Mendadak Bangsawan

Mendadak Bangsawan
Penyusup Handal


__ADS_3

Hari sudah semakin malam. Setelah menyelesaikan berendam air hangat sebagai ritual sebelum tidur, Eve duduk di depan meja riasnya. Memperhatikan bagaimana Lily menata rambutnya dengan telaten dari pantulan cermin. Menyisirnya dengan antusias, sama seperti biasanya.


"Rambut Anda selalu indah, My Lady," ujar Lily tanpa menutupi rasa kagumnya. Beberapa kali sisir yang dia pegang bergerak turun, lalu kembali ke atas. Sungguh, surai pirang adalah warna yang paling cantik dari segalanya.


"Rambut merah milikmu juga tidak kalah cantik, Lily. Aku suka melihatnya," balas Eve dari pantulan cermin.


"Benarkah?" Lily merona. Dulu, tidak ada satupun yang menyukai warna rambutnya karena saat pertama kali melihat, dia terkesan seperti gadis jahat atau parahnya lagi dianggap penyihir. Eve, orang pertama yang menyukai warna rambutnya yang aneh.


Eve mengangguk, "merah seperti apel, membuatku lapar," guyonnya yang dibalas tawa geli dari si pelayan muda.


"Nah, sudah selesai, My Lady." Lily merasa puas dengan hasil pekerjaannya. Setelah meletakkan semua peralatan di tempatnya, wanita muda itu cepat-cepat undur diri karena sudah setengah jam terlewat dari waktu tidur yang sudah ditetapkan untuk Eve.


Peraturan kebangsawanan nomor 117, dilarang tidur larut malam.


Tapi bukan Eve namanya jika tidak melanggar. Dengan langkah ringan kedua kakinya mengantarkan gadis itu menuju balkon yang menghubungkan kamarnya dengan pemandangan bebas di bawah sana. Lampu-lampu di setiap sudut membantu penglihatan Eve untuk memindai setiap inci pemandangan malam. Lolongan serigala dari kaki bukit kali ini mendominasi, menemani Eve dalam kesendirian yang meliputi dirinya.


Pikiran gadis itu berkelana. Selama beberapa minggu tinggal di sini, Eve bisa dengan percaya dirinya menyatakan bahwa dia cukup mengenal Declan. Mengingat kebaikan saudara kandungnya itu, Eve menjadi berpikir ulang. Apakah keputusannya untuk merebut posisi penerus Lumiere itu salah?


Ia menghela nafas. Hal yang paling ia sesali mengapa terlahir sebagai perempuan sekarang kembali terjadi; mengapa dirinya lebih setuju mendengarkan ucapan hatinya ketimbang pemikirannya yang dari awal sudah direncanakan dengan matang.


"Cuaca mulai dingin, My Lady. Bagaimana jika aku membawakan selimut untukmu?"


Eve terlonjak kaget. Secepat mungkin dia berbalik, dan betapa terkejutnya dia saat menemukan seorang pria sudah berdiri di belakangnya dengan ekspresi santai. Hal yang paling mengesalkan, seseorang ini berhasil masuk ke dalam kamarnya tanpa izin sama sekali!


"Kau!" Masih segar di ingatannya, di mana dia bertemu dengan pria dewasa yang memiliki surai sepekat arang ini. "Bagaimana kau tahu aku tinggal di sini? Ya ampun, lalu bagaimana caranya kau bisa kemari!"


Xerr terkekeh lalu menurunkan telunjuk Eve yang mengacung ke arahnya. "Memanjat dari bawah tentunya. Kenapa bertanya, kagum?"


"Kau bilang 'kenapa bertanya'?" Kepala Eve rasanya hampir mengeluarkan asap. Ini benar-benar gila. "Dasar penguntit, aku akan berteriak agar kau— hmpph!"


"Suaramu keras sekali, apa tidak khawatir membangunkan tetangga sebelah?" Sedetik kemudian Xerr tersadar lalu memberikan tatapan sok polos. "Oh, iya. Kan ini kastil. Mana mungkin ada tetangganya. Tapi terlepas dari itu, bisakah kau diam dulu? Aku kemari bukan tanpa tujuan, tahu."


