
Seperti yang direncanakan Zachary, mereka benar-benar menukarkan segala barang dengan yang lebih sederhana. Sebagai gantinya, kereta kayu dengan dua ekor kuda lah yang kini mengangkut mereka menuju desasa yang diketahui namanya Clingeer, sebuah desa yang cukup berpengaruh terhadap pemasok bahan makanan berkualitas di Carringtown, ibukota Sasania.
Dari jauh, mereka dapat melihat beberapa orang tengah sibuk mengangkat karung-karung besar ke atas gerobak. Sebagiannya lagi tampak memetik buah di kebun yang luas lengkap dengan topi lebar menutupi kepala. Sementara itu tak jauh dari kebun, sebuah pondok kecil turut menaungi wanita-wanita dengan gulungan benang rajut dan hakpen di kedua tangan mereka sambil mengobrol ringan diselingi canda tawa.
Eve begitu antusias. Dari balik jendela kereta, beberapa kali manik birunya melihat ke kanan dan ke kiri. Matanya semakin melebar tatkala menemukan salah satu sosok yang dicarinya tengah berjalan membawa sebuah ember di tangannya sambil sesekali menyeka keringat. Itu Bibi Sese!
"Bibi!"
Sese yang berjalan di tepi pun menoleh. Tak kalah terkejut, tanpa aba-aba dia langsung berlari ke arah kereta. "Eve!"
"Hentikan keretanya," ujar Zachary kepada kusir. Ia kembali mengarahkan tatapannya kepada ketiga putranya yang lain. "Lebih baik kita berhenti di sini saja. Sisanya, harus berjalan kaki."
Declan mengangguk. "Aku setuju akan hal itu. Lagipula, penyamaran mu masih belum rapi, Your Grace." Dia mengetuk kayu dari kereta yang mereka naiki. "Terlepas dari penampilan kita yang sederhana, harga pasaran kayu ini cukup mahal. Membuatnya menjadi kereta, sama saja mengakui bahwa kita orang kaya."
"Oh, jadi masih mahal?" beo sang ayah bingung, "maaf saja, tapi aku memang tidak ahli dalam memilih kayu yang biasa dipakai orang miskin."
Mendengar ucapan tersebut, Eve sempat menoleh lalu mendengus keras sebelum dia benar-benar membuka pintu kereta dan terjun ke pelukan Bibi Sese yang entah sejak kapan sudah melepaskan ember yang sejak tadi dibawanya.
"Saya sempat mengira Anda lagi-lagi tidak mendapatkan surat dari saya," ujarnya terharu. Mau bagaimana pun, Eve sudah dianggapnya seperti putrinya sendiri. "Apakah ini Anda sungguhan? Saya tidak menyangka bisa melihat Anda setelah beberapa minggu belakangan ini."
Eve menatap kesal, lalu cemberut. "Bibi, bersikaplah sama seperti biasanya. Jangan gunakan bahasa formal atau apalah itu namanya, aku tidak suka!"
"Tapi 'kan Anda bangsawan."
"Kalau di sini bukan." Eve kembali memeluk Bibi Sese erat, seperti puluhan tahun tidak bertemu. "Aku masih keponakanmu, Bi. Masih. Jadi jangan anggap aku sebagai orang asing."
Telapak tangan Sese bergerak untuk mengelus lembut surai pirang putri majikannya itu. Senyumnya terukir, hangat. Walaupun statusnya berubah, sifat Eve sama sekali tidak demikian.
__ADS_1
"Mama sudah menunggu di rumah," ujar Sese lagi, "mari bibi an—"
Ucapan Sese terhenti tatkala menyadari Eve tidaklah sediri. Keempat pria yang baru saja keluar dari kereta kuda menyadarkannya bahwa kondisi kali ini mungkin akan lebih sulit. Tidak, jauh lebih sulit dari perkiraannya.
Tubuhnya menegang. Sese mengenal salah satu dari keempat pria tersebut.
Eve menarik tangan Declan dan Beckett. "Ayo berkunjung ke rumahku. Kita harus cepat-cepat menjenguk mama, ok?"
Melihat semua saudaranya pergi menjauh, Ethan melotot. "Eve, kau tidak mengajakku!"
"Kau tidak penting." Eve memeletkan lidah sambil melenggang pergi bersama kedua kakak tercintanya.
"Awas kau, pendek!" Ethan akhirnya berlari mengejar mereka bertiga walau hatinya begitu dongkol. "Aku lemparkan ke laut, baru tahu!"
"Your Grace...." Sese buru-buru menundukkan kepala. Kedua tangannya bergerak gelisah, tidak tahu bagaimana reaksi Margaret saat tahu mantan suaminya itu juga datang berkunjung.
