
Setelah kejadian di meja makan, Eve mengurung diri di dalam kamarnya. Sudah puluhan kali tak terhitung para pelayan membujuknya agar mau membukakan pintu dan menerima makan siangnya yang bahkan belum disentuh sama sekali.
Sekilas, Eve melirik pintu kamarnya lalu menghela napas. Tatapan sendunya kembali mengarah ke luar kastil. Tepatnya pada jalanan setapak yang dia ingat sebagai jalan menuju desa tempat tinggalnya.
"Apa sebaiknya aku kabur saja?" Gumam Eve kepada dirinya sendiri.
Sementara itu di depan pintu, Declan menatap beberapa pelayan yang berusaha membujuk Eve dengan kernyitan dalam di dahinya. Langkah lebarnya membawa pria itu mendekat. Menyadari sang pewaris berdiri di belakang mereka, para pelayan itu buru-buru memberi jalan sembari membungkuk patuh.
"Ada apa dengannya?"
"Her Ladyship tidak ingin menerima makan siang yang kami bawakan, My Lord," ucap salah satunya takut-takut.
Declan kembali menatap pintu putih berukir itu dengan tatapan dingin. "Apa pintunya dikunci?"
"Tidak, tapi kami dilarang masuk."
"Berikan makan siangnya padaku. Biar aku yang ke dalam."
Usai mendapatkan perintah, salah satu pelayan yang membawa sebuah nampan berisi daging sapi saos tomat, susu, buah-buahan, dan camilan itu diserahkan kepada Declan. Dengan isyarat lirikan matanya, Declan meminta pelayan itu membukakan pintu untuknya masuk sebelum aroma apel yang khas menyeruak masuk ke dalam indra penciuman sang pewaris.
"Aku bilang jangan ada satupun yang berani masuk sebelum aku mengizinkan. Apa kalian tuli?!" Eve membentak. Walau begitu, tatapannya masih terkunci kepada pemandangan di luar sana.
"Isi perut dulu. Setelah itu silahkan lanjutkan lagi acara merajuk mu." Declan meletakkan nampan penuh tepat di atas meja yang berdiri di samping Eve. "Beckett akan marah padaku jika kau sakit. Begitu juga dengan Declan."
Declan sudah berbalik pergi. Namun nyatanya langkah pria itu terhenti tatkala Eve mengeluarkan suaranya. "Declan maksudmu itu ... kau, kan?"
Eve sudah mengetahui siapa dirinya. Declan kembali berbalik, menatap Eve lekat. "Jika aku Declan, apa yang akan kau lakukan?"
Di luar ekspektasi, Eve justru tertawa. Tawa ironi yang menghantarkan gelenyar menusuk di dalam hati Declan. "Sejak awal kau sudah membohongiku. Selanjutnya apa? Ah, kebohongan besar pasti akan terjadi suatu saat nanti."
Lidah Declan kelu. Dia tidak langsung menjawab. "Eve ...."
"Asal kau tahu, aku paling benci kebohongan," potong Eve yang kembali menatap deretan pohon pinus yang berjejer di samping jalan jauh di depan sana. "Dan kau sudah melakukannya. Memangnya untuk apa?"
"Kau ingin tahu mengapa aku melakukannya?" Declan mendekat. Berdiri tepat di belakang Eve sehingga pantulan keduanya tampak jelas di depan jendela kaca yang mereka hadapi. "Seperti keinginanmu; aku akan mencari mama dan membuatnya tinggal di tempat terbaik. Jika sejak awal aku mengaku sebagai Declan, aku yakin kau sudah dilarang mama untuk mengatakan yang sebenarnya padaku."
__ADS_1
Keheningan kembali mengambil alih. Declan tahu jika Eve memanglah wanita cerdik. Jika Declan salah menjawab, bisa-bisa hati adiknya semakin sakit.
"Mama hanya tidak ingin kau berada di dalam masalah." Eve hanya melirik sebentar sebelum pandangannya kembali menyisir jauh ke luar sana. "Sudahlah, Declan. Aku ingin sendiri."
"Tidak seperti biasanya. Bukankah kau gadis yang tidak mengenal kata putus asa?"
"Aku bukannya berputus asa." Eve menyandarkan kepalanya di antara kusen jendela. "Aku sedang memikirkan ... rencana selanjutnya."
"Apa rencanamu."
"Kau yakin ingin tahu?" Eve tiba-tiba menoleh disertai seringai penuh misteri yang terpatri di bibirnya. "Jika kau sudah mengetahuinya, kau wajib membantuku."
Declan menimbang-nimbang. "Katakan saja."
"Sebaiknya jangan sekarang." Eve menghela napas. "Masih terlalu cepat. Jika sudah waktunya, tanpa kau suruh pun aku akan mengatakannya."
