
Keesokan paginya, Eve bangun lebih awal, bahkan mendahului ayam yang biasa berkokok di depan rumahnya di desa. Hal tersebut menyebabkan pelayannya kocar-kacir karena belum mempersiapkan air hangat untuk berendam dan gaun yang akan Eve pakai hari ini. Melihat kepanikan pelayannya, Eve hanya bisa menggeleng samar sembari bangun dari tempat tidur empuknya dengan gerakan malas.
"Selamat pagi, My Lady. Hari ini adalah hari kedua Anda di sini, kan. Saya harap Anda dapat belajar banyak."
Dia Mia, pelayan yang kira-kira seusia Margaret itu berusaha menampilkan senyum terbaiknya di hadapan Eve namun lagi-lagi gagal. Wajah menyeramkannya sama sekali tidak bisa ditutupi apalagi hanya dengan senyum tipis.
"Terima kasih, Mia." Eve membalas senyuman Mia. Memaksa sudut-sudut bibirnya untuk ditarik ke atas. "Kata Frederick, aku dapat bertanya agenda harian ku padamu. Jadi, apakah hari ini aku sudah memiliki kegiatan?"
Mia mengangguk. Seiring dengan lunturnya senyum yang dia paksakan, maka semakin terlihatlah wajah menyeramkannya itu. "Pagi ini diawali dengan belajar piano. Guru piano berdedikasi, seseorang yang pernah mengajari Putra Mahkota bermain musik lah yang akan mengajari Anda hari ini, Lord Bernardi Lincoln."
Eve berdoa di dalam hati. Semoga saja Lord Bernardi Lincoln itu berbeda dengan Mr. Basset yang dia hindari. Jika sampai mereka sama mengejamkannya, Eve tidak akan segan untuk membolos. Lagi. Tidak peduli apa kata orang-orang nanti, kalau Eve tidak menyukainya, dia akan berterus terang kepada Frederick dan meminta guru lain untuk mengajarkannya bermain piano.
Dan sekarang, di sinilah Eve berada. Di sebuah taman belakang kastil yang terhampar luas tanaman rumput jepang yang warna hijaunya sangat memanjakan mata. Sebuah piano besar diletakkan di tengah-tengah taman tersebut. Bagi yang memainkannya, tampak begitu segar sekaligus memukau apalagi taman tersebut dikelilingi oleh bunga daisy yang bermekaran.
"Itu dia Lord Bernardi," ucap Mia dengan mata menatap lurus ke depan, mengarah kepada seorang pria yang duduk di salah satu bangku, tampak sibuk dengan selembar kertas di pahanya sambil sesekali tampak mencoret sesuatu.
Mungkin dia sedang menciptakan musik. Dengan rasa penasaran yang tinggi, Eve akhirnya melangkah mendekati pria itu.
"Apa yang sedang kau lakukan, Lord Bernardi?"
Sang lord muda tersentak kaget dengan sapaan tersebut. Sapaan yang terdengar begitu asing di telinganya. Tetapi begitu ia mendongak, matanya bertabrakan langsung dengan manik biru milik Eve. Lord itu tersenyum tipis sebelum dia menyingkirkan kesibukannya, lalu bangkit dan mengecup telapak tangan Eve yang tertutupi sarung tangan.
Mia berdehem, "Bukan seperti itu caranya menyapa seseorang yang bahkan berstatus lebih kuat dari Anda, My Lady."
"Tidak masalah. Aku tahu Lady Luvena masih perlu belajar." Bukannya Eve, justru Lord Bernardi lah yang menjawabnya. Matanya kembali menatap Eve, "Bukan begitu, My Lady?"
"Eh? Ehm, jadi yang tadi itu ... tidak boleh aku lakukan, ya?" Eve mengangguk paham. "Sebenarnya aku tidak ingin menyalahkan siapa-siapa, tapi kecerobohan ku barusan akibat dari keterlambatan guru tata krama dalam mengajar, kan? Ke mana guru itu?"
Mia kembali berdehem. Kali ini lebih keras bahkan prajurit yang berjaga di depan taman dibuatnya terkejut. Suara wanita itu menggelegar. Mungkin tidak ada yang bisa menandingi Mia jika dia beralih berprofesi sebagai guru seriosa.
__ADS_1
"Anda melanggar tata krama lagi, My Lady. Setiap kalimat Anda harus mengandung banyak makna, bukan mengumpat secara terang-terangan."
Eve melotot. Argh, susahnya. Bicara saja diatur!
Bukannya mendukung Mia, Lord Bernardi justru tertawa merdu. Benar-benar lepas seperti nyanyian burung kenari yang terbebas dari sangkarnya. Sekarang Eve cemberut dengan hati dongkol. Keterlaluan sekali.
"Apa yang kau tertawakan, My Lord?"
"Tidak ada. Lebih baik kita mulai pelajaran piano kita."
"Dan juga Mia." Eve beralih menatap pelayan pribadinya itu. "Kenapa kau hanya mengatur diriku saja, tidak boleh ini, tidak boleh itu. Sementara Lord Bernardi yang jelas-jelas tertawa kencang seperti gorila saja tidak pernah kau tegur. Apakah itu adil?"
