
Kepulangan Zachary kali ini menggemparkan penghuni kastil sehingga langkah kakinya saja berhasil membuat mereka gemetaran. Seluruh pelayan dikumpulkan menjadi satu di aula kastil, berjejer ketakutan sembari merapalkan doa sebisa mungkin. Mereka tahu Zachary adalah duke tirani, bahkan tidak segan-segan untuk membunuh pelayan yang dianggapnya tidak berguna, apalagi sampai ketahuan tidak menuruti perintahnya seperti sekarang ini. Membiarkan Lady Luvena kabur selagi dirinya tidak berada di tempat.
Entahlah, mungkin kastil Lumiere sebentar lagi akan banjir darah.
"Kalian para rendahan, apa yang kalian lakukan sampai Lady Luvena berhasil pergi dari sini."
Suaranya bernada rendah dan berat. Namun semua tahu, justru itulah tanda bahaya.
"Aku minta dua kata. Silakan membela diri."
Sunyi, semua pelayan saling bertatap-tatapan. Berusaha berkomunikasi lewat lirikan mata walau mereka tahu, itu tidak akan berhasil.
"Jawab atau kalian semua kupenggal."
Gertakan tersebut berhasil. Seluruh pelayan sekarang merasa ketakutan setengah mati. Awalnya tidak ada yang berani mengambil risiko dengan menjawab pertanyaan duke, namun tidak lama seorang pelayan tampak berani maju ke depan. Berjalan dengan lutut menyentuh lantai.
"Lady diculik."
"Diculik katamu?"
Pelayan itu, tak lain adalah Mia. Wanita itu memikirkan kejadian terburuknya. Dia tidak sanggup jika pada akhirnya Eve berhasil ditemukan dan nona-nya itu mendapatkan hukuman yang mengerikan. Maka dari itu, sejak awal Mia ingin berusaha dengan cara memelas agar dapat meringankan beban Eve selanjutnya.
Entah apapun itu, tetapi Mia benar-benar berharap Eve berhasil dengan apa yang tengah ditujunya.
Mia mengangguk. "S-saya mendengarnya dengan jelas. Orang itu berkata ingin menculik Her Ladyship."
"Lalu bagaimana ceritanya putra-putraku justru membiarkan orang itu melakukan niatnya? Cobalah berpikir dengan otak kosong mu itu, penculik mana yang meminta izin agar diperbolehkan membawa korbannya. Apakah ada yang seperti itu? Kau rendahan, jika ingin membohongiku, maka berpikirlah dengan benar!"
Zachary menendang meja hias di sampingnya hingga terbelah. Barang-barang yang berada di atasnya hancur berkeping-keping bersamaan dengan tanah yang mengotori lantai akibat vas bunga tulip berubah remuk tak berbentuk. Mia segera bersujud. Bahunya bergetar hebat bahkan dahinya terkoyak akibat beling yang dipecahkan tuannya. Dia tidak berharap banyak, mungkin hari inilah akhir dari kehidupannya mengingat bagaimana Zachary sudah murka ditambah dengan ucapannya barusan, mustahil sang duke dengan sukarela melewatkan kepalanya untuk dipotong.
"Aduh, Your Grace. Ada apa ini?"
Zachary mengangkat kepala. Di lantai dua, salah satu sosok yang berhasil membuatnya murka tampak berdiri santai tanpa dosa. Menonton bagaimana para pelayan seluruh kastil tengah diberi hukuman oleh sang ayah.
Diam-diam Mia bisa bernapas lega. Tidak munafik, dia tetap ingin hidup dan Ethan datang di saat yang tepat.
"Panggil saudaramu yang lain. Segera. Aku ingin tahu sampai sejauh mana kalian dapat membela diri." Zachary berdiri lalu berjalan menjauh. Namun belum sampai di luar, dia kembali berbalik.
"Aku akan ikut mencari Lady Luvena. Jika sampai aku menemukannya, maka bersama dengannya kalian semua tidak akan ada yang bisa selamat."
...----------------...
Kabar mengenai pencarian Lady Luvena telah sampai ke perbatasan. Penjagaan semakin diperketat. Setiap pedagang yang lalu lalang wajib memperlihatkan barang bawaan mereka entah sekecil apapun.
Dan sore ini, di perbatasan pelabuhan Utara Sasania terdapat beberapa tim pemeriksa barang tengah mondar-mandir mengecek barang kapal satu persatu. Khususnya barang yang akan diangkut tentu akan dibuka dan dipastikan terlebih dahulu apa isinya sebelum diizinkan memasuki kapal.
"Hah, Lady Luvena itu yang mana? Bagaimana kita dapat mencarinya diantara kerumunan orang-orang jika selama ini kita belum pernah melihat wajahnya," gerutu salah seorang penjaga yang memiliki perut buncit dengan gaya berjalan mengangkang.
"Yang sebelumnya baru menjadi bangsawan itu, kan. Dengar-dengar dulunya dia tidak diakui Duke of Lumiere sebagai putri kandungnya sendiri. Kasian," timpal yang lain. Berkebalikan dengan pria pertama, pria kedua ini justru memiliki tubuh kecil yang bungkuk.
