
Sesuai keinginannya untuk tidur bebas di taman Utara, kini Eve memerintahkan Mia untuk menggelar alas di atas rerumputan hijau. Kedua tangannya dijadikan bantal. Gadis bersurai pirang itu menatap jauh di atas langit walau matanya menyipit. Awan berarak ditambah angin sepoi-sepoi semakin menggodanya untuk hanyut di dalam mimpi. Eve hampir tertidur, namun panggilan dari Mia membuat kedua kelopak matanya kembali terbuka. Enggan.
"Nona Luvena, kedua Lady Aslein ingin bertemu dengan Anda."
Eve menghembuskan napasnya dengan kasar, "Bukankah aku sudah memaafkan mereka?" gumamnya lirih.
"Jadilah tuan rumah yang baik."
Dia berdecak, "Ya sudah, biarkan mereka masuk."
Pintu taman yang terbuat dari kaca tak tembus pandang itu kembali di buka. Kini memunculkan dua sosok gadis dengan warna rambut mencolok. Kedua orang tersebut semakin tidak suka saat menyadari Eve berbaring bebas tanpa beban seperti seekor sapi ternak.
Syann menyeringai. Wanita ini, tidak tahu saja jika dirinya akan hancur sejadi-jadinya setelah ini.
"Wah, ternyata begini kah keseharian Anda setelah tinggal di tempat nyaman?" ucap Jeniffer menyindir. "Pasti tempat tinggal Anda sebelumnya sangat buruk. Sudah terbiasa, makanya taman yang cantik pun dirubah menjadi kamar."
"Apa mau kalian?" balas Eve sinis. Dia tahu, pasti kedua orang ini tidak beres. Bukannya berdiri untuk menyambut kedua Aslein itu, Eve malah menyamankan posisinya untuk tidur. "Aku sibuk. Jika tidak ada yang perlu dibahas, lebih baik lain kali saja."
Jeniffer yang tidak tahan dengan kepura-puraan dirinya pun sontak geram. Kedua tangannya mengepal, siap memaki-maki wanita tidak tahu diri yang sialnya dekat dengan Keluarga Lumiere.
Tangan wanita itu teracung ke arah Eve. "Kau!" bentaknya marah, "tidak usah basa-basi lagi, bagaimana cara membuat His Grace dan Lord Lumiero begitu dekat denganmu. Apa sebegitu murahnya kah tubuhmu ini sampai-sampai dua ayah dan anak itu bisa memilikimu secara bersamaan?!"
"Oh, jadi ini maksud kalian datang kemari." Eve memutuskan duduk. Ah, sudah lama sekali rasanya dia tidak adu mulut dengan seseorang seperti ini. "Memangnya kenapa? Iri?" tantang gadis itu senang.
Senang? Tentu saja, Eve suka keributan.
"Wanita murahan," gumam gadis di sebelah Jeniffer, Syann Aslein. Dia menatap kakaknya. "Sekarang aku ingat bahwa sebelumnya aku pernah bertemu dengannya, kak. Dia pernah mempermalukan aku di hadapan orang-orang dengan membawa nama Lumiere. Ternyata statusnya hanya wanita simpanan. Haha, dasar perebut suami orang!"
"Oh ya?" Jeniffer semakin merasa kedudukannya jauh lebih tinggi dibandingkan Eve. Wanita pirang ini ... jelas-jelas hanyalah gundik. "Aku, berteman baik dengan Lady Britney. Setelah pulang dari sini, aku akan mengirimkan surat untuknya agar lekas-lekas pulang karena duke ketahuan membawa wanita murahan sepertimu masuk ke dalam kastil!"
__ADS_1
"Oh, jadi ceritanya aku merebut suami Lady Britney." Eve menganggukkan kepalanya beberapa kali. Kali ini dia berdiri, kedua tangannya bersidekap di depan dada. "Baiklah, terserah kalian mau seperti apa. Toh, aku tidak peduli."
