
Bagaimana pun sengat matahari membakar kepalanya, Declan tetap duduk tegap di atas kuda hitam pekatnya yang garang. Dari kejauhan dia bisa melihat umbul-umbul merah hitam berlambangkan naga tengah mendekat dalam kecepatan sedang. Tidak salah lagi, itu pasti rombongan Pangeran Julius. Declan benci mengakui hal ini namun pria dari negara tetangga itu sebentar lagi akan berubah menjadi adik iparnya. Tetapi walaupun begitu, Declan rasa tidak etis jika membiarkan Pangeran Julius itu setiap harinya berada dalam satu rumah yang sama dengan Eve!
Mau bagaimana pun, mereka tetap saja belum menikah. Declan tidak terima.
Pasukan tersebut kian mendekat. Orang pertama yang sampai duluan di perbatasan adalah pria dengan rambut panjang berwarna putih pucat. Senada dengan warna pakaian kerajaannya dan tak lupa pula tersampir sebilah pedang besi bertahtakan berlian merah di pinggangnya.
"Mana Lord Lumiero yang katanya akan mengantarkan aku ke kastil?" ujarnya buka suara.
Baik, kesan pertama Declan pada orang-orang Brodsway: Angkuh!
Declan mendekat. Dari nada bicaranya, dia bisa tahu siapa orang itu. "Selamat datang di Sasania, Pangeran Julius dari Brodsway," sahutnya formal. "Kedatangan Anda sudah kami tunggu-tunggu bahkan sebelum matahari terbit. Jika tidak keberatan, mari saya antarkan Anda menuju kastil kami yang letaknya paling dekat dengan istana, Kastil Lumiere."
Declan menjeda. Ini kesempatannya untuk menawarkan tempat lain selain kastil mereka. "Namun sayang sekali, Kastil Lumiere tentu saja kalah mewahnya dibandingkan istana. Apakah Anda tidak keberatan dengan hal itu? Ataukah saya perlu mengurus kamar baru Anda di istana?"
"Tidak, aku ingin tinggal bersama calon pengantinku." Pangeran Julius menolaknya tegas. "Dengar-dengar, dia sangat cantik maka dari itu aku datang kemari lebih awal dari undangan agar bisa menghabiskan waktu lebih lama bersama dengannya." Julius mengamati Declan. "Oh, iya. Omong-omong kau Lord Lumiero, ya?"
Declan mengangguk dua kali.
"Berarti sebentar lagi kau akan menjadi kakakku. Menjadi suatu kehormatan besar untukmu, kan?" ujarnya percaya diri, "sekalian jadi tangan kananku, bagaimana?"
Tangan kanan apanya? Declan tahu maksud sang pangeran. Pasti dia ingin meminta Declan menjadi suruhannya. Tidak salah lagi?!
"Maaf, Pangeran. Saya adalah pewaris Lumiere, dan juga saya sekarang sedang membantu calon putra mahkota. Saya khawatir tidak bisa membagi waktu dengan Anda apalagi sampai membuat Anda kecewa," tolak Declan dengan sopan.
Ugh, padahal baru bertemu beberapa menit yang lalu, tetapi mengapa Declan merasa kedepannya dia akan membenci Pangeran Julius ini.
Secara fisik, tidak ada kekurangan apapun pada diri Pangeran Julius. Tampan, memiliki tubuh proporsional khas Brodsway, bahkan kaya—sangat kaya. Declan sangsi jika dia adalah pria baik-baik. Mungkin paling tidak Pangeran Julius sudah memiliki satu atau dua wanita simpanan di istananya.
__ADS_1
"Wah, sayang sekali." Pangeran Julius menepuk pundak Declan sembari tersenyum lebar. "Padahal aku menyukaimu, loh!"
Declan membungkuk. "Tolong maafkan saya."
"Aku menyukai sifat mu yang rendah hati ini, Lord Lumiero. Jika kau menolak menjadi tangan kananku, bagaimana jika kita berteman saja?" usulnya riang. "Jadi setelah kita menjadi keluarga, kau tidak akan terkejut dengan adik barumu ini. Ya~"
Declan mengangguk kaku. Oh, iya, apakah sebelumnya Declan pernah memuji bahwa Pangeran Julius itu tampan? Ok, Declan menarik kata-katanya barusan. Tampan bukanlah kata yang cocok untuk menggambarkan sosoknya, melainkan cantik. Ya, laki-laki cantik. Itu baru cocok. Dengan bulu mata yang lentik alami, rambut panjang, dan kulit yang terlihat halus lembut. Sangat sulit mendapatkan laki-laki tampan dengan ciri-ciri unik tersebut.
"Cuaca semakin terik. Lebih baik kita segera ke kastil," sambung Pangeran Julius seolah melupakan ucapannya beberapa detik yang lalu. "Mari, Lord Lumiero."
Declan mengambil posisi di depan rombongan tersebut. Memerintahkan anak buahnya yang menjaga pintu benteng untuk membuka pintunya luas-luas. Di sepanjang jalan menuju ibukota para prajurit berbaris melakukan hormat senjata dengan mengacungkan pedang ke atas. Walau sang pangeran datang mendadak —karena tidak sabar ingin menemui calon pengantinnya yang akan berubah status menjadi tunangannya beberapa bulan lagi— persiapan yang dilakukan Kerajaan Sasania dapat dikatakan sangat cepat sehingga pangeran negeri tetangga itu masih bisa mendapatkan sambutan yang layak sesuai kedudukannya.
