Mendadak Bangsawan

Mendadak Bangsawan
Perubahan Sikap Beckett


__ADS_3

Perlahan, Eve melangkahkan kakinya sambil sesekali menatap awas ke sekitar. Gelap dan lembab benar-benar tidak bagus. Menakutkan. Berdasarkan tekadnya yang bulat, Eve harus memeriksa sendiri. Suara apa yang baru saja di dengarnya dan dari mana asalnya.


Eve melihat ada sesuatu yang bergerak di kegelapan. Matanya menyipit, kemudian dapat bernapas lega setelah melihat surai pirang yang berada di sana.


"Ethan?" panggil Eve random. "Atau Beckett? Apa yang kau lakukan di tempat gelap seperti ini?"


"Beckett," sahut pria itu cepat. "Siapapun itu, tolong bantu aku sekarang. Dia ingin membunuhku!"


"Hah, siapa?!" Tanpa menunggu perintah, Eve bergegas mengambil sebilah pedang yang tadi dilihatnya lalu meringsek maju melawan kegelapan. Begitu matanya sudah terbiasa dengan percahayaan yang minim tersebut, Eve melihat Beckett sedang berjongkok di atas rak pedang.


"Mana pembunuhnya? Sini, biar aku cincang!"


"Hati-hati, dia akan menyerangmu. Lebih baik pakai boots yang berada di sana." Beckett menunjuk sebuah sepatu boots hitam miliknya yang tergeletak di pojok ruangan.


"Kenapa harus melindungi kaki? Pembunuh biasanya lebih mengincar jantung daripada kaki, jadi untuk apa sepatu boots?!"


"Karena pembunuhnya— ITU DIA DI BAWAH KAKIMU!!"


Sesuai pekikan keras Beckett, Eve dengan cepat menghindar. Tapi bukannya menjauh dari serangan, Eve justru merasa menginjak sesuatu yang kenyal dan berbulu. Pastinya bukan lantai sebab teksturnya sangat berbeda. Lebih-lebih lagi ada suara menyerupai 'ngek' sebelum dia benar-benar mendaratkan kakinya di atas benda empuk tersebut.


"Beckett," panggil Eve tiba-tiba. "Apakah maksudmu pembunuh itu adalah ...."


Eve mengangkat ekor binatang yang tadi tidak sengaja dia injak sampai gepeng. "Tikus ini?"


"Jauhkan dariku!" Beckett memukul-mukul udara seolah hal itu bisa menjauhkannya dari si tikus mati. "Eve, buang dia jauh-jauh!"


"Kau takut tikus?" Rahang Eve rasanya akan jatuh setelah mengetahui fakta yang satu ini. "Dan ini hanyalah tikus mati. Apa yang perlu ditakutkan?"


"Buang, ya buang, Eve. Jangan dimainkan seperti itu!" jerit Beckett lagi. Ekspresinya memang panik setengah mati tapi ketakutannya ini benar-benar bukan sesuatu yang bisa Eve percaya.


Sikap dingin Beckett mendadak luntur padanya hanya dikarenakan seekor tikus. Seseorang harus melihat hal selucu ini dan tertawa bersama Eve sampai sakit perut.


"Kau harus berterima kasih padaku karena aku membantumu. Iya, kan, kak?" ejek Eve penuh kemenangan.


"Iya-iya, terima kasih!"


"Sebagai imbalannya, bagaimana jika kau ... mau mengabulkan satu permintaanku?"


Selagi ada kesempatan, kenapa Eve sia-siakan? Dia harus mengambil keuntungan dari ketakutan Beckett. Jahat? Oh, tidak. Eve hanya memeras.


Dan benar saja, ekspresi Beckett tiba-tiba berubah. "Huh? Imbalan macam apa itu? Tidak, aku tidak mau."


"Ya sudah kalau begitu tangkap tikus ini!" Eve bersiap-siap melempar bangkai tikus itu dengan mengayun-ayunkan ekornya ke arah Beckett. Melihat hal tersebut, Beckett mau tidak mau menjerit lagi.


"BAIK-BAIK, APAPUN ITU AKU AKAN BERIKAN. EVE, CEPAT BUANG MAKHLUK MENJIJIKKAN ITU!"


Eve berdecak, "Coba dari tadi seperti itu. Kan jadinya tidak lama."

__ADS_1


Eve dengan santainya membawa bangkai tersebut ke luar ruangan. Menepuk-nepuk tangannya, Eve kembali lagi sembari memperhatikan tempat gelap tersebut.


"Coba cek di sebelah sana. Apakah masih ada teman-teman makhluk keparat tadi?" tunjuk Beckett pada susunan rak berisi banyak pedang dan tameng.


"Sudah tidak ada lagi. Aman," sahut Eve setelah dia benar-benar memeriksa isi ruangan tersebut.


"Aku tidak tahu, ternyata kau adalah adik yang terbaik!"


Eve meliriknya malas. "Badanmu besar tapi takut dengan tikus? Pft, benar-benar sesuatu yang diluar dugaan."


