Mendadak Bangsawan

Mendadak Bangsawan
Dukungan


__ADS_3

Pagi-pagi sekali kapal bermuatan besar dari Brodsway sudah sampai di pelabuhan Sasania yang selalu ramai sama seperti biasanya. Dikarenakan bentuk kapal yang asing, sontak orang-orang memperhatikan mereka lamat-lamat. Namun begitu jangkar diturunkan dan Lucas berhasil menginjakkan kakinya lagi di tanah kelahirannya itu, sorak bangga langsung saja membanjiri kedatangannya dengan penuh sukacita.


"Yang Mulia, saya dengar selama ini Anda lah yang diam-diam memperhatikan rakyat kecil seperti kami. Pantas saja semenjak Anda pergi, tingkat keamanan di tempat kita ini rasa-rasanya ada yang kurang!"


Kini, wanita yang membawa dua orang anaknya tampak mengangguk setuju. "Sehari tidak ada kehadiran Anda, rasanya sama seperti setahun. Putra Mahkota, tolong jangan tinggalkan kami lagi!"


"Tahu-tahu begini, mengapa tidak dari dulu saja Anda menjabat menjadi Putra Mahkota. Sepertinya tanpa Anda, Sasania kita ini tidak akan semaju sekarang," timpal pria pendek yang menyusup di antara kerumunan orang-orang, mengelilingi Lucas yang berada tepat di tengah-tengah mereka. "Kami juga rela jika seandainya Anda menggantikan posisi raja yang sekarang."


Yang lainnya menatap Lucas. Dari tatapan mereka berbicara seolah mengatakan hal yang sama.


"Karena kami menyayangi Anda."


Di belakangnya, Eve tersenyum diam-diam. Permintaannya kepada Beckett —untuk membantu menggiring opini publik agar nama Lucas semakin baik— nyatanya sudah berhasil. Jauh lebih berhasil dibanding ekspektasinya. Sekarang langkah terakhir, dan yang paling utama akan segera dimulai. Suka ataupun tidak, Lucas harus menggulingkan pemerintahan ayahnya sendiri.


"Perjalananku, tidak akan berhasil tanpa kalian." Lucas melempar senyum, menciptakan kesan ramah kepada rakyatnya yang berkerumun. "Kebetulan Yang Mulia Raja pernah menjanjikan takhta untukku jika berhasil mengalahkan separuh Brodsway, musuh kita. Sekarang justru aku sudah mengalahkan negeri mereka dan mengambil alih kekuasaan. Sesuai kesepakatan, seharusnya Yang Mulia sudah sepantasnya turun sendiri dari takhtanya, kan."


"Aku berjanji akan menyatukan Brodsway dengan kita. Dengan begitu kekuasaan Sasania akan semakin luas."


Mendengar berita baik itu, kepercayaan rakyat kepadanya semakin kuat. Inilah Lucas, raja yang mereka idamkan selama ini. Berbeda dari ayahnya yang naif menginginkan perdamaian, sang Putra Mahkota justru sangat berani mengibarkan bendera perang sampai-sampai musuh berpikiran ulang untuk menyerang mereka. Sekarang, berita tentang kekalahan Brodsway atas Sasania sudah disebarkan. Tinggal menunggu waktu, tidak akan ada satupun lagi yang akan berani mengganggu ketenangan rakyat Sasania yang biasanya dihantui perdagangan manusia dan penculikan anak-anak.


"Kami akan mengawal Anda sampai istana. Sesuai perjanjian, rebut lah hak Anda atas Yang Mulia Raja!"


Inikah rasanya dihargai setelah berjuang mati-matian selama ini? Jauh di dalam lubuk hatinya, Lucas benar-benar merasa senang. Semua rasa sakit dan pengorbanan seolah telah terbayar tuntas hanya dengan senyum bahagia mereka. Senyum tanpa beban, lepas. Biarlah kehidupan mereka, Lucas yang menanggung. Entah mau seribu atau bahkan sepuluh ribu tahun lagi Lucas tidak keberatan duduk sebagai raja jika seluruh rakyatnya bersama-sama mendukungnya dari belakang.


"Kalau begitu kita pergi sekarang." Lucas menoleh, memberikan tatapan kepada Eve seolah menginginkan wanita itu tetap berada di sisinya.


"Calon ratu, mari ikut bersamaku."

__ADS_1


Eve mengulum senyum. Usai Lucas naik di atas kudanya, pria itu mengulurkan tangan untuk Eve raih dan duduk di depannya. Karena rakyat kecil tidak diundang saat peresmiannya sebagai anggota keluarga Lumiere, beberapa dari mereka berbisik penasaran.


"Siapa perempuan itu. Apakah Putra Mahkota menemukannya di Brodsway?"


"Sangat cantik. Tapi ... apakah tidak masalah jika ratu baru malah berasal dari kalangan Brodsway. Takutnya, malah mereka yang mendominasi istana."