"Kau! Mulut kotormu itu—"
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat sempurna di pipi Jeniffer menimbulkan jejak merah yang mengerikan. Tubuhnya terhuyung, air mata tidak bisa dibendungnya walau sekeras apa pun dia menahan.
"Ternyata hanya dengan satu tamparan sudah cukup untuk membuatmu diam, ya?" Eve mengangkat kepalanya tinggi. Sekarang auranya sebagai seorang bangsawan tinggi tampak jelas sampai kedua saudara Aslein itu meringkuk ketakutan dengan kaki bergetar. Jeniffer tidak sanggup menopang tubuhnya lagi, sehingga dia bersimpuh di depan Eve yang mengerikan. "Sebelum aku bertindak jauh, lebih baik kalian pergi dari sini." Eve memperhatikan gadis berambut merah dan ungu itu dengan tajam. "Mulut kalian menjijikkan. Dan warna rambut kalian ini juga tidak kalah mengerikan, mengingatkanku pada tanaman cabai dan terong milik Paman Johan."
"Keterlaluan!" Syann mendekap kakaknya dengan amarah membara. Disamakan dengan sayur, tentu gadis itu tidak terima. "Aku akan melaporkan hal ini kepada His Grace sehingga kau akan di usir dari sini, ******!"
"Kau ini bodoh atau apa?" Eve tersenyum sarkas. Pernyataannya barusan tentu sangat menohok. "Ingat-ingat lagi, apa yang membuatmu ke kastil ini. Karena apa? Karena berani mencari masalah denganku, kan. Kira-kira apakah His Grace akan berpihak kepada kalian hanya karena hal sesepele seperti tamparan yang aku berikan kepada seekor lalat kecil?" Ia berdecak, "tamparan ku tidak keras. Hanya saja pipi Lady Jeniffer yang begitu lembut sampai-sampai aku berniat untuk memberinya tamparan kedua."
Dengan tidak berdosa nya, Eve menyeringai ke arah Syann. "Apa? Merasa iri kepada kakakmu. Apakah kau ingin aku menamparmu juga?"
"Dasar selingkuhan tidak tahu diri," desis Syann dengan sisa-sisa keberanian terakhir. Dia berusaha memapah Jeniffer yang kini sulit untuk berbicara bahkan sekadar membuka mulut pun dia sulit. "Entah apa yang sudah kau lakukan terhadap Duke of Lumiere dan Lord Lumiero sampai mereka mau membelamu. Pokoknya, setelah ini rasakan lah kehancuran mu sendiri!"
"Lord Beckett!" Syann langsung menangis tersedu-sedu saat mengetahui Beckett yang berdiri di ambang pintu dengan wajah gelap. Tanpa malu, gadis itu melepaskan dekapannya dari Jeniffer, lalu menghampiri Beckett dengan ekspresi menyedihkan. Berusaha membawa lengan kuat Beckett ke dalam pelukannya. "Untung saja Anda datang tepat waktu dan melihat sendiri bagaimana perilaku wanita busuk itu. Dia ... bahkan berani melukai kakak saya!"
"Panggil Lord Harrison. Ingat batasan mu." Dengan keras Beckett menyentak lengannya sehingga pegangan Syann terlepas. Gadis itu terlihat sangat kecewa. "Dan apa tadi, wanita busuk? Siapa yang kau maksud?"
Lihat, Syann merasa menang telak. Dia mengira Beckett pasti akan membelanya. Tentu saja, posisi ibunya ingin direbut oleh wanita pirang itu. Setidaknya Beckett memiliki rasa benci yang sama seperti dirinya. "Dia!" Tunjuk Syann kepada Eve yang terlihat santai tanpa masalah. "Dia sama seperti sampah berhati iblis. Berani memperlakukan kami dengan kasar tanpa ampun sampai-sampai Kak Jeniffer dibuatnya susah bicara. Anda harus memberinya pelajaran, My Lord. Ayah dan saudara Anda sudah dipengaruhinya, jangan sampai Anda sama seperti mereka!"
