Mendadak Bangsawan

Mendadak Bangsawan
Cemburu


__ADS_3

"Oh sayangku, cintaku~" senandung Pangeran Julius sembari memainkan rambut Eve yang dibiarkan tergerai bebas. "Setelah kita pindah ke Brodsway nanti aku yakin kau lah satu-satunya gadis yang paling indah."


"Terima kasih, pangeran." Eve bergerak pelan untuk memberikan sedikit jarak di antara mereka.


Karena Pangeran Julius sibuk merayu, kursi mereka akhirnya berdempetan dan itu sungguh membuat Eve risih dan berakhir tidak nyaman. Di seberang mereka ada ketiga saudara Eve yang sama-sama memperhatikan ketidakseimbangan perasaan tersebut. Masing-masing mulai menilai, walau tahu pendapat mereka tentang Pangeran Julius itu tidak akan berpengaruh apa-apa terhadap pernikahan adik bungsu mereka yang akan dilaksanakan sebentar lagi usai musim semi.


"Kenapa Lady Luvena menjadi yang paling indah, pangeran?" tanya Beckett blak-blakan. Mengindahkan sikutan Ethan di sisi kirinya dan deheman pelan dari Declan. "Bukankah masih banyak wanita lain yang mungkin berhasil menarik perhatian Anda ketimbang adik saya yang pendiam ini," sambungnya sembari melirik Eve yang senantiasa menunduk.


Ya, sedikit pendiam disaat ada Pangeran Julius di dekatnya.


"Di Brodsway sangat sedikit wanita cantik." Pangeran Julius terkekeh. Matanya bahkan tidak lepas dari Eve yang sebentar lagi akan menjadi tunangannya. "Tidak— malahan di Brodsway mungkin tidak ada wanita cantik. Musim dingin di sana hampir memakan waktu sebelas bulan lamanya setiap tahun sehingga menyebabkan kami semua memiliki warna kulit putih pucat dan warna rambut yang sama. Maka dari itu, rambut pirang dan mata birunya Lady Luvena akan menjadi warna baru di Brodsway," jelasnya panjang lebar.


"Ah, saya baru tahu hal itu."


"Tidak masalah. Maka dari itu, jangan ragu-ragu bertanya padaku, adik~" sahutnya ramah disertai senyuman lebar.


Tak lama pintu masuk kembali di buka. Kali ini terlihat Duke of Lumiere yang terlihat masih menggunakan pakaian formalnya beserta si tangan kanan, Baron O'Neil dan beberapa pengawal lain. Sedangkan di sisi kiri sang duke juga ada Pangeran Lucas yang sedari awal tidak melepaskan tatapannya dari Eve dan Pangeran Julius yang terlihat dekat walau baru pertama kali bertemu. Seperti kenal lama. Dan itu membuat Lucas muak.


Semua yang ada si ruang makan tersebut sontak berdiri tak terkecuali Pangeran Julius. Usai Duke of Lumiere dan Pangeran Lucas duduk di tempatnya, barulah mereka kembali duduk di tempat masing-masing.


"Maaf, aku sedikit terlambat, Pangeran Julius dari Brodsway. Padahal sekarang adalah makan malam perdana kita semua, sedangkan aku justru tidak bisa pulang tepat waktu," ujar Zachary membuka percakapan.


"Tidak jadi masalah. Sembari menunggu, saya berbincang banyak dengan Lady Luvena serta semua lord yang ada di sini. Saya rasa, kami sudah cukup mengenal satu sama lain."


"Begitu kah?" Duke of Lumiere mengangguk pelan. Matanya kemudian melirik ke sisi kiri. "Perkenalkan, Yang Mulia Pangeran Julius dari Brodsway. Di sebelahku ini adalah calon putra mahkota Sasania yang berikutnya, Pangeran Lucas. Sebagai tamu kehormatan, His Royal Highness rela meluangkan waktunya demi menyambut kedatangan Anda di sini."


"Wah, saya jadi tidak enak." Pangeran Julius menggaruk tengkuk begitu tatapan dingin Lucas mengarah langsung kepada dirinya. "Pasti banyak waktu berharga Anda terbuang sia-sia hanya dikarenakan makan malam ini saja, ya?"


"Tidak sia-sia. Semua dilakukan demi Sasania."


Apakah hanya perasaan Julius saja bahwa Pangeran Lucas bersikap kepadanya layaknya memperlakukan seorang musuh? I-itu ... semoga saja tidak benar.


Mendengar jawaban singkat nan dingin itu, Ethan dan Beckett saling berpandangan. Duke of Lumiere pura-pura tidak mendengar, sementara Declan masih tenang sama seperti sebelumnya.


Pangeran Julius tertawa kering. "Ya, Anda benar. Demi Sasania ... dan Brodsway," koreksinya dengan suara pelan di akhir ucapan.


