
Beratapkan jutaan bintang di galaksi nan jauh di sana, Eve dan Margaret sama-sama berbaring bersebelahan di sebuah karpet anyaman yang hangat. Keduanya masih terlarut dalam pikiran masing-masing sebab mulai besok pagi, kehidupan mereka akan berpisah.
Terbersit keinginan Margaret untuk kabur dari Sasania bersama Eve dan menata kehidupan baru di negeri yang berbeda. Negeri di mana kekuasaan duke kejam itu tidak berlaku sehingga Zachary tidak bisa memisahkan mereka. Tapi apakah dirinya egois? Sasania dan Brodsway memerlukan jalan tengah atas pergolakan politik mereka sejak beberapa tahun terakhir. Membawa Eve pergi sama saja dengan pengkhianatan di mata Brodsway.
Eve berbaring di atas kedua tangan yang saling menumpu kepalanya. Setiap musim semi, langit memang selalu seindah ini. Titik-titik terang yang berasal dari bintang dapat dilihatnya membentuk sebuah gambar. Indah bukan? Tapi sayangnya Eve tidak memikirkan hal itu.
"Ma, bagaimana cara untuk menolak perintah Yang Mulia Raja?"
Margaret menoleh lalu tersenyum tipis. "Memangnya apa yang menyebabkan dirimu enggan bertemu Duke of Lumiere? Dengan uangnya, kau bisa membeli apapun yang kau inginkan, Eve."
"Kebahagiaan bukan tentang uang saja, Ma." Eve merubah posisinya. Dia tengkurap dengan kedua tangan menyangga kepala. "Jika mama tidak ikut, rasanya akan sangat mengerikan tinggal bersama dengannya."
Tawa lembut Margaret mengudara. Dia mengelus rambut putrinya itu gemas. "Di sana bukan hanya ada duke saja. Masih ada saudaramu. Mama yakin dia tidak akan bersikap seperti ayah kalian."
Eve mencebik, "Apakah mama bisa menyebutkan ciri-cirinya? Takutnya aku salah menyangka pelayan di sana sebagai kakak ku."
"Ada-ada saja!" Margaret geleng-geleng kepala. Mata birunya kemudian menengadah, memperhatikan langit gelap sembari mengingat-ingat wajah putra kecilnya. "Namanya Declan. Jika baru mengenalnya, orang-orang akan beranggapan dia sombong. Anak itu jarang sekali tersenyum bahkan kepada pelayan pribadinya. Tapi jika dia sudah menyayangi seseorang, dia akan perhatian dan sedikit posesif." Margaret kembali menatap Eve. Sudut matanya sudah meneteskan air mata, "menurut mama begitu. Tapi sudah belasan tahun tidak berjumpa. Bagaimana sifatnya sekarang, mama juga tidak tahu lagi."
"Apa mama merindukannya?"
"Pertanyaan konyol!" Margaret ingin sekali rasanya memukulkan kepala Eve ke dinding. "Pertanyaan mu itu merusak suasana saja. Hal yang seperti itu tidak perlu ditanyakan!"
"E-eh, salah, ya?" Menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Eve akhirnya merubah pertanyaannya. "Bagaimana cara mama untuk mengobati rasa rindu kepada Declan?"
"Eve, panggil dia kakak."
"Iya, maksudku Kakak Declan."
"Yah, mama tidak bisa apa-apa selain ... menangis. Tapi Declan, semoga dia selalu menyimpan barang pemberian mama agar dia selalu ingat, bahwa aku masih di dunia ini. Sama sepertinya."
__ADS_1
"Mama pernah memberinya sesuatu? Apa itu?"
"Sebuah kantong rajut." Margaret tiba-tiba tersenyum, mengingat kembali kebersamaannya dengan si sulung. "Dulu saat aku masih mengandung dirimu, Eve. Setiap hari aku selalu merajut pakaian dan alas kaki lucu khusus untukmu."
Mendengar hal tersebut, mata Eve berbinar, "Wah, benarkah? Ke mana benda-benda lucu itu sekarang?"
"Masih di kastil. Jika ada waktu, nanti carilah di kamarku yang dulu," jawab Margaret penuh kenangan. Ia kembali melanjutkan. "Karena aku selalu membuat pakaian untukmu, Declan sempat marah padaku karena dia merasa iri pada dirimu yang belum lahir tapi sudah memiliki banyak sekali barang-barang dariku. Sebagai permohonan maaf, aku membuatkan kantong itu untuknya. Kantong berwarna hitam dengan motif matahari di tengahnya sebagai kenang-kenangan dariku."
Eve membatu. Kantong hitam dengan motif matahari terasa familiar di benaknya. Sekarang Eve ingat. Dengan gerakan kaku, dia meraih sesuatu dari sakunya dan mengeluarkan kantong yang Margaret maksud. Benda berisi uang yang dia ambil dari salah satu dari putra Lumiere tadi sore.
"Apakah kantong yang ibu maksud itu ini?"