"Bisa-bisanya dia memilih kabur ketimbang duduk manis di depan cermin saja? Dasar, tidak pandai bersyukur." Pria buncit itu tertawa sampai-sampai perutnya bergoyang naik turun.
__ADS_1
"Ada-ada saja." Pria kedua terkekeh lalu menggeleng heran. Dilihatnya antrian panjang para pedagang yang bersiap memasuki kapal satu-persatu mulai digeledah.
"Berikutnya!"
Dua orang pria bertubuh tinggi tampak membawa sebuah gerobak berisikan empat tong besar yang ditutup rapat. Salah satunya memakai topi lebar, menutupi sebagian rambutnya yang dikuncir. Sedangkan satunya lagi tampak kotor dengan sisa-sisa lumpur di wajah.
"Kenapa wajahmu kotor begitu?" Penjaga berperut buncit menatap jijik pria kedua.
"Gerobak kami terjatuh saat melewati jalan terjal di sebelah sana." Pria kotor itu menunjuk sebuah jalan yang memang dikenal banyak bertaburan batu gunung. "Akibatnya satu tong susu kami pecah. Hanya tersisa empat tong susu ini saja yang dapat kami bawa."
"Sepertinya jalan di sebelah sana harus segera diperbaiki. Siang ini aku akan menemui Baron O'Neil, kaki tangan Duke of Lumiere agar beliau bersedia memperbaiki jalan itu untuk kita," ujar pria berperut buncit bangga.
"Wah, apakah anda dekat dengan mereka?" tanya pedagang yang mengenakan topi lebar, antusias.
"Tentu saja kami dekat dengan baron!" Kali ini bukan pria buncit yang mengatakannya, melainkan pria bungkuk yang kini membusungkan dadanya, bangga. "Jangankan baron, ketiga lord Lumiere pun, kami sangat dekat!"
Beckett, pria yang menyamar sebagai pedagang dengan topi lebar itu mengernyit samar. Rasa-rasanya dia tidak pernah mengenal kedua orang ini. Dasar, mengaku-ngaku!
"Baiklah, kalau begitu apakah kami boleh masuk ke dalam kapal?" Lucas, si pedagang yang wajahnya dihiasi coretan lumpur itu bertanya dengan sopan. "Di seberang sana bos kami telah menunggu susu-susu ini untuk dijual kembali."
"Sayangnya tidak ada yang bisa terlewati dari pemeriksaan kami. Asal kalian tahu, Lord Beckett secara khusus memberitahu kami tadi pagi untuk membantunya mencari jejak Lady Luvena yang sedang melarikan diri. Kalian jangan main-main!"
Beckett hampir tersedak air liurnya sendiri tatkal kedua orang itu dengan pedenya mengatakan hal yang ... berlebihan. Bisa-bisanya kedua orang ini mengatasnamakan dirinya yang tidak tahu apa-apa. Padahal bukannya mencari, Beckett justru tengah membantu adiknya itu untuk menjauh dari Sasania selama beberapa waktu.
Kalau tidak tahu, sebaiknya diam. Jangan malah memutarbalikkan fakta!
Kedua orang penjaga itu langsung saja bergerak mengecek barang bawaan Lucas dan Beckett. Empat buah tong susu diikat kencang di atas gerobak, selain itu tidak ada bawaan lain. Usai mengecek bagian luar, kini mereka memanggil salah satu penjaga yang membawa alat tajam untuk memotong tali. Begitu tali pengikat berhasil dilepaskan dan tong berisikan susu itu dibuka, ternyata isinya benar-benar susu. Keempatnya memiliki isi yang sama tanpa ada satupun kejanggalan.
Mereka mengangguk lalu sama-sama membawa gerobak besar itu memasuki kapal. Layaknya pedagang miskin pada umumnya, kedua bangsawan yang tengah menyamar itu tidak menggunakan alas kaki sehingga beberapa kali Beckett tampak tidak nyaman. Kadang dia menggaruk telapak kakinya, atau menggosoknya dengan tepian kapal yang keras agar gatal yang ia rasakan dapat berkurang.
"Sebaiknya kau gunakan sendal sebelum kakimu membengkak." Lucas menatapnya prihatin.
Wajar jika Beckett alergi terhadap apapun yang dia injak jika selama ini kakinya hampir tidak pernah keluar dari sepatu setinggi lutut yang sering bangsawan pakai pada umumnya. Berbeda dengan Lucas yang sudah sering menyamar, entah itu sebagai Xerr atau mengikuti kebanyakan orang di sekitarnya, kaki pria itu tentu sudah kebal terhadap benda-benda keras seperti kerikil atau bahkan batu tajam sekalipun.
"Tidak masalah. Hanya sebentar, nanti akan sembuh sendiri."
Mendengar jawaban itu Lucas mengedikkan bahu. Terserah dia saja, toh, bukan dirinya ataupun Eve juga yang dirugikan.
"Kita ke sebelah sana." Lucas memberi kode agar Beckett mengikutinya yang mendorong gerobak menuju pojok kapal dekat dengan buritan. Di balik tiang besar, begitu memastikan bahwa tidak ada satupun orang yang melihat, Lucas membuka salah satu tong susu lalu mengetuknya tiga kali.
