
Saat jam makan siang tiba, Eve yang notabenenya sudah lapar sejak dua jam yang lalu sudah duduk rapi di salah satu kursi yang dia sukai. Ethan dan Beckett juga sudah ada di sana, tinggal menunggu Declan dan sang empu kastil— Duke of Lumiere untuk turun dan makan bersama.
Makan bersama? Entahlah, Eve juga tidak yakin. Pasti ada sesuatu yang Zachary rencanakan dibelakangnya.
"Masih lama, ya?" Di seberangnya, tampak Beckett mengerucutkan bibir sambil menopang kepalanya di atas meja.
Ethan mendesis, "Biasanya kau bisa lebih sabaran."
"Aku tidak masalah mau makan kapan saja, tapi si Lulu?" Beckett menatap Eve khawatir. "Dia sudah lapar. Nanti jika dia jatuh sakit, siapa yang akan meramaikan kastil suram ini?"
Mendengar celetukan Beckett, baik Eve maupun Ethan akhirnya tergelak. Tidak tahan dengan ucapan polos sang adik, Ethan mendaratkan sebuah pukulan telak tepat mengenai kepala Beckett.
"Aduh, jangan lakukan itu nanti ketampanan ku berkurang!"
"Percaya dirinya lebih tinggi dari langit." Eve memeletkan lidah, "dari sisi manapun, Ethan lebih tampan!"
"Kenapa lebih tampan Ethan?"
"Karena Ethan mirip denganku, hehe."
Beckett tertawa puas saat menyadari raut suram dari wajah Ethan yang asli. Pasti Ethan sempat mengira Eve menyanjungnya, pria itu bahkan sudah berbangga hati dan besar kepala. Padahal maksud gadis itu adalah Declan. Terbukti, pertukaran nama ini sangat menyulitkan orang-orang.
"Eve, sebenarnya namaku—"
"Pantas saja aku mencarimu di perpustakaan tapi tidak ada, ternyata sudah di sini?"
Ucapan Ethan sebelumnya terhenti. Perlahan dia menoleh, melihat Declan sudah berdiri di ambang pintu dengan pakaian yang berbeda dari yang tadi. Sekilas, Ethan memberikan senyum tidak enak. Usai Declan duduk di samping Eve, barulah Ethan membalas.
"Tadi kedua orang ini tiba-tiba datang dan menyeretku kemari. Berhenti membaca bukan keinginanku," ujarnya sambil menunjuk dua orang paling bungsu diantara mereka.
"Kami?" Beckett dan Eve protes bersamaan. "Saat kami berkunjung, dia tidak sedang membaca. Tidak terlihat sibuk. Kami hanya mengajaknya ke meja makan sebagai bentuk basa-basi, tapi akhirnya dia setuju-setuju saja. Coba lihat, di mana letak kesalahan kami?!"
"Kalian menggangguku belajar. Karena ajakan kalian, aku jadi lapar."
"Memangnya ada yang seperti itu?"
__ADS_1
"Heh, sudah. Cukup-cukup!" Declan memijit pangkal hidungnya. "Dimana pun, kalian selalu membuat keributan. Setidaknya untuk di meja makan, kalian bisa diam sedikit!"
"Mana bisa diam jika perut kami kosong begini?" Eve memberi kode kepada Ethan, untuk mendukung ucapannya.
"Kamu saja, Eve. Aku tidak."
"Ish, Declan tidak asik." Mendengar penuturan Eve, Declan yang asli hampir saja tersedak.
"Tunggu sebentar lagi. His Grace belum tiba di sini, jadi belum boleh memulai makan siang," sahut Declan dingin.
"His Grace sepertinya sengaja membuat kita mati kelaparan di sini." Eve menundukkan kepalanya di atas meja. Memejamkan mata namun mulutnya masih belum puas mengeluarkan kekesalan terhadap orang nomor satu di kastil Lumiere tersebut. "Menyuruh makan bersama, tapi dia sendiri terlambat datang. Apa maksudnya?"
"Ekhem."
"Jika seperti ini terus, aku tidak akan segan-segan datang ke ruangannya, lalu menyeret His Grace kemari. Jika dia tidak mau, aku akan menggigit tangannya untuk menuntaskan rasa kelaparan ku."
"Memangnya seberapa kuat gigimu itu sampai berani menggigitku?"
Eve mengangkat kepala. Di sebelahnya, pria angkuh yang sejak tadi dihujatnya sudah berdiri dengan dagu terangkat congkak. Tatapan tajamnya terhunus, andai tatapan itu serupa sebilah pedang, mungkin Eve sudah menjadi daging cincang.
"Kenapa malah menatap mereka? Tatap lawan bicaramu!"
"Iya, Your Grace." Eve mengerjap sebentar, menyebabkan bulu matanya yang lentik itu bergoyang pelan. Sadar jika batu tidak akan bisa dikalahkan dengan batu, maka Eve berusaha bersikap seperti air. Perlahan dan bertahap, namun mengikis. Senyumnya terangkat lebar. Sembari melambaikan tangan ke depan, dia menjawab, "hanya bercanda, jangan diambil hati. Nanti tekanan darah Anda cepat tinggi jika marah-marah terus."
