
"Kenapa sejak awal kau tidak mengatakan yang sejujurnya padaku?" Eve menghentakkan kakinya untung melampiaskan amarah lalu menarik bahu Lucas agar berhadapan dengannya. "Pangeran kesayangan raja pernah menguntit wanita dan melompati balkon kamarnya. Bayangkan, menurutmu apa yang akan dipikirkan orang-orang setelah aku mengungkapkannya?"
Merasa tempat tersebut cukup sepi, Lucas menyandarkan bahunya dengan kedua tangan bersidekap. "Kau tidak akan melakukannya."
"Dari mana kepercayaan dirimu itu berasal?"
"Jika kau menyebarkan berita itu, bukan namaku saja yang akan tercemar." Lucas tersenyum miring, "tapi namamu juga, Nona Lumiere."
"Aku tidak sebodoh itu untuk merusak namaku sendiri," balas Eve merasa menang, "akan aku pastikan nama wanita yang kau 'kunjungi' saat itu tidak akan diketahui orang-orang."
"Berarti kau tidak memiliki hati nurani."
"A-apa?!"
"Bagaimana bisa kau ingin merusak reputasi calon suamimu sendiri?" Lucas berbisik tepat di samping Eve yang wajahnya sudah berubah semerah buah tomat. "Di masa depan, reputasimu ... akan terpengaruh dengan reputasiku. Maka dari itu, sebagai calon *putri yang baik, kau harus tahu apa yang harus dilakukan atau sebaliknya."
Eve tercengang. "Tidak ada suami-istri di antara kita, kau—"
"Jangan terlalu keras." Lucas meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. "Cukup berbahaya jika seseorang mengetahui hubungan rumit kita."
Tangannya mengepal. Mata birunya berkilat tajam lalu mengacungkan jarinya tepat di depan wajah Lucas. "Beraninya kau memotong ucapan ku!" pekiknya di ambang batas sabar. "Ingat hal ini. Walaupun aku sudah mengetahui statusmu, bukan berarti aku akan bersikap baik dan patuh untuk kedepannya. Dasar laki-laki penggoda, kau mengira aku akan terpikat padamu?"
Lucas tertawa terbahak-bahak. "Laki-laki penggoda?" beonya lalu kembali tertawa sampai memegangi perut. "Baru kali ini aku mendengar seseorang memanggilku seperti itu. Terima kasih, suatu kehormatan bisa memiliki nama spesial dari gadis yang aku sukai."
"Memang sinting," gumam Eve ngeri.
"Aku mendengar umpatan itu, Lady."
"Terserah," jawab Eve kesal. Lama-lama bersama orang ini, mungkin dia akan terserang penyakit hipertensi. "Masih banyak yang harus aku lakukan. Kalau begitu permisi, aku harap kita tidak bertemu lagi. Selamat tinggal."
Eve berbalik pergi tanpa menatap ke belakang lagi. Menyaksikan bahu kecil itu menjauh, Lucas kembali memasang ekspresi datar dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Your Highness, ternyata Anda di sini." Jenderal Nicholas menghembuskan napas lega lalu segera menghampiri. "Petinggi Sasania sudah menunggu Anda. Ada hal darurat."
__ADS_1
"Bukankah His Majesty sudah ada di sana, untuk apa aku mewakilinya lagi?"
Jenderal Nicholas menggeleng. "Kali ini bukan untuk mewakili," jawabnya cepat, "terhitung dari sekarang sampai seterusnya Anda akan ikut serta dalam setiap rapat."
Lucas mengernyit, "Apa maksudmu?"
"Putra Mahkota melepaskan kekuasaannya." Sang jenderal menelan kering saat menyadari tubuh Lucas menegang. Oh, mengapa harus dirinya yang mengatakan hal ini kepada pangeran?
"Di mana dia sekarang." Lucas bersuara dingin.
"P-Putra Mahkota melarikan diri setelah makan pagi. Selain itu, dia diketahui membawa banyak uang dan permata. Dengan harta sebanyak itu, tidak menutup kemungkinan His Royal Highness berencana pergi ke tempat yang jauh dari jangkauan kita."
"Masalah ini biarkan aku dan His Majesty yang akan memecahkannya. Pasti dia belum pergi jauh. Aku yakin." Lucas menepuk pundak sang jenderal. "Sudah terlambat. Ayo, kita pergi ke aula sekarang."
Jenderal Nicholas mengerjap, "Anda tidak marah?"
"Dibanding marah, rasa kecewaku terhadap Putra Mahkota lebih besar," sahutnya santai. "Aku berusaha memberinya kesempatan agar bisa membuktikan diri bahwa dia adalah kandidat yang paling pantas menjadi raja selanjutnya. Tapi lihat, apa yang dia lakukan. Mungkin usahaku itu baginya hanyalah angin lalu. Tidak berguna sama sekali."
