Mendadak Bangsawan

Mendadak Bangsawan
Hadiah untuk His Grace


__ADS_3

Sekali lagi, Eve memperhatikan penampilannya yang cukup berbeda. Setelan biru gelap yang dipadukan dengan celana panjang bernada sama, terlihat cocok dipasangkan dengan rambut pirangnya. Untuk sementara tidak ada gaun, tidak ada hiasan kepala. Eve merasa cukup ringan karenanya.


Perhatian Eve tiba-tiba teralihkan begitu matanya kembali menatap belati pemberian Declan tempo hari. Di atas meja. Kemudian, manik biru itu bergulir lagi ke sebuah kotak persegi panjang yang dibalut kain bludru marun. Kali ini dia sudah mengambil keputusan yang cukup besar.


"Nona."


Panggilan Eris dari luar membuatnya menoleh sebentar.


"Masuk. Ada apa."


"Seekor burung elang tampak terbang berputar-putar di langit selatan," lapornya sesuai yang dilihat. "Apakah itu pertanda yang dimaksud?"


"Perhitunganku tidak pernah meleset, kan. Pasti His Grace melakukan sesuatu terhadap kalian," gumam Eve yang masih bisa didengar oleh sang komandan. Pria itu hanya bisa bertanya-tanya di dalam hati, kira-kira His Grace siapa yang Eve maksud.


Gadis itu mengernyit tatkala menyadari Eris masih betah berdiri di depan pintu.


"Masih ada yang kau butuhkan?"


"Saya sedang menunggu perintah selanjutnya."


"Tidak perlu. Tugasmu sudah selesai. Sekarang aku bisa melakukan semuanya sendiri. Lagipula pasukan lebih memerlukan dirimu, 'kan. Pergilah, tidak baik membuat mereka menunggu."


Eris menggeleng. Perasaan tidak enak mulai merambat di hatinya.


"Saya sudah salah menilai Anda. Saya mengira Anda tidak ada bedanya dari lady bangsawan kebanyakan yang suka menyusahkan orang lain. Ketua benar, meski Anda tidak diperkenankan mengangkat senjata, namun pemikiran cerdas Anda dapat melengkapi strategi kita dan itu jauh lebih bermanfaat dari apapun. Dan sejauh ini, sikap Anda berhasil membuat saya segan dan terkagum-kagum. Perbuatan saya tadi pagi, jelaslah hal yang keliru."


Eris berlutut, kepalanya menunduk dengan lengan kanan yang ditopang oleh lutut kanan.


"Izinkan saya untuk mengabdikan hidup untuk Anda!"


Eve menarik sebelah alisnya ke atas.


"Aku tidak suka dengan orang yang hanya bermain-main."


"Bermain-main?"


"Jika sudah berjanji seperti itu, maka harus menepatinya sampai mati." Eve tersenyum miring. "Jika tidak mampu, maka lebih baik lupakan saja."


"Saya sudah memikirkannya matang-matang dan tekad saya masih tetap sama."


"Begitu." Eve kembali mengambil kotak marun yang berada di atas meja lalu menyerahkannya kepada Eris.


"Kalau begitu selamat datang, Eris. Tugas resmi pertamamu adalah mengantarkan benda ini kepada Duke of Lumiere. Pastikan tidak boleh ada satu orangpun yang tahu mengenai isinya. Jika berhasil, maka aku akan mempertimbangkan permintaanmu."


"Duke of Lumiere?" ulangnya sembari menerima kotak marun itu disertai tatapan bingung.


"Ya, ayahku."


"Ayah?!" pekik sang komandan terkejut. "Jadi Anda adalah putrinya?!"


"Entahlah, bisa dibilang begitu." Eve berbalik. Sekadar untuk mengambil kembali belati pemberian Declan yang dia taruh di atas meja, lalu menyimpan benda itu di balik jubahnya yang lebar.

__ADS_1


Eris mengerjap. Cukup terkejut akan status wanita yang dibawa lari oleh ketua mereka ini. Pantas saja perang yang akan dilakukan Ksatria Nyx kali ini melibatkan negeri lain jika wanita yang diperebutkan adalah wanita seistimewa sang lady. Putri duke yang terkenal, cantik, dan nilai plus tersendiri bagi Eve adalah; bisa berdiri sendiri tanpa bergantung kepada uluran tangan orang lain. Jika tahu begini, Eris akan semakin semangat membantu agar Ketua dan sang lady pujaannya bisa bersama.