Bangunan besar kastil Lumiere dapat dilihat dari jauh. Secara keseluruhan, bangunan tersebut diselimuti oleh warna putih dan krem yang lembut. Dan begitu gerbang utamanya dibuka, objek yang pertama kali Pangeran Julius lihat adalah seorang gadis bersurai pirang tengah berlarian bersama dengan seorang pria berambut hitam. Tak jauh dari mereka, pria berambut pirang sebatas telinga terlihat tengah menertawakan keduanya.
"Apakah wanita itu yang akan menjadi istriku?" tanya Pangeran Julius tiba-tiba.
"Sangat cantik melebihi ekspektasi ku." Terlihat Pangeran Julius menatap Eve lekat seperti seekor singa yang mengintai mangsa. "Tetapi mengapa kalian membiarkan wanitaku bersama dengan pria lain?"
"Pria lain?" Beo Declan lalu ikut menatap ke depan. "Ah, apakah maksud Anda adalah pria bersurai hitam itu? Tenang saja, dia adalah saudara kami, pangeran."
"Saudara? Kalau begitu aku juga harus mengakrabkan diri dengannya." Pangeran Julius turun dari kudanya. Menyerahkan kekangnya kepada salah satu prajurit lalu berjalan menghampiri tiga bersaudara tersebut tanpa sempat Declan cegah.
"Halo, selamat siang, semua!" sapa Pangeran Julius sembari melambaikan tangannya ke udara.
Melihat orang asing masuk ke dalam kastil mereka, tentu membuat Ethan, Beckett, dan Eve waspada. Apa-apaan, mereka saja tidak kenal dengan pria pucat bersurai panjang itu. Bagaimana dia berani menyapa riang seperti bertemu dengan kawan lama?!
Krik krik....
__ADS_1
"Ah, kalian orang Sasania sangat kaku. Padahal aku sedang menyapa, kenapa aku tidak disapa balik?" Dia mencebikkan bibir.
"Maaf, Tuan, di sini kastil Lumiere. Apakah Anda sedang tersesat? Bagaimana jika saya membantu Anda pulang?" Ethan yang lebih dulu membuka suara dengan bahasa sopan. Sialan, jika benar orang ini adalah orang yang tersesat, maka Ethan tidak akan memaafkan para prajurit yang berjaga di luar.
"Loh, aku tidak tersesat, kok. Lord Lumiero sendiri yang mengantarkan ku kemari langsung dari perbatasan." Kemudian manik pucatnya bergulir ke arah Eve.
"OH, YA AMPUN, CALON ISTRIKU DILIHAT DARI DEKAT TERNYATA LEBIH CANTIK. CANTIK SEKALI!" Pekiknya histeris bahkan bersiap ingin memeluk andai Ethan lebih dulu bergerak untuk menahannya.
Melihat keagresifan pria itu, Eve terpaku. Bukannya terpana, melainkan merasa syok.
Otaknya berusaha memproses semua kejadian tiba-tiba ini. Pria pucat itu ... Itukah calon suaminya?
Melihat dari sikapnya, apa benar dia seorang pangeran dari ... Brodsway?
...----------------...
Halo semuanya~ update cepat nih hehe. Aku kepengen bahas hubungan darah Eve-Lucas di sini, nih. Jadi kalau bisa jangan skip yak😉
Kemaren ada yang bingung atau mungkin ada yang sampai saat ini bertanya-tanya, bagaimana jadinya pernikahan mereka berdua sebab Eve dan Lucas itu punya hubungan sepupu dari ayah mereka (Duke Lumiere dan Raja Hudson) yang bersaudara. Karena pengetahuan agamaku gak bagus-bagus amat dan sekalian aja nyari ilmu, jadi aku cobalah searching di google. Dan di sana dituliskan bahwa sepupu —baik dari nasab ibu maupun ayah, itu bukan mahram— so, ngga masalah kalau mereka menikah jadi aku engga harus bikin cerita belibet. Konsepnya sama seperti di awal, Lucas anaknya Hudson dan Eve tetap anak kandungnya Duke Lumiere. Udah, itu aja. Tapi kalau ada yang lebih tau hukum tentang sepupu itu mahram atau engga, bisa komen di bawah? Sekalian sharing ilmunya untuk semua pembaca di sini😉
'Mendadak Bangsawan' Just story, baiknya dari cerita ini bisa di ambil, tapi yang buruknya ya jangan diikuti karena cerita ini dibuat berdasarkan sistem kebangsawanan Eropa (Raja, Duke, Marquess, bla bla bla sampai baron) yang pada umumnya berbeda dari ajaran Islam, sehingga permasalahan hubungan sepupu di atas tidak jadi masalah. Mungkin kalau aku bikin cerita berlatarkan Kerajaan Ottoman (fyi, aku pernah kepikiran buat cerita ini karena beda dari yang lain wkwk) mungkin bisa lah syariat Islamnya diperkuat. Sayang, meriset sejarah Ottoman itu susah, pengetahuan yang menjurus ke sana juga terhitung sedikit. Beda dengan Kerajaan Eropa yang basicnya aku ambil dari Kerajaan Inggris yang masih ada sampai saat ini dan artikelnya pun cukup mudah dijumpai.
Ups, author notes kepanjangan, ya? Haha, ya udah sampai di sini saja. Kalau ada ketikan yang ga ada akhlaknya, tolong dimaafkan🤣
Pertanyaan terakhir, apakah kalian menyukai sikap Pangeran Julius?✋🏻
Tulis di kolom komentar yaa🙃
__ADS_1
See you next episode 👋