
Hari pertama perang. Sesuai arahan, Lucas akan memimpin pasukan utama yang akan menerobos masuk ke dalam istana setelah prajurit Brodsway kewalahan dengan pasukan sayap. Lucas baik-baik saja, tentunya. Namun pria itu merasa risau karena Eve benar-benar sendiri tanpa penjagaan siapapun.
Kakak ipar Lumiere, tolong maafkan aku yang lemah terhadap permintaan adik kalian, ringisnya dalam hati.
Saat memasuki istana, bukan hal mustahil bagi Ksatria Nyx membakar hampir separuh bangunan. Kebetulan salju berhenti turun, sehingga api dapat bertahan lebih lama bahkan juga melalap beberapa orang yang sedang bernasib sial.
Menyaksikan semua itu, tidak ada rasa kasihan sama sekali. Justru Lucas kembali menutup wajahnya dengan topeng kelinci yang memasang ekspresi begitu menggemaskan, kontras dengan apa yang baru saja ia lakukan.
Mengapa Lucas memakai topeng kelinci? Sebab dari sepengetahuannya, Eve sangat menyukai binatang yang satu itu.
"Kau ... kau ketua mereka, kan?"
Di sudut tangga, Lucas dapat melihat Pangeran sialan itu tengah mengacungkan pedang ke arahnya, namun dengan tangan gemetar. Sangat lucu.
Lucas semakin mengangkat wajahnya. Aura angkuh penuh kekuasaan lagi-lagi berhasil melumpuhkan Pangeran Julius tanpa Lucas sentuh sedikit pun.
"Kalau jawabannya iya, bagaimana?" tantang Lucas, menikmati wajah ketakutan itu dengan rasa puas.
Inilah akibat karena berani menyakiti wanitanya. Jika Julius menyakiti sekali, maka Lucas akan membalasnya ribuan kali.
"Brengsek, apa yang kalian inginkan, hah?!"
Tanpa aba-aba —atau bahkan tanpa teknik sama sekali— Julius menyerang duluan dengan mata memerah. Semuanya habis. Hartanya, kekuasaannya. Tidak ada harapan semuanya kembali seperti semula. Dan semua kehancuran ini, semuanya gara-gara orang asing yang berdiri di depannya!
"Bodoh." Begitu Julius menyerangnya satu arah, Lucas hanya perlu berkelit, lalu menyikut punggung sang pangeran hingga dia tersungkur tanpa perlawanan.
"Orang sepertimu adalah pangeran? Jangan bercanda!" Lucas menekan punggungnya ke lantai menggunakan kaki.
Julius terengah-engah. Napasnya hampir putus akibat berat beban Lucas yang sungguh tidak main-main. Orang ini, jelas bukan tandingannya sama sekali.
"S-siapa ... kau," desisnya pasrah. Percuma melawan, kekuatan mereka tidak seimbang dan pedangnya sudah terlempar jauh.
Cara bertahan bagi Julius, sebisa mungkin dia harus lari saat orang ini lengah.
"Kita sudah pernah bertemu sebelumnya, pangeran. Mungkin Anda lupa?"
__ADS_1
Di tengah-tengah ketakutannya, Julius mencoba memutar otak. Benar, suara orang ini tidak asing baginya. Bahkan mungkin mereka juga mengenal satu sama lain. Tapi siapa? Julius tidak dapat berpikir jernih.
"S-siapa," tanyanya lagi penasaran.
Lucas terkekeh. Begitu Julius mendongak ke arahnya, dia membuka sedikit topeng kelincinya lalu tersenyum lebar.
"Halo, karena anda sudah berkunjung ke Sasania, maka izinkan saya juga berkunjung ke negeri Anda, Pangeran Brodsway."
Julius melotot. Antara percaya atau tidak, semuanya benar-benar berjalan di luar rencananya. "P-putra Mahkota Lucas...."
"Sekarang kau sudah tahu siapa aku. Pemimpin Ksatria Nyx adalah Putra Mahkota Sasania. Sangat menarik, 'kan. Selama ini kalian selalu meminta bantuan kepada kami, tidak menyangka saja akan datang hari ini. Hari di mana kami justru akan menghabisi kalian satu-persatu."
"Tapi kenapa?!" Julius berteriak histeris. Setelahnya dia mengerang kesakitan karena Lucas menginjak tangannya sampai patah.
"Apa-apaan yang 'kenapa'?" Lucas membalik tubuhnya yang sudah melemah, kemudian beralih memijak leher Julius.
"Ini semua ganjaran akibat tangan kotormu yang hampir saja mencelakai Lady Luvena. Dan juga, aku memerlukan takhta Sasania untuk gadis kecilku itu. Dan syaratnya, adalah menghabisi kalian. Syarat yang hebat, bukan?"
"Hanya itu?! Perbuatan kecilku dibalas keji seperti ini? Sungguh tidak adil!"
Jujur, Lucas sendiri sakit hati. Di saat dia baru mengetahui perbuatan Brodsway, semuanya sudah terlambat.
"Eksploitasi anak-anak, menjual wanita di pasar gelap, lalu diam-diam mengambil kekayaan alam dan hewan Sasania di hutan barat yang belum dimanfaatkan. Apakah ada pembelaan darimu, pangeran. Mengapa Brodsway bisa sebegitu kejamnya terhadap kami?!"
