Mendadak Bangsawan

Mendadak Bangsawan
Ketiga Saudara yang Membencinya


__ADS_3

Eve tidak bisa berhenti berdecak kagum setelah dia berhasil memasuki kastil Lumiere. Pahatan relief unik yang didominasi warna tembaga semakin memperkuat nuansa kekuasaan keluarga ini. Benar-benar terlihat gagah berani. Selusin—bahkan lebih pelayan bersusun rapi menyambut baik kedatangannya yang kini diperlakukan layaknya seorang putri raja.


Apakah perlakuan mereka benar-benar tulus? Entahlah, untuk saat ini Eve masih belum terbiasa dengan kehidupan ningrat yang sebagian penuh dusta. Walau tinggal di desa, Eve selalu dikelilingi oleh orang-orang ramah dan apa adanya tanpa ada kepalsuan. Kalau benci, ya benci. Tidak ada yang pura-pura baik di depan tapi menghujat di belakang.


Frederick, pria berkisar lima puluhan tahun itu menunduk hormat tatkala Eve berjalan di depannya. Walau tidak ada gestur senyuman di bibirnya, Eve tahu bahwa pria tua ini termasuk orang yang ramah jika digolongkan ke dalam lingkup keluarga Lumiere.


"Selamat datang, My Lady. Perkenalkan, saya Frederick Annklack. Kepala pelayan yang akan bersedia membantu Anda kapanpun saat Anda mendapat kesulitan."


Eve mengerjap, merasa canggung dengan keadaan yang sangat-sangat formal seperti ini. "Eum, ya. Terima kasih Tuan Frederick. Aku akan—"


"Satu, seorang bangsawan tidak pernah mengucapkan terima kasih kepada bawahannya."


Eve mendongak kaget saat sebuah suara lain dengan berani memotong pembicaraannya dengan si tua ramah Frederick. Matanya menyipit, menatap kesal ke arah pria yang memiliki rupa hampir sama persis dengan dirinya itu tengah berdiri di salah satu undakan tangga. Hanya warna mata dan rambut, sedangkan ekspresi angkuh dan dingin itu sama sekali berbeda dengan Eve.


"Berani sekali kau memotong pem—"


"Yang kedua, bangsawan tidak memanggil orang yang kedudukannya berada di bawahnya dengan sebutan 'Tuan', cukup panggil namanya saja. Itu sudah cukup apalagi hanya kepada seorang pelayan."


Eve melotot tak terima. Walau Frederick hanyalah pelayan, tapi pria itu jelas lebih tua dari mereka. Margaret selalu mengajarkan dirinya untuk menghormati siapapun bahkan dengan Bibi Sese yang notabenenya paling menyebalkan. Lalu mengapa pendidikan rakyat biasa dengan bangsawan ternyata begitu berbeda?


"Tuan ningrat, apakah baik memotong pembicaraan orang seperti itu?" sinis Eve tanpa harus repot menutupi kekesalannya, "Ah, iya. Kau kan bangsawan. Aku lupa. Bangsawan, kan, tidak pernah salah."


"Sepertinya kau sangat sensitif terhadap bangsawan."


"Orang-orang seperti kalian lah yang lebih dulu kasar terhadap kami. Paman Johan sering mengeluhkan pajak tanah yang semakin tinggi setiap tahunnya akibat sikap semena-mena kalian. Dengan pajak setinggi itu, apa kalian berpikir kami bisa mendapatkan uang seperti mendapat air dari hujan?!"


Declan mengangguk-angguk. "Sayang sekali, kau bukan bagian dari mereka lagi. Mulai sekarang, kau adalah bangsawan. Bangsawan Lumiere, bukan orang biasa. Dan apa tadi, pajak terlalu tinggi?" Declan terkekeh dingin, "jika banyak protes, buat dan bangunlah negeri sendiri agar kau tahu pengeluaran apa saja yang harus diemban setiap wilayah. Pajak bukan mencekik, pengambilan pajak sekarang justru diarahkan untuk kelas menengah ke atas. Kau harus tahu itu."


"Sudahlah, terserah mu saja. Tapi jangan berharap pembicaraan kita selesai, lain kali ucapan mu itu akan kembali ku bahas." Eve menepis udara, enggan bercakap-cakap dengan orang ini. Apakah dia tidak tahu bahwa ucapannya itu tidak bisa Eve pahami? Tunggu sampai Eve berhasil beradaptasi di sini dan dia akan membuat pria arogan itu menganga lebar. "Aku lelah. Permisi tuan-tuan terhormat, biarkan aku istirahat dulu."