Sese mengangguk perlahan. Dia mengira sang duke datang kemari murni karena ingin menjenguk Margaret yang sakit parah. Ternyata bukan begitu. Semua ini dilakukannya hanya untuk Luvena, si bungsu yang diam-diam berhasil mencuri kasih sayang ayah yang seharusnya sudah ia dapatkan sejak pertama kali bernapas di dunia ini.
Biarlah, seperti ini. Lagipula, rencana Tuhan ke depannya tidak ada yang tahu, kan?
"Antarkan aku menuju rumah lama Eve."
Sese menunduk patuh. "Mari saya antarkan."
...----------------...
Pintu berderit begitu Eve mendorongnya pelan. Ruangan yang gelap mendadak ditimpa sinar matahari begitu mereka membuka pintu. Rumahnya begitu sepi, seolah tidak ada siapapun di dalam. Tanpa menunggu lama, Eve berlari menuju kamar Margaret yang terletak di lantai dua, tepat di seberang kamarnya dulu.
__ADS_1
"Ma," panggilnya lembut sembari mengetuk pintu. "Ini Eve, aku kembali."
Sayangnya tidak ada jawaban dari dalam. Kalut dengan berbagai pikiran buruk yang bersileweran di otaknya, Eve tanpa pikir panjang langsung membuka pintu dan menghambur masuk. Sama seperti dulu, kamar tersebut senantiasa bersih dan rapi. Seseorang yang sejak tadi dicarinya tampak berbaring lemah di atas dipan, dekat dengan tungku yang dibiarkan tidak menyala. Walau siang hari, nyatanya mata wanita itu terpejam erat tidak terlihat akan bangun dalam beberapa waktu ke depan.
Declan terdiam di depan pintu. Entah mengapa, hatinya mencelos saat menyaksikan wanita yang melahirkannya, orang yang hampir tidak pernah dilihatnya lagi dalam belasan tahun terakhir itu terbaring tidak berdaya.
Sebenarnya Declan sangat ingin menghampirinya. Memeluk mama kandungnya itu setelah perpisahan lama mereka yang bahkan saat malam di mana Margaret pergi hari itu, Declan sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi dan apa yang diucapkan Margaret terakhir kalinya kepada dirinya yang tiba-tiba dibangunkan.
"Apapun yang akan kau hadapi ke depannya, tolong jangan menyerah." Lalu Margaret memberikan ciuman terakhirnya di dahi Declan kecil. "Walau mama tidak ada di sisimu, kita akan selalu berjalan bersama. Mama percaya takdir, dan takdir kita ... adalah kembali bersama."
Tapi Declan sadar diri. Di sini, dia tidak lebih seperti orang asing.
"Lebih baik kita biarkan mama tidur sebentar lagi. Dia masih sakit, memerlukan banyak istirahat," ujar Declan kepada Eve yang sudah berdiri di tepi dipan. "Masih ada banyak waktu untuk mengkhawatirkannya. Selain itu, bukankah lebih baik kita melihat obat-obatan yang kita bawa, apakah sudah lengkap atau belum. Sementara Ethan dan Beckett bisa ikut membantu atau menemani duke berjalan-jalan di sekitar sini."
Eve menoleh lesu lalu mengangguk. Dengan berat hati dia mengikuti Declan yang sudah hilang dari ambang pintu. Sekali lagi, Eve menatap Margaret dengan ekspresi yang sulit dijelaskan sebelum dia benar-benar menutup pintu dan turun ke bawah, menyusul duke dan saudara-saudaranya yang tahu-tahu sudah dikerumuni banyak orang.
"Apa yang terjadi?" tanya Eve syok kepada Bibi Sese yang tidak kalah terguncang.
"Warga desa sangat mengagumi sosok duke dan saudara-saudaramu," balas Bibi Sese setengah mengeluh. "Bahkan nyonya pelacur terkenal di kampung kita, Mrs. Rooney menawarkan diri untuk bekerja sebagai 'asisten pribadi' His Grace."
Mendengar penjelasan tersebut, Eve tentu saja meradang. Sudah cukup dengan saingan sejati mamanya, yaitu Lady Britney, tolong jangan ditambah lagi dengan kedatangan wanita baru. Oh, sial. Tidak bisa dibiarkan!
"Kalian semua, berhenti mengganggu mereka!" teriak Eve frustasi.
Namun hebatnya, setelah itu hening. Semua mata wanita-wanita jelalatan itu tertuju kepada Eve yang berdiri di depan pintu.
Mari beri pelajaran kepada mereka satu-persatu. Tidak, biar semua sekaligus!
__ADS_1