"Trauma masa lalu, My Sweety," jawab Beckett manis, "jadi apa yang kau inginkan dariku?"


"Eum ... belum kupikirkan. Nanti jika sudah ketemu, aku akan mengatakannya padamu." Kemudian perhatian Eve dialihkan oleh tumpukan pedang yang sudah rusak di pojok ruangan. "Pedang-pedang rusak itu milik siapa?"


"Milikku. Terlalu sering digunakan jadi gagangnya terlepas," jawab Beckett sembari turun dari rak pedang yang dia duduki sebelumnya. "Adik terbaik, apa kau tertarik memiliki salah satu pedang yang ada di sini?"


Eve berbinar. Pedang memang sangatlah penting di zaman kerajaan. Selain bentuk perlindungan diri, Eve juga memerlukan pedang sewaktu-waktu untuk melawan seseorang.


"Apa boleh aku ambil satu?"


"Tentu saja boleh. Untuk adik tercinta ku, siapa yang berani melarang?" Beckett membalasnya dengan senyuman lebar.


Tidak terbayangkan oleh Eve sebelumnya. Hanya dengan menyelamatkan Beckett, dia bisa mendapatkan hati kakaknya itu ditambah lagi mendapatkan pedang gratis. Sungguh rejeki yang mujur berkat dia berbakti kepada Margaret!


"Omong-omong, dear. Kenapa kau bisa kemari. Bukankah hari ini jadwal pertamamu sekolah?" tanya Beckett heran.


Beckett tergelak, "Membolos?"


"Membolos dan butuh hiburan itu berbeda, Beckett."


Beckett mengacungkan jempolnya. "Bagus sekali. Kalau begitu, bagaimana jika kita pergi?"


Mendengar kata 'pergi', Eve sontak menatap Beckett penuh harap.


"Ke mana?"


"Ke taman belakang, mau?"


Wajahnya mendadak masam. "Mengajakku ke sana sama saja kau ingin melihatku mati!"


Pria itu terperangah, "Kenapa?"


"Baronette Bernardi Lincoln kemungkinan masih berada di sana!" seru Eve kesal.


"Jangan marah, cantik. Aku hanya bercanda." Beckett buru-buru mendekati Eve kemudian merangkulnya akrab. "Di kastil ini, kira-kira tempat mana yang belum kau kunjungi?"


"Semuanya sudah. Ruangan ini adalah ruangan terakhir yang belum aku cek," jawab Eve sambil berjalan keluar masih dengan dekapan Beckett di bahunya. Tidak merasa risih, apalagi takut. Justru dia senang akrab dengan semua orang kalau perlu.

__ADS_1


Beckett manggut-manggut, "Kalau begitu kita perlu jalan-jalan di sekitar kastil."


"Memang itu yang aku tunggu-tunggu," balas Eve antusias. Sejak memasuki kastil, Eve belum pernah keluar dari tempat besar ini. "Jadi sekarang?"


"Apanya?"


Eve kembali dibuatnya kesal. Benar-benar. "Jalan-jalannya, Beckett. Apalagi?!"


Beckett tertawa lepas. Dengan gemas, tangannya mencubit pipi Eve sampai terdapat bekas merah di sana. "Membuatmu kesal itu menyenangkan, Eve. Teruslah marah-marah karena aku suka."


Eve terperangah. Sambil memegangi salah satu pipinya yang sempat terkena cubitan keras Beckett, dia memandang pria itu aneh.


Merasa dipandangi, Beckett menoleh, "Apa?"


"Aneh."


"Siapa?"


"Siapa lagi kalau bukan seseorang yang berjalan di sampingku ini."


Beckett melebarkan matanya. "Aneh dari mananya? Orang tampan tidak pernah aneh!"


"Terlalu percaya diri," Eve mendengus lalu berjalan lebih dulu, disusul Beckett yang tidak percaya dengan ucapan adiknya itu.


Semua wanita menyukainya. Tidak pernah ada komentar negatif ditujukan kepada Beckett yang notabenenya berasal dari keluarga Lumiere dan terlebih lagi; dia sangat tampan.


Mendengar Eve mengatainya, bukan membuat Beckett murung dan gundah, justru membuatnya semangat. Setidaknya ada satu orang yang tidak memujinya terlalu berlebihan. Beckett ingin diangggap seperti manusia pada umumnya juga, hanya itu.


Sepertinya keputusan Beckett untuk berdamai dengan Eve adalah hal yang terbaik. Melihat Eve sudah berjalan jauh di depan sana, mau tak mau Beckett berteriak.


"Eve, tunggu aku!"


...----------------...


Maaf ya, upnya lamaa soalnya lagi ada kesibukan dan ini pun nyuri-nyuri kesempatan buat bisa up🤣


Sampai sejauh ini, abang mana yang menjadi favoritmu?



Ethan


Declan


Beckett


__ADS_1


Komen banyak-banyakkkk🤣


__ADS_2