Mendadak Bangsawan

Mendadak Bangsawan
Perintah untuk Memberontak


__ADS_3

Usai kejadian kemarin, pagi-pagi buta setelah mengantar Eve pulang ke kastilnya, Lucas buru-buru mengetuk pintu kamar raja yang terletak di bagian tengah istana. Tempat di mana keamanannya sangat terjamin. Sekilas, pria itu melirik ke arah jendela. Matahari belum terbit rupanya. Namun keberadaan matahari pun tetap tidak akan mempengaruhi Lucas untuk bertemu dengan orang nomor satu di Sasania itu.


"Maaf, Yang Mulia Putra Mahkota. His Majesty baru saja terlelap dari satu jam yang lalu."


Itulah jawaban yang bisa Lucas dapatkan saat ini dari seorang pelayan tua yang berdiri di depan pintu kamar.


"Aku akan menitipkan pesan kepadanya."


"Silakan, Yang Mulia."


"Aku ingin berbicara empat mata." Lucas menjeda. "Ini tentang hubungan politik antara Sasania dan Brodsway."


Pelayan itu menunduk hormat. "Akan saya sampaikan, Putra Mahkota. Secepatnya setelah beliau bangun."


Merasa tugasnya sudah selesai di sana, Lucas berbalik pergi. Sejauh mata memandang ia hanya melihat para pelayan tengah sibuk hilir mudik membersihkan sisa pesta tadi malam. Semuanya langsung menunduk hormat tatkala menyadari kehadiran pewaris baru Sasania tersebut. Lucas menghiraukannya. Saat berbelok menuju tangga menurun, di ujung tangga tepatnya di undakan terakhir, Lucas dapat melihat seorang pria bersurai panjang tengah berbalik membelakanginya.


Tetapi Lucas sangat mengenali orang itu. Satu-satunya pria yang betah dengan rambut panjang selama hidupnya.


Mendengar langkah kaki dari arah belakang —yang sengaja Lucas hentakkan sedikit— Jenderal Nicholas berbalik. Sekilas Lucas bisa melihat kilat kekhawatiran di kedua bola matanya. Namun dengan cepat pria putih itu menunduk hormat.


"Putra Mahkota."


"Momen langka melihatmu tidak ikut mabuk." Lucas menepuk bahunya dengan akrab. Jenderal Nicholas, walau mereka tidak berteman sejak kecil tetapi dia sangat mempercayai orang ini. "Pasti terjadi sesuatu, 'kan?"


"Kejadian yang sangat buruk baru saja terjadi, Yang Mulia."


"Katakan."

__ADS_1


"Beberapa jam yang lalu seseorang menemukan Pangeran Julius dari Brodsway itu tergeletak di taman belakang istana." Wajahnya kembali pias, "syukurlah dia belum mati. Tidak dapat dibayangkan bagaimana pihak Brodsway semakin yakin untuk menyerang kita karena kematian salah satu pangerannya."


"Sungguh mengejutkan. Apakah sudah diberitahu siapa orang yang berani menyakiti pangeran?" ujar Lucas berpura-pura tidak tahu padahal dialah pelaku sesungguhnya.


"Sepertinya cidera di bagian belakang lehernya cukup parah sehingga pangeran Julius belum sadarkan diri. Jadi tidak ada informasi apapun yang dapat kita ketahui."


"Apakah tidak ada jejak sedikitpun yang merujuk kepada pelakunya?"


"Pelakunya sendiri bisa dibilang hebat. Tidak ada bekas sedikit pun, sangat bersih bahkan tidak meninggalkan jejak kaki. Mungkin dia pembunuh bayaran tingkat satu." Jenderal Nicholas mengeluarkan opininya penuh keheranan. "Tetapi apa maksudnya? Hanya melumpuhkan Pangeran Julius tanpa membuatnya mati. Pasti orang itu sengaja membiarkan targetnya tetap hidup."


"Mungkin ada sesuatu yang tidak kita ketahui."


"Ya, mungkin saja. Sekarang saya menjadi semakin penasaran dan tidak sabar menunggu Pangeran Julius bangun dan menanyakan seluruh kronologinya pada beliau," sahut Jenderal Nicholas gemas.


"Bagaimana menurutmu jika pelakunya itu aku?"


"Eh?" Jenderal Nicholas sempat terdiam sebelum dia tertawa terbahak dan balas menepuk pundak Pangeran Lucas. "Selera humor Anda cukup bagus, putra mahkota. Saya tahu, tidak ada alasan tepat jika Anda benar-benar melakukan hal itu."


Bukan salah Lucas lagi, kan. Dia sudah menyerahkan diri sejak awal.


