
Bayang-bayang jingga matahari dari ufuk timur mulai menghiasi semesta. Kini Eve kembali ke kamarnya yang masih bersih, sama sekali tidak tersentuh. Beberapa menit lagi para pelayan akan mengetuk pintu kamar guna membangunkan dirinya, sama seperti aktivitas biasa. Xerr— ah, maksudnya Lucas. Pria itu masih bisa duduk santai di tepi balkon sambil sesekali melemparkan obrolan ringan terhadap Eve yang sibuk mondar-mandir.
"Kenapa belum pulang juga," ujar Eve untuk yang kesekian kalinya. Ia mendesah lelah. "Jika seseorang mendapatimu di sini, citra mu di mata mereka akan berubah, dan tindakanmu kedepannya akan diragukan para bangsawan. Sangat berpengaruh. Lebih baik menghindari masalah daripada terkena dampaknya."
Lucas menoleh. "Kenapa hanya memikirkan aku?"
"Kenapa kau tidak memikirkan citra dirimu sendiri. Seorang pria bebas keluar masuk kamarmu. Hal itu jauh lebih buruk ketimbang kekhawatiran mu kepadaku. Pria manapun tidak akan mau menikahi wanita yang memiliki imej seburuk itu, asal kau ingat," sambungnya lagi serius.
"Untuk hal itu aku tidak peduli apa pendapat orang-orang." Eve melengos.
"Aku hanya melakukan apa yang aku suka, bukan melakukan apa yang orang inginkan."
Lucas tercenung. Jika dipikir-pikir, mental gadis Lumiere ini boleh juga. Dia tidak khawatir sama sekali terhadap dampak dari kunjungan Lucas.
"Tenang saja. Sejak awal aku selalu memperhatikan keadaan sekitar. Aku berani menjamin tidak ada satu pun orang yang melihat kita berdua di sini." Ia menoleh. "Lagipula...." ungkapnya ragu, "aku akan selalu bersedia jika tidak ada seorang pun yang mau menikahi dirimu."
"Ya. Baguslah kalau begitu. Setidaknya kau aman," balas Eve lagi. Untuk kalimat terakhir Lucas, tidak Eve gubris. Wajahnya memerah, dan dia tidak sanggup menahannya.
Tanpa mereka sadari, masing-masing dari mereka sama-sama saling mengkhawatirkan. Menit demi menit berlangsung ditemani keheningan. Tidak ada rasa canggung di antara mereka, justru rasa nyaman yang ingin mereka peluk erat agar momen berharga ini tidak cepat berlalu. Namun sayangnya keinginan mereka itu tidak berlangsung lama.
"Sepertinya aku harus pulang."
Eve mengangkat sebelah alisnya. "Buru-buru sekali. Tadi ketika disuruh malah tidak menurut. Memangnya ada apa?"
"Terdengar langkah kaki seseorang sedang berjalan kemari. Dari irama hentakannya, sepertinya itu Lord Lumiero." Lucas menajamkan pendengarannya. "Baik. Sepertinya aku memang harus pergi sekarang. Selamat tinggal."
Lucas meringsek maju lalu mendaratkan bibirnya di dahi Eve sehingga gadis itu dibuatnya kaku seperti papan. Menyeringai geli, dalam sekejap Lucas melompat dan menghilang dari pandangan Eve yang masih terpaku syok bukan main.
Jantungnya berdetak cepat. Sialan, apa yang sudah Lucas lakukan terhadap dirinya sampai berefek begitu hebat?!
"Eve."
Panggilan dari luar disertai pintu yang diketuk beberapa kali akhirnya bisa membantu Eve kembali ke dunia nyata. Gadis pirang itu terperangah, intuisi Lucas benar. Tanpa menunggu lama, Eve segera menghampiri pintu dan membukanya perlahan.
"Apa kau baik-baik saja?" Wajah khawatir Declan menjadi hal pertama yang dilihatnya.
Eve tersenyum kaku. Tiba-tiba ingatannya kembali ke beberapa jam yang lalu, tepatnya saat prajurit Lumiere mengejarnya. Ah, prajurit kesayangan Duke itu pasti sudah melaporkan kelakuannya.
"T-tentu saja tidak ada masalah. Semuanya baik."
"Barusan aku seperti mendengar suara orang lain. Suara laki-laki. Dari kamarmu." Declan mengernyit tak suka. "Kau menyembunyikan seseorang?"
Eve terbelalak. "Apa yang kau katakan, jangan asal menuduh!" ujarnya berbohong.
"Kalau begitu, seharusnya kau tidak keberatan, kan, jika aku masuk ke dalam."
__ADS_1
Tanpa menunggu persetujuan Eve selaku pemilik kamar, Declan mendorong pintu lebar-lebar lalu melangkahkan kakinya dengan pasti memasuki ruangan besar yang tertata rapi dan apik tersebut. Sama seperti biasanya, kamar tersebut sepi, tidak ada yang dia khawatirkan.
Usai mengecek lemari dan beberapa sudut yang memungkinkan tubuh pria dewasa bisa menyusup, Declan berjalan ke arah balkon. Tidak ada yang salah sejauh ini dan Eve sangat bersyukur karenanya. Tidak salah, Lucas begitu jago menghilangkan jejak layaknya seorang pencuri ulung.
"Kau makan di sini?"
Sepiring apel sisa yang Lucas makan tadi malam masih teronggok di atas pembatas balkon. Eve tersenyum tipis.