"Apa-apaan kalian ini. Perempuan cantik itu adalah putrinya Duke of Lumiere yang sebelumnya dikabarkan hilang. Tidak menyangka ternyata hilangnya Her Ladyship karena melarikan diri bersama Putra Mahkota. Mereka saling mencintai, jadi sudah sepatutnya bersama!"


"Ah, romantisnya!"


"Lihat, rakyat sudah memikirkan banyak hal tentang kita," bisik Lucas tepat di samping Eve.


"Tetapi 'banyak hal' itu benar, kan." Eve membalasnya sambil terkekeh geli.


"Benar sekali, cantik." Saat Eve menghadap ke depan, Lucas segera mencuri ciuman di pipi kanan gadis itu. Eve hanya bisa mematung. Sorakan heboh langsung saja menggema setelah menyaksikan perbuatan Lucas barusan.


...----------------...


Hudson tampak mondar-mandir di depan ruang takhtanya. Sesekali, dia memperhatikan kursi besar yang diletakkan di atas sana. Kursi paling indah dibanding barisan kursi-kursi para petingginya, disertai tatapan cemas. Kabar tentang kemenangan mutlak Putra Mahkota sudah dia dengar sejak tengah malam tadi. Sekarang perasaannya campur aduk. Rasa-rasanya baru tiga puluh tahunan dia menjabat menjadi Raja Sasania. Apakah sekarang dia harus merelakan semuanya, berkat hal konyol yang bernama taruhan?!


Bagaimana caranya Lucas bisa mengalahkan Brodsway dalam sekejap. Apakah dia memiliki suatu kelebihan? Kelebihan yang tidak ada di dalam diriku, pikirannya kalut.


Sang raja memukul kepalanya sendiri beberapa kali. Sakit kepala yang luar biasa nyeri itu kembali datang seolah menggerogoti otaknya. Ditambah perbuatan nekat Lucas, rasanya sakit kali ini berkali-kali lipat lebih mengerikan. Hudson menderita karenanya.


"Yang Mulia, Putra Mahkota sedang dalam perjalanan kemari."


Di sisa kesadarannya, Hudson mengangguk pelan.

__ADS_1


Setidaknya, dia akan mempertahankan takhta agar tetap menjadi miliknya. Masa bodoh dengan taruhan kala itu, yang terpenting suara bangsawan dan rakyat masih ada di tangannya. Selama ada syarat itu terpenuhi, Lucas tidak akan berani berbuat macam-macam padanya.


"Yang Mulia."


Hudson menoleh ke arah pintu. Senyum penuh harap terbit ketika melihat sosok yang dicarinya selama beberapa hari belakangan ini muncul di saat yang tepat. Sang raja yang sebentar lagi akan mangkat itu buru-buru menghampiri Jenderal Nicholas. Menyeret orang itu untuk masuk karena ia percaya, hanya jenderal lah yang kali ini mau memihak dirinya.


"Sebentar lagi putraku akan datang dan berencana membunuhku dengan kejam, Jenderal. Putra Mahkota yang ternyata adalah orang rakus, menginginkan takhta ku secepat mungkin, entah untuk apa yang digunakannya. Jika kau masih memikirkan kesejahteraan rakyat, maka bantulah aku menghadapi Pangeran Lucas yang menggila!"


Jenderal Nicholas sempat diam membisu. Bukankah sang raja pandai memutarbalikkan fakta?


"Tentu, saya selalu memikirkan kesejahteraan rakyat di atas segalanya karena mereka adalah fokus utama saya selama menjabat sebagai jenderal."


Mendengar jawaban Nicholas, Hudson merasa semakin lega. Setidaknya jenderal terkuat Sasania masih berpihak—


"Namun, saya sudah mengetahui semuanya, Yang Mulia. Mengingat Sasania adalah orang-orang yang selalu menepati janji terutama Anda sebagai orang nomor satu di sini, maka saya sarankan agar menyerahkan takhta selambat-lambatnya sore ini untuk Putra Mahkota, sesuai isi perjanjian. Tentu Anda bersedia, kan. Pria akan dianggap pengecut jika melupakan janjinya sekecil apapun."


Wajah Hudson pias. Bibirnya kelu, tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun bahkan sekadar untuk membela diri.


"Dan juga, Putra Mahkota tidak akan membunuh Anda. Saya bisa menjamin akan hal itu. Walaupun His Royal Highness dididik kejam, namun bukan berarti dia mudah melupakan seseorang yang sudah berjasa baginya."


"Jenderal...." lirih Hudson akhirnya, "kau mengkhianatiku."


"Saya pikir lebih baik mengkhianati satu orang ketimbang harus mengkhianati seluruh rakyat Sasania. Mereka menginginkan Putra Mahkota menjadi penerus Anda, secepatnya. Saya tidak bisa berbuat apa-apa selain mewujudkan keinginan mereka yang tinggal selangkah di depan mata."


Sebagai hormat terakhir, dengan status sebagai raja dan jenderal, Nicholas menundukkan kepala. Sudah saatnya, revolusi Sasania dimulai.


"Sekarang bolehkah saya mencabut mahkota yang berada di atas kepala Anda, Yang Mulia?"

__ADS_1


__ADS_2