"Oh, jadi ada tujuan?" ujar Eve setelah berhasil melepaskan bekapan Xerr dari mulutnya. "Katakan sekarang, apa tujuanmu. Mencuri, menculik, atau jangan-jangan ingin menjadikan aku sebagai tebusan?" Eve syok dengan pernyataannya sendiri. Dengan gerakan proteksi, dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Jangan sentuh aku satu inci-pun!"


"Bunga kita tertukar." Xerr menyerahkan kotak buket yang tadi dia bawa. "Kau mengambil bunga anyelir milikku."

__ADS_1


"O-oh," ujar Eve tergagap. "Tunggu di sini," sambungnya lagi lalu masuk kembali ke dalam kamarnya. Mengambil sekotak buket bunga anyelir yang bentuknya sudah tidak karuan. Tentu saja, setelah menyangka Declan yang memberikan bunga mengerikan itu, Eve yang frustasi langsung melemparnya ke sembarang tempat. Tidak menyangka pemiliknya menginginkan bunga anyelir itu kembali.


Sebelum mencapai pintu balkon, Eve sempat terpana dengan pemandangan indah di hadapannya. Pria menyebalkan itu, entah mengapa bisa terlihat begitu memukau saat duduk di pinggiran balkon. Tatapannya yang mengarah jauh menuju bulan terlihat tajam seperti ribuan anak panah yang melesat bersamaan menuju papan dart. Rahangnya yang kokoh dan juga surai hitamnya yang melambai pelan saat di hembus angin. Eve tidak tahu sejak kapan, yang jelas pemandangan yang seperti ini tidak baik untuk kesehatan jantungnya. Ah, sejak kapan pria genit itu berubah menjadi sosok yang begitu tampan?!


Atau sejak awal dia memang tampan. Tapi Eve baru menyadarinya sekarang? Sialan.


"Hoi, kenapa melamun?"


"E-eh?" Eve mengerjap lalu bergegas kembali ke balkon. Yah, sekarang dia mulai merasa dingin dengan tiupan angin malam. "Ini ... bungamu," ujarnya ragu sambil menyerahkan bunga anyelir yang bentuknya tidak seperti bunga lagi.


Xerr mengambilnya. Memperhatikan bunga anyelir itu lalu mengernyit. "Aku sering membeli bunga. Tapi ini kali pertamanya aku melihat bunga anyelir memiliki bentuk aneh dan ... unik," ucapnya ragu, "aish, ya, sudah. Tidak masalah. Ini, ambil milikmu." Xerr menyerahkan buket bunga tulip yang dia bawa.


Eve tercenung. Ternyata Declan benar-benar memberikannya bunga tulip yang indah. Tetapi perasaan bersalah lainnya semakin menggerogoti Eve saat tahu bunga tulip itu sama sekali tidak terlihat pernah disentuh. Sedangkan bunga milik Xerr sendiri ... Ah, sudahlah.


"Itu ... bunganya ...," ungkap Eve ragu sambil mencuri-curi pandang kepada si anyelir putih.


"Tidak masalah, aku bisa membelinya lagi."


"T-tidak!" Refleks Eve memegang tangan Xerr dengan tatapan bersungguh-sungguh. "Aku akan menggantinya. Berapa yang kau mau, akan aku berikan!"


Eve menarik napas. Bisakah pria di depannya ini bicara yang normal-normal saja? Maksudnya ... jangan menggunakan kata yang memiliki makna ambigu seperti itu. Sekali lagi Eve tekankan, kesehatan jantungnya sedang dipertaruhkan di sini!


"Sudah malam. Sebaiknya cepat-cepat tidur." Xerr lalu melepaskan mantel terluarnya. "Sebagai kenang-kenangan," imbuhnya lagi lalu melingkarkan mantel tersebut di pundak Eve yang dingin.


"Kau belum menjawab pertanyaan ku."


"Yang mana?"


"Dari mana kau tahu aku tinggal di sini?" ucap Eve memincingkan mata.


"Rahasia!" Xerr kembali terkekeh saat mendapati raut cemberut Eve yang menggemaskan. "Nanti kau juga tahu. Dan setelah itu, aku harap kau tidak merubah sikapmu padaku."


