Mendadak Bangsawan

Mendadak Bangsawan
Cone dan Nona Angkuh


__ADS_3

"Eve, sudah ku bilang jangan duduk di sini."


Perlahan Eve membuka matanya lalu menguap lebar. Keadaan masih sama ramainya dengan yang terakhir kali ia ingat. Di depannya, Garlein sudah berdiri cemas dengan dua bungkus makanan siap santap di tangannya.


"Cepatlah menjauh sebelum mereka datang."


Garlein menarik tangan Eve menuju pintu keluar kedai. Saat melihat matahari sudah berada di atas kepala, barulah Eve sadar bahwa hari sudah siang.


"Mereka siapa?"


"Bangsawan Lumiere. Lebih baik jangan membuat masalah dengan mereka."


Eve mengangguk-angguk pertanda mengerti.


"Aku sudah bertemu mereka. Sempat berdebat sebentar dan menurutku, mereka tidak sehebat yang kau bicarakan."


"Berdebat ap—APA, DENGAN SIAPA? APAKAH MAKSUDMU PARA BANGSAWAN ITU?!"


Menyadari tatapan orang-orang mengarah kepada mereka, Eve buru-buru memukul bahu Garlein. "Jangan berteriak seperti itu, bodoh. Memalukan saja."


"Lebih baik memalukan dibanding memiliki sifat tukang cari masalah sepertimu, Eve," ujar Garlein frustasi. "Semoga mereka tidak menganggap serius ucapan kejam yang sudah kau katakan pada mereka."


"Yah, sebenarnya aku tidak terlalu peduli mereka menganggapnya serius atau tidak."


"Apa—BAGAIMANA?!"


"Tapi menurutku, mereka peduli. Entahlah, ini mungkin hanya perasaanku saja. Tapi salah satu dari mereka sangat marah sampai bola matanya hampir keluar karena melotot," jawab Eve ringan. "Omong-omong, hari ini kau aneh. Kenapa tiba-tiba menjadi penakut seperti ini? Biasanya kau yang sering mengajakku berbuat onar."


"Bukannya takut, aku hanya mencemaskan sesuatu. Berbuat onar diperbolehkan, tapi jangan sampai merembet ke mereka." Garlein menyugar rambutnya yang coklat.


"Apa yang kau cemaskan?"


"Yakin ingin tahu? Aku hanya tidak ingin kau merasakan cemas yang sama sepertiku."


"Sudah, katakan saja."


"Duke of Lumiere adalah memiliki pengaruh yang sangat besar di negeri kita, Eve. Apakah kau tidak mengetahuinya?" Garlein menatap Eve serius. "Dan sekarang kau sudah menyinggung salah satu putranya. Menurutmu, kira-kira apa yang akan terjadi?"


"Hm, cukup buruk." Eve menggunakan pose berpikir. "Tapi mereka tidak tahu, kan, kalau kita berasal dari desa mana? Seharusnya tidak ada hal yang perlu ditakutkan."


"Kita? Hanya dirimu. Aku tidak bermasalah dengan mereka, mengerti?" ralat Garlein kesal.


"Ya-ya, terserah Anda, tuan penakut," ejek Eve santai. "Daripada membahas keluarga Lumiere-Lumiere itu, lebih baik kita bermain untuk mendapatkan boneka."

__ADS_1


Eve menunjuk boneka beruang sebesar dirinya yang ditawarkan oleh penjual di seberang jalan. Cara bermainnya cukup mudah. Mereka hanya perlu memasukkan piringan yang sudah dilubangi bagian tengahnya ke dalam stik-stik yang berdiri di depan sana. Jika tidak ada sasaran yang meleset, boneka beruang raksasa itu boleh dibawa pulang.


Garlein pasrah saja saat tangannya diseret ke tempat itu. Selain mereka, banyak pula orang lain yang datang untuk mencoba. Garlein mengeluarkan sejumlah keping perunggu dari kantongnya lalu menukarkan uang tersebut dengan beberapa piringan yang sudah dilubangi.


