
"Ahahaha! Jadi ini keponakanku yang paling cantik itu?"
Tawa sang raja menggema saat Declan dan Eve masuk ke dalam ruangan luas dengan puluhan kursi yang sudah di tata apik tersebut. Di ujung meja, Eve melihat pria bersurai coklat memiliki wajah yang mirip dengan Duke of Lumiere. Kebetulan si ayah yang dinginnya melebihi es batu itu sudah duduk di samping pria paruh baya yang dia perkirakan adalah sang raja berkuasa di sini.
Walaupun memiliki rupa yang mirip, tapi ekspresi keduanya jauh berbeda. Jika Duke of Lumiere selalu mengeluarkan tatapan tajam dan sinis, lain halnya dengan pria paruh baya yang selalu tersenyum hangat bahkan jauh sebelum Eve datang.
Usai dipersilahkan duduk dengan kursi yang bersebelahan dengan Declan, Eve akhirnya menjawab ucapan sang raja.
"Tentu saja saya yang paling cantik. Semua saudara saya laki-laki, Your Majesty," sahut Eve ringan dengan nada bicara seolah sudah mengenal sang pemimpin Sasania sejak terlahir ke dunia. Mendengar hal itu, Declan menyikutnya. Begitu pun dengan Zachary yang memberikan tatapan peringatan dari balik cawan yang dia minum.
Hudson kembali tertawa. "Tidak aku sangka, ternyata ada salah satu keponakanku yang bisa diajak bicara." Sang raja menoleh ke arah saudaranya, Zachary. "Bukan begitu, Duke of Lumiere? Putramu itu bahkan bisa lebih kaku lagi darimu," ujarnya sembari melirik Declan.
Zachary berdehem. "Anggap saja sikap kaku yang kami miliki ini merupakan cara bertahan hidup. Sehingga kami tidak mudah termakan dengan sikap menjilat orang lain."
"Begitu kah?" Hudson tampak mengulum senyum. Dia kembali mengarahkan tatapannya kepada Eve dengan dengan binar tertarik yang begitu jelas terlihat di balik kedua matanya yang terang. "Jadi perkenalkan dirimu padaku."
Eve berdiri, menghasilkan bunyi derit halus yang dihasilkan dari kursinya yang terdorong ke belakang. Sama seperti sebelumnya, Eve menunduk dengan menarik ujung-ujung gaunnya ke atas. "Your Majesty, saya adalah Lady Luvena Lumiera, putri tunggal dari keluarga Lumiere yang merasa sangat beruntung karena dapat bertemu dengan Anda secara langsung."
Hudson tak repot-repot untuk menutupi kegembiraannya. "Tata krama yang Lady Luvena miliki sudah sangat bagus. Aku rasa tidak perlu setahun, kita sudah dapat mengirimnya ke Brodsway. Bagaimana menurutmu, Duke of Lumiere?"
Mendengar hal itu, Declan yang ingin meminum tehnya tiba-tiba tersedak. Dengan sigap Eve menepuk-nepuk pundaknya agar Declan merasa baikan. Dari interaksi keduanya, Hudson bisa menyimpulkan sesuatu; Hubungan mereka sebagai saudara benar-benar baik.
__ADS_1
"Tidak. Sesuai perjanjian. Jika setahun, maka akan tetap setahun." Zachary menjawabnya dengan mantap. "Lagipula dalam tradisi Brodsway, usia Lady Luvena belum cukup untuk melakukan pernikahan. Mohon Yang Mulia bersabar sebentar lagi."
Hudson tampak manggut-manggut. "Benar juga," ujarnya setelah berpikir sebentar. "Baiklah, sepertinya kita cukupkan pembahasan perjodohan Lady Luvena sampai sini. Sekarang aku ingin memperkenalkan putra-putra ku kepadamu, Lady."
Eve menatapnya heran, "Putra-putra?"
"Sebenarnya di istana sebesar ini, tidak ada satu orang pun putri yang tinggal. Hanya ada selusin pangeran." Hudson tersenyum lembut lagi. Kemudian dia menunjuk seorang pria tampak sudah cukup berumur yang duduk di sebelah kirinya. Pria yang sejak tadi tidak mengeluarkan suara, hanya menyimak percakapan ayahnya dengan anggota keluarga baru Lumiere. "Ini Putra Mahkota Felix Roosevelt. Kandidat utama yang akan melanjutkan takhtaku dan memimpin Sasania ke depannya. Dan ...."