Jenderal Nicholas tercenung. Jadi selama ini sikap buruk yang Pangeran Lucas tampilkan itu dilakukannya agar Putra Mahkota lebih dipandang dan dipercaya oleh petinggi Sasania. Pantas saja, Pangeran Lucas yang dari usia enam tahun sudah terkenal kepiawaiannya dalam pemerintahan, tiba-tiba berbalik arah menjadi orang yang susah diatur dan semaunya. Ratu Ashley yang notabenenya adalah ibu tiri pun bahkan sudah menyerah menasehati Pangeran Lucas yang secara tersirat membencinya.
"Cepat, jenderal."
Jenderal Nicholas tersentak. Melihat Lucas sudah berjalan mendahuluinya, pria itu segera mengikuti dari belakang.
...----------------...
Hari demi hari berlalu. Sejak hari itu, Eve tidak pernah melihat Lucas lagi baik di toko bunga maupun di balkon kamarnya. Pria itu sibuk, mungkin.
Eve menggeleng. Untuk apa memikirkan lelaki aneh itu?
"Milady."
Eve menoleh malas. Berpangku di balkon, ditemani setangkai bunga tulip yang diletakkan di vas berisi air, dan angin yang berhembus lembut sukses membuat matanya hampir terpejam sepenuhnya.
__ADS_1
"Ada apa, Lily?"
Lily menyerahkan sebuah amplop coklat yang diberi stempel merah.
Eve belum menyambut amplop tersebut. "Undangan pesta lagi?"
"Saya mendapatkannya dari pengantar surat tidak resmi di depan kastil," jawab Lily jujur, "Dilihat dari tempatnya, sepertinya surat ini berasal dari desa tempat tinggal Anda dulu, My Lady."
"Dari desa?" Eve menyambut surat tersebut dengan sukacita. Aroma khas kopi menguar dari surat tersebut. Benar-benar harum. Begitu di buka, Eve mendapati tulisan tangan yang dia yakini berasal dari Bibi Sese.
Salam, My Lady Luvena Calisteé Lumiera
Setelah hari di mana Anda pamit, kami tidak mendapati kabar dari Anda lagi sama sekali. Sebagai orang tua, Lady Margaret sangat khawatir, begitu juga dengan saya. Berpuluh-puluh surat sudah kami kirimkan setiap harinya melalui jasa pengiriman surat resmi tapi sampai hari ini balasan dari Anda tidak pernah didapatkan.
Kami tahu ada yang salah. Maka dari itu, Lady Margaret berinisiatif untuk mengirimkan surat ini melalui jasa pengiriman tidak resmi. Kami berharap surat kali ini bisa sampai ke tangan Anda dan mendapatkan balasan secepatnya.
Hal penting yang ingin saya sampaikan adalah akhir-akhir ini Lady Margaret sering sakit. Beberapa hari yang lalu, dia hanya bisa terbaring lemas di atas dipan. Paman Johan banyak membantu kami tapi obat-obatan di desa sangatlah terbatas dan harganya pun cukup tinggi. Awalnya Paman Johan pergi bersama Garlein ke kota untuk membeli obat terbatas itu. Hanya saja, kedatangan mereka dianggap remeh karena tempat pembuatan obat didominasi oleh para bangsawan. Anda mengerti, kan?
Setelah membaca surat ini saya harap Anda mengerti apa yang harus dilakukan. Dengan status yang sama, mudah untuk Anda mendapatkan obat-obatan itu dari mereka. Maaf merepotkan. Andai Lady Margaret tidak sakit, saya tidak akan mendesak Anda seperti ini.
Bibi Sese
Eve duduk tegak. Banyak sekali kejanggalan yang dia dapatkan dari surat yang Bibi Sese tulis. Yang pertama, mengapa surat dari mereka tidak pernah sekalipun mendarat selamat di tangannya saat menggunakan jasa pengiriman resmi. Dan yang kedua, Lady Margaret, ibunya sejak dulu hampir tidak pernah sakit. Paling parah hanya batuk ringan dan itupun akan sembuh dalam dua hari.
Dan bangsawan yang berada di tempat obat itu ... mereka harus diberi pelajaran yang setimpal.
"Lily, siapkan tinta dan kertas untukku."
Lily menunduk hormat sebelum berlalu. "Baik."
Eve menerawang jauh. Berbagai strategi sudah direncanakan di dalam otaknya. Setelah mengantarkan surat melalui jasa pengiriman tidak resmi, Eve akan menemui Declan lalu mereka pergi bersama mau bagaimana pun caranya.
Dengan atau tanpa seizin Duke of Lumiere.
__ADS_1
*Wanita yang menikah dengan seorang pangeran yang tidak berstatus penerus kekuasaan (putra mahkota) akan diberikan gelar putri atau berdasarkan kekuasaan suaminya. Contohnya Duchess of Lumiere yang mengikuti nama kekuasaan Duke of Lumiere padahal dulunya Zachary adalah seorang pangeran.