Mendadak Bangsawan

Mendadak Bangsawan
Pangeran Dingin


__ADS_3

Setelah perdebatan panjang, kini ketiga orang tersebut sudah sibuk dalam pikiran masing-masing. Hudson mengusap dagunya sambil memikirkan cara agar bidak catur miliknya dapat mengalahkan bidak raja milik Eve yang masih berdiri jauh di seberang sana. Eve juga tak kalah serius bahkan kernyitan kecil di dahinya tampak jelas terlihat. Dan Ashley, satu-satunya orang yang tidak bisa memainkan catur di antara mereka hanya bisa menghela napas bosan sembari membuka kipas kecil, lalu mengipaskannya ke wajah.


"Sedikit lagi aku menang," ujar Hudson bangga begitu ia menjalankan bidak benteng ke depan. Menuju raja musuh. "Permainan tidak akan menyenangkan tanpa taruhan. Jika aku menang, apa yang akan kau lakukan, Eve?"


Eve membiarkan bidak sang raja meluncur maju bahkan semakin dekat dengan bidak utamanya. "Em ... Anda boleh meminta apa pun padaku," balas Eve lalu kemudian dia tersadar. "Ah, tidak seharusnya saya menawarkan harta duke yang sedikit kepada Anda yang memiliki seluruh daratan Sasania."


"Hoho, kau pandai bicara. Tapi biar kukatakan yang sejujurnya. Benar bahwa aku menguasai harta di daratan Sasania. Akan tetapi ayahmu itu bisa menguasai harta di seluruh dunia berkat kerja kerasnya sendiri." komentar Hudson masih fokus kepada bentengnya. "Kalau begitu, aku juga melakukan hal yang sama padamu. Kau bebas meminta satu apa pun dariku. Yah, walau kau mustahil menang," ujarnya diakhiri nada meremehkan.


Sekaya itukah Duke of Lumiere? Memikirkan ucapan sang raja, Eve tahu betul bahwa orang nomor satu di Sasania itu tidak berbohong kepadanya. Jika duke memiliki banyak harta, maka bawahannya pun pasti juga tidak sedikit. Jika Eve menjadi raja, orang sejenis Duke of Lumiere ini adalah musuh utamanya. Tentu saja, dengan harta yang sebanyak itu tidak menutup kemungkinan suatu saat sang duke akan membelot lalu mengirimkan pembunuh bayaran atau —yang paling parahnya lagi— pemberontakan.


Tapi sang raja berbeda pemikiran dengan Eve. Dia tidak pernah merasa Duke of Lumiere adalah sebuah ancaman bagi dirinya.


"Jika kau menang, peras saja harta orang ini, Eve," ujar Ashley sambil melirik suaminya dengan nada akrab sekaligus mengancam.


"Peras saja. Seberapa banyak uang yang kau inginkan, hartaku tidak akan pernah habis," balas Hudson sombong.


"Apakah Anda tidak pernah mendengar cerita tentang seseorang yang ditenggelamkan ke dalam tanah karena kesombongannya?" sahut Ashley sengit dengan mata memincing, "anda ingin dibuat seperti itu?!"


"Ck, cerewet sekali," keluh Hudson sambil berpura-pura menutup daun telinganya yang berdenging. "Nah, aku sudah jalan. Sekarang giliran mu, Lady."


Lamunan singkatnya buyar. Eve kembali memperhatikan papan catur yang terhampar di depannya. Satu langkah lagi, Yang Mulia Raja akan menang. Bidaknya berada tak jauh dari bidak raja milik Eve. Jika bidak raja sudah dikalahkan, maka permainan pun juga berakhir.


"Anda terlalu berambisi untuk menyingkirkan raja milikku, Yang Mulia." Eve menggerakkan bidak berkepala kuda yang tanpa Hudson sadari sudah menyusup di areanya entah dari kapan. Sialnya, letak bidak kuda tersebut berada di tempat yang paling strategis. Benar saja, dalam sekali jalan, Eve berhasil menyingkirkan bidak raja milik Hudson yang dibalas pria tua itu dengan mata melotot.


"Saya menang."


"Ap-Apa? Bagaimana bisa?!" ujarnya terperangah. "Ini baru permulaan. Permainan tadi, aku hanya mengalah padamu. Sekarang ayo, kita ulang!"


"Kalah tetaplah kalah!" sembur Ashley yang juga diangguki Eve.

__ADS_1


"Aku jarang bermain catur, makanya sedikit kaku," kilahnya lagi.


"Yang Mulia, Saya lihat Anda sangat bersenang-senang di sini, ya?"


Tubuh Hudson membeku. Dengan gerakan perlahan, ia menoleh ke arah pintu lalu memberikan senyum lebar yang dipaksakan.


"Lucas, biarkan ayahmu ini duduk di sini sebentar. Kau tidak lihat seberapa banyak keriput di wajahku ini?" Hudson menunjuk wajahnya sendiri. "Ini diakibatkan aktivitasku yang seharian penuh berkutat dengan masalah pemerintahan tanpa memikirkan waktu untuk bermain sebentar. Lagipula ada dirimu, kan. Biasanya kau selalu membantuku tanpa di suruh."


