Mendadak Bangsawan

Mendadak Bangsawan
Fakta Pernikahan Sang Duke


__ADS_3

Setelah sang raja melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut, suasana tidak serta-merta membaik. Semuanya terdiam begitu tahu Duke of Lumiere tengah berusaha menahan amarahnya yang sudah berada di ujung tanduk. Ini jelas hal buruk, seseorang harus berusaha menenangkannya.


Tapi seseorang itu jelas bukanlah Eve. Yang ada Duke of Lumiere malah semakin marah dan tidak menutup kemungkinan dia akan menyemburkan kalimat tajam kepada semua orang selama beberapa hari ke depan.


Katanya pertemuan hangat. Tapi lihat saja, acaranya saja belum selesai tapi kedua orang penting itu terlihat saling berseberangan.


Eve menyenggol Declan yang sejak tadi diam tak bersuara. Pria itu menoleh lalu menunduk sedikit, mensejajarkan tatapannya dengan tinggi badan Eve.


"Apa?"


"Apakah kau tidak berniat untuk membujuk His Grace? Jika keadaannya seperti ini terus, bisa-bisa aku mati karena canggung," bisik Eve yang tidak bisa dikatakan bisikan karena Pangeran Clainton bisa mendengarnya dengan jelas. Pria itu bahkan terkekeh geli.


"Tunggulah sebentar, biasanya—"


"Your Grace, aku baru ingat bahwa proyek tambang kita yang dibangun di sebelah selatan mulai berjalan mulus."


Zachary menatap pangeran kedua itu dengan tertarik. Eve menghela napas lega saat tahu perhatian Zachary bisa dengan mudahnya dialihkan. Terima kasih banyak atas pangeran kedua. Pembahasannya itu ternyata sangat efektif mencairkan suasana.


"Benarkah?"


Putra Mahkota yang sejak tadi diam akhirnya berdehem setuju. "Bahkan beberapa penambang yang ingin mencari keuntungan lebih sudah menyerahkan beberapa petak tanah kepada kita untuk diolah secara maksimal. Jika diukur, mungkin luas wilayah penambangan sekitar lima hektar lahan."


"Biasanya mereka akan sulit diajak negosiasi," ujar Zachary sembari meletakkan cawannya kembali di atas piring kecil. "Apa Putra Mahkota memiliki catatan resminya?"


"Tentu saja. Bagaimana jika kita melihatnya di ruang kerja saya?" tawar Pangeran Felix.


"Semoga hasilnya sesuai dengan apa yang aku harapkan." Duke of Lumiere berdiri lebih dulu kemudian disusul oleh Pangeran Felix yang berjalan di belakangnya.


Sebelum mencapai pintu, Putra Mahkota Sasania itu kembali menoleh ke arah Pangeran Clainton, Declan, dan Eve yang tertinggal di ruangan tersebut. "Acara keluarga berakhir sampai di sini. Aku selaku perwakilan Raja Sasania mengucapkan terima kasih atas kedatangan kalian, khususnya Lady Luvena yang sepertinya belum terbiasa dengan keadaan kacau seperti ini." Putra Mahkota itu memberikan senyum tipis. "Jangan takut untuk hadir di acara keluarga selanjutnya, ya?"


Eve tersenyum ngeri. Dengan berbicara seperti itu apa Putra Mahkota ingin membuat dirinya patuh dan selalu ikut dalam acara —yang katanya keluarga— ini? Untuk undangan berikutnya, walaupun Zachary memaksa sekalipun, Eve tidak akan ikut.


"A-akan saya usahakan, Your Highness."


Akan ku usahakan tidak datang lagi.


Putra Mahkota mengangguk singkat. "Kalau begitu aku permisi dulu. Nikmati waktu kalian."


...----------------...

