
"Eve ... jalan-jalan maksudku itu, bukan yang seperti ini."
Beckett hanya bisa pasrah saat Eve menyuruhnya mencari ranting yang berbentuk huruf Y untuk memulai permainan. Beckett mengira, mereka akan memainkan lempar tangkap atau sejenisnya, permainan yang membosankan, tapi siapa sangka jika Eve justru mengajaknya bermain ketapel.
Pria itu mengernyit saat Eve memberikannya beberapa buah batu dengan ukuran yang hampir sama. "Untuk apa ini?"
"Apakah kau tidak pernah bermain ketapel, Beckett?" tanya Eve meremehkan, "apa perlu aku contohkan cara mainnya?"
"Boleh." Beckett menatap sekitar mereka awas, "tapi jangan sampai kau merusak sesuatu di sini. His Grace akan marah lalu—"
Tanpa mendengarkan ocehan panjang Beckett, Eve menutup sebelah matanya dan mencoba fokus. Dalam hitungan detik, begitu batu yang dia letakkan di dalam ketapel dilesatkan, buah apel yang masih berada di atas pohon berhasil jatuh ke tanah dalam kondisi aman tanpa merusak kulit buahnya.
Tentu saja. Sebab Eve membidik langsung pada tangkai apel tersebut.
"Hebat!" Beckett menatapnya kagum lalu bertepuk tangan layaknya bocah yang pertama kali melihat layang-layang terbang di atas langit. "Jika kau mendaftar sebagai pemanah di istana, aku yakin kau akan lolos dengan teknik yang seperti itu."
"Sudah-sudah, berhenti memujiku," balas Eve, "sekarang, cobalah. Sejauh apa kau bisa melemparkan batu mu."
"Baik, akan aku coba." Beckett mengikuti langkah-langkah yang Eve ajarkan. Memejamkan sebelah mata dan mencoba fokus. Merasa siap, dia melepaskan tarikannya dan batu tersebut melayang.
Tepat mengenai tanah.
"Konsepnya sama seperti memanah, tidak terlalu sulit, kok," ujar Eve mengajarkan.
"Aku tidak pernah diajarkan main permainan ini, Eve."
Eve menghela napas, "Ya, tentu saja kau tidak pernah memainkannya. Ini permainanku selagi masih di desa," ujarnya jujur, "anggap saja ranting ini sebagai panah dan batunya adalah anak panahnya. Ini benar-benar mudah, tidak mungkin kau gagal lagi, kan?"
"Oh, jadi meremehkan aku, Lulu?"
"Eve, bukan Lulu!"
"Lulu lebih lucu."
Eve menatapnya datar. Dasar pemaksa.
__ADS_1
Beckett tersenyum miring, "Begini saja. Ayo kita lihat, tembakan siapa yang paling jauh, dialah yang akan menang."
Eve menaikkan sebelah alisnya. "Siapa takut."
"Bersiap."
Mereka sama-sama menarik karet sekuat mungkin dengan mata fokus ke depan, jauh menuju gerbang masuk kastil Lumiere.
"Satu."
"Dua."
"Tiga!"
Mereka sama-sama menembakkan batu tersebut dengan kecepatan yang berbeda. Eve mengarah lurus ke depan, sementara batu milik Beckett semakin ke bawah dan ke bawah bertepatan dengan gerbang masuk di buka.
Kereta kuda berlambangkan bendera Lumiere tampak mendekat. Oh, tidak. Bukan berita bagus sebab batu tolakan Beckett terjebak di antara celah-celah roda kereta sang duke.
"Eh, His Grace sudah pulang?" ujar Beckett bingung.
"Ada apa, Mike?" tanya Zachary setelah menyadari bahwa keretanya tidak bergerak lagi padahal jarak mereka masih begitu jauh dengan gerbang utama.
"Sepertinya salah satu rodanya mengalami masalah, Your Grace," jawab Mike takut-takut.
Zachary tahu ada yang tidak beres. Keretanya tidak pernah mengalami kendala kecuali ada seseorang yang melakukannya. Mata tajam pria itu memonitori halaman luas kastil. Dan benar saja, dia melihat seorang remaja asing dan Beckett tengah menatap ke arah mereka.
"Astaga, aku membuat roda kereta His Grace rusak," gumam Beckett resah. "Pasti setelah ini dia akan marah besar. Eve, lebih baik kita segera masuk ke dalam!"
"Kabur bukan menyelesaikan masalah. Ibuku pernah bilang, jika berbuat salah, kita harus berani bertanggung jawab dan bersikap tenang. Kuncinya adalah rileks. Lihatlah."
Eve menarik napas sambil memejamkan mata, berusaha tetap tenang. Dia mengambil batu berikutnya dan menarik ketapel nya sekuat mungkin. Dalam sekali tolakan, batu tersebut berhasil menabrak dan memecahkan batu Beckett yang sebelumnya terjebak. Setelah itu, kereta Duke of Lumiere bisa kembali bergerak.