"Garlein, biar aku yang main."


"Apa kau yakin?" Garlein menyerahkan piringa-piringan itu dengan ragu, "Sekali kalah, boneka keinginanmu itu tidak akan bisa kita didapatkan."


"Ck, kau ini seperti baru mengenalku saja." Eve mengambil salah satu piringan itu dengan percaya diri. Mata kirinya dipejamkan, berusaha fokus hanya dengan menggunakan satu mata. Tangannya terayun ke depan, dan kemudian ....


Masuk dengan sempurna!


"Bagaimana, masih meremehkan aku?" tanya Eve dengan tawa bangga lalu mengambil piringan berikutnya. Kali ini stik yang berdiri di depan sana diletakkan lebih jauh dan berada di pojokan. Cukup sulit jika dilakukan oleh seorang pemula seperti Garlein.


Eve? Oh, tidak. Dia bukan pemula lagi dalam hal ini.


Tanpa melakukan ancang-ancang seperti yang ia lakukan sebelumnya, Eve melempar benda tersebut dengan ringan. Garlein yang menontonnya dibuat sakit perut. Astaga, yang tadi itu nyaris gagal tapi syukurlah piringan tersebut masuk ke dalam stik yang benar.


Pengunjung lain perlahan melupakan permainan mereka dan mulai mengerubungi Eve yang sibuk bermain. Sebenarnya mendapatkan boneka beruang sebesar manusia itu cukup mustahil. Sangat susah apalagi jika semakin naik level, tantangannya semakin rumit.


Dan Eve sekarang berada di level terakhir. Tersisa satu buah piringan yang tersisa di genggamannya.


Stik sejauh —kira-kira— enam langkah dari tempat Eve berdiri itu tampak bergerak ke kiri dan ke kanan. Terkadang stiknya tenggelam, lalu muncul lagi di permukaan seperti ikan lumba-lumba saat berenang.


"Nona, kuperingatkan padamu. Jika kali ini gagal, boneka tidak akan didapat—"


"Ap-apa?" penjual tersebut tampak bingung, "Bagaimana bisa?!"


"Sesuai kesepakatan, pak penjual." Eve melirik genit ke arah boneka kesukaannya itu. "Boneka itu menjadi milikku."


"Wah, dia hebat!"


"Bukankah selama ini boneka itu belum pernah didapatkan?"


"Penjual itu sebenarnya penipu! Tapi nona itu menipunya kembali. Sungguh luar biasa!"


"Wanita dari desa, ya? Wah, apa tidak salah?"


Wajahnya memerah. Daripada berdebat, akhirnya penjual tersebut memberikan boneka besar miliknya dengan berat hati. Ah, sudahlah. Lagipula dia sudah meraup banyak keuntungan sebelum si gadis desa itu berhasil menaklukkan piringan mautnya.


"Yuhu, Garlein. Kita mendapatkannya!" Eve bersorak gembira sambil membawa boneka beruang besar itu dengan susah payah.


Garlein tersenyum hangat. "Selamat. Tidak ku sangka kau bisa mendapatkannya."

__ADS_1


"Berkat belajar memanah setiap hari." Eve mengerling lucu. "Kapan-kapan jika kau pergi ke kota lagi, jangan lupa untuk mengajakku. Ya?"


"Sure, my princess," sahut Garlein yang disambut tawa ringan oleh keduanya.


Mereka kembali berjalan-jalan di pasar. Garlein berulang kali ingin memberikan bantuan untuk membawa boneka besar itu namun Eve selalu menolaknya. Dari arah berlawanan yang tidak jauh dari mereka, Garlein melihat seorang wanita yang sepertinya seorang nona golongan bangsawan dengan sombongnya mengambil jalan di tengah-tengah. Sehingga tanpa disengaja, lengannya berbenturan dengan Eve sehingga gadis itu kehilangan keseimbangan.


Eve tidak lemah. Dia hanya tidak siaga sampai dengan mudahnya terduduk di atas tanah yang berpasir. Pun dengan boneka besarnya yang kini tampak kotor.


