Mendadak Bangsawan

Mendadak Bangsawan
Siapa Ayahku?


__ADS_3

Menjelang tengah malam, Margaret tak henti-hentinya memanjatkan doa sambil mondar-mandir di depan teras rumahnya. Perasaan wanita itu kacau balau setelah tahu Eve menghilang saat di perjalanan pulang menuju desa. Johan dan anak buahnya segera bergerak dengan menyisiri jalanan yang mereka lalui. Sedangkan si kusir, satu-satunya orang yang tahu di mana Eve ditinggalkannya, sudah pergi bersama Garlein kembali ke perbatasan.


Sese datang dari arah belakang. Mengelus pundak Margaret yang terlihat begitu resah. "Nyonya jangan khawatir, Eve akan kembali."


"Dia tidak tahu apa-apa tentang kota. Bagaimana keadaannya sekarang, aku juga tidak tahu," jawab Margaret dengan setetes air mata hinggap di pelupuk matanya yang cemerlang, "Sudah banyak kasus tentang wanita yang berjalan sendirian di tengah malam akan berakhir menjadi penghuni rumah bordil. Sese, aku tidak ingin hal seburuk itu menimpa putriku!"


"Eve adalah gadis tangguh dan kuat, dia tidak akan mudah diperdayai oleh seseorang, nyonya," sahut Sese berusaha menghibur. Maniknya mendongak, memperhatikan taburan bintang di atas sana penuh harap. "Dia pasti akan pulang. Malam ini atau paling lambat besok pagi, aku yakin."


"Semoga saja begitu. Selain kehilangan Eve, sudah terlalu banyak beban di pikiranku sekarang. Belum lagi pesan dari utusan Duke of Lumiere tadi pagi yang meminta Eve agar kembali ke kastil secepatnya. Padahal dulu, dia yang membuang Eve, tapi lihat apa yang duke lakukan. Aku ... aku juga tidak tahu apakah bisa hidup tanpa Eve." Margaret menarik napas sebentar. Ia kembali berkeluh kesah, "Aku juga takut. Seandainya Eve tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan bangsawan kelas atas, dia akan dikucilkan. Hartaku satu-satunya itu, aku tidak ingin membuatnya rapuh sama seperti diriku," ujarnya lemah.


Sese terbelalak, "Utusan His Grace mendatangi Anda? Apakah itu berarti Duke of Lumiere sudah tahu di mana Anda tinggal?"


"Utusannya itu, pasti akan mengatakan segalanya tentang pertemuannya denganku hari ini kepada His Grace. Dia pasti tahu bahwa aku tidak tinggal di mansion Earl Averish yang sudah jatuh ke tangan saudara tiriku yang kejam—" Ucapannya terhenti. Margaret menggeleng lemah, "Tidak. Bisa jadi duke benar-benar sudah melupakanku dan tidak peduli di mana aku tinggal. Ingat, dia sudah bersama wanita itu."


Sese mengenal betul akan sosok Duke of Lumiere dan menurutnya, ucapan terakhir Margaret —walau menyakitkan— ada benarnya. Duke mungkin tidak akan peduli dan seterusnya mungkin akan begitu.


Padahal dari sisi manapun, Margaret jauh lebih baik dari Britney. Margaret berasal dari kalangan bangsawan, pernah menjadi primadona debutante di masanya, dan putri bungsu mendiang Earl of Averish. Sedangkan Britney, apa yang sudah wanita itu lakukan sehingga duke tidak bisa berpaling darinya?


Sese hanya diam mendengarkan. Dia tidak ingin menghancurkan harapan Margaret yang sudah tersisa sedikit.


"Mama, aku kembali!"


Suara gadis yang familiar bagi keduanya sontak menerbitkan senyum cerah di wajah Margaret. Ia berdiri cepat, menghampiri Eve yang sudah berdiri di halaman rumah mereka tanpa kekurangan apapun.


"Eve, itukah kau?" Margaret memeluknya, mencium pipinya lalu memperhatikan Eve dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Apakah kau terluka, apa ada yang menyakitimu? Kau baik-baik saja, kan?!"

__ADS_1


"Eve nakal, kenapa baru pulang? Lihatlah, ibumu sangat khawatir!"


"Eh, kalian terlalu panik." Eve menguraikan pelukan mereka. Tangannya terulur untuk mengusap air mata Margaret yang menetes di pipi wanita itu, "Tidak ada kendala sulit seperti yang kalian pikirkan. Hanya saja ... yah, ibu tahu. Tidak ada yang gratis di dunia ini."


Margaret melirik sebuah kereta pengangkut bahan pakan ternak yang sebelumnya Eve tumpangi. Kereta tersebut sudah berjalan menjauh melewati ilalang-ilalang tinggi yang menyaru di kegelapan. Seperti yang Eve bilang bahwa di dunia ini tidak ada yang gratis, putrinya ini pasti membayar mereka. Tapi Margaret ingat, tadi pagi Eve kabur lewat jendela. Dan itu berarti dia tidak memberikan Eve uang sepeserpun. "Eve, di mana kau mendapatkan uang untuk membayar mereka?"


Eve meringis. Senakal-nakalnya dia, Eve tidak pernah berani berbohong dengan Margaret. Tapi kalau dengan Bibi Sese, Eve sering melakukannya. "Itu—aku terpaksa meminjam uang kepada salah satu orang di kota."