"Hatimu yang dipenuhi iblis."
"Ya—eh." Syann menegang. "A-apa maksudnya, My Lord?"
"Lulu sayang, apakah mereka mencelakai dirimu?" Beckett menghampiri adiknya, meraih bahu dan memperhatikan setiap inci tubuh Eve dengan saksama. Takutnya, dua ular Aslein itu menyakiti kesayangannya. Padahal, Eve lah yang mengayunkan tangan. "Jika merasakan sakit sedikit saja, cepat beritahu aku."
__ADS_1
Syann menganga. T-tunggu ... kenapa menjadi seperti ini? Seharusnya Beckett membenci wanita perusak hubungan orang tuanya, kan. Lalu mengapa ....
"Kau memilih musuh yang salah, Aslein." Eve tersenyum puas, berbanding terbalik dengan kedua kakak beradik yang kini pucat pasi tersebut. "Di sini aku adalah ratunya. Seharusnya beruntung beberapa hari yang lalu Declan tidak menyakiti kalian sama seperti yang aku lakukan sekarang. Tapi ini sudah kali kedua ... ayah dan kakak-kakakku mungkin tidak akan tinggal diam."
"Apa maksudnya ayah dan kakak?!" Pekik keduanya terguncang. "K-kau ...."
"Aku tidak akan memaafkan penghinaan yang kalian lakukan hari ini." Eve buru-buru menggandeng lengan Beckett sebelum pria itu mengamuk akibat perbuatan tamu mereka. Matanya sudah memerah. Ditambah kilatan tajam, Eve yakin dia benar-benar akan membunuh Jeniffer dan Syann jika tidak dicegah dengan cepat.
"Ah, karena aku sedang berbaik hati maka ada satu cara agar kalian bisa dimaafkan. Datanglah pada saat acara peresmian ku sebagai anggota keluarga Lumiere nanti. Di hadapan semua orang, bersujud dan cium lah kakiku." Baik Jeniffer maupun Syann sudah tertunduk lemas. "Itu, jika kalian ingin menyelamatkan status kebangsawanan Aslein."
Hampir mencapai pintu, Eve kembali berbalik. "Dan satu lagi," ujarnya seraya menatap Syann yang buru-buru menundukkan pandangannya. "Aku tidak merasa pernah bertemu salah satu di antara kalian. Jadi, jangan merasa sok akrab denganku, Nona-nona sampah," balasnya lalu berlalu dengan hati bersorak gembira.
"Aku akan mengatakan hal ini langsung kepada His Grace," gumam Beckett setelah mereka pergi dari tempat itu.
"Tidak-tidak, aku hanya menggertak saja. Tidak bermaksud membuat mereka benar-benar sujud padaku seperti patung sesembahan." Eve menepuk pundak Beckett, namun pria itu masih terlihat suram.
Perlahan Eve meneguk saliva-nya susah payah. Ternyata apa yang orang-orang katakan itu benar. Marahnya orang ramah terlihat dua kali lipat lebih menyeramkan ketimbang orang biasa. Dia bisa merasakan kemarahan Beckett sekarang ini. Oh, jelas bukanlah pertanda baik.
"His Grace harus tahu," balasnya kekeuh masih berjalan tegap ke depan tanpa menoleh sama sekali. Rahangnya mengeras, berusaha menahan emosi.
"Mereka harus mendapatkan balasan yang lebih karena berani mempermalukan adik kesayanganku."
......................
Jadi pengen punya abang satuuu aja yang perhatiannya kek Beckett🤧
Btw, bantu duke mikir, dong. Kira-kira hukuman apa lagi yang cocok buat keluarga Aslein?🤔
Siapa suruh berani sama Eve, hahaha😆
__ADS_1
Tulis imajinasi kalian tentang hukuman Keluarga Aslein di bawah👇🏻
See you next episode, semoga selalu lancar jaya, aamiin.