__ADS_1


Sekarang Eve dan Declan berjalan beriringan mengelilingi kastil yang denahnya lebih susah dihapal ketimbang kepingan puzzle tersebut. Angin malam yang dingin tidak menyurutkan semangat Eve untuk menjelajah lebih jauh. Declan ingin mengajaknya kembali ke kastil tapi gadis itu masih kekeuh dengan pendiriannya untuk melihat-lihat isi istana. Dengan berat hati Declan mengalah. Sebagai gantinya, pria yang terpaut usia lima tahun lebih tua dari Eve itu melepaskan jubah kebesarannya dan menyampirkannya di bahu Eve yang jauh lebih kecil.


"Sudah lama kita berkeliling tapi aku tidak melihat keberadaan ratu," ujar Eve sambil sesekali menatap jauh taman bunga yang terpampang indah di samping jalan.


"Mungkin beliau baru bersiap-siap saat acara keluarga kita berakhir."


Eve memandang wajah kakaknya dengan mata menyipit. "Hei, sopan kah berkomentar seperti itu tentang Yang Mulia Ratu?"


Declan mengedikkan bahu. "Kau akan tahu setelah mengenalnya sendiri."


Sebagai jawaban, Eve mendengus. Setelah terdiam selama beberapa saat, Eve kembali bersuara. "Tapi dari banyaknya acara yang pernah aku temui, ternyata acara keluarga di istana jauh lebih unik dari apapun."


"Begitu kah?"


Eve mengangguk mantap. "Di mana-mana acara keluarga itu terasa akrab dan bebas, bukan asing dan kaku seperti tadi. Lihat saja akhirnya, Yang Mulia Raja dan His Grace malah bersitegang padahal tidak ada yang perlu dipermasalahkan, kan?"


Langkah Declan terhenti, begitu juga dengan Eve yang terheran-heran. Dia mengamati Eve dengan baik-baik.


"Kau tidak tahu apapun mengenai penyebab pertikaian mereka?"


Eve menelengkan kepala. "Yang Mulia Raja tidak menyukai Lady Britney?"


"Lebih dari itu dan hal ini menyangkut hubungan Duke of Lumiere dan mama," jawab Declan serius. Diperhatikannya sekitar, memastikan apakah ada orang lain yang akan mendengar atau tidak ada sama sekali. Mau bagaimanapun, dia akan menceritakan masalah yang hanya boleh diketahui oleh pihak kerajaan dan Keluarga Lumiere.


"Dan Keluarga Averish meminta agar putri mereka, Lady Margaret dinikahkan dengan Duke of Lumiere, begitu?"


Declan mengangguk, "Benar sekali."


"Tapi dari sekian banyak permintaan ... kenapa Earl of Averish malah meminta hal itu?" ungkap Eve yang belum mengerti ke mana arah pikiran Keluarga Averish.


"Yang pertama, menjalin hubungan dengan salah satu anggota kerajaan merupakan posisi yang paling diincar. Terlebih lagi Duke of Lumiere sangat mahir dalam memonopoli perdagangan dan pembangunan lahan. Hal itu sangat berarti bagi Keluarga Averish yang memerlukan bantuan modal. Dan alasan yang paling penting ... Lady Margaret yang notabenenya adalah anak perempuan kesayangan Earl of Averish mencintai Duke of Lumiere sejak awal bertemu walau dia sudah tahu bahwa perasaannya akan bertepuk sebelah tangan."


Rasanya Eve ingin menjatuhkan rahangnya saking tidak percayanya dengan kenyataan yang baru saja Declan beberkan. Jadi pernikahan Duke of Lumiere dan mamanya dilatarbelakangi unsur paksaan dari Yang Mulia Raja?


Jika benar begitu, maka wajar Duke of Lumiere marah. Dia tidak mendapatkan takhta, tapi kebebasannya dalam memilih pasangan malah direbut sesuka hati oleh kakaknya yang menjabat sebagai raja.


"Jadi di mana Lady Britney itu sekarang?"


"Seperti yang diucapkan His Majesty, Her Ladyship sedang berada di wilayah barat entah untuk apa. Hanya His Grace yang mengetahui alasannya pergi," jawab Declan yang akhirnya kembali melanjutkan langkahnya diikuti Eve yang dibuatnya tergesa-gesa.