Tawa Bernardi berhenti seketika. Wait— gorila?!
"My Lady ...." Mia meringis. Ingin sekali dia membekap mulut Eve kuat-kuat sampai gadis itu tidak bisa lagi berkata sembarangan. Eve yang berucap, tapi Mia lah yang sekarang merasa takut kalau-kalau Baronette* satu ini tersinggung lalu pulang dengan perasaan marah.
"Tidak masalah. Aku mengerti perasaan Anda, My Lady." Bernardi bukannya tersinggung, justru semakin semangat untuk mengajari murid barunya. Eve sungguh berbeda dengan wanita bangsawan kebanyakan yang selalu menjaga image bahkan menghabiskan waktu berjam-jam di depan cermin hanya untuk pergi latihan piano. Bahasa yang Eve gunakan terasa bersahabat, tanpa ada gaya angkuh ataupun menghina. Bernardi suka itu.
"Lagu apa yang pernah kau mainkan, My Lady?" tanya Bernardi sebelum mereka memulai pembelajaran.
Eve menggaruk tengkuknya. Apa orang ini tidak tahu jika Eve berasal dari desa? Jangankan hafal not angka lagu, memegang pianonya saja belum pernah.
"Biar aku coba dulu."
"Silakan."
Eve menekan tombol-tombol putih itu secara random. Setiap tuts mengeluarkan bunyi yang berbeda-beda. Semakin ke kanan, suaranya semakin tinggi melengking.
"Aku pernah membawakan sebuah lagu. Tapi tidak pernah ada satupun orang yang kuizinkan untuk mendengarkannya. Sebagai orang pertama, maukah kau mendengarkan permainan musikku?"
__ADS_1
Alis Bernardi terangkat. Dengan kedua tangan yang dilipat di depan dada, dia akhirnya membalas, "Dengan senang hati, My Lady. Permainan musikmu pasti sangat bagus karena aku tahu kau bukan orang biasa seperti gadis di luaran sana."
Eve menyeringai. Begitu dia mendapatkan izin untuk memainkan sebuah lagu, Eve mengangkat jari-jarinya kemudian sembarang tuts sesuka hati. Bukannya menghasilkan alunan melodi yang merdu, Eve justru membuat Bernardi dan Mia menutup telinga karena permainannya yang luar biasa buruk. Persis seperti suara kucing yang perutnya terjepit pintu.
"Lady Luvena, hentikan!"
"Ya Tuhan, My Lady. His Grace tidak akan mengampuni ini! Cepat hentikan perbuatan Anda sebelum Lord Bernardi menyesal telah bekerja sebagai guru piano!"
Eve terkekeh tatkala mendengar ucapan Mia barusan. Jauh di atas sana, burung-burung pun tak kalah pening sehingga kepakan sayap mereka melambat sambil sesekali kehilangan keseimbangan. Tidak waras memang, tapi Eve menyukai ini.
Jauh dari taman tersebut, Declan sekali lagi memperhatikan aktivitas Eve secara diam-diam. Sekarang bukan kekuasaan, namun tawa riang Eve lah yang menjadi prioritasnya. Margaret pasti mengharapkan dirinya agar bisa menjaga Eve dengan baik di sini. Oleh karena itu, dia akan berusaha sebaik mungkin agar kebahagiaan Eve tidak luntur setelah mengetahui betapa gelapnya sisi kehidupan bangsawan.
Wajahnya masih datar tanpa ekspresi, sama seperti biasanya. Beberapa meter di belakang Declan, Helios, tangan kanannya hanya bisa menggeleng pasrah dengan keadaan sang atasan yang dinilainya terlalu waspada.
"Daripada menonton dari jauh seperti ini, lebih baik Anda mengajaknya mengobrol, My Lord," ucap pria itu untuk yang kesekian kalinya.
Dan jawaban Declan tetap sama. Sebagai respon, dia menggeleng samar, "Sejak tinggal di sini, aku bisa melihat kilat kebencian ada di balik mata birunya itu, Helios. Dia membenciku, itu wajar. Apalagi setelah aku mendengar langsung dari mulutnya, saat dia mempertanyakan kebaktian ku kepada ibu. Itu semua membuatku takut. Takut jika Eve tidak menerimaku sebagai kakaknya."
Helios terperangah. Hal yang sangat langka untuk mendengar Declan mau berbicara sepanjang itu.
"Jadi ... apakah Anda selamanya akan menjadi penguntit seperti ini? Mengawasi Lady Luvena kemanapun dia pergi?" sindir Helios kemudian.
"Jika hal itu bisa membuat kebencian Eve padaku memudar, kenapa tidak?"
Mudahnya, Declan menyayangi Eve. Sangat, terlebih lagi mereka adalah saudara kandung. Namun sayangnya, nyali Declan belum siap dengan segala kesalahan yang akan dirundung Eve kepada dirinya. Sama seperti yang gadis itu pernah lakukan kepada Ethan yang dia kira adalah 'Declan'.
......................
*gelar bangsawan yang berada di bawah baron.
__ADS_1
hahaha kemaren ketinggalan keterangannya🤣