
Jutaan partikel debu terhempas bebas begitu sepatu kuda yang ditunggangi Zachary berlari cepat melalui jalan pintas diikuti oleh beberapa prajurit terbaik yang juga berada di belakangnya. Ranting-ranting pohon yang menutupi jalan sama sekali bukan tandingan pria itu saat dirinya tengah dikuasai amarah.
Setelah berpikir tenang, Zachary curiga bahwa Eve melarikan diri lewat pelabuhan utara. Mengingat jarak menuju pelabuhan lain akan memakan waktu yang tidak sedikit, maka dari itu Zachary mencoba peruntungannya dengan mencari keberadaan putrinya di sebuah pelabuhan yang kapal-kapalnya dijadwalkan pergi keluar Sasania siang ini, dengan kapasitas muatan sekitar seratus sampai lima ratus orang di dalamnya.
"Lewat sini, Your Grace."
Mereka kembali memacu kecepatan kuda setinggi mungkin membelah rerumputan liar tak terurus. Jika bisa dijadikan jalan pintas, seharusnya tanah di sini bisa dibangun jalan baru untuk memudahkan transportasi, pikir Zachary sebentar.
Nanti akan dia urus. Nanti. Setelah pernikahan Eve selesai.
Tak berapa lama setelah menembus hutan tersebut, mereka akhirnya tiba di pelabuhan ramai yang beberapa kapal besarnya tampak menurunkan para penumpang berserta barang bawaan mereka. Kapal untuk rakyat biasa berada di sisi kanan, terlihat kecil dan memprihatinkan. Sedangkan kapal yang digunakan para bangsawan terparkir di sisi kiri tepi laut. Dari luarnya saja tampak elegan dengan besarnya saja bahkan melebihi empat buah kapal biasa.
Zachary turun dari kudanya dan menyerahkan tali kekangnya kepada salah satu anak buahnya yang diperintahkan untuk berjaga. Matanya menatap seorang pria bertubuh tinggi besar tengah mengatur muatan kapal biasa dengan suara keras. Begitu Zachary menyuruh orangnya untuk menghampiri pria tinggi besar itu, terlihat bahwa orang itu mengernyit kesal.
"Siapa kau, sialan."
"Prajurit Duke of Lumiere," jawab orangnya Zachary itu sedikit sombong.
"Duke?" Matanya beralih menatap seseorang yang berada di balik lawan bicaranya. Terlihat seorang pria dengan gurat tegas di wajahnya yang tidak lagi muda itu tengah memperhatikan sekeliling pelabuhan dengan tatapan datar. Dia memakai pakaian bagus dan mahal, pasti itulah duke yang dimaksud.
"Kami tidak ingin berurusan dengan kaum kalian." Pria yang ditugaskan mengelola muatan kapal itu menghela napas. "Lagipula, buat apa bangsawan tertinggi seperti duke mau kemari. Tidak, di sini bukan tempatnya. Kapal para bangsawan ada di sebelah sana." Dia menunjuk kapal besar di sisi kiri.
"Kami sedang mencari seseorang."
"Aku tidak peduli."
"Mungkin saja dia berada di kapal ini."
"Bukan urusanku."
"Duke akan memberikan hadiah padamu jika benar dia ada di sini. Tolong izinkan kami mengecek ke dalam."
"Lalu jika tidak ada, bagaimana. Apakah tuan-mu itu justru akan memenggal kepalaku?" tanyanya berani. "Sudahlah, kapal akan berangkat sebentar lagi, jadi jangan membuang-buang waktu. Muatan juga sudah penuh, jangan menyusahkan ku dengan memaksa masuk demi kepentingan pribadi kalian. Kapal ini juga sudah cukup muatan dan bisa saja karam andai kalian masih bersikeras ke dalam. Taruhannya nyawa mereka yang tidak tahu apa-apa, mengerti?"
__ADS_1
Anak buah duke mendesis, "kau...."
Sementara itu, Zachary terlihat memperhatikan kapal-kapal yang sudah berlayar ke tengah laut, tampak tak peduli dengan perdebatan yang terjadi antara orang kapal dan anak buahnya itu. Beberapa kapal bangsawan dan juga kapal pedagang tampak sudah pergi meninggalkan pelabuhan entah menuju ke mana.
Pria itu melangkah pergi lebih dulu meninggalkan anak buahnya di belakang. Dilihatnya petugas lain yang tampak menganggur. Tubuhnya kurus dan bungkuk, tampak terkantuk-kantuk sambil mengipasi dirinya sendiri menggunakan topi bertugasnya yang butut sembari duduk bersandar di sebuah bangku kayu yang —sepertinya— tidak lagi kokoh.
Zachary memberi kode kepada anak buahnya yang lain agar mau mengorek informasi dari orang tersebut. Kali ini Zachary menyisipkan dua koin emas di tangan anak buahnya untuk diberikan kepada orang itu.
"Permisi, tuan."
Petugas itu mengerjap. Apalagi cahaya matahari yang semakin menyengat sedikit mengaburkan pandangannya.
