Mendadak Bangsawan

Mendadak Bangsawan
Pesan


__ADS_3

Untuk Duke of Lumiere, Zachary Lumiero


Your Grace, rasanya seperti sudah lama tidak bertemu denganmu. Apa kabar? Pastinya semakin baik setelah aku pergi dari kastil, kan. Tidak akan ada lagi yang mengganggu ataupun membantah ucapanmu. Ini, hidupmu ku kembalikan sama seperti semula. Sama seperti keadaan yang di mana tidak pernah ada aku di dalamnya. Kehidupan damai bersama ketiga putramu yang selalu dibangga-banggakan itu. Aku menyerah, Your Grace. Biarkan aku egois kali ini, demi kehidupanku sendiri sehingga tidak ada pihak yang harus disalahkan karena semua keputusan berasal dari tanganku.


Manusia itu bebas, tak peduli ia dilahirkan sebagai laki-laki ataupun perempuan. Manusia juga memiliki sayapnya sendiri untuk terbang ke manapun dia mau. Termasuk, keputusan hidupnya.


Your Grace, melalui surat ini saya meminta Anda untuk melepaskan saya. Terhitung dari hari ini tidak perlu lagi ada penjagaan ketat atau apapun itu untuk menangkap saya, karena Luvena Averish tidak akan kembali ke Lumiere families lagi. Hubungan ayah dan anak yang kita perankan dalam beberapa bulan ini rasanya sudah cukup bagi saya. Terima kasih,


Luvena Averish


Tangan Zachary bergetar tatkala melihat sesuatu selain surat yang ia pegang tersusun rapi di dalam kotak. Tubuhnya melemas. Seikat surai pirang milik Eve yang dililit pita hitam sudah menjadi simbol akan perpisahan mereka.


"Bayiku ini akan menjadi sumber rasa sakit hatimu di masa depan. Ingatlah itu, Zachary!"


Kutukan Margaret belasan tahun yang lalu kembali menghantui pikiran Zachary. Kepalanya seakan berputar, tidak ada suara lain yang dapat dia dengar selain kutukan Margaret malam itu, sesaat sebelum dirinya pergi dari kastil dalam keadaan hamil putri mereka. Sang duke memegangi kepalanya, depresi tiba-tiba menyerang. Rasa bersalah yang dulu ia pendam kuat-kuat, kini bak air bah tidak dapat ditampung lagi sampai-sampai Zachary menitikkan air mata.


Dia menyesal. Menyesal telah membuang berlian seperti Margaret bersama putri berharga mereka.


Andai saat itu dirinya tidak berbuat apa-apa dan sampai saat ini Margaret masih tinggal di kastil, apakah Eve tidak akan sejahat ini kepadanya?


Mengapa, andai, dan jika menjadi suatu tuntutan di dalam otaknya sendiri.


"Dia memutuskan hubungan keluarga denganku, ya? Berani sekali. Bahkan juga dengan percaya diri menggunakan marga keluarga Margaret? Dia pikir, dia ini siapa." Zachary menggenggam erat potongan rambut Eve dengan sisa-sisa amarah di kedua matanya.


"Your Grace, ada berita penting! Lady Britney tiba-tiba menghilang tanpa jejak setelah acara diskusi bersama Yang Mulia Raja dan Pangeran Brodsway kemarin. Saya—"


"Baron, siapkan kuda untukku." Zachary merampas jubah terluarnya yang disampirkan di sandaran kursi.


"Eh, Anda ingin mencari Her Ladyship?"


"Desa tempat Margaret tinggal," jawabnya singkat.


Untuk pertama kalinya, Zachary lebih memilih istri pertamanya itu ketimbang selingkuhannya.


"Ada masalah belasan tahun lalu yang masih belum selesai di antara kami."


...----------------...


Suara derit pintu yang dihasilkan oleh gesekan besi berkarat itu perlahan membangunkan Declan dari tidurnya. Penjara bukanlah tempat yang ramah. Di sini jauh dingin, namun tubuhnya dengan cepat beradaptasi sehingga tidur tanpa alas sekalipun bukanlah kesulitan yang berarti baginya. Dari jauh, dia dapat melihat seseorang tengah berdiri di depan pintu. Sebelah tangannya memegang obor, sementara yang satunya lagi buru-buru menutup pintu. Declan mengernyit, tindakan orang ini sangat mencurigakan.


