejamkan matanya Adit hanya bisa menghela nafasnya.
"Harusnya kita udah bisa belah duren...." Adit bergumam pelan. Namun Nia masih dapat mendengar dengan jelas.
Mendapatkan lampu hijau dari pemilik pohon duren Adit pun langsung tancap gas.
-
-
-
Selama hampir semalaman Ricky memikirkan ucapan Dimas. Ia bahkan hampir tidak dapat tidur karena selalu teringat masa-masa kebersamaannya dengan Kiara. Perlahan ia mulai menyadari kalau peran Kiara sangatlah penting dalam hidupnya. Kini ia ingin berusaha untuk menebus kesalahannya dengan wanita yang pernah di tolaknya itu. Bahakan dulu ia menolak hingga berkali-kali. Ia tidak tau apakah Kiara akan menerimanya untuk melanjutkan perjanjian yang sempat tertunda tersebut. Atau sudah memutuskan untuk memilih mundur.
Setelah cukup berpikir akhirnya Ricky memantapkan langkahnya untuk mendatangi Kiara ke rumahnya. Ia sudah siap dengan segala kemungkinan yang ada. Ia juga berharap setelah ini ia akan mendapatkan maaf dari Mamanya yang sampai saat ini juga belum pernah menyapanya samasekali.
"Selamat malam Mbak," Ricky menyapa sambil tersenyum pada pembantu yang mebukakan pintu.
__ADS_1
"Oh iya udah malam ya," sahut pembantu yang sempat tergagap saat melihat penampilan daun muda yang berada di hadapannya. "Ganteng," batinnya.
"Apa saya bisa bertemu dengan Kiara?"
"Oh iya, bisa. Mari silahkan duduk dulu Mas nya." Setelah itu ia masuk memanggil majikannya dan tidak lama Kiara pun datang.
Kiara tampak terkejut melihat tamu yang di maksud oleh pembatunya. Ia tidak menyangka Ricky yang ada di hadapannya saat ini.
"Bagaimana kabarmu?" Ricky memulai dengan menanyakan kabar.
"Aku baik, seperti yang kamu lihat saat ini," jawab Kiara berusaha bersikap datar. Jauh di dalam lubuk hatinya ia masih sangat mencintai pria yang ada di hadapannya tersebut. Namun harapan ingin memiliki sudah tidak ada lagi baginya. Karena kini ia sadar bagaimana posisinya saat ini. Sebagai pihak yang hanya bertepuk sebelah tangan. "Ada peru apa?"
Ricky tertunduk sejenak. "Aku hanya ingin meminta maaf atas sikapku sebelumnya. Aku tau kita sudah pernah membahas masalah ini sebelumnya waktu di rumah sakit. Tapi...--- "
"Kiara, kita jadi pergi,kan?" Suara seseorang di ruangan itu mengalihkan perhatian Ricky dan juga Kiara.
Ricky tidak melanjutkan kalimatnya pandangannya tertuju pada Arfan yang juga hadir di ruangan itu. Dari caranya menanyai Kiara ia mengerti kalau Kiara dan Arfan sudah ada janji untuk pergi bersama. Entah mengapa setiap melihat kebersamaan Arfan dan Kiara ia tidak begitu suka. Mungkin kah ia merasa cemburu? Jika benar itu rasa cemburu berarti kemarahannya pada Kiara waktu itu adalah rasa cemburu. Bodoh sekali jika ia baru menyadarinya.
"Maaf, aku harus pergi dan aku juga mau siap-siap," pamit Kiara lalu meninggalkan Ricky dan Arfan di ruangan tersebut.
Kemudian pembantu datang membawakan minuman untuk kedua tamu majikannya. Setelah mempersilakan untuk minum ia pun kembali ke dapur. Tanpa di jelaskan pun ia tau apa yang terjadi antara majikannya dan kedua tamunya tersebut.
Ckckck, Non Kiara beruntung banget di deketin dua orang laki-laki. Dan dua-duanya ganteng banget. Batinnya.
Beberapa saat Kiara sudah turun ke bawah menemui Arfan dan Ricky yang juga masih menunggu di sana.
Penampilan Kiara malam itu membuat Ricky semakin tidak rela jika harus merelakan Kiara pergi bersama orang lain.
Arfan berdiri dan menghampiri Kiara. "so lucky tonight I can go with a beautiful girl."
"Ahh, kamu bisa aja," balas Kiara tertawa kecil seraya memukul lengan Arfan.
__ADS_1
Kiara menghampiri Ricky yang sudah berdiri dan menatap ke arahnya. "Jika tidak ada yang mau di bicarakan lagi aku mau pergi dulu," ucap Kiara.