
Saat matahari sudah berada di ufuk barat, rombongan Johan berserta keluarganya dan Eve bersiap untuk kembali ke desa. Barang mentah bawaan mereka laku keras karena kualitasnya baik namun bukan berarti yang terbaik. Sekali lagi Garlein mendekati temannya itu. Berdehem keras agar atensi Eve kembali mengarah padanya, barulah pria itu bersuara,
"Eve, apa tidak sebaiknya ikut kami di kereta depan?"
Seperti yang sudah-sudah, Eve kembali menggeleng. "Lebih baik tetap berada di kereta barang. Aku suka menatap matahari saat terbenam selama perjalanan."
"Baiklah," sahut Garlein berat hati. "Jika terjadi sesuatu, katakan saja kepada kusir yang membawa keretanya."
"Siap, kapten!"
Garlein tersenyum tipis. "Kalau begitu aku kembali. Selalu hati-hati—"
"Aish, iya aku mengerti. Sudah sana." Eve mendorong Garlein agar menjauh kemudian gadis itu naik ke atas kereta barang yang kini sudah kosong melompong.
"Jika terjadi sesuatu padamu, jangan salahkan aku." Mata Garlein berkilat kesal namun Eve justru ikut mendelik sinis. Namun setelah mengatakan hal itu, dia akhirnya angkat kaki dari sana dan kembali ke dalam keretanya yang nyaman bersama Johan dan Sarah.
Dirasa tidak ada satupun yang tertinggal, rombongan mereka kembali bergerak pulang menuju desa. Eve cukup menyayangkan perjalanannya kali ini. Ya, menyayangkan sekali. Kenapa tidak dari dulu-dulu saja dia ikut Garlein jika mengetahui tempat bernama 'kota' ini ternyata akan semenyenangkan dan seramai ini.
Selain menyenangkan, Eve juga mendapatkan oleh-oleh berupa boneka beruang besar yang— tunggu dulu. Di mana bonekanya?!
Eve celingukan namun keberadaan Cone masih belum ditemukannya. Apa boneka itu tertinggal? Oh tidak, jika Eve meminta rombongan berhenti untuk menunggunya selagi mencari Cone, rasanya itu tidak etis. Tapi harus bagaimana? Dia sudah terlanjur mencintai si lucu Cone sepenuh hati dan tidak sanggup untuk berpisah dengannya.
Saat di perbatasan, rombongan mereka berhenti mendadak. Eve menyipitkan matanya, berusaha melihat ke depan dan mengetahui apa yang terjadi. Tapi dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Penjaga perbatasan masih berdiri di sekitar kereta utama dan jarak antara kereta utama dengan kereta barang yang dinaikinya kira-kira sekitar lima gerobak penuh berisi hasil barter.
Tidak ingin terjebak di dalam keingintahuan, Eve mencoba bertanya kepada kusir yang duduk di depannya. Barangkali dia mengetahui sesuatu.
"Tuan, kenapa mendadak berhenti?"
__ADS_1
"Entahlah, mungkin karena pemungutan pajak di depan gerbang sana," jawab kusir tersebut santai karena dia juga sudah mengenal Eve dengan baik.
Ah, ada ide.
"Apakah antrian kita akan lama?"
"Biasanya cukup lama. Kenapa?"
"Cuaca sangat cerah sampai membuatku haus. Apakah tuan juga? Kalau begitu apa boleh aku membeli minuman sebentar untuk kita lalu kembali lagi?"
"Eve, memangnya kau punya uang?"
"Tenang saja. Jika aku tidak punya uang, mana mungkin aku menawarkan minuman juga kepada tuan."
Kusir tersebut tampak menimbang-nimbang. Karena merasakan kerongkongan yang sama keringnya, akhirnya dia mengangguk, "Baiklah, sebentar saja. Jangan lama-lama."
"Baik!" Eve melompat turun lalu berlari menjauh. "Jika terjadi apa-apa, jangan lupa panggil aku, tuan!" ucapnya yang dibalas anggukan oleh si kusir.