Julius, menitikkan air mata. Bukan karena sedih akan kelakuan jahanamnya, namun disebabkan lehernya yang sudah terasa kebas. Dia tidak sanggup menjawab apa-apa, tubuhnya tidak bisa lari kemanapun lagi. Mungkin hari ini adalah hari kematiannya.
"Sudahlah, buang-buang waktu saja jika bertanya dengan pangeran boneka." Lucas mengangkat pedangnya, lalu menebas leher Julius dalam sekali ayun.
"Ketua, Rajanya sudah kami dapatkan!"
Seruan dari Komandan Timur mengalihkan perhatian Lucas. Setelah menatap dingin mayat pangeran tak berguna itu sekali lagi, dia beranjak dari sana dengan hati lega.
Eve, dendammu sudah terbalaskan.
...----------------...
__ADS_1
Eve menyapu keringatnya yang menetes. Sejauh ini tidak ada sesuatu yang buruk terjadi pada dirinya. Pasukan Brodsway itu lemah, mungkin efek dari musim dingin yang panjang, mengakibatkan mereka malas berlatih pedang. Atau mungkin latihan, namun tidak terlalu lama karena takut terserang hipotermia. Dengan pakaian besi di seluruh badan dan berhiaskan mantel, tidak ada yang tahu bahwa Eve adalah satu-satunya wanita di medan perang tersebut.
Kebetulan Eve ditempatkan di pasukan sayap kiri. Setelah habis membabat musuhnya, gadis itu berlari ke garis depan. Tepat di seberang sana, dilihatnya Nicholas tengah bertarung dengan seseorang yang sepertinya juga ahli menggunakan pedang. Gerakan mereka begitu cepat, namun bukan apa-apa bagi Eve. Toh, bukannya tiba-tiba kuat, tapi sejak awal Eve memang ahli menggunakan senjata terutama panah. Selama ini dia terlihat lemah karena tidak ingin semua bakatnya diketahui Duke of Lumiere maupun istri tidak sahnya itu. Memamerkan bakatnya, sama saja dengan membantu musuh mencari kekurangannya, kan.
Dan malam itu, mengapa Eve tidak melawan saat Pangeran Julius ingin mencelakainya. Karena Eve sudah separuh mabuk. Dia lemah terhadap arak, dan sejak awal semuanya sudah tahu akan hal itu.
"Jenderal, awas!"
Seruan dari Ksatria Nyx lain berhasil menggerakkan Eve untuk berlari melindungi Nicholas dari belakang. Suara besi yang saling beradu membuat sang jenderal menoleh ke belakang, lalu tersenyum. Dia mengenali Eve dari aroma parfumnya yang manis.
"Seharusnya saya yang melindungi Anda, tetapi mengapa sekarang posisi kita justru terbalik?"
"Fokus saja pada serangan lawan mu, jenderal," ujar Eve tegas, "yang ini, biarkan aku yang mengurusnya."
"Tidak saya sangka Anda bisa sehebat ini."
"Kalian terlihat akrab sekali, ya?" Pria yang menjadi lawan Jenderal Nicholas memotong percakapan mereka. "Tuan yang di sana, saya yakin Anda tidak akan mempercayai Nicholas lagi setelah mengetahui kebenarannya."
"Berisik!" Nicholas semakin membabi-buta. Gerakannya yang berdasarkan kemarahan, sama sekali tidak bisa menyentuh orang itu sehingga ia tertawa remeh.
Walau diserang rasa penasaran, Eve tetap diam. Dia masih fokus menghalau serangan demi serangan yang mengarah padanya.
"Jika reaksimu seperti ini, berarti tuan itu memang belum mengetahuinya, ya," ejeknya lagi ditengah napas Nicholas yang terputus-putus.
"Tuan, biar saya beritahu. Nicholas sebenarnya adalah keluarga dekat Pangeran Julius namun terbukti berkhianat lalu diusir dari Brodsway. Kalian Sasania, hanyalah pelarian. Jika tidak ingin dikhianatinya juga, lebih baik jangan dipercayai lagi."
Srak!
Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya Nicholas dapat menusuk perut orang itu. Untuk membungkamnya selama-lamanya. Namun Nicholas rasa, semuanya sia-sia. Eve sudah mengetahui kebenaran akan dirinya. Dan mungkin sebentar lagi, dia harus mencari tempat baru yang jauh dari Brodsway ataupun Sasania.
"Bagaimana pun masa lalu itu, aku tetap percaya kepada jenderal."
Ucapan itu membawa Nicholas mendongak. Eve, seorang gadis kecil yang dia kenal ceria dan ramah, sekarang terasa berbeda. Gadis itu terlihat dewasa dan tegas namun juga terlihat kejam di waktu yang bersamaan. Darah dari musuh masih melekat pada pedang dan zirah besinya. Jika memang benar dialah yang akan menjadi ratu baru Sasania, maka selamat, Nicholas sudah takluk padanya. Eve dan segala kelebihannya, benar-benar bersinar seperti seorang ratu kecantikan sekaligus dewi perang.
Jika yang mendengar fakta barusan adalah orang lain dan bukannya Eve, mungkin Nicholas tidak akan berada di sini lagi. Dia pasti diusir.
__ADS_1
"Terima kasih karena telah mempercayai saya, Lady Lumiera," lirih Nicholas, benar-benar sudah terjatuh di dalam pesona gadis itu.