Mendadak Bangsawan

Mendadak Bangsawan
Hidup Dalam Kebohongan


__ADS_3

Langkah Declan terkesan buru-buru dengan garis wajahnya yang terlihat mengeras. Ia sempat bertemu Beckett. Pria pirang sebahu itu menyapanya namun untuk sekadar menoleh pun Declan enggan melakukannya. Tidak penting. Tujuannya sekarang adalah ruang santai sang ayah. Dikarenakan pergi ke luar kota, tempat Zachary sering menghabiskan waktu itu kini hanya diisi oleh tangan kanannya, Baron O'Neil yang sudah berusia sepuh. Termasuk salah seorang yang tahu banyak mengenai kastil setelah Frederick.


"Baron O'Neil, aku ingin bicara."


Pria tua yang awalnya tampak sibuk dengan beberapa berkas Duke of Lumiere sontak mendongak. Senyum tipis terpatri di wajah keriputnya. Dia melepaskan pekerjaan, lalu mengajak Declan duduk. "Apakah terjadi sesuatu? Silakan, My Lord."


Declan mengambil tempat di seberang Baron O'Neil. Tatapannya begitu tajam, begitu menghunus seolah bersiap untuk menusuk lawan bicaranya.


"Katakan yang sejujurnya. Ibuku, sekarang tinggal di mana?"


Baron O'Neil sempat terdiam. Terlihat kerongkongannya berusaha menelan air liur susah payah. "Apa maksud Anda. Tentu saja Her Grace tinggal di mansion milik Earl Averish bersama keluarganya yang lain."


"Tapi dari yang aku dengar, kenyataannya bukanlah seperti itu."


Baron O'Neil mengernyit, "Anda mendengarnya dari siapa? Jangan cepat percaya dengan berita tidak jelas di luar sana, My Lord. Kepercayaan mu itu bisa membahayakan dinasti Lumiere untuk kedepannya."


"Kalau benar berita itu bohong, apakah kau bisa membuktikannya, Baron?" Declan tersenyum miris. Selama puluhan tahun, dia merasa sudah dibohongi begitu banyak. "Biarkan aku sendiri yang pergi ke mansion Earl Averish untuk memastikan hal itu. Jika ibuku tidak ada di sana, kepalamu yang akan menjadi taruhannya."


"Apakah Anda sudah lupa, bahwa duke tidak akan segan-segan menyakiti mantan duchess jika Anda berani menemuinya?" Bukannya merasa terancam, Baron O'Neil justru tersenyum miring. "Dan lagipula, saya adalah orang duke. Sekuat apapun Anda ingin membunuh, duke tidak akan memberikan izin. Beliau tidak akan membiarkan saya mati begitu saja."


"Aku akan melakukannya sendiri. Tanpa bantuan duke, justru terasa lebih mudah." Balas Declan lalu dia berdiri dari tempat duduknya. Wajah kejamnya sama sekali dingin tak berbelas kasih. Sepertinya apa yang baru Declan ucapkan barusan berpotensi besar untuk dilakukannya sehingga mau tak mau membuat bulu kuduk Baron O'Neil meremang.


Sebelum mencapai pintu, Declan menoleh lagi, "Ah, iya. Katakan juga kepada duke-mu itu bahwa pewarisnya sedang mencoba memberontak dan ingin membunuh orang kepercayaannya. Baron O'Neil yang suci, Itu, kan, yang akan kau laporkan padanya?"


Tanpa mendengar balasan sang baron, Declan meninggalkan tempat tersebut masih dengan kekesalan yang memuncak di dadanya. Keluarga sialan. Setelah tahu kenyataan bahwa Margaret sebenarnya tidak tinggal nyaman di mansion Averish, benar-benar membuat Declan ingin membunuh mereka yang selama ini hebat bersandiwara untuk menipu dirinya.


Akibat ucapan bohong duke, yang mengatakan alasan Margaret kembali ke keluarganya adalah karena ingin hidup bebas tanpa beban keluarga sempat membuat Declan begitu membenci sang ibu. Dari cerita Zachary, Margaret digambarkan seperti sosok ibu yang egois. Hanya mencintai putrinya saja dan meninggalkan ayah dan juga dirinya sebagai putra sulung. Selama belasan tahun dia dibohongi sang ayah. Belasan tahun, Catat hal itu.

__ADS_1


"Apa yang terjadi, Declan?"


Declan menoleh cepat ke arah kanan. Di sebelah patung Dewa Zeus, Ethan berdiri di sana dengan ekspresi serius.


