Mendadak Bangsawan

Mendadak Bangsawan
Salah Sangka


__ADS_3

Eve begitu senang ketika Frederick mengajaknya berkeliling kastil besar tersebut. Berbagai perabot unik sampai antik yang tidak pernah sekalipun dia temui di rumah Garlein kini bisa dilihatnya di sini. Untuk kesekian kalinya Eve mendekati sebuah guci keramik berwarna hijau yang memiliki tinggi setengah dari tubuhnya.


"Paman Frederick, di mana duke mendapatkan barang seperti ini?"


Frederick tersenyum simpul. Melihat Eve mengingatkannya pada cucunya yang tinggal di pinggiran kota. Dan sepertinya mereka memang seumuran. "Itu guci warisan, My Lady. Sudah ada sejak dua generasi sebelum Duke of Lumiere yang sekarang."


"Wah, tidak menyangka akan setua itu," ungkap Eve penuh kekaguman. Mengetahui usia guci tersebut tentu membuat Eve semakin hati-hati saat memegangnya. Salah-salah bisa pecah. Tidak menutup kemungkinan dirinya akan dipulangkan kembali ke desa padahal belum genap sehari tinggal di sini.


"Ada berapa jumlah pelayan di sini, paman?"


"Sekitar seratus pelayan wanita yang hanya diizinkan bekerja di dapur dan seratus tujuh puluh lima pelayan laki-laki."


"Kalau jumlah prajurit?"


"Lima ratus untuk berjaga di sekitar bangunan. Bergilir dari pagi, siang, dan malam."


"Hanya itu? Bagaimana dengan prajurit khusus?"


"Jumlah prajurit khusus? Maafkan saya, My Lady. Jumlahnya tidak boleh diberitahukan kepada siapapun. Ini sudah menjadi rahasia duke yang harus saya jaga sampai mati."


Eve menekuk wajahnya kemudian kembali berjalan di belakang Frederick. "Aku harus tahu."


"Mengapa seperti itu?"


"Karena aku adalah duke selanjutnya."


"Ya, Anda— Apa?!"


"Ada apa dengan ekspresi mu itu, paman?" sahut Eve semakin kesal karena keterkejutan Frederick. "Apakah kau meragukan ku?"


Apakah Eve tidak tahu bahwa panggilan Zachary yang tiba-tiba itu bertujuan untuk menikahkan dirinya dengan pangeran di negeri seberang? Bukan untuk berebut kekuasaan dengan saudara-saudaranya yang lain apalagi sampai menjadi duke. Tapi sudahlah. Toh, bukan kewajiban Frederick untuk memberitahunya. Nanti Eve akan mengerti dengan sendirinya dari mulut pedas ketiga putra Lumiere.


Frederick berdehem, "Saya tidak berani, My Lady."


"Baguslah kalau begitu. Kau adalah orang pertama yang akan aku rekrut dalam kekuasaan ku nanti. Tenang saja."


Frederick menghela napas. Merasa kasihan kepada putri bungsu Duke of Lumiere ini karena sudah salah paham dengan perbuatan sang duke yang ambigu.


"Setelah ini kita akan kemana, paman?"

__ADS_1


"Menuju kamar Anda, My Lady. Tentu saja."


Langkah Eve terhenti. "Masalah kamar nanti saja. Bangunan sebesar ini harus aku jelajahi agar tidak tersesat di dalamnya. Kalau begitu, paman pergi saja. Aku ingin menghirup udara segar di taman."


Frederick terlihat ragu. "Bukannya Anda kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh?"


"Aku hanya bercanda kepada tiga orang tadi. Aku tidak lelah." Eve menyengir tatkala Frederick menatapnya datar. Bercanda maksudnya sama dengan berbohong.


"Baiklah, Anda bebas berbuat apa saja. Kalau begitu saya pamit, My Lady."


Frederick menunduk hormat. Mengambil tiga langkah mundur, barulah dia berbalik sebelum Eve kembali memanggilnya.


"Paman!"


Frederick meliriknya kesal, "Ya, My Lady?"


"Bukankah jalan keluarnya ada di sana?" Eve menunjuk jalan di belakangnya dengan ekspresi polos sementara Frederick awalnya ingin mengambil jalan lorong di sebelah kanan.


"Ah, benar. Aku sudah tua kadang kastil duke ini cukup membuatku bingung." Frederick memijat keningnya. Merasa malu karena sudah tinggal di sini bukan setahun dua tahun lagi melainkan puluhan tahun tapi justru Eve yang notabenenya orang baru malah menunjukkan jalan kepadanya.


Frederick berusaha menenangkan diri. Tidak masalah, ini semua disebabkan oleh ingatannya yang buruk. Bukan hal yang baru untuknya tersesat di dalam bangunan bak labirin ini.