"Iya. Sambil melihat-lihat bintang di atas sana. Sangat menyenangkan. Lain kali kau juga harus mencobanya agar bebanmu itu berkurang sedikit," balas Eve lancar.
"Tidak tertarik."
"Huh, dasar," dumel Eve cemberut. Dia kemudian memperhatikan wajah Declan lamat-lamat. "Omong-omong kau terlihat kurang sehat. Apa ada suatu masalah yang mengganggumu?"
Awalnya Declan hanya melirik adik perempuannya itu sekilas. Ah, tapi tidak ada salahnya juga, kan, kalau dia mau berbagi sedikit keluhannya?
"His Royal Highness meminta sesuatu yang sulit."
"His Royal Highness Prince Lucas?" ujar Eve memastikan dan tentu saja mendapat anggukan dari Declan. "Apa yang dia inginkan darimu?"
"Mencari tahu pemimpin Ksatria Nyx," ujarnya pendek. Declan memutuskan duduk di salah satu kursi kayu di balkon tersebut, ditemani Eve di sebelahnya. "Kemarin malam anak buahku berhasil mendapatkan salah satu dari mereka, namun kehilangan jejak saat melakukan pencarian. Sebenarnya itu kesalahan anak buahku sendiri yang memilih mengejar mereka, bukan memanggil baik-baik dan tentu saja hal itu menimbulkan kesalahpahaman. Sekarang rasanya mencari informasi tentang mereka menjadi jauh lebih mustahil."
"Siapa itu Ksatria Nyx?"
Eve manggut-manggut. "Berarti Ksatria Nyx ini cukup penting, ya."
"Bukan hanya 'cukup', tapi 'sangat"," jawab Declan mengoreksi. "Kita harus memastikan Ksatria Nyx benar-benar berpihak kepada keluarga kerajaan. Sebab jika mereka menolak, bisa jadi ... mereka mengambil alih kekuasaan. Kudeta."
"Sekuat itu?" seru Eve tanpa menutupi keterkejutannya.
Declan mengangguk. "Sekuat itu."
Eve sempat terdiam. Entah mengapa, instingnya berkata Lucas berkaitan erat dengan hal ini. "Apakah Ksatria Nyx memiliki ciri khusus sampai-sampai kalian begitu yakin telah menemukan salah seorang dari mereka?"
"Mereka memakai lencana manusia kuda. Lencana itu dipakai sebagai tanda pengenal memasuki markas mereka yang juga tidak jelas ada di mana letaknya."
Lencana kuda ... Kentaur!
Bagai gumpalan benang, Eve berusaha mencerna setiap informasi yang dia dapatkan akhir-akhir ini. Yang pertama, Lucas yang notabenenya orang yang menyuruh Declan untuk mencari pemimpin Ksatria Nyx, nyatanya bergabung dalam kelompok tersebut. Padahal jika dia mau, Lucas bisa mencari tahu sendiri tanpa menyusahkan orang lain. Eve mengasihani Declan. Kakaknya itu dibuat bekerja ekstra sampai tidak cukup tidur, terbukti dari kantong mata yang tercetak jelas di wajah lelahnya.
Dan satu fakta mengejutkan lainnya. Eve. Tepatnya tadi malam, saat berada di toko perhiasan milik Jason, Lucas secara khusus mengajaknya masuk ke dalam markas rahasia Ksatria Nyx yang berada di ruang bawah tanah toko tersebut. Buktinya semua orang yang dia lihat memiliki lencana kentaur yang sama seperti Lucas, namun bedanya terbuat dari emas, bukan besi.
Berarti Lucas adalah Ksatria Nyx?
"Sudah cukup melamunnya."
__ADS_1
Declan berdiri. Menyugar rambutnya yang sudah memanjang sampai menyentuh telinga itu dengan acak-acakan.
"Sebaiknya kau cepat-cepat berdandan. Di bawah seseorang telah datang."
Eve mendongak. Ah, hatinya tiba-tiba tidak enak. "Siapa?"
"Lady Britney," jawab Declan kemudian. "Sebenarnya aku kemari untuk itu. Dia mengatakan sangat ingin bertemu denganmu secepatnya."
Eve memandang sulit kakaknya itu. Declan menyadarinya, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Aku bersamamu."
Dua kata yang sukses membuat Eve mengangguk berani. Lalu berdiri, masuk kembali ke dalam kamarnya sambil bergelayut di lengan Declan. Syukurnya pria itu tidak terlihat ingin menolak ataupun tidak nyaman. Dia menyukai kebersamaan ini.
"Selama ada kamu, walaupun yang aku kunjungi adalah malaikat maut sekalipun, aku tidak akan takut!" ujar Eve penuh tekad yang diakhiri Declan dengan kekehan ringan.
"Sayangnya yang kita hadapi bukanlah malaikat maut, tetapi sesuatu yang lebih mengerikan dari itu."
Eve mendongak, "Oh ya, apa itu?"
"Medusa," jawab Declan ringan disambut Eve dengan gelak tawa yang meledak.
......................
OMG ini rekor donggg aku up cepat🤯
Ada yang tau gimana jalan pikirnya si Lucas?
Mungkin begini:
"Selagi ada yang susah, kenapa mesti mudah?"🤣🤣
Engga deng, canda, Bang😆✌🏻
Di akhir cerita Declan nyinggung Medusa. Btw, ada yang tau siapa itu Medusa? Coba tulis di kolom komentar😉
......Penampakan Medusa......
Sumber: Pinterest
*Medusa yang rambutnya uler, ya.
See you next episode👋
__ADS_1