"Terima kasih karena orang muda berstatus penting seperti kalian bersedia duduk di ruang makan ku yang sederhana ini." Dia tersenyum singkat. "Daripada menunggu lama, lebih baik kita makan sekarang?" Setelahnya Duke of Lumiere menepuk tangannya dua kali.


Pintu kembali dibuka. Namun berbeda dengan pintu sebelumnya yang memang dikhususkan hanya untuk Keluarga Lumiere dan tamu, kali ini pintu di sisi barat membawa beberapa troli makanan spesial yang saling bersisian ditemani kandil-kandil kecil yang menyala elegan. Berbagai jenis makanan di dalam mangkuk diletakkan di rak kedua bersama teko-teko air. Sementara di rak atas terdapat makanan seperti lobster raksasa yang dimasak dengan perasan lemon dan kuah tiram.


Aromanya sungguh menggugah selera.


"Pangeran Julius, sebagai perwakilan Brodsway, apakah kami boleh tahu apa saja makanan yang tidak dapat kalian konsumsi?" tanya duke selagi pelayan dengan cekatan menata semua makanan tersebut hingga memenuhi meja makan. "Jadi aku bisa meminta pelayan untuk menyingkirkan makanan itu sekarang."

__ADS_1


"Kami makan semuanya, tenang saja," jawab Julius antusias. "Bahkan kakek saya, raja sebelumnya pernah memakan manusia, dan itu tidak masalah."


"Uhuk!" Eve buru-buru mengambil sloki yang sudah diisi perasan jeruk manis dan meminumnya terburu-buru.


Usai menarik napas panjang, dia mencoba meraih mangkuk berisi sup kerang. Di depannya. Merasa ada yang menatap, Eve mendongak. Dan benar saja, Lucas ternyata sedang menatapnya tajam seperti menatap seorang penjahat.


Bukan, sebenarnya itu bukanlah tatapan kepada penjahat. Melainkan tatapan ... cemburu.


Hanya saja Eve tidak peka.


Eve membalas tatapan tajam itu dengan tatapan polos. Memang, dirinya ada berbuat salah?


"Jangan terburu-buru, Lady Luvena. Lagipula kerang itu tidak akan beranjak dari mangkukmu," ujar duke berusaha mencairkan suasana. Dia berharap pangeran Brodsway yang satu ini bukanlah pria yang mudah tersinggung. "Dan pangeran, jangan bertindak terlalu sungkan. Anggap saja kastil kecilku ini seperti rumah keduamu setelah istana di Brodsway."


"Aduh, bagaimana bisa saya tidak sungkan? Dengar-dengar, Duke of Lumiere adalah orang nomor tiga di Sasania?" Matanya berkilat penasaran. "Berarti andaikan putra mahkota baru ini tidak cukup berkompeten, maka Anda lah yang akan naik menjadi raja?"


Declan segera berdehem. Kali ini lebih keras. "Maaf menyela, pangeran. Tetapi di Sasania, ucapan Anda barusan berindikasi dicap sebagai pengkhianat."


"Eh, mengerikan sekali?" Pangeran Julius memandang Declan tidak percaya. "Andai. Aku hanya mengatakan 'andai'. Apakah di Sasania ucapanku itu termasuk pengkhianatan?"


Beckett mengangguk tegas. "Ucapan seperti itu sama saja dengan meremehkan putra mahkota kami."


"Kalian tenanglah, Pangeran Julius masih baru di sini. Aku tidak masalah dengan ucapannya." Lucas akhir angkat bicara. Mau bagaimana pun, namanya juga terlibat dalam masalah kecil ini. Lucas, yang awalnya baru saja memegang sendok, akhirnya melepaskan batangan perak itu kembali. "Lagipula, sebenarnya saya belum lapar. Kalau begitu, silakan lanjutkan makan malam kalian. Saya akan berjalan-jalan di sekitar sini untuk menghirup udara segar."


Sebenarnya Lucas bukannya tidak lapar. Hanya saja, dia panas!


Panas melihat bagaimana cara Pangeran Julius yang kurang belaian itu mendekati Eve-nya yang berharga.


"Sepertinya aku harus bicara empat mata dengan Pangeran Lucas," ujar Julius mencoba tahu diri. "Kalau begitu aku permisi juga, Your Grace. Maaf mengganggu kalian, silakan dilanjutkan makan malamnya."


Usai kedua tamunya pergi, Zachary menghela napas pasrah. Diliriknya Eve yang masih sibuk berebut jelly bean bersama Beckett di ujung meja sebelah sana. Declan memperhatikan keduanya, sementara Ethan tampak bersemangat menyoraki Eve agar tidak kalah dari Beckett.