Jantung Eve tiba-tiba bergetar. Manik birunya melebar saat mengenali sosok yang disebut sang raja adalah Lucas itu kini semakin dekat berjalan ke arah mereka. Matanya tidak salah, begitu juga dengan ingatannya. Orang itu Xerr!


"Yang Mulia, kembalilah. Para menteri sudah bersiap di aula." Lucas menekankan kalimatnya masih dengan nada bicara yang sopan. Walau begitu telapak tangannya mendarat di bahu sang raja, seolah memberi peringatan. Dengan senyum dipaksakan, Hudson akhirnya angkat tangan.


"Baiklah, permainan kita untuk hari ini sepertinya harus berakhir di sini, Lady." Hudson tampak tersenyum tidak enak. "Temui aku jika kau sudah tahu apa yang kau inginkan, sama seperti taruhan kita barusan."


Sang raja melirik putranya. "Ah, iya. Kebetulan ada Lucas di sini. Lady Luvena, perkenalkan dia adalah putraku, Pangeran Lucas. Dan Lucas, dia adalah putri sah Duke of Lumiere, Luvena Lumiera," ujarnya ramah, "beberapa hari yang lalu Keluarga Lumiere berkunjung kemari, tapi kau pergi jadi tidak sempat berkenalan dengannya."


Atau jangan-jangan Lucas dan Xerr adalah saudara kembar?


Lucas menyambut telapak tangan Eve lalu mengecupnya. "Senang berkenalan denganmu, Lady."


"Suatu k-kehormatan bisa bertemu Anda, Your Highness," sahut Eve ragu. Rasanya canggung. Beberapa hari yang lalu dia bersikap ketus dengan orang yang memiliki rupa yang sama persis dengan Pangeran Lucas. Tidak, Eve yakin mereka adalah orang yang sama.


Kenapa sejak awal Xerr— maksudnya Lucas tidak jujur mengenai identitasnya kepada Eve? Orang ini benar-benar ....


"Saya tunggu Anda di depan aula. Saya mohon. Secepatnya," ujar Lucas menekankan. Ayahnya ini ... jika tidak diingatkan baik-baik, dia cepat lupa. Pria muda itu menunduk sedikit. "Aku permisi. Silakan nikmati waktu kalian."


"Pangeran Lucas memang sedingin itu dengan orang-orang di sekitarnya. Tolong dimaklumi," ujar Hudson setelah putra yang sering membantunya mengontrol diri itu pergi. Ia bangkit, memeluk pinggang Ashley lalu mengecup dahinya.


"Hati-hati. Sekarang kalian boleh berkeliling istana untuk menghabiskan waktu bersama. Tapi ingat, jangan sampai salah satu dari kalian terluka, mengerti?"

__ADS_1


Ashley mengembangkan senyum lalu mengangguk semangat. "Tentu saja. Aku tidak sebodoh itu untuk melukai diri sendiri!"


"Apa aku salah dengar?" Hudson menyipit lalu mengacak rambut Ashley gemas. "Dua hari yang lalu ada seseorang yang terjatuh di paviliun barat karena berlari padahal dia tahu betul saat itu sedang memakai gaun besar. Kira-kira, siapa orang itu?"


"Ah, Yang Mulia. Jangan ungkit hal itu lagi!" Ashley memukul dada suaminya malu-malu.


Eve meringis. Dia baru tahu, semengenaskan ini rasanya menjadi nyamuk. "Em, sepertinya ada sesuatu yang harus saya lakukan. Kalian lanjutkan saja, permisi."


Eve buru-buru keluar dari sana. Begitu kembali menutup pintu, dia menghela napas lega. Rasanya sangat canggung jika berada di antara pasangan yang sedang ... kasmaran. Jika itu Ratu Ashley, Eve bisa memaklumi. Tapi kalau Raja Hudson yang lebih tua dari Duke of Lumiere itu, Eve sendiri tidak habis pikir.


"Lady Luvena."


Eve menoleh. Tidak jauh di sana, tepatnya di samping pilar paling besar di istana, Lucas berdiri dengan wajah datarnya.


"Ikut denganku sebentar, boleh?"


"Seharusnya aku yang bilang begitu," sungut Eve kesal. "Kau harus menjelaskan semuanya padaku— Xerr—eh, Lucas, tunggu dulu!" Melihat Lucas menjauh, Eve akhirnya mengejarnya dari belakang.


Pria itu ... kali ini dia tidak bisa kabur!


......................


Finally, PAS udah selesai semoga aku bisa update rutin seperti biasanya, ya. Kalau gak salah nih udah dua kali pihak Noveltoon ngasih 'kode' biar aku cepat-cepat update hahaha🤣


Diusahakan kembali rajin update cerita Eve dan kawan-kawan meskipun libur semester di Desember ini katanya dimundurkan. Ceritanya masih panjang, jadi jangan stop baca sampai di sini, ok?😆


Selama hampir seminggu ini, apa kalian ingin menyampaikan pesan kepada tokoh-tokoh di Mendadak Bangsawan? Atau pesan buat author, barangkali? Cus, tulis di kolom komentar😃


See you next episode!

__ADS_1


__ADS_2