
Alunan lembut musik klasik ditemani secangkir teh yang uapnya masih mengepul sama sekali tidak berhasil menenangkan batin Eve. Sedari tadi kakinya selalu bergerak gelisah di balik gaun lebarnya yang berwarna magenta.
Nyatanya Declan sama sekali tidak bisa membantu. Sebab Lady Britney memintanya berbicara empat mata.
Tetapi tenang saja, Eve bisa mengatasi makhluk hidup yang paling dibencinya setelah Duke of Lumiere ini.
"Aku begitu senang setelah tahu His Grace akhirnya memutuskan untuk mengadopsi Anda," ujarnya manis ditambah senyuman yang tidak kalah polosnya. "Selamat datang kembali di Keluarga Lumiere, Eve."
"Tidak perlu memanggilku dengan panggilan yang begitu akrab." Eve mengambil cangkir berisi air teh miliknya, lalu meminum seperempat. "Panggilan itu ditujukan khusus untuk keluarga dan orang terdekatku. Sedangkan Anda tidak termasuk keduanya. Lalu masalah adopsi, Anda pikir aku ini siapa? Seburuk-buruknya tingkah lakuku, darah Lumiere masih mengalir di dalam tubuhku. Dan juga kata 'adopsi' itu sepatutnya ditujukan kepada Anda sebagai orang luar. Benar, kan?"
Kesal? Tentu saja. Namun bukan Lady Britney namanya jika dia tidak bisa menahan emosi tersebut. Buktinya dia masih bisa terkekeh, menyembunyikan tawa bercampur amarah di balik kipas berhiaskan bulu angsa di bagian atasnya.
Siapa sangka jika Luvena si gadis desa ini pandai memutar kalimat orang lain?!
"Jawaban Anda benar, tapi masih ada salahnya. Kita masih bisa mengakrabkan diri satu sama lain, kan. Jadi anggap saja aku sama seperti ibu Anda itu. Em ... siapa, ya, namanya?" Lady Britney memberikan pose berpikir. "Lady Scarlett?"
"Her Grace Duchess Margaret of Lumiere," jawab Eve lengkap dengan titel kebangsawanan sang ibu. Sekilas, Eve dapat melihat ekspresi kesal menghinggapi lawan bicaranya. Eve akui Lady Britney cukup mahir menahan emosi sebab sejak awal, Eve akui dirinya sudah memancing emosi wanita itu secara terang-terangan.
"Ah, iya itu. Di mana Her Grace sekarang? Apakah dia sudah mendingin di dalam peti matinya?" tanya Britney tanpa basa-basi.
Eve akan kalah jika dia langsung tersulut emosi. Maka dari itu, dia meniru bagaimana sang lady licik itu bersikap. Senyum tipis membingkai wajahnya yang cantik. "Sayangnya itu belum terjadi tapi suatu saat mungkin, setelah memastikan Anda mendapatkan balasan yang setimpal atas semua perbuatan Anda selama ini dan membusuk di alam kubur. Maka barulah Her Grace dapat beristirahat dengan tenang."
Bulu kuduknya meremang. Untuk mengalihkan rasa tidak nyaman tersebut, Lady Britney buru-buru mengambil cangkirnya kembali dan menyesap isinya. Ah, sialan. Luvena ternyata jauh lebih licik dari yang dia kira.
Dan mungkin lebih licik dari dirinya!
Eve tertawa renyah. "Kenapa, My Lady. Apakah Anda takut mendapatkan balasan atas perbuatan Anda sendiri?"
"Diam!" sergahnya kasar sembari menghempaskan cangkirnya di atas piring kecil yang bercorak sama dengan cangkir yang tengah dia pegang. "Jangan coba-coba menceramahi ku, wanita ******!"
Diam-diam Eve tersenyum puas. Berhasil, emosi Lady Britney mulai tak terkendali. Ini yang namanya kemenangan mutlak dan membuktikan siapa yang kuat di sini.
__ADS_1
"Ah, Anda sangat pemarah, My Lady. Berarti rumor yang mengatakan bahwa Anda adalah orang yang lemah lembut itu hanyalah bualan belaka. Yah, ucapan Mama benar, bahwa rumor tidak bisa dipercaya karena hanya berisi omong kosong."
Eve menumpukan wajah di kedua tangannya, sembari melemparkan tatapan kasihan yang dibuat-buat. "Jangan terlalu sering marah-marah. Lihat, keriput Anda sepertinya bertambah karena sudah meninggikan suara kepadaku. Nanti cantiknya hilang, His Grace tidak menyukai Anda lagi atau kemungkinan terparahnya, Anda akan dicampakkan. Jika sudah begitu, maka di mana Anda dapat tinggal?"
"Jaga ucapan mu!"
"Aku hanya memberi saran. Para pria itu menyukai wanita cantik, bukan wanita jelek apalagi memiliki banyak keriput."
Benar-benar memuakkan, Britney tidak tahan lagi!
"Pergilah. Aku masih sibuk," ujarnya begitu kesal. Bahkan untuk menatap Eve saja, dia enggan.