Eve memiringkan kepala. Ah, sepertinya pria ini termasuk orang penting. Tapi siapa kira-kira?


"Aku pergi dulu. Lain kali, jangan terkejut jika ada seseorang yang mengetuk balkon kamarmu," candanya lalu melompati pembatas balkon dengan mudah. Sebelum pergi, Eve segera mendekat.

__ADS_1


"Siapa namamu?"


"Xerr, Xavier," sahutnya singkat. "Ingat namaku baik-baik. Jangan sampai kau melupakannya."


Eve mendelik. "Ya, akan aku ingat supaya saat berkunjung ke pusaramu suatu saat, aku tidak salah orang."


Xerr tergelak. "Kejam sekali, tidak ada manis-manisnya," ujarnya lalu kembali bersuara, "namamu Luvena Calisteé, kan. Eh, maksudnya Luvena Calisteé Lumiera. Aku akan selalu mengingat nama itu. Berdoalah agar suatu saat nanti namamu bisa berada di dalam undangan pernikahan yang sama dengan undangan pernikahan milikku."


"Hei, jangan main-main!"


"Ah, baik-baik. Kalau begitu aku serius."


"Xerr!"


"Aku percaya kepada takdir, Lady. Omong-omong, apakah kau tahu apa makna dari bunga yang tertukar?"


Kemudian, pipi Eve berubah merah. Bunga tertukar memiliki makna bahwa siapapun yang tidak sengaja melakukannya akan berjodoh. Dulu, raja ke-tiga belas Sasania, Jonathan Roosevelt pernah mengalami kejadian serupa dengan ratunya, Joanna Mcknight. Terbukti, beberapa tahun setelah kejadian tertukarnya bunga mereka itu, keduanya saling mencintai dan setuju untuk menikah. Memimpin Sasania bersama kurang lebih selama enam puluh tahun dan dikaruniai lima orang putra dan putri.


"Sepertinya kau tahu maksudku," ujarnya setelah menyadari perubahan ekspresi Eve. Dia tersenyum simpul. "Yah, karena kau sudah mengerti maka aku tidak perlu menjelaskan dan akan segera pergi. Yap, sampai jumpa lagi di lain waktu, Nona," ucap Xerr sebelum melompat dari ujung balkon tersebut dan mendarat dengan sempurna di bawah sana. Eve mengawasinya, bagaimana pria yang bernama Xerr itu menyaru di dalam kegelapan, mengelabui penjaga, dan kabur dari dinding tinggi kastil dengan mudah seperti anak tikus yang sering menerobos dapur.


"Jadi namanya Xavier, ya." Eve meremat lengannya. Aroma mint yang menempel di mantel milik Xerr perlahan menyatu dengan pakaiannya. Ah, walau pria itu sudah pergi, tapi dengan aromanya, Eve merasa dia masih ada di sini.


"Ini gila," gumam Eve kepada dirinya sendiri lalu kembali masuk ke dalam kamarnya dengan hati yang bercampur aduk.


......................


Hayoloh, apa ada yang nungguin updatenya cerita Eve?🙈


Sorry lama, sengaja soalnya🤣


Sudah ada beberapa clue yang cukup jelas sejak episode kemarin. Kira-kira, siapa Xerr sebenarnya?🤔


Beberapa petunjuk mengenai jalan ceritanya juga udah dikasih di episode sebelumnya walau belum lengkap. Mungkin akan dimengerti bagi kalian yang betul-betul peka. Yosh, sekalian nambah tingkat kepekaan kalian yekan kasian doi ngasih kode mulu tapi dianggurin🙈


Setiap peran ada fungsinya masing-masing. Biar itu kang kebon atau kang sapu-sapu halaman kastil, semuanya bakal diusahakan ambil peran dalam cerita ini. Tinggal doakan aja biar authornya istiqamah nulis, ngga cepat-cepat nyelesain cerita yang berakhir gantung ga jelas🤣

__ADS_1


Oke, sekian cuap-cuap saya semoga bisa dimengerti pembaca sekalian. Wassalam🙆🏻‍♀️


__ADS_2