"Apa kau baru saja menguping?"


"Aku baru datang beberapa detik yang lalu," jawab Ethan yang tidak terima akan tuduhan yang ditujukan kepadanya, "hanya terkejut kau tiba-tiba keluar dari ruangan His Grace padahal beliau sedang tidak ada di sini."


"Aku menemui Baron O'Neil, untuk memperbincangkan beberapa hal."


"Ternyata begitu." Ethan mengangguk setuju. Dia sebenarnya juga kurang tertarik untuk terlibat dalam masalah Declan yang dinilainya terlalu banyak. "Adikmu itu mengira aku adalah dirimu. Dia mengatakan banyak hal yang menurutku ... menarik untuk kau ketahui."


Adik? Oh, iya. Eve.


"Iyakah, apa saja?"


Ethan meliriknya. Hanya melirik. Namun Ethan langsung geleng-geleng. Kalimat yang hampir dia lontarkan sontak ditelannya kembali bulat-bulat.


"Tidak, lupakan saja. Lebih baik kau lihat saja sendiri betapa uniknya adik kita itu."


"Dia adikku."


"Kita satu ayah, benar, kan?"


Declan menghela napas. Terserah saja.


"Jadi apakah dia sudah tahu mana 'Declan' yang asli?"

__ADS_1


Ethan menyeringai, "Belum," jawabnya jujur. "Aku masih ingin bermain-main dengannya. Jika dilihat-lihat, Eve itu manis juga. Sayang sekali dia cukup ganas untuk seukuran wanita."


Declan malas untuk menanggapi celotehan Ethan yang senantiasa membuntutinya sampai turun ke lantai satu. Topik pembahasannya pun itu-itu saja. Seputar Eve dan Eve. Benar-benar membuat Declan gerah seperti tidak ada pembicaraan yang lain saja. Padahal masih banyak permasalahan lain yang lebih .... bermanfaat untuk didiskusikan. Sekedar informasi, waktu Declan tidak sebanyak itu sekadar untuk membicarakan orang disekitar mereka.


Lelah. Akhirnya Declan berbalik dengan ekspresi kesal. "Ethan, beristirahatlah dulu di kamar. Sepertinya kau terlalu lama bergaul dengan gadis itu sampai pikiranmu hanya berisikan tentang dirinya."


"He, kau hanya belum berbicara dengannya. Eve itu sangat menyenangkan, tidak seburuk yang kita duga. Aku berani jamin."


Lihat, ekspresi berbinar di wajah Ethan itu sangat mengganggu Declan. Apa-apaan!


"Hei, kau pasti Ethan, kan. Aku sudah melihatmu tadi saat baru tiba di sini. Salam kenal kakak satu ayahku yang tampan. Ke depannya, tolong ajari aku banyak hal tentang keluarga kita, ya?" ucap Eve ceria.


Tiba-tiba dia ada di sini. Maksudnya, sejak kapan?!


Declan— yang disangka Eve adalah Ethan— membulatkan mata. Rasanya sikap Eve yang dilihatnya tadi pagi bukan seperti ini. Ia menyangka Eve biasa-biasa saja, tidak bisa bersikap manis seperti seorang anak kecil yang ingin meminta permen.


Ah, itu dia. Apakah Eve memiliki maksud tersendiri dari sikapnya sekarang?


Sebagai balasan atas sapaan Eve, Declan justru mendengus lalu berbalik pergi. Jubah merahnya yang menjuntai sampai ke bawah itu tersibak seiring dengan langkahnya yang semakin menjauh. Ethan tersenyum tidak enak dibuatnya namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Maafkan De— maksudku Ethan. Dia memang pria yang dingin."


"Tidak masalah. Mungkin kakak sibuk," jawab Eve penuh perhitungan. Setidaknya untuk memperkuat pengaruhnya di kastil ini, ketiga putra Lumiere harus berada di pihaknya.


Melihat bayangan Declan yang perlahan menjauh, membuat Eve semakin penasaran akan sosok pria berwajah mirip dengannya itu. Dari ketiganya, dialah yang terlihat paling berkuasa. Eve curiga bahwa pria itulah yang bernama Declan. Tapi sampai sejauh ini Eve belum memiliki bukti bahwa pria itu berasal dari ayah dan ibu yang sama dengannya.


...----------------...

__ADS_1


Nih aupan malam minggu buat kalian yang di rumah aja🤣


__ADS_2