Dan si kusir, karena kesibukannya yang terus ditanyai ini-itu, akhirnya melupakan Eve dan berakhir ikut melanjutkan perjalanannya sama seperti gerombolan yang lain.
...----------------...
Matahari sudah hampir tenggelam saat Eve berjalan sendirian diantara keramaian. Cone dan dua gelas berisi perasan lemon yang rencananya akan dia bagikan satu untuk si kusir sudah habis ditenggaknya. Tega. Tega sekali. Bisa-bisanya kusir itu meninggalkan Eve sendirian, di tempat asing yang sama sekali tidak dia kenali.
Apakah dirinya begitu menyebalkan sampai-sampai diperlakukan seperti ini? Jika Garlein tahu hal ini, pasti kusir itu langsung dimarahi habis-habisan, lihat saja.
Eve putus asa. Rasanya ia ingin menangis lalu memeluk ibunya erat-erat. Tidak ada satupun orang di kota yang ia kenal, bagaimana bisa dirinya kembali ke rumah?
__ADS_1
Jika Eve bisa kembali, dia berjanji tidak akan menyusahkan Bibi Sese lagi. Eve juga berjanji tidak akan bolos sekolah dan selalu patuh menuruti perintah ibunya, sungguh.
Tapi Eve sendiri tidak yakin dengan janjinya itu. Mungkin sehari akan dia lakukan, tapi dihari berikutnya ....
Mendengar gemertak tanah yang berasal dari belakangnya, Eve berbalik. Orang-orang sudah menepi, memberi jalan untuk siapapun itu yang berkuda dan melintas di sana. Dari bisik-bisik yang ia dengar, Eve tahu bahwa yang lewat tentu saja berasal dari kalangan bangsawan. Bisik-bisik menyerupai kekaguman itu, lain halnya dengan Eve. Senyumnya terangkat cerah saat mengenali siapa orang yang duduk di atas kuda.
Tiga pria yang dia temui di toko tadi siang!
Apakah kalian berfikir Eve akan memohon bantuan kepada mereka untuk membantu mengantarnya pulang ke rumah?
Hoho, tidak. Salah besar.
Agar terhindar dari mata orang lain, Eve ikut menyingkir dan memberikan jalan. Kebetulan tatapannya bertemu dengan pemuda pirang sebahu yang sebelumnya marah-marah di kedai. Pria itu melotot tajam, antara tidak percaya bahwa dirinya lagi-lagi dipertemukan dengan wanita gila itu.
Eve tidak lagi memedulikan tatapan tajam pemuda berambut sebahu itu. Ia menyeringai tatkala pria bersurai hitam melintas di depannya dan gotcha! Secepat kilat Eve berhasil menarik kantong uang yang tersampir di samping kuda pria itu tanpa perlu bersusah payah.
Tidak masalah. Hanya sekali mencuri. Setelah ini, Eve akan bertobat dan berniat melimpahkan semua dosanya kepada si kusir yang sudah tega meninggalkan dirinya seorang diri di sini.
Perlahan ia melirik sekitarnya saat rombongan ketiga pria itu melintas. Tidak ada yang curiga dan meneriaki Eve seperti pencuri walau kenyataannya dia memang pencuri. Mereka tidak fokus pada gerak-gerik Eve sebab mereka —terlebih lagi kaum hawa hanya menatap penuh binar wajah ketiga pria tersebut sampai meleleh, ewh.
Setidaknya dengan uang ini, Eve bisa pulang ke rumah. Minta maaf kepada Bibi Sese atas perbuatannya tadi pagi, dan mengadukan si kusir pikun kepada Garlein.
Eve kejam? Biar saja. Toh, kusir itu lebih kejam dibanding dirinya.
......................
Huhu, telat update nih tapi gapapa yekan sekali-kali haha😂
__ADS_1
Kalau kalian ada di posisi Eve, ditinggalin di suatu tempat yang kalian ga hapal jalan dan lagi ga punya duit, kira-kira apa yang bakal kalian lakuin?🤔
Like, komen, dan vote nya ditunggu, ayangie😻