"Itu yang aku tunggu sejak tadi." Eve bertepuk tangan riang. Tanpa menunggu lama, dia berdiri. "Selamat tinggal, Lady Britney. Semoga betah tinggal di sini."
Usai Eve berbalik pergi dan menghilang dari ambang pintu, tatapan Lady Britney yang mengikutinya itu terlihat melotot marah sembari mengepalkan tangan. Karena dia akan terus tinggal di sini, seharusnya Eve mengatakan 'sampai jumpa lagi' alih-alih 'selamat tinggal' yang memiliki konotasi mengusir secara tersirat. Gadis itu bahkan mendoakan dirinya agar betah di sini.
Sial, seharusnya yang mengatakan hal itu adalah dirinya sebagai penguasa wanita di kastil ini, bukan Eve!
Dia harus berbuat sesuatu sebelum hal buruk berdatangan.
"Lady memanggilku?"
Lamunan penuh ambisinya pecah. Lady Britney menoleh ke arah pintu, tepatnya menatap Beckett yang masih sama seperti yang terakhir diingatnya beberapa bulan lalu. Bedanya Beckett yang sekarang terlihat lebih ... ceria?
"Benar. Aduh, sayangku Beckett. Ayo kemari!"
Ragu-ragu Beckett mendekat tanpa ekspresi apapun di wajahnya. Sikap Lady Britney bisa dibilang berubah signifikan yang mana hal itu membuat Beckett kurang nyaman. Seperti orang asing yang mendadak mencintaimu, kira-kira seperti itulah gambaran perasaan Beckett saat ini.
"Bagaimana kabarmu, dear. Ibu benar-benar merindukan mu!"
"Apa terjadi sesuatu?" Beckett menatapnya horor. "Lady, Anda baik-baik saja?"
__ADS_1
"Kenapa kau menatapku seperti menatap hantu." Lady Britney cemberut. "Seharusnya kau senang karena aku sudah kembali. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana perilaku buruk gadis sialan itu terhadapmu dan juga Ethan. Kalian pasti tersiksa, kan? Tenang saja, sekarang ada ibu. Katakan segala keluhan kalian, biar ibu yang menyampaikannya kepada His Grace agar anak pungut itu segera diusir dari sini!"
"Apa yang Anda maksud, My Lady?" Beckett menatapnya tidak suka. "Apakah anak pungut yang Anda maksud adalah Eve?" sambungnya sinis. "Jika kedatangan Anda kemari hanya untuk mengusik adikku, lebih baik segera Anda tepis pemikiran tersebut. Baik aku maupun Ethan, kami menyayangi Eve."
Kemarahan Lady Britney rasanya sudah berada di ujung batas. Sialan, sialan, sialan! Apa yang gadis itu perbuat sampai putranya sendiri lebih memilih orang asing ketimbang ibunya sendiri?!
Anak kecil itu harus segera diberi pelajaran.
"Beckett, apa karena gadis itu kau dan Ethan sudah melupakan ibu?" ujarnya sembari menggemeretakkan gigi.
"Tidak kah lady merasa bahwa pertanyaan itu terbalik? Bukankah selama ini justru lady sendiri yang sudah melupakan aku dan Ethan?" Beckett menyipit, berusaha menahan emosi yang menyesakkan dadanya.
"Lady tidak pernah tahu bagaimana pedasnya mulut keluarga kerajaan saat melihat kami berdua ikut berhadir di acara formal. Lady juga tidak pernah mencari diriku, saat dikurung di dalam istal istana yang dipenuhi tikus mencicit." Matanya memerah, siap menumpahkan air mata. "Sampai sekarang aku merasakan trauma hari itu, apakah lady tahu?!"
"Beckett...." gumam Lady Britney lemah.
"Lady tidak pernah memberikan kebahagiaan untuk kami. Jadi setidaknya jangan pernah mengusik kehidupan Eve yang damai."
Beckett menghapus kasar air matanya.
"Karena Eve adalah satu-satunya sumber kebahagiaan kami. Aku harap ibu bisa camkan hal itu baik-baik!" sambung Beckett emosi lalu melangkahkan kaki keluar dari ruangan tersebut tanpa meminta izin terlebih dahulu.
...----------------...
Omo I'm backš¤Æ
Jadi sudah terjawab kan yaa masalah di chapter awal pas pertama kalinya Beckett sama Eve jadi akrab ituu. Apa sebabnya Beckett sampai sebegitu takutnya sama tikus, itu karena dia trauma abis dijailin anggota keluarga kerajaanāmungkin para pangeran yang gak suka karena dia bukan anak dari istri sah a.k.a anak pelakor. Tapi sebenernya si Ethan sama Beckett gak salah yekann toh mereka itu hasil kerjaan lucknut emak bapaknyaš”
Mari kita dukung Ethan dan Beckett. Sebagai tumbal, mari kita hujat bapaknya ramai-ramaiš¤£
See you next episodeš
__ADS_1