Margaret terbelalak. Buru-buru dia bangkit dan mengambil kantong tersebut dari tangan Eve. Meneliti bentuknya, jenis benang yang digunakan, dan cara merajutnya. Benar. Ini adalah kantong yang dia maksud.
"Eve, dari mana kau mendapatkan benda ini?"
"Itu— seperti yang aku katakan sebelumnya. Untuk bisa pulang, aku terpaksa meminjam uang yang ada di dalamnya, Ma," jawab Eve mengaku. "Sepertinya itu milik salah satu putra Lumiere."
"Tapi setelah dilihat-lihat, aku dan pemilik kantong ini sama sekali tidak mirip. Dan dilihat dari beberapa sisi juga sangat jauh, mana mungkin kami bersaudara?!"
"Mau bagaimanapun juga, dia tetaplah kakak kandungmu." Margaret mengusap permukaan kantong itu dengan rasa haru. "Rupanya dia masih menyimpan benda pemberianku ini. Sayangnya benda ini sudah dicuri. Dicuri oleh adiknya yang nakal."
Mendengar penuturan tersebut, Eve merengut, "Ma."
"Bercanda, sayang." Margaret lagi-lagi tertawa. Kehidupan setelah ini, tanpa Eve entah bagaimana rasanya. Margaret tidak berani membayangkannya. "Ah, iya. Ada satu hal yang tidak boleh kau beri tahu kepada kakakmu itu. Pada Declan."
"Apa?"
"Apapun yang terjadi, jangan sampai kau mengatakan di mana mama tinggal. Itu saja."
__ADS_1
"Mengapa aku tidak boleh memberitahunya?" tanya Eve lagi penasaran.
"Banyak tanya. Lakukan saja seperti apa yang mama minta, boleh?" balas Margaret mencoba bersabar. Untung Eve adalah putri kandungnya. Jika bukan, sudah ia pastikan jika gadis dengan rasa penasaran tinggi di depannya ini sudah ceburkan ke dalam sumur.
"Aku harus tahu alasannya supaya tidak goyah, ma. Kita tidak tahu kedepannya akan bagaimana, kan?"
Margaret menghela napas. "Dia bisa saja kemari. Itu yang aku takutkan. Jika duke sampai tahu, Declan akan terkena masalah besar."
Eve mengernyit tidak suka. Aneh. "Memangnya apa yang salah dengan mengunjungi mama sendiri? Terlebih lagi, kita memerlukan banyak hal, tidak seperti mereka yang hidup penuh bergelimang harta. Sudah seharusnya kakak berbakti, membantu ekonomi kita, iya, kan?"
"Kau akan mengerti. Nanti, setelah melihat bagaimana keadaan Declan." Margaret kembali berbaring. Menyimpan kantong milik Declan di samping tubuhnya lalu menepuk karpet anyaman di sebelahnya. "Tidurlah, Eve. Besok kau harus kembali ke kastil pagi-pagi. Kereta kuda Lumiere akan membawamu. Dan sejak besok, hidupmu pun akan berubah. Tidak akan ada lagi kesusahan, semua yang kau inginkan dapat terkabulkan dengan mudah. Satu yang pasti— jangan membantah ucapan duke. Itu saja sudah cukup."
Eve menurut. Ia membaringkan tubuhnya. Karpet anyaman yang dia tindih terasa empuk disebabkan rumput-rumput liar yang tumbuh di bawahnya.
"Tapi, Ma. Apa tujuan duke memungutku kembali. Bukankah sudah belasan tahun berlalu dan selama ini pun tidak ada masalah di antara kita dan mereka. Pasti ada sesuatu, kan?"
"Eve, sudah malam. Untuk hal itu, tanyakan saja langsung kepada duke saat kau sampai di kastil Lumiere."
"Tapi, kan, Ma—"
Eve menoleh ke arah Margaret namun wanita itu sudah memejamkan matanya. Sebagai pelampiasan, Eve mendengus. Membiarkan pikirannya tenggelam di dalam terkaan yang abstrak. Lelah berpikir, akhirnya tanpa disadari, Eve ikut memejamkan mata sampai napasnya kembali teratur.
Diam-diam Margaret kembali membuka mata. Air mata tidak bisa ditahan begitu memperhatikan wajah terpejam Eve yang polos.
"Maafkan Mama, Eve. Walau kau hartaku satu-satunya, tapi kali ini mama tidak bisa egois. Sasania memerlukan mu untuk meredakan gejolak negeri dengan Brodsway. Setelah ini, mama tidak berharap bisa melihatmu lagi. Tinggal tersisa mama dan Sese di sini. Jangan khawatir, doa kami selalu untukmu. Mama sayang kamu."
...----------------...
Besok aku udah mau ujian matematika gaes😭
__ADS_1
Doain nilai aku bagus, dong. Kalau nilaiku bagus insyaallah aku update 2 chapter sekaligus. Btw, 2 chapter itu termasuk crazy up ga, sih? Masuk aja lah yaa🤣
^^^Salam dari Eve si bangsawan baru^^^