Oh, ayolah. Apa benar wanita yang sedang memperebutkan jelly bean itu sebentar lagi akan menikah? Dengan sikapnya yang kekanak-kanakan itu?!


"Jelly bean yang kalian perebutkan itu masih banyak di atas meja." Zachary menunjuk ke arah jelly bean yang penuh di dalam sebuah mangkuk kaca.


"Makanan hasil rebutan lebih nikmat, Your Grace." Usai mengucapkan hal tersebut, Beckett nyengir lebar.


Zachary menggelengkan kepala. Astaga, anak-anaknya ini. Kapan mereka akan dewasa? Apakah sampai seterusnya hanya Declan yang bisa benar-benar serius dalam menghadapi segala permasalahan. Sekarang, acara makan malam mereka berakhir gagal. Zachary hanya bisa memijit pelipisnya yang berdenyut.


"Cukup, kembali bersikap formal. Tamu malam ini adalah dua orang penting di kerajaan masing-masing. Aku harap kalian bisa menjaga nama baik dan jangan pernah sekalipun menampakkan sikap kekanak-kanakan seperti ini di hadapan mereka."


"Baik, Your Grace," jawab Eve dan Beckett lemah.

__ADS_1


"Bagus." Zachary memulai makan malamnya dengan puding buah.


Tiba-tiba pintu masuk kembali di buka.


"Semuanya, maaf terlambat. Pelayan saya yang lamban itu—" Britney yang baru datang akhirnya menyadari ke mana hilangnya tamu mereka. "Sebentar, di mana Pangeran Julius dan Pangeran Lucas? Bukannya kata Anda mereka sudah ada di sini, Your Grace?"


"Anda terlambat beberapa menit, My Lady." Ethan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Kedua pangeran sudah pergi. Bukan salah mereka, ini karena Anda yang terlambat ke mari."


"T-tapi aku tampil cantik untuk mereka." Britney hampir menangis.


Dia rela berdandan kurang lebih dua jam di depan cermin, tetapi ia merasa pengorbanannya tidak dihargai sama sekali di sini.


"Kenapa Anda mesti berdandan untuk mereka, lady?" Sahut Eve malas-malasan. "Suami Anda, kan, juga di sini. Mengapa tidak berdandan untuknya saja?"


"Bocah kecil, jangan sok menasehati!" Lady Britney dalam sekejap berubah menjadi naga yang siap menyemburkan apinya. "Habiskan saja camilan di depanmu itu dan diam. Itu karena aku tidak memerlukan komentar apapun darimu!"


"Galaknya," gumam Eve sembari memasukkan jelly bean berwarna merah muda di dalam mulut. "Nanti hasil dandanan mu gagal jika selalu marah-marah. Lihat." Eve menunjuk dahi Lady Britney yang sedikit berlipat. "Dahi Anda berkerut. Jadi, setebal apapun riasan yang Anda kenakan, semua itu tidak bisa menutupi usia Anda yang sebenarnya."


Lady Britney terdiam. Kedua putranya terdengar menahan tawa sementara Declan cepat-cepat memalingkan muka. Parahnya lagi, Duke of Lumiere malah ikut mengejek dirinya yang —menurutnya— sudah cantik luar biasa.


"Diam! Kalian tidak tahu apa itu seni, jadi diam saja dan nikmati kebodohan kalian itu!" Usai mengucapkan hal tersebut, Lady Britney membuang napas keras-keras lalu pergi begitu saja bersama para dayangnya yang tergopoh-gopoh. Meninggalkan anggota keluarga Lumiere yang lain dalam cekikikan geli.


"Ucapannya sangat kasar," ujar Zachary setelah puas menertawakan Britney. "Dia akan mendapatkan hukuman atas apa yang sudah dia ucapkan."


...----------------...


Halo, sayang~


Eh, ketularan virusnya si Julius nih jadi manggil sayang-sayang🤣


Sampai sini udah jelas kan yaaa gimana sifat-sifat dari tokoh kita ini?


Jadi, tentukan pilihan kalian berdasarkan keinginan hati! Jangan lupa penuhi kolom komentar dengan ketikan kalian😆


A. Pangeran Julius. Sifatnya kurang lebih sama seperti laki-laki pada umumnya, yaitu menyukai wanita good looking. Mudah berbaur, dan soft.


atau,


B. Pangeran Lucas. Sifatnya cerdas, pintar menganalisis situasi, dan dianggap sebagai pangeran yang paling mumpuni dari yang lain. Sulit ditebak, dan tsundere.


Tau gak apa itu tsundere? Itu sebutan buat orang yang dingin diluar, tapi sebenernya perhatian dan tulus terhadap seseorang, jiaakkhh🤣


See you next episode 👋

__ADS_1


__ADS_2