Tarikan napas panjang dari Ethan dan Beckett menarik perhatian Eve. Dia sempat menoleh lalu memberi tatapan bingung, seperti mengatakan 'Ada apa?'
"Dua. Hari ini adalah hari pertama kita bertemu tetapi masalahmu padaku sudah ada dua hal." Zachary akhirnya memutuskan untuk duduk di kursi miliknya yang terletak di ujung meja. Dia menatap Eve lurus, kedua tangannya saling bertaut di atas meja. "Hidup di sini tidak seindah bayangan di dalam otak dangkal mu itu. kau tahu, kan?"
Eve mengangguk. Seolah tidak terganggu dengan cemoohan Zachary. "Yap, aku tahu. Aku tidak pernah berpikir akan hidup tenang semenjak memasuki kastil mu ini. Karena aku tahu, kau mengundangku kemari pasti untuk menjual diriku, kan, Your Grace?"
Gerakan Zachary yang ingin menyuapkan sepotong apel ke dalam mulutnya mendadak berhenti. Antara tidak menyangka bahwa kalimat mengejamkan itu keluar dari bibir Eve. "Apa."
"Kau berniat menjual ku. Lalu mendapat keuntungan dengan menikahkan diriku dengan orang lain," ulang Eve yang terdengar lebih kejam dari kalimat pertamanya. Daun telinga Zachary memerah. Hal itu jelas bukan pertanda bagus. "Jika bukan karena mamaku, aku tidak akan menginjakkan kaki di sini."
Suara 'prang' akibat Zachary menggebrak meja di depannya sontak memecahkan keheningan yang sebelumnya tercipta. Potongan buah itu jatuh bersamaan dengan piring porselen yang mendarat sempurna di atas lantai marmer. Semua orang merasa penasaran terlebih lagi pelayan yang hanya bisa mendengar suara lirih mereka dari luar, menerka-nerka kiranya apa yang sedang terjadi. Sedangkan Ethan langsung bangkit berdiri, mencoba menenangkan sang duke. Beckett mendekap bahu Eve, mencoba membuatnya tenang dan tidak mengeluarkan kata-kata yang bisa membuat Zachary berperilaku seperti monster.
__ADS_1
"MAMAMU? DENGAN KAU YANG BERPIKIRAN JELEK SEPERTI INI PASTI WANITA ITU SUDAH MENGATAKAN HAL-HAL YANG BURUK TENTANGKU, IYA, KAN. BERHENTI MENYEBUTNYA DI DEPANKU. KAU JELAS-JELAS SUDAH TINGGAL BERSAMAKU, BUKAN DENGANNYA LAGI. JADI MULAI SEKARANG, KAU HARUS MENGIKUTI PERINTAHKU, EVE!"
Napas Zachary terengah. Tampilannya memang tampak muda, tapi kesehatannya tentu tidak sebugar dulu. Dengan bicara panjang lebar begini saja, dadanya terasa sakit.
Entahlah. Apakah karena dia terlalu keras berbicara atau sakitnya ini karena ... ucapan menohok Eve?
Declan diam tidak bergerak. Hatinya gamang, berada di situasi sulit ini sama sekali di luar kendalinya. Jika Declan memilih memihak Eve, maka Zachary akan murka padanya dan mungkin tidak akan segan-segan menendang Declan dari kursi pewaris sebelum ambisinya tercapai. Sedangkan jika dia mendukung Zachary, tidak menutup kemungkinan mimpi buruknya akan terkabul sekarang; Eve membencinya seumur hidup.
Eve mendengus. Beckett yang mendengarnya berusaha menghentikan Eve namun dia tidak bisa menghalangi gadis kecil itu. "Kenapa aku harus mengikuti perintah mu?"
Zachary menggeram. "Karena aku ayahmu."
"Sejak kapan kita memiliki hubungan yang seperti itu?" Eve berdiri dari tempat duduknya. Dengan tatapan terluka, dia kembali melanjutkan, "Apa yang kau harapkan, Your Grace. Sampai saat ini hubungan kita hanyalah sebatas dua orang asing yang memiliki tujuan masing-masing," ucapnya parau sebelum berbalik pergi meninggalkan keempat pria yang mengaku sebagai keluarganya itu.
Acara makan siang mereka berakhir gagal.
......................
HOLAHOAHOLAAA
Gimana nih kabarnyaa lama gak update yekaan. Siapa yang kangen sama Eve bar-bar dan kakak-kakak cogannya?🙌🏻
Seandainya nih. Seandainya yaaa kalau kalian berada di posisi Eve, kira-kira ayah macam Zachary ini mau kalian apain?🤔
a. cincang
b. buang
c. tendang
d. (isi sendiri)
Kalau author pasti cincang lah. Ayah kejam begitu memang cocok dijadiin rawon😎
Ditunggu komentarnya, see you next chapter~
__ADS_1