"Pergilah, Komandan. Semakin lama kau berdiri diam di sini, maka semakin banyak juga luka-luka di tubuh kakak-kakakku," ujar Eve setengah bercanda.


Namun sebenarnya dia tidak bercanda sama sekali.


"B-baik, saya akan mengantarkannya secepat mungkin!"


"Letakkan kotak itu diam-diam di atas meja kerjanya. Pastikan His Grace tidak mengetahui keberadaanmu. Dan ... ada sedikit tugas tambahan."


"Apa itu?"


"Kau ahli merekayasa kunci?"


Eris mengangguk, walau tidak begitu yakin. "Tergantung hoki."


"Pergilah ke penjara bawah tanah yang berada di bawah bangunan tenggara...."


...----------------...


Usai berdiskusi panjang lebar mengenai tata letak penjara bawah tanah yang lebih detail, kini Eris mulai menjalankan misi penting. Tidak perlu menunggu matahari turun dari singgasananya baru dia bisa menyelinap masuk ke dalam kastil. Nyatanya, di siang bolong begini pun, Eris masih bisa masuk melalui jarak pohon ke pohon.


Beberapa kali keberadaannya hampir diketahui oleh para penjaga yang berlalu-lalang. Sepertinya kastil masih dijaga ketat semenjak hilangnya lady muda mereka. Lady yang kabur, adalah wanita yang sama dengan tuan barunya. Terkadang Eris sendiri tidak habis pikir mengapa Ketua mereka bisa mencintai orang yang sulit dicapainya.


Sejauh yang dia tahu, Ketua hanyalah orang biasa. Kastanya jauh berbeda dari Lady Lumiera!


"Sepertinya ada yang aneh dari arah balkon. Dua tim, tolong cek ke atas!"


"Baik!'


Usai dua tim yang diperintahkan untuk mengecek balkon lewat, Eris buru-buru mengambil kesempatan masuk mumpung pintu kiri terbuka lebar.


Ah, sepertinya hari ini akan berlangsung lama.


...----------------...


"Tugas terakhir."


Baron O'Neil mendekat. "Ya, Your Grace?"


Zachary menghela napas. "Apa tugas terakhir hari ini," ulangnya sabar.


"Hanya perlu menyelesaikan sisa dokumen yang belum diberi stempel. Tugas Anda selesai." Baron menutup buku catatannya lalu memperhatikan Zachary dengan raut cemas.


"Tidak perlu memaksakan diri untuk mencari Lady Luvena kesana-kemari, dia pasti baik-baik saja. Justru, kondisi Anda saat inilah yang membuat saya khawatir."


Baron O'Neil meletakkan secangkir teh herbal di pojok meja sang duke. Matanya kembali menyendu begitu melihat seberapa kacaunya Zachary dengan pakaian acak-acakan, lengkap dengan rambutnya yang terlihat kusut. Di wajahnya yang biasanya selalu terlihat segar, kini tampak sepasang kantung mata dan ekspresi kecut.


Jika Lady Luvena tidak ditemukan secepat mungkin, Baron O'Neil takut terjadi sesuatu kepada Duke of Lumiere!


"Aku baik-baik saja."

__ADS_1


Bohong. Baron O'Neil tahu, itu bohong.


"Anda bisa menyelesaikan tugas terakhir itu nanti malam, sekarang lebih baik anda istirahat—"


"Aku juga berniat seperti itu. Tugas terakhir, biarlah dikerjakan nanti malam."


Senyum lega menghiasi wajah keriput Baron O'Neil. Akhirnya, duke mau menyentuh kasur yang tidak pernah dia tempati selama beberapa hari belakangan ini—


"Siapkan kuda. Aku ingin memantau pelabuhan. Mungkin saja sudah ada berita mengenai gadis pembangkang itu."


"T-tapi, Your Grace, Anda memerlukan istirahat barang sebentar saja!"