Orang tersebut berhenti tepat di depan sel Declan. Mungkin dia merasa cukup terganggu dengan tatapan tajam bak serigala kelaparan yang Declan keluarkan.


"Dari tatapan Anda, sepertinya Anda lah orang yang tengah saya cari."


Eris semakin yakin setelah matanya berhasil melihat dengan jelas di kegelapan, pakaian yang dikenakan Declan berbeda dari tahanan lain. Yang jelas, rompi hitam dipadukan celana berwarna sama itu adalah setelan bangsawan ibukota.


Declan menatap datar. Masih duduk di atas tumpukan jerami, kedua tangannya senantiasa dilipat di depan dada. "Kita pernah bertemu sebelumnya?"

__ADS_1


"Belum, namun akan sering kedepannya," ujar Eris yakin.


Tentu saja akan sering, sebab dirinya akan bekerja untuk Lady Luvena, kan, pikir Eris bangga.


Declan mendengus. "Percaya diri sekali."


Dari sel seberang, terdengar batuk kecil yang menginterupsi percakapan keduanya. Beckett, masih dengan pakaian super sederhananya tengah memegangi tenggorokannya yang kering.


"Ethan, apa airmu masih ada? Aku haus."


Sel sebelahnya, ada lagi pria yang memakai setelan merah gelap. Terlihat duduk tenang seolah tidak terganggu dengan apapun di sekitarnya.


"Ethan!" teriak Beckett kesal.


Namun yang punya nama masih kekeuh diam seperti patung.


Declan menghela napas. Ya ampun, kedua orang ini....


"Bisakah kau memberinya sedikit air? Beckett sudah bersiap mati kehausan jika kau masih diam seperti itu."


Eris yang memperhatikan interaksi mereka bertiga mengerjap bingung. Ethan, lalu Beckett?


"Airku masih banyak."


Mendengar jawaban Ethan, Beckett dapat tersenyum lebar.


"Apa? Tapi kenapa?!"


"Airku terlalu istimewa untukmu yang seperti pengemis."


"Ethan!" Beckett hampir mengamuk. Sebelah tangannya sudah keluar dari jeruji sel untuk menggapai Ethan yang berada di sebelahnya. Namun tak berhasil, tangannya kurang panjang dan jarak mereka juga terhitung jauh. Sialan, awas saja!


Eris seketika mengerjap. Tunggu dulu. "Permisi ... apakah kalian berdua adalah Ethan Maverick dan Beckett Harisson?"


Ethan akhirnya membuka mata. Diliriknya Eris yang masih berdiri di depan sel Declan itu dengan tatapan aneh. Pasalnya ada sebuah harapan besar tercetak jelas di kedua bola matanya, padahal selama ini Ethan merasa dirinya tidak pernah berbuat baik sehingga dia tidak tahu, apa maksud Eris menanyakan hal itu kepada mereka.


"Ya, itu nama tengah kami."


"Apakah ibu kalian bernama Britney ... —ah, aku melupakan nama akhirnya. Tapi yang jelas, Britney, 'kan?"


Meski ragu, baik Ethan maupun Beckett tetap mengangguk.


"Jadi kalian orangnya!" Sikap Eris berubah seratus delapan puluh derajat. Dia dengan cepat melupakan Declan lalu berlari ke arah Ethan dan Beckett. Keduanya saling tatap sebelum mengernyit heran. Orang asing ini, ada masalah apa?


"Ini seperti mimpi di siang bolong! Ah, iya, perkenalkan aku Eris Wallinrose. Tidak menyangka nasib kalian begitu mujur karena berasal dari keluarga Lumiere. Kapan-kapan kunjungi kami, ya. Bawa apa saja boleh, apalagi jika membawa makanan karena mereka itu sangat suka makan!"


Ethan dan Beckett saling bertatapan, lalu serempak menggeleng pelan.

__ADS_1


"Maaf, tapi kami tidak mengenalmu."


"Ini aku, putra pertama Britney!" ucapan senangnya justru berbanding terbalik dengan kedua Lumiere yang berubah pucat pasi.