...----------------...
Besoknya, kastil Lumiere dibuat kelabakan saat Mia yang awalnya ingin memanggil Eve untuk belajar tata krama, tapi gadis kecil itu sudah menghilang dari dalam kamarnya. Beberapa kali Mia berusaha membangunkan. Namun setelah menyibak selimut sang putri, tak disangkanya hanya sebuah guling yang menempati tempat tidur Eve yang dingin.
"Kalian yakin tidak menemukan Lady Luvena di kamarnya?"
Serempak para pelayan itu menjawab, "Kami yakin, My Lord."
"Bagaimana dengan tempat-tempat yang sering dia kunjungi. Sudah kalian periksa?" tanyanya tidak sabaran.
"Sudah, My Lord. Bahkan sekitaran saluran air pun sudah kami cari."
Beckett melongo. "Kenapa mencarinya di saluran air? Apa kalian mengira Lady Luvena sejenis benda cair?"
"B-bukan begitu maksud kami," ujar mereka segera meralat. "Maksud kami mungkin saja Her Ladyship sedang berjalan-jalan di sekitar sana."
Beckett mengangguk. Sekarang kepalanya pusing. Ke mana perginya Eve. "Kalian boleh pergi. Lanjutkan pencarian sampai Lady Luvena ditemukan."
"Baik!"
__ADS_1
"Haduh, ke mana dia!" Usai beberapa pasukan kecil itu pergi, Beckett juga pergi sembari menoleh ke kanan dan kiri. Meneriaki Eve dengan keras, namun si empunya nama hanya mendengus setelah Beckett tanpa sadar berhasil melewatinya.
"Apa mereka benar-benar tidak melihatku duduk di sini." Eve menggeleng samar. Memperhatikan orang-orang yang sibuk mencarinya di bawah sana dengan santai tanpa beban sama sekali. Cahaya matahari menerpa tepat di depan wajahnya, begitu pula dengan batang pohon yang dia duduki. Siapa sangka, di dalam kastil suram seperti milik Duke of Lumiere ini ternyata memiliki sebatang pohon cantik yang tingginya kurang lebih empat meter.
Bukan hal sulit bagi Eve untuk mencapai puncak pohon tersebut. Walau memakai gaun lebar, kelincahannya sama sekali tidak terhalang oleh beberapa lembar kain tersebut.
"Apa yang kau lakukan di atas sana?"
Eve seketika menoleh ke bawah. Memutar bola matanya dengan malas, gadis itu kembali memperhatikan sang duke yang menatapnya kesal.
Dari sekian banyak manusia di sini, mengapa harus si empunya kastil yang menemukannya?
"Turun."
"Tidak mau." Eve mendengus sinis. "Pekerjaanmu pasti masih banyak. Tidak masalah, aku bisa mengatasi ini sendiri, Your Grace."
"Dari mana kau tahu jika pekerjaanku banyak? Oh, aku tahu. Kau sedang mengusirku, kan, Lady?" Mata Zachary berkilat geram. "Cepat turun. Sekarang juga!"
Tanpa Zachary sadari, Eve tersenyum miring. "Aku akan turun jika kau menangkap ku."
"Your Grace." Baron O'Neil kembali mengingatkan tuannya. Mata biru pria itu tidak susah-susah untuk menutupi rasa ketidaksukaannya terhadap Eve. "Sebaiknya kita pergi—"
"Baiklah. Aku akan menangkap mu. Sekarang, cepat turun."
Baron O'Neil terbelalak. Bagaimana bisa Zachary mau-mau saja menuruti permintaan konyol si anak kampung. "Your Grace, seharusnya—"
"Diam lah, O'Neil. Menunda pekerjaan sebentar tidak membuat dunia kiamat juga, kan?" Zachary kembali mengarahkan tatapannya kepada Eve yang termenung di atas pohon. "Kenapa? Tidak berani?" Tantangnya disertai tawa remeh.
Mendengar tawa menjengkelkan itu, Eve mendengus marah. Tanpa aba-aba, dia melompat bebas, terjun menuju Zachary yang belum melakukan persiapan. Namun Zachary adalah orang yang ahli di bidang kecepatan dan ketangkasan. Terbukti dengan keberhasilannya menaklukkan negara tetangga dalam kurun waktu dua tahun. Dengan sebelah tangannya, Zachary berhasil menahan tubuh Eve agar tidak menghempas tanah.
"Kau pikir kekuatanku akan berkurang setelah menua?" Zachary terkekeh geli. "Sayangnya kau tidak berhasil mencelakai ku."
Eve menggigit bibir dalamnya. Giginya menggertak kesal. Tapi tenang saja, ini belum apa-apa.
Dia tidak akan kalah dengan si tua bangka Zachary.
__ADS_1