"Aku mengira dia akan melempar ku dengan batu itu," gumam Zachary begitu mendengar suara retakan batu di bawah keretanya.
"Keretanya sudah kembali normal, Your Grace." Mike memberikan kabar walau Zachary sudah mengetahuinya lebih awal.
__ADS_1
Zachary mengangguk. "Kembali jalan."
Beckett mengelus dadanya. Dia dapat bernapas lega setelah kereta Duke of Lumiere kembali bergerak. Dia berbalik, menatap Eve dengan mata imutnya. "Terima kasih banyak, adik sayang! Jika kau tidak membantuku, entah bagaimana jadinya aku dibuat sengsara oleh His Grace!"
"Hanya masalah kecil, tidak perlu sungkan." Tapi tidak dapat dipungkiri, Eve menjadi bangga terhadap dirinya sendiri. "Seharusnya His Grace juga berterimakasih padaku karena sudah melemparkan batu itu ke sela-sela roda keretanya."
"Jadi kau yang membuat keretaku berhenti bergerak, Lady?"
Mendengar suara asing berasal dari belakangnya, Eve menoleh. Wajah Zachary tampak begitu dekat dengannya karena pria itu menunduk.
Eve yakin jika Zachary pasti hanya memikirkan keburukan dirinya saja dan terlebih lagi, dia bisa saja salah paham dengan ucapan Eve barusan. Hei, lemparan pertama itu ulah Beckett, bukan dirinya!
"Memangnya kenapa?" balas Eve tidak takut.
Beckett dibuatnya kelabakan. Bagaimana jika Duke of Lumiere marah? Bagaimana jika Eve diberikan hukuman? Atau bagaimana jika hubungan mereka semakin buruk? Sekarang Beckett menyesal sudah mengajak Eve ke luar kastil jika ternyata pada akhirnya mereka bertemu dengan Duke of Lumiere secepat ini.
Mendengar jawaban itu, Zachary mengangkat sebelah alisnya yang tebal. Berani sekali. "Siapa namamu?"
"Luvena." Eve mengucapkannya dengan penuh kebanggaan. Tentu saja bangga, namanya ini bukan nama pasaran tapi sangat berkelas. Berkat siapa? Tentu saja berkat ibunya yang cantik dan murah hati.
Zachary memperhatikan remaja di depannya dari atas sampai ke bawah. Dilihat dari segi manapun, Eve terlihat sangat mirip dengan dirinya. Eve adalah Zachary versi laki-laki.
"Aku bukanlah orang yang penyabar. Cepatlah enyah dari hadapanku sebelum hukuman menanti."
Usai mengucapkan hal itu, Zachary berpaling dan melangkah menjauh bersama dengan Mike yang berjalan di belakang. Saat berbicara, matanya hanya mau menatap Beckett tanpa mau menoleh sedikitpun kepada Eve seolah di sana tidak ada keberadaannya sama sekali. Padahal Eve yakin, ancaman itu ditujukan Zachary kepada dirinya.
Merasa direpotkan, Eve merasa semakin kesal. Tangannya mengepal di samping gaunnya yang sedikit lusuh. "Jangan semena-mena, Your Grace. Tempat ini benar tempatmu, tapi kebebasanku bukanlah tanggung jawab mu. Aku mau begini, aku mau begitu, ya, terserah. Jadi jangan atur macam-macam!"
Zachary menatapnya sekilas. Putri tunggal Margaret ini ternyata berani juga.
"Itukah tata krama yang Margaret ajarkan padamu?" Zachary tersenyum miring sembari melipat kedua tangan. "Pertemuan pertama ini sangat mengesankan. Seterusnya, akan aku ingat perbuatan mu hari ini sebagai pembelajaran untukmu. Jika kau mengulanginya lagi, bertindak semena-mena di hadapanku, aku tidak akan segan-segan membocorkan perilaku buruk mu ini ke publik. Tentu kau tahu konsekuensinya, kan?"
"Astaga, aku takut sekali, apa yang harus aku lakukan, duke sudah mengancam ku." Sedetik kemudian, Eve tertawa puas. "Kau kira aku takut citraku akan rusak di hadapan publik karena ulah mu? Siapa yang memaksa siapa, ingat itu. Kau yang memerlukan aku di sini, Your Grace. Bukan aku yang mengemis padamu!"
Zachary menggeram marah. Baru kali ini dia kalah berdebat bahkan dengan seorang remaja tanggung seperti Eve. Bahkan secara tidak langsung, Eve mengatainya mengemis. Dunia terbalik jika Duke of Lumiere sampai mengemis sungguhan apalagi mengemis pada Eve yang notabenenya adalah putri yang dia buang. Tenang saja, baru permulaan. Cepat atau lambat, Zachary akan menemukan kelemahan Eve dan bisa menekan gadis sok pemberani itu.
__ADS_1
"Jam makan siang, semuanya harus hadir di meja makan," ujar Zachary pada akhirnya sebelum dia pergi dengan wajah dinginnya itu.