"P-putra pertama?" Beckett menoleh ke arah Ethan dengan gerakan kaku. "Apa maksudnya ini. Kita punya saudara lain?"


"Yah, ibu tidak pernah cerita tentang kami, ya?" kekecewaan terlihat jelas di balik kedua bola mata Eris.


"Kami siapa maksudmu? Jika ingin membuat cerita fiksi, jangan di sini." Lagi, Ethan yang masih belum yakin berusaha mengelak. Padahal jelas-jelas, sekali lihat saja wajah Eris sangatlah mirip seperti ibu mereka.


Jauh di dalam lubuk hatinya Ethan tidak ingin memiliki saudara lain lagi selain Declan dan Eve. Dia sudah cukup dengan keberadaan mereka, tidak perlu ada saudara lain. Sungguh.


"Kami? Adik-adik kita yang lain, tentu saja. Ada tiga yang hampir seusia Lady Luvena. Mereka kembar dan yang tertua sangat mirip dengan Ethan. Ini rahasia, tapi harus aku beritahu. Kita semua kecuali kalian berdua, faktanya lahir dari ayah yang berbeda." Eris tertawa renyah. "Tapi terserahlah, adik. Sekarang lebih baik kalian keluar dulu sebelum aku beri tahu yang sebenarnya."


Eris mengambil perlengkapannya untuk membuat rekayasa kunci. Mengutak-atik seperti ahli dengan wajah serius, diam-diam Beckett memperhatikannya dan yakin. Mereka memanglah bersaudara.


"Tidak perlu melakukannya, tuan."


Gerakan Eris terhenti. Dia menoleh ke belakang, tepatnya ke arah Declan.


"Kau betah di dalam penjara ini, begitu? Aku melakukan ini karena Lady Luvena mengkhawatirkan kalian."


"Senang mengetahui Eve bisa dekat dengan orang baik sepertimu," sambung Declan lagi tenang. "Tetapi tugas kami juga sudah selesai. Jikapun harus keluar, takutnya malah membuat His Grace semakin marah lalu mempengaruhi kesehatannya. Akhir-akhir ini dia sering mengeluh sakit di bagian dada, kami tidak ingin melawannya untuk sementara waktu. Hanya sementara, sampai kesehatannya kembali stabil."


"Jadi ... tidak ingin keluar?"


Kali ini Beckett yang mengangguk. "Bukannya tidak ingin, tetapi waktunya belum tepat. Masalah kabur, kami bisa melakukannya kapan saja jika mau. Di sini baik-baik saja, kami akan menunggu dengan manis kabar baik dari Eve kedepannya."


"Bisa merencanakan ide sampai sejauh ini, tidak salah dia dilahirkan sebagai Lumiere. Eve hebat dengan caranya sendiri, benar-benar karakter dari keluarga kita." Ethan mengangguk bangga.


"Ya, si kecil kita ternyata sudah tumbuh besar, ya," canda Beckett lalu tersenyum lebar menyebabkan kedua matanya menyipit.


Ethan terkekeh. "Eris, karena dia juga saudara jauhmu, tolong bantu kami menjaganya. Sifatnya memang terkadang sedikit menyebalkan, tapi karena itulah seseorang bisa merasakan rindu padanya."


Eris tertawa. "Sebelum sampai di sini aku juga sudah berjanji demikian. Dan aku berjanji akan menjaganya sebagai nona, bukan semata-mata karena ada hubungan kekerabatan." Eris yang lelah berdiri akhirnya memutuskan duduk di atas lantai penjara yang dingin. Ya ampun, kenapa mereka bisa betah berada di sini. Padahal, sangat kotor. Buktinya pakaian mereka sudah hitam di beberapa bagian.


"Tuan."


Eris kembali menoleh ke sel sebelumnya. "Ya, Lord Lumiero?"


"Bisakah aku menitipkan sebuah pesan untuk Lady Luvena?"


...****************...


Yuhu, ada kabar gembira😆


Dalam rangka semarakkan lebaran hari raya IdulFitri 1443 H, Mendadak Bangsawan akan crazy up sampai tamat, lho🤯

__ADS_1


Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin. Selamat hari raya, semuanya🔥


__ADS_2