"Omong-omong, putra mahkota. Akhir-akhir ini pemberontakan semakin mengganas. Ah, saya baru saja ingin membicarakan hal ini kepada Anda, dan syukurnya kita bisa bertemu sekarang."


Lucas memberikan kode agar mereka bercakap-cakap sambil berjalan menuju ruang kerja. Jenderal Nicholas yang mengerti dengan maksud sang putra mahkota pun mengangguk singkat lalu mengikuti Lucas berjalan di samping kanannya.


"Pemberontakan lagi?"


Jenderal Nicholas mengangguk mantap. "Seperti tidak ada habis-habisnya," keluh pria itu resah, "jika terus begini, nyawa prajurit yang sudah gugur tidak lebih berharga dari ketamakan para penguasa—"

__ADS_1


Jenderal Nicholas mematung. Mengeluarkan pendapatnya sekarang sama saja dengan bunuh diri. Di hadapan putra mahkota, pula.


Lucas tertawa kecil. Setelah mereka memasuki ruang kerjanya, dia sendiri yang menutup pintu kembali. "Ya ampun, jadi seperti itu, ya, pandanganmu terhadap para penguasa yang sudah membesarkanmu sampai sekarang, Jenderal?"


"T-tidak, bukan begitu...."


"Kenapa gemetar?" Lucas memberikan tatapan mengejek. "Pemikiranmu dan para pemberontak itu sama. Jadi, andaikan kau bergabung dengan mereka pun, aku tidak keberatan sama sekali."


"Putra Mahkota!" Jenderal Nicholas langsung menjatuhkan diri dan bertekuk lutut di depan Lucas. "Jika Anda berpikir bahwa saya telah menggonggong kepada majikan sendiri, maka silakan penggal leher saya sekarang juga!"


"Tetapi Yang Mulia Raja tidak pernah menyuruhku membunuhmu, kan? Kau jenderal kesayangannya," balas Lucas menyeringai geli.


"Saya hanya akan setia kepada perintah satu orang, dan orang itu adalah Anda." Jenderal Nicholas tidak berniat beranjak dari sana. Kalau bisa, dia akan bersujud kepada Lucas agar memercayai kesetiaannya ini. "Maka dari itu, jika Anda memerintahkan saya mati sekarang pun, saya akan rela bunuh diri dengan tangan sendiri, ataupun dengan tangan Anda!"


"Perintahku tetap sama, jenderal." Lucas terkekeh.


"Bawa seluruh pasukanmu menuju sisi utara dan bantu para pemberontak itu melawan pasukan istana."


Jenderal Nicholas terperangah. Ada apa ini?!


"Kadang kita sendiri tidak mengerti, jenderal. Kepada siapa kita berdiri sebenarnya. Entah berpihak kepada yang berharta, atau berpihak kepada rakyat. Semakin tinggi kedudukan di istana, maka semua kebenaran itu akan semakin buram. Kau benar, banyak penguasa yang berakhir seperti babi, tamak dan rakus sampai melupakan tugas utama mereka. Sedangkan rakyat di luar sana harus menangis setiap malamnya karena perut mereka selalu kosong."


"Anda memerintahkan saya untuk memberontak, putra mahkota?" Jenderal Nicholas bertanya sekali lagi. Saking tidak percayanya dengan ucapan Lucas barusan.


"Kita satu pemikiran, aku tahu. Setelah mendudukkan posisi sebagai para pemberontak itu, aku tahu siapa yang benar-benar salah dalam kasus ini. Yang Mulia Raja. Aku rasa beliaulah yang kurang bijaksana sehingga rakyat berusaha melawannya."


"Maka dari itu ... meski Raja adalah ayahku sendiri. Aku harus melawannya demi jutaan rakyatku yang mengharapkan keadilan." Lucas terkekeh, geli melihat bagaimana ekspresi Jenderal Nicholas yang kelewat syok. "Bukankah sejak dilahirkan di dunia ini kita telah diajarkan untuk itu? Berjuang bersama rakyat, bukan malah memerangi mereka. Satu atau dua pemberontakan mungkin tidak masalah, tapi kali ini pemberontakan hampir mengelilingi Sasania. Tidak salah lagi, pemerintahannya lah yang tidak beres."

__ADS_1


"Yang Mulia." Jenderal Nicholas berdiri. Meletakkan telapak tangannya di dada, membungkuk. Sebuah kode di dunia militer bahwa dia akan taat sampai kapan pun.


"Apapun yang Anda perintahkan, itu adalah kewajiban bagi saya. Maka dari itu, izinkan saya berangkat hari ini untuk membantu para pemberontak!"


__ADS_2