"Ah, kalian lama sekali. Tanganku sampai pegal karena harus mengangkat wadah susu ini lama-lama." Eve muncul di balik tong tersebut dengan wadah susu yang kini pindah ke tangan Lucas yang membantunya keluar dari dalam tong tersebut.
"Pemeriksaan memakan waktu yang cukup lama karena petugas-petugas di sini adalah teman dekat Lord Beckett." Lucas melempar tatapan jenaka sampai-sampai Beckett mendengus keras. "Benar, kan, Lord Beckett."
"Jangankan menjadi teman dekat, mengenal mereka saja bahkan tidak sama sekali." Beckett menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tapi terserahlah. Setidaknya mimpi mereka bukan hal yang aneh-aneh atau dapat merugikan saya. Walau kebohongan jelas bukanlah sesuatu yang dapat ditoleransi."
"Setidaknya kali ini kita bisa bebas." Lucas tersenyum simpul. Perjuangan mereka bisa sampai di kapal ini jelas tidaklah mudah, apalagi untuk Beckett.
"Terima kasih, Lord Beckett."
Mendengar ucapan tersebut, Beckett tertegun. Tidak. Status mereka seharusnya sudah mengatakan cukup jelas bahwa Lucas tidak perlu mengucapkan rasa terima kasihnya terhadap Beckett.
__ADS_1
Tetapi entah magnet apa yang berhasil memikat Beckett, kini dia ingin menjadi orang terdekat dari calon adik iparnya itu.
Bukan karena kekuasaan. Beckett lebih menyukainya karena Lucas memang berbeda.
"Sama-sama."
Namun pada akhirnya hanya itu yang dapat keluar dari mulutnya. Beckett tidak bisa mengatakan lebih jauh.
"Selanjutnya kau bisa pulang. Kami akan melanjutkan perjalanan menuju pulau seberang."
Beckett mengernyit. "Pulau seberang? Kerajaan lain maksudnya?"
"Pulau Carmelion. Kalian pasti tidak pernah mendengarnya, kan."
"Memang nama yang asing." Eve meletakkan jari telunjuk dan jempol di bawah dagu, seperti berpose berpikir. "Sepertinya nama itu belum pernah disebutkan di peta."
"Tepat sekali. Pulau itu memang tidak pernah digambarkan di peta. Karena selain pulau itu kecil dan terpisah jauh dari pulau besar lain, sumber dayanya juga sangat sedikit. Tidak ada apapun yang dapat diandalkan di sana."
Lucas tersenyum miring.
"Tetapi aku bisa melatih pasukanku di sana tanpa perlu khawatir Yang Mulia Raja mengetahuinya. Struktur tanahnya juga keras, sehingga di samping berlatih teknik beladiri yang benar, pasukan-pasukan itu juga diarahkan untuk belajar cara unik dalam menunggang kuda."
"Cara unik?"
"Melompat dari pohon ke punggung kuda yang masih berlari kencang, misalnya." Lucas mengangkat kedua bahu. "Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan."
"Yah, jangankan masa depan, untuk beberapa jam ke depan saja kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi." Eve memperhatikan langit yang berada jauh di atas kepalanya. Tidak ada awan, langit biru nan polos memenuhi indra penglihatannya yang dalam, tengah memikirkan banyak strategi agar rencana Lucas berhasil tanpa ada hambatan.
"Beckett, apakah aku boleh meminta sesuatu darimu?"
Beckett mengangguk semangat. "Katakan saja!"
"Aku ingin kau menggiring opini publik terhadap Lucas...."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Apa masih ada yang bingung, kenapa Eve bisa bebas dari pemeriksaan padahal sudah jelas-jelas isi tongnya digeledah?
Bentar, aku coba gambar ilustrasinya.
Sorry jelek, author lagi males ngegambar😔✋🏻
Kalau mau ketawa, dipersilahkan di kolom komentar😔😭
Jadi kenapa enggak ketahuan? jawabannya, badan Eve ketutupan sama ember kayu kecil yang dia angkat itu. Berhubung isinya susu, bukan air jernih, jadi kedalaman air enggak bisa dilihat dan dasarnya juga ga tau sampe mana. Dan si penjaga enggak ngitung berat tong itu juga, padahal tong berisi air dan tong berisi manusia itu beda. Kalau isi air beratnya merata, pegang sisi mana aja beratnya sama. Sedangkan kalau manusia pasti ada beda-beda gitu beratnya karena manusia kan bukan benda cair yang bisa memenuhi seluruh permukaan ruangan😭✌🏻
Sekian penjelasan saya, semoga dapat dimengerti. Udah, udah, manut aja sama author engga usah komplain sana-sini dengan meminta kelogisan lebih. Toh, cuma cerita fantasi, bukan science fiction. Kalau manut entar dikasih permen sebiji, oke?😩✌🏻
See you next episode, buat yang puasa, semoga puasanya lancar terus sampai azan Maghrib berkumandang👋😉
__ADS_1