"Bagaimana bisa kau berpikir aku bisa beristirahat dengan tenang sementara keberadaan putriku sampai sejauh ini masih tidak jelas?!" Zachary memijit pelipisnya sendiri. Ah, ya ampun. "Apa yang dia lakukan, bersama siapa, dan bagaimana keadaannya. Aku ingin tahu semuanya. Itulah perasaan ayah terhadap putrinya, dan itu juga yang tengah kurasakan sekarang. Sudah jelas, kan? Jadi, jangan larang aku untuk melakukan apapun lagi, baron!"


Bibir Baron O'Neil kelu. Dia tidak tahu harus bagaimana cara membalas ucapan Zachary yang ... berbeda.


"Anda menyayangi gadis kecil itu?"


"Tidak. Pertanyaanmu itu menjijikkan sekali."


Baik, inilah Zachary yang Baron O'Neil kenal. Seorang duke yang memiliki harga diri setinggi langit.


"Maaf karena saya tidak akan pernah tahu maksud Anda tentang 'perasaan ayah terhadap putrinya' karena saya hanya memiliki beberapa orang putra. Kalau begitu, saya akan menyiapkan kuda Anda untuk pergi ke pelabuhan."


Baron O'Neil menunduk hormat, "saya permisi," ujarnya sebelum berbalik lalu menutup pintu dari luar. Meninggalkan Zachary sendirian di dalam ruangan luas ditambah suasana hatinya yang masih kacau.


Sayang? Haha, lucu sekali. Mana ada perasaan seperti itu. Menurut Zachary yang mengedepankan rasional, perasaan adalah hal yang konyol. Tidak, tidak, mungkin perasaan gelisah yang dirasakannya saat ini murni karena hubungan politik Sasania-Brodsway. Dan barusan, bagaimana bisa ia mengatakan hal menggelikan seperti 'perasaan' kepada baron? Ya ampun!


Di saat Zachary masih sibuk membaca isi pikirannya sendiri dengan lengan yang menindih mata, Eris mengambil kesempatan tersebut dengan menjatuhkan kotak marun titipan Eve tepat di depannya. Zachary tentu terkejut dan refleks mendongak. Sayang, dalam hitungan sepersekian detik, Eris berhasil kabur dari saluran plafon yang dibiarkan terbuka dan Zachary sempat melihat punggungnya.


Lagi, dia hanya menghela napas. Biarlah orang itu pergi, hari ini Zachary sedang tidak berselera menghukum seseorang.


Manik biru itu kembali menatap kotak marun yang dijatuhkan oleh orang tadi. Karena penasaran, Zachary akhirnya membuka isinya, lalu mematung.


Dia menyesal.


Menyesal karena telah membuka isi dari kotak itu.


...****************...


Halo semua!


Hari ini author bawa berita baik buat kalian, loh. Sebab, untuk update selanjutnya, insyaallah MENDADAK BANGSAWAN akan tamat, horayyyy!!!🥳


Target tamat sebelum ramadhan gak tercapai, alhamdulilah target tamat bertepatan dengan hari raya IdulFitri bisa diwujudkan. Spoiler dikit, endingnya gantung. Tapi supaya menuntaskan rasa kepo kalian, maka author sudah buatkan extra part yang terdiri dari dua cerita karakter acak dan satu kelanjutan kisah perjalanan cinta Lucas-Eve.


Keseluruhan ceritanya sudah selesai, tinggal tunggu tanggalnya aja buat di update. Lagi pun, author gak mau terburu-buru. Sebuah cerita yang bagus gak akan tercapai bila penulisnya ceroboh saat melakukan finishing, eaak.


Maka dari itu, tolong maklum kalau updatenya kadang agak ngaret (tapi kalau ngaretnya sampai hitung bulanan jangan ditiru ya, hahaha). Author pengen memberikan cerita terbaik buat kalian, supaya pas baca, kalian gak dibikin sakit mata🤣


Berhubungan dengan kata 'ngaret' jujur aja Mendadak Bangsawan ini cerita paling ngaret versiku di Noveltoon. Pertama, bentrok sama ujian sekolah, lalu enggak lama ini juga bentrok sama seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri. Alhamdulillah, tahun ini author juga mulai kuliah. Di semester awal mungkin masih senggang buat nulis. Jadi doain, yaaaa🤩

__ADS_1


Don't forget to like, comment and gimme a vote. Luv ya💞


See you next episode👋😉


__ADS_2