"Maaf, saya terlambat." Pangeran Clainton yang baru datang terlihat berdiri di depan pintu sambil meringis pelan. Ah, andai bukan karena Lucas, dia tidak akan terlambat.
"Tidak masalah, silakan duduk," jawab sang raja santai. "Nah, Lady Luvena. Dia adalah Pangeran Clainton Roosevelt, putra kedua ku."
"Senang berkenalan secara resmi denganmu, Lady," ujarnya akrab.
"Lord Lumiero yang memperkenalkan saya dengan adiknya beberapa waktu yang lalu," jawab Pangeran Clainton atas pertanyaan sang raja.
"Semoga kalian bisa cepat-cepat akrab. Aku senang jika keluarga besar kita selalu bisa berkumpul bersama dengan suasana hangat seperti ini," ujar Hudson menambahkan.
Hangat? Eve rasa tidak. Buktinya masih ada es batu di sekitar mereka. Ayahnya itu tentu saja.
Ah, atau suasana hangat yang bangsawan maksud dan suasana hangat yang rakyat biasa rasakan itu berbeda? Jujur, Eve lebih senang dengan suasana hangat di desa saat diselenggarakannya festival tahun baru, yaitu saat menghias desa bersama. Di sana tidak ada yang namanya menggolongkan manusia berdasarkan status. Semuanya sama-sama bekerja dan menikmati hasil kerja keras tersebut saat jam menunjukkan pukul dua belas malam tepat.
__ADS_1
"Di mana Pangeran Lucas?"
Bariton berat yang berasal dari orang nomor satu di Sasania itu berhasil menarik Eve dari lamunan singkatnya.
"Maafkan saya, Your Majesty. Saya sudah mencarinya di mana-mana tetapi Pangeran Lucas tidak ditemukan." Pangeran Clainton yang kebetulan duduk tepat di hadapan Eve hanya bisa menghela napas. "Besar kemungkinan dia tidak ada di istana."
"Anak itu kabur lagi?" Beo Hudson terkejut. "Padahal kita kedatangan tamu spesial di sini. Apa dia tidak diberitahu?"
Ruangan yang berisikan lima orang laki-laki dan satu orang perempuan itu mendadak senyap.
"Sudah aku katakan padamu, Duke of Lumiere. Larang Pangeran Lucas untuk bergaul dengan Beckett. Anak itu membawa pengaruh buruk untuk putraku."
Seketika Eve merinding sendiri. Apakah Raja Hudson ini mengidap penyakit bipolar? Beberapa detik yang lalu suasana hatinya terlihat sangat baik—bahkan selalu menebar senyum ramah. Sekarang dalam sekejap keramahan pria itu lenyap tak berbekas dan malah menyalahkan Beckett. Eh, tunggu. Benar, di pertemuan ini Eve tidak melihat kehadiran Ethan maupun Beckett. Hanya ada Declan dan dirinya. Apa itu berarti....
Zachary yang terlihat tidak terganggu sama sekali dengan ucapan ketus sang raja mengangguk samar. "Belakangan ini Pangeran Lucas tidak mampir ke kastil ku lagi, Your Majesty. Sepertinya dia pergi ke tempat lain."
"Ya. Dia mungkin pergi ke tempat lain. Tapi perlu diingat, siapa yang mengajarkannya jadi pembangkang seperti sekarang?" Sang raja mendengus, "semua ini disebabkan oleh putra pelacur itu. Kedua putranya itu memang tidak layak untuk berada di ruangan yang sama denganku."
Raja membenci Ethan dan Beckett.
"Tetapi mereka berdua adalah putraku, Your Majesty," jawab Zachary pelan.
__ADS_1
"Sebelum menjadi milikmu, ibunya itu adalah wanita bebas, kan? Bahkan sampai saat ini kau masih memberikan kebebasan dengan mengizinkan pelacur itu pergi ke wilayah barat padahal dia tidak memiliki tujuan yang jelas untuk pergi ke sana." sahut Hudson lalu berdiri. "Kau tidak bisa memastikan dengan sungguh-sungguh apakah mereka itu benar darah dagingmu. Karena aku yakin, kau bukan pria satu-satunya bagi wanita itu."