__ADS_1


"Siapa yang suka berdebat denganmu," desis Beckett yang ternyata sudah berdiri tak jauh darinya. "Pergilah. Melihatmu ada di sini saja sudah membuatku pusing!"


"Kau mengira aku suka melihatmu?" balas Eve menantang, "memiliki wajah yang mirip seperti adonan kue saja bangganya sudah selangit!"


"Apa? Ulangi kata-katamu tadi?!"


"Wajahmu mirip seperti adonan kue. Kenapa, tidak terima?!"


"Kau—"


"Aish, sudah-sudah, mengapa kalian malah bertengkar." Ethan memijat kepalanya yang berdenyut. "Siapa namamu?"


"Sudah lupa nama adik sendiri? Aku Beckett!"


"Bukan dirimu, bodoh." Ethan heran. Beckett ini benar-benar. "Itu. Wanita yang baru datang. Siapa namamu?"


Ethan berdehem. "Kamarmu ada di lantai dua sebelah kanan. Mau ku antar?"


"Tidak perlu. Aku lebih sudi diantar oleh Tuan Frederick," tukas Eve sembari mengangkat dagunya tinggi, "ayo, Tuan Frederick. Kita tinggalkan saja mereka yang cerewet seperti ibu-ibu ini."


Frederick bisa merasakan aura dingin mengelilinginya. Aura dingin memang sudah menjadi yang hal wajar di keluarga Lumiere sebenarnya. Tapi kali ini dingin yang ia maksud berbeda. Seperti ... aura permusuhan yang kental. Jika dibiarkan lama-lama, Frederick tidak terkejut jika terjadi perang saudara di dalam kastil Lumiere.


Declan menatap datar kepergian Eve yang dibantu oleh Frederick sambil sesekali terlihat keduanya melempar obrolan ringan. Dia memutuskan berbalik, sebelum panggilan Beckett menarik perhatiannya.


"Kalian ingat gadis itu, kita pernah bertemu dengannya, kan?"


Declan berusaha mengingat namun dia lupa. Pekerjaannya banyak ditambah lagi bertemu Eve sebelumnya mungkin bukan sesuatu yang bisa dia anggap penting. Menggeleng samar, pria itu memutuskan untuk kembali ke ruang belajarnya sebelum jam makan siang dimulai.


"Declan, aku melihatnya sendiri. Saat itu dia lah yang mencuri kantong milikmu yang digantung Ethan di kudanya."

__ADS_1


"Jadi dia?!"


Langkah Declan terhenti. "Di mana kita pernah bertemu dengannya?"


"Kedai de Albama," sahut Beckett, "wanita yang duduk di kursi Ethan dan melawan kita, apa kalian ingat?"


Aha, Declan sudah ingat. Ya, wanita tidak tahu malu yang mereka temui tempo hari itu ternyata adalah Eve.


"Pencuri itu ... wajahnya benar-benar mirip dengan Declan, tetapi sikap dan tingkahnya tidak sama sekali," sahut Ethan kesal, "kebetulan dia akan tinggal di sini. Aku harus memberinya pelajaran."


"Sudahlah, Ethan. Aku tidak menginginkan benda itu lagi."


"Mengapa?"


"Sudah jelek. Memang patut dibuang."


Ethan terdiam. Dia memahami Declan. Pria yang tidak bisa mengucapkan isi hatinya dengan sepenuhnya itu kerap kali melontarkan kata-kata yang jauh berbeda dari kemauannya. Tanpa Declan minta, Ethan tahu apa yang harus dia lakukan.


"Aku akan berbicara dengan Luvena." Declan langsung melemparkan tatapan tajam kepadanya. "Tidak ada marah-marah atau penyiksaan, hanya mengajukan pertanyaan atas beberapa hal. Tolong jangan melotot, perlakuanmu itu sudah berlebihan!"


"Silakan. Tapi jangan sampai kau membuatnya tidak nyaman, mengerti?"


"Memangnya kenapa?"


Lidah Ethan kelu untuk mengatakan yang sebenarnya. Sedetik kemudian dia mendengus lalu berbalik. Melanjutkan kegiatannya seperti sebelum kedatangan Eve.


Namun pada akhirnya, Declan mengatakan hal yang bertolak belakang dengan kata hatinya.


"Dia yang akan membawa perdamaian antara Sasania dan Brodsway. Itu saja. Jika sampai dia tidak nyaman lalu kabur, kalian berdua lah orang pertama yang akan aku salahkan."

__ADS_1


__ADS_2