"Iya, ada yang bisa saya bantu?"
"Saya adalah anak buah dari Duke of Lumiere. Kedatangan kami kemari tentu untuk menanyakan sesuatu." Anak buah duke itu menyalami petugas sekaligus memberikan dua koin emas tadi di tengah-tengah jabat tangan mereka.
"Oh, ya, ya. Ada apa?" Petugas dengan siap berdiri tegak sembari melirik kekiri dan kekanan.
"Astaga, mimpi apa aku semalam," gumamnya sembari menatap Zachary tanpa kedip.
Anak buah yang diutus duke itu merasa sedikit kesal. Dia lantas berdehem, namun tatapan si petugas kapal masih saja mengarah kepada Zachary yang tak tahu menahu soal kekaguman penggemarnya.
"Tuan!"
"Ah, maaf. Aku mengabaikan mu, ya. Maaf, maaf, soalnya ini kali pertama aku melihat duke secara langsung." ujarnya masih di sisa terkagum-kagumnya. "Benar-benar pria sempurna, ya. Jadi iri."
"Kalian pasti sudah tahu tujuan kami datang kemari, kan." Anak buah duke itu memilih menghiraukan ucapan petugas kapal itu sebelumnya. Kini diliriknya sang duke, pria itu sudah pergi menuju kapal bangsawan yang sering dinaikinya. Tentu saja, His Grace tidak mungkin mau berpanas-panasan hanya untuk sedikit informasi, mungkin.
"Apakah ada sesuatu yang mencurigakan? Menurut perhitungan kami, Her Ladyship paling tidak sudah memasuki salah satu kapal di sini."
"Jujur saja, tidak ada satupun orang yang patut dicurigai. Pedagang keluar masuk kapal, dan ada juga orang biasa, atau bangsawan. Semuanya tampak biasa saja, dan aku tidak mungkin menangkap seseorang tanpa bukti yang jelas. Mungkin Her Ladyship lewat jalur lain, barangkali?"
"Kami yakin Her Ladyship lewat pelabuhan ini," kekeuh anak buah duke itu sembari tatapannya menyapu sekitaran mereka.
__ADS_1
Tiba-tiba anak buah duke teringat sesuatu. Tapi dia juga belum yakin apakah orang itu juga terlibat atau tidak.
"Aku baru ingat, selain Her Ladyship, masih ada satu orang lagi yang perlu dicari. Dia seorang pria, rambutnya pirang sebahu dengan mata biru jernih. Apakah ada orang yang seperti itu hari ini?"
"Rambut pirang sebahu dan mata biru jernih? Coba aku ingat-ingat...." Penjaga kapal itu mengetuk-ngetuk dahinya yang mengernyit samar. Itu....
"Benar, aku melihatnya!"
"Di mana?!"
"Dia pedagang susu bersama satu orang lagi, laki-laki. Aku tahu rambutnya panjang karena dia menguncirnya dan menutupi rambutnya itu dengan topi lebar. Untung saja ciri fisiknya cukup berbeda dari orang lain sehingga cukup mudah mengingatnya." Penjaga kapal menunjuk siluet kapal dagang yang sudah berlayar jauh di tengah laut. "Mereka sudah pergi lama dan sekarang berada di tengah lautan. Secepat apapun kalian, tetap tidak bisa mengejar mereka. Kalian terlambat."
Tidak salah lagi. Pasti itu Lord Beckett. Semua orang sudah tahu jika putra ketiga Duke of Lumiere itu sangat menyayangi adik bungsu mereka. Sedikit banyak, pasti dia juga membantu Eve melarikan diri.
"Aku harus melaporkan hal ini secepatnya kepada His Grace," gumamnya berpikir keras.
"Tolong beri tahu kami rute yang akan mereka tuju."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo, kalian~
Gimana kabarnya, nih? Sampai hari ini puasanya masih lancar jaya, 'kan? Jangan kasih kendor dan semangat terus sampai IdulFitri yekann, hehehe. Kira-kira apa ada yang mau kasih author THR? Dengan ikhlas lapang dada akan author terima senang hati😌🤣
Ini sudah berapa episode, yak. Jujur, aku belum bisa memastikan habisnya di episode berapa. Ya, emang ngetiknya belum selesai, sih. Tapi targetnya IdulFitri udah bener-bener selesai jadi sudah enggak ada pikiran di sini. Semoga target kita ini bisa diwujudkan ya ges ya biar akunya bisa napas dulu buat bikin cerita selanjutnya🤣
Thor, cerita selanjutnya masih di MT, kan?
Eum, entahlah. Sebenernya author mah mau coba peruntungan buat bikin buku versi cetaknya, kali aja gitu ada penerbit yang mau ngelamar tulisan author. Jadi enak buat dikoleksi. Bisa dipeluk, bisa dibanggakan juga. Tapi belum pasti, semoga author bisa setia di sini😌🤣
Udah, ah. Author males ngetik panjang-panjang. Untuk umat Islam, selamat berpuasa🤣
See you next episode👋🐱
__ADS_1