__ADS_1


"Tunggu—"


"Jika kau masih ingin bertanya tentang hal barusan, maaf saja tapi aku sudah bosan bicara. Lain kali jika aku mau, aku akan menceritakannya lagi," ujar Declan kembali dalam mode datarnya.


"Lihat, di saat aku sudah penasaran tingkat tinggi kau malah bersikap seperti ini." Eve kesal bukan main. Ingin rasanya dia menjambak surai pirang Declan lalu memukul kepalanya sampai puas. "Ceritakan lagi, Declan!"


"Ingat, kita masih berada di istana. Lebih baik bersabar sebentar sampai kita kembali ke kastil."


Eve memeletkan lidah. "Kalau tahu begini, kenapa tidak mengatakan semuanya nanti saja? Aku tidak suka setengah-setengah. Lebih baik—"


"Mulutmu ini benar-benar seperti radio rusak milik His Grace," gumam Declan kesal dengan sebelah tangannya membekap mulut Eve hingga suara gadis itu teredam. "Bisakah kau berhenti? Suaramu ini membuat kepalaku pusing."


"Kau menyamakan aku dengan radio rusak?" Eve terbelalak. Sesuai niat awalnya, dia berusaha susah payah untuk meraih surai pirang Declan. "Kemari kan kepalamu. Sepertinya kau belum pernah mencoba pemijatan anak rambut, kan?"


"Pemijatan? Ini penyiksaan!" Declan tidak bisa diam saja saat Eve dengan ganasnya hampir menarik rambutnya. Perbedaan tinggi badan mereka yang kentara untuk pertama kalinya bisa membuat seorang Declan bersyukur. Setidaknya dia tidak perlu berlari menghindari Eve yang sangat-sangat ... gila!


"Kalian ternyata di sini—eh." Ethan yang melihat keduanya tampak mengerjap tak percaya. "Declan, apa yang terjadi!"


"Katakan hal itu kepada adik sinting mu ini," jawab Declan yang masih sibuk bergelut dengan Eve. "Cepat jauhkan dia dariku atau besok aku akan menjadi botak!"


"Eve, Eve, Eve! Sudah-sudah, kenapa jadi begini?" Ethan menangkap tubuh Eve dengan sebelah tangan. Dalam sekejap Eve sudah tidak bisa bergerak liar lagi.


Eve mendongak. Seketika amarahnya padam saat tahu siapa orang yang menahannya. "Eh, Ethan. Lama tidak melihatmu. Mana Beckett?"


Ethan mengernyit sebentar. Oh, jadi namanya sudah tidak tertukar lagi dengan Declan?


"Di barak pelatihan bersama Jenderal Nicholas. Mau melihatnya?"


Eve mengangguk antusias. "Ah, ya. Aku belum pernah melihat barak pelatihan. Ayo, Ethan. Kita harus ke sana!"


Lihat, amarahnya langsung reda.


"Kalau begitu ayo!" Ethan melirik Declan sekilas. "Aku pergi dulu. Jika ada sesuatu, kami ada di barak pelatihan."


Declan menggeleng, "Aku ikut kalian."


"Dasar pewaris tidak ada kerjaan!" Eve mencebik ke arah Declan. "Sana-sana, aku ingin bersenang-senang dengan kedua kakakku. Jangan ikut-ikut!"


"Nah, itu benar. Beberapa jam yang lalu kau memonopoli Eve untuk dirimu sendiri. Sekarang biarkan kami yang bersamanya, iya, kan?" ujar Ethan yang dibalas anggukan mantap oleh Eve.

__ADS_1


Declan menggeram, "Dasar adik durhaka," gumamnya kesal. "Ya sudah pergi saja sana. Awas saja jika kalian meminta sesuatu dariku."


Eve mengangkat kepalanya tinggi. "Huh, tidak akan!"


__ADS_2