Menghiraukan uluran tangan Garlein, Eve buru-buru beranjak. Meraih bonekanya kembali, mata birunya itu kini berkilap tajam.


"Nona, apa maksudmu?"


"Kau yang menabrak diriku lebih dulu." Wanita berpakaian serba merah muda itu memindai Eve dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. "Ah, anak dari kampung. Pantas saja tidak memiliki sopan santun."


"Semua orang yang ada di sini juga tahu bahwa kaulah yang tiba-tiba datang lalu dengan sengaja menabrak ku sampai terjatuh. Dasar wanita rubah, kesalahan sendiri saja tidak diakui!"


"Apakah kau tidak tahu dengan siapa kau berhadapan?" Wanita bangsawan dengan riasan tebal itu tampak murka. Tapi Eve tegaskan sekali lagi, dia tidak takut dengan apapun. "Aku ini putri ketiga Viscount Demian!"


"Tidak tahu dan tidak ingin tahu. Kau begitu tidak ada kerjaan sampai ingin menyakiti orang lain, begitu? Sekarang minta maaf," ujar Eve lantang. Auranya terlihat berbeda dengan Eve beberapa menit yang lalu. "Minta maaf sekarang juga atau ...."


"Atau apa?" sahut bangsawan itu menantang.


"Atau aku akan melaporkan hal ini kepada Duke of Lumiere!"


Orang-orang sekali lagi dibuat syok oleh pernyataannya. Siapa gadis pirang itu sampai dia bisa mengenal Duke of Lumiere? Berani menyebut nama itu seperti orang dekat? Woah, kehidupannya benar-benar tidak bisa ditebak.


Mendengar bisik-bisik kagum itu tentu menyurutkan keberanian sang nona bangsawan muda. Ia tertunduk, mengepalkan tangannya yang tertutup sarung tangan itu lalu kembali mendongak.


"Awas saja kau!" jawabnya tajam sebelum berbalik lalu pergi bersama pelayan wanitanya yang sejak awal hanya berani berdiri menunduk di belakang.


Garlein yang sejak tadi terdiam hanya bisa menelan air liurnya susah payah. Sebelum masalah semakin besar, pria itu menarik lengan Eve untuk keluar dari sana dan berhenti saat berada di gang sempit tanpa ada satupun orang yang bisa melihat mereka.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau malah menyeret nama Duke of Lumiere dalam permasalahan mu?!"


"Soalnya tidak ada nama lain yang terlintas di dalam otakku." Eve membalasnya dengan cengiran geli. "Lagipula namanya sangat ampuh. Wanita itu memang sudah pergi, tapi dia belum meminta maaf kepadaku karena sudah menjatuhkan Cone."


"Cone?"


"Ini!" Eve menyodorkan beruang besarnya tanpa beban. Seolah kejadian tadi hanyalah mimpi buruk di siang bolong. "Sudahlah. Jangan diingat lagi. Sekarang ayo, kita kembali ke kereta. Paman dan bibi pasti sudah menunggu."


Garlein hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah gadis itu yang dengan santai melewatinya. Suasana hati Eve susah ditebak. Wajahnya selalu menampilkan senyum manis di manapun ia berada. Garlein tidak tahu bagaimana Eve saat gadis itu marah, sedih, ataupun menangis. Garlein tidak tahu. Eve memang ramah namun juga tertutup di saat bersamaan. Berteman lebih dari sepuluh tahun dengannya belum bisa membuat Garlein benar-benar mengerti Eve sepenuhnya.


"Lein, kenapa melamun? Cepat kemari!"

__ADS_1


Garlein tersentak. Kemudian senyumnya mengembang bersamaan dengan langkah kakinya yang lebar membawa dirinya kembali berjalan bersisian dengan Eve si gadis yang tidak memiliki rasa peka.


Yah, perasaan memang sukar untuk dikendalikan. Terlebih lagi jika lawan jenisnya adalah seseorang yang memang sudah mendapatkan tempat yang spesial di hati sejak awal bertemu.


__ADS_2