"Meminjam? Eve, katakan dengan jujur," sahut Bibi Sese yang mendadak kesal.


"Ish, Bibi Sese tidak tahu bagaimana posisiku tadi. Aku benar-benar terdesak saat tidak ada sedikitpun uang tersisa di balik kantongku. Bibi pikirkan saja aku harus apa di saat orang-orang sibuk dengan urusan masing-masing. Orang di kota begitu kejam, tidak seperti Garlein ataupun Paman Johan yang selalu membantuku. Mencuri. Iya, aku memang mencuri." Eve menelan kering. Ia takut Margaret marah atas pengakuannya namun wanita yang dia cintai itu hanya diam bergeming. "Lagipula orang yang aku curi itu orang kaya. Diambil sedikit, tidak akan menghabiskan harta mereka juga, kan?"


"Maaf, Margaret. Kami belum—" Johan yang rencananya ingin melaporkan hasil pencarian mereka kepada Margaret justru terhenti saat melihat sosok yang mereka cari sudah berdiri di depan rumahnya. "Eve? Kau sudah kembali, bagaimana bisa?!"


"Ah, tidak. Ini sudah menjadi kewajibanku karena mengajaknya bersama kami." Johan merasa lega. Sungguh. Selain merasa bertanggung jawab karena hilangnya Eve terjadi saat bersama mereka, Johan juga sudah menganggap Eve seperti putrinya sendiri.


Dia hanya memiliki seorang putra yang kaku. Kedatangan Eve sebagai teman Garlein ternyata ikut memberikan dampak baginya dan juga Sarah. Kepribadian si gadis pirang yang ramah dan ceria sempat memunculkan keinginan di benak Johan untuk memiliki seorang putri juga. Namun sayangnya, hingga hari ini keinginan Johan belum terkabul.


"Kalau begitu aku akan menghentikan pencarian. Senang melihat Eve bisa kembali ke rumahnya lagi dengan selamat." Johan berbalik menatap Eve, "Nak, maafkan aku karena meninggalkanmu di kota. Lain kali hal seperti ini tidak akan terulang lagi, aku janji."


"Eh, tidak-tidak. Paman Johan tidak salah!" Eve melambai-lambaikan tangan. "Aku tidak ingin menyalahkan siapa-siapa dalam kejadian ini karena salahku juga yang nekat keluar dari rombongan. Hanya saja Paman Johan mungkin perlu membantu pak kusir untuk memperkuat ingatannya. Aku tahu dia sudah tua, tapi jika semakin parah, bukan hanya lupa meninggalkan orang lain, bisa jadi akhirnya dia lupa dengan namanya sendiri."


Johan, Bibi Sese, dan juga ibunya sontak tertawa akibat penuturan polos Eve yang lembut tapi cukup menyinggung. Johan geleng-geleng kepala, putri Margaret yang satu ini ada-ada saja.


"Baiklah, Eve. Paman akan ingat pesan mu itu. Sudah larut malam, kalau begitu paman permisi." Johan menatap Margaret dan Sese bergantian, "Selamat tinggal."

__ADS_1


"Dadah, paman. Sampaikan salam ku kepada Garlein bahwa dia tidak perlu khawatir, teman cantiknya ini sudah kembali ke rumah!" balas Eve yang memecah keheningan malam. Sese melotot padanya, berbeda dengan Johan yang membalas ucapan Eve dengan acungan jempol di udara.


"Nah, Eve, sekarang ada beberapa hal yang ingin aku ceritakan padamu." Margaret membawa putrinya itu masuk ke dalam rumah sementara Sese segera menutup pintu di belakang mereka.


"Tidak bisa besok pagi, Ma?"


"Jika aku mengatakannya besok, aku jamin kau akan marah padaku," balas Margaret lalu terkekeh. "Bagaimana, mau mendengarkannya?"


Eve mengangguk cepat. Rasa penasaran sudah menjalar di otaknya, memikirkan kemungkinan-kemungkinan apa saja yang akan diucapkan ibunya.


"Ayah meminta dirimu untuk tinggal bersamanya."


"Ayah?" Kilat ceria yang biasanya menghiasi manik biru Eve perlahan meredup. "Apa mama bercanda, bukankah mama pernah bilang jika ayah sudah mati?"


Margaret membuang muka, "Jika kau mengerti dengan sifatnya, kau akan tahu apa yang menyebabkan mama tidak menganggap dia ada diantara kita."


Margaret menangkup telapak tangan Eve layaknya seorang ibu peri yang memberikan kekuatan kepada anak manusia favoritnya. Margaret tahu, permintaan Zachary pasti sungguh berat bagi Eve.


"Jadi dia masih hidup?" gumam Eve pada dirinya sendiri. Ia lalu mendongak, berusaha meminta penjelasan lebih. "Siapa ayahku?"


"Zachary Lumiero, Duke of Lumiere."


Sebagai saksi atas kekejaman Duke of Lumiere, Sese hanya bisa menatap gadis rapuh itu prihatin. Dia bukanlah yatim. Orang tuanya lengkap, namun ditolak oleh salah satu dari mereka tentu lebih menyakitkan.


"Kepulangan mu ini adalah titah langsung dari Yang Mulia Raja. Eve, walau mama juga berat untuk melepaskan mu, kau tetap harus melakukannya. Sayang, lakukan ini demi mama."

__ADS_1


__ADS_2