Ibaratnya, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.


Orang-orang mungkin menilainya tidak penting. Tapi bagi Eve, mendapatkan dukungan Frederick sama halnya dengan jackpot.


...----------------...


Orang bilang, berjalan-jalan di sekitar taman dapat meredakan stress dan tekanan. Hal itu benar saat Eve masih tinggal di desa. Walau hanya memandangi rumput liar yang tinggi di antara matahari terbenam saja, hal itu sudah membuat hatinya ringan setelah lelah beraktivitas seharian. Tapi kali ini lain. Kolam ikan koi dengan taman bunga berwarna-warni tumbuh indah di salah satu taman di dalam kastil seolah belum bisa menenangkan hatinya. Namun walau pemandangan tersebut jauh lebih indah dari pemandangan di desa, Eve tidak bisa menemukan ketenangan yang ia cari-cari sejak awal menjejakkan kaki di sini.


Seolah kastil Lumiere dibangun untuk meresahkan penghuninya. Bagi Eve, sekarang uang bukanlah hal penting. Dia memerlukan sedikit kebebasan.


Melihat ikan-ikan melompat riang di dalam air, Eve menjadi tertarik. Ia melepaskan alas kakinya. Memasukkan kaki kanannya terlebih dahulu ke dalam kolam setinggi mata kaki dari permukaan tanah itu. Rasa dingin dan sejuk menghampiri. Sejenak, Eve bisa merasakan rileks.


"Eve."


Panggilan lirih itu hampir saja membuat Eve tercebur bebas ke dalam kolam. Dia berbalik kesal, mendelik sinis ke arah pria bersurai hitam yang memanggilnya. Siapa namanya, Eve tidak tahu dan tidak peduli.


"Aku curiga bahwa kau adalah setan. Langkahmu tidak terdengar sama sekali," sahut Eve kesal. "Andai tadi benar-benar jatuh, aku tidak akan segan menenggelamkan tubuhmu di dalam sungai penuh buaya."

__ADS_1


Ethan merinding. Dari tadi, ucapan yang terlontar dari mulut Eve tidak ada ramahnya sama sekali. Benar-benar kasar seperti harimau betina.


"Ah, iya. Sudah aku bilang. Panggil aku princess. Prin-cess!" tekan Eve sekali lagi dengan suara lantang.


"Princess dari mananya? Kau liar sekali. Tidak mirip seorang putri, kau malah tampak seperti—" Ethan menilai Eve dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Harimau betina," gumamnya pelan namun lagi-lagi hal itu tidak pernah luput dari pendengaran Eve.


"Apa kau bilang?!"


"Tidak ada."


Eve menarik napas, lalu mengeluarkannya perlahan. Sabar, ya intinya sabar.


"Tujuanmu kemari bukan hanya untuk berdebat, kan? Apa yang kau inginkan." Eve menjaga suaranya agar tetap tenang walau hatinya berkata bahwa ia harus menerkam wajah Ethan sampai rata.


"Aku tahu apa yang sudah kau lakukan, Eve."


"Tuan Buaya, apa maksudmu?"


Ethan mendekat, menarik tangan saudaranya itu sehingga perhatian Eve tertuju kepadanya. "Maksudku? Kau pasti ingat kejadian kemarin, kan. Uang siapa yang sudah kau curi, gadis nakal?"


"Uang?"


Eve mencoba mengingat-ingat dan sedetik kemudian matanya membola.


"Ah, itu. Anggap saja sedikit uang dari mu itu sedekah untukku," jawab Eve santai.


"Bukan uangnya. Aku minta kantongnya."


Eve menoleh. Ia memperhatikan wajah Ethan lamat-lamat seperti seorang peneliti yang baru mendapatkan artefak kuno. "Namamu Declan, kan?"


"Declan?"


"Kantong itu sudah aku serahkan kepada mama," jawab Eve puas.


"Ambil benda itu sekarang juga, Eve," geram Ethan.


"Aku ingin lihat. Seberapa penting mama bagimu. Jika aku jadi dirimu, memiliki banyak uang dan kekuasaan, tanpa pikir panjang akan pergi mencari mama dan menempatkannya di rumah yang lebih layak. Apa ini caramu berbakti, Kak Declan?" cerca Eve dengan nada sinis di akhir kalimatnya.


Sementara itu, Declan yang asli tengah menatap keduanya dari kejauhan. Marah kepada diri sendiri dan perasaan bersalah bersarang di dalam lubuk hatinya.

__ADS_1


Apa yang akan dia lakukan setelah ini? Entahlah, Declan sendiri masih bimbang.


__ADS_2