Mendadak Bangsawan

Mendadak Bangsawan
Kunjungan Perdana


__ADS_3

Sepertinya Eve harus menelan kembali kata-katanya sewaktu di kereta tadi saat mengatakan bahwa Declan akan dijauhi oleh para gadis karena sikap dinginnya. Nyatanya dia salah besar. Karena sekarang dia melihat segerombolan wanita tampak mendekati Declan dengan tatapan kagum dan ... penuh cinta. Ewh, jika tahu begini, Eve akan mendukung kakaknya untuk bersikap dingin di mana pun dia berada.


"Lord Lumiero, Anda kemari?"


Dari sekian banyak gadis yang memperhatikan Declan dari jauh, hanya satu orang wanita yang berani mendekat. Rambut merahnya yang diterpa cahaya lampu membuat Eve sakit mata sehingga harus mengerjap beberapa kali. Sekilas Eve memperhatikan Declan. Apakah kakaknya itu juga merasakan hal yang sama seperti dirinya?


"Saya baru saja menghadiri undangan minum teh yang diselenggarakan Yang Mulia Ratu tadi sore. Tidak menyangka akan bertemu Anda di sini," ucapnya dengan nada yang diusahakan manis sambil menyelipkan anak rambutnya di belakang telinga ditambah senyum malu-malu.


"Kamu habis melakukan apa, toh tidak ada yang tanya," celetuk Eve yang gerah dengan sikap kelewat centil wanita di depannya.


Menyadari kehadiran wanita asing di samping calon suami, sang lady menyipitkan mata. "Siapa kau? Berani-beraninya kau ikut campur dalam pembicaraanku dengan Lord Lumiero."


"Aku—"


"Jangan berbuat macam-macam padanya." Declan langsung mendekap bahu Eve dengan posesif. Melihat hal itu, tidak hanya sang lady bersurai merah, gadis lain pun juga melakukan hal yang sana. Mereka terkesiap, kaget dengan sikap spesial Declan terhadap seorang wanita asing yang tidak diketahui asal-usulnya.


"Lord Lumiero, siapa dia?!"


"Apa hak mu untuk tahu segalanya tentangku?" Declan menarik Eve agar pergi menjauh. "Satu hal yang paling aku benci. Kau sudah berani berteriak di hadapan gadisku. Sebagai pelajaran, keluargamu akan di blokir dari kekuasaan Lumiere sampai tiga bulan ke depan. Tidak boleh ada transaksi atau pun kerja sama selama hukuman berlangsung, mengerti? Kalau begitu selamat tinggal."


Celaka. Semua orang tahu, Keluarga Lumiere hampir memonopoli perdagangan di seluruh Sasania bahkan sudah tersebar di beberapa negara tetangga. Dari bahan mentah sampai bahan jadi. Jika pemutusan kerja sama dalam kurun waktu satu bulan saja bisa membangkrutkan sebuah toko raksasa, maka bagaimana dengan tiga bulan?


"Dia terlalu berani dengan His Lordship. Sekarang lihat apa yang terjadi padanya. Ah, aku tidak terkejut. Memang patut dia mendapatkan batunya."


"Cari muka sampai segitunya. Lihat saja, tidak sampai satu bulan ayahnya pasti akan bersujud memohon ampun kepada Keluarga Lumiere!"


"Wanita tidak tahu malu akhirnya mendapatkan pelajaran!"


Wanita bersurai merah itu mengepalkan tangan hingga membekas pada sarung tangannya. Tubuhnya bergetar. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi ayahnya jika mengetahui hal ini.


Apapun yang terjadi, Declan tidak boleh direbut darinya!


"Eh, apa yang kau lakukan padanya?" Eve sekali lagi menoleh ke belakang. Dia sadar bahwa wanita yang disembur Declan tadi sekarang menjadi buah bibir disekitarnya. "Kenapa mereka menjadi ketakutan begitu?"


"Banyak tanya. Bisa diam sebentar?"

__ADS_1


Eve mencebik kesal lalu melepaskan dekapan Declan di bahunya. "Kalau aku bertanya, seharusnya dijawab. Bukan dimarahi!"


"Aku tidak memarahi siapapun," ungkap Declan datar.


"Barusan kau melakukannya!"


Declan menghela napas. "Aku hanya tidak suka jika ada orang yang berani berkata buruk di depanmu." Gagal meraih bahu Eve kembali, Declan akhirnya menggenggam tangan adiknya itu walau beberapa kali sempat terjadi adegan tarik-menarik. "Siapa pun itu, patut dihukum."


"Bagaimana jika yang mengatakan hal buruk itu adalah His Grace?" tanya Eve disertai senyum menantang.


"Maka akan ku buat dirinya menyesal."


Bukannya terharu, Eve malah meledakkan tawa. "Oh, sekarang pewaris Lumiere sudah berani dengan ayahnya, ya?"


Mereka sama-sama memasuki gerbang istana yang dibuka lebar. Pengawal yang membukakan pintu untuk mereka serempak menunduk hormat dengan satu orang di antaranya yang menjadi pemandu jalan. Istana Asnya, bukanlah tempat yang bisa dikatakan kecil. Istana yang sudah berdiri sejak ratusan tahun yang lalu itu menyerupai labirin raksasa yang luas. Hal itu dirancang sebagai keamanan. Jika ada penyusup, maka mereka hanya akan kesulitan dalam mencari pintu yang tepat.


"Percaya saja pada kakakmu ini."


Eve mengangguk. "Baik-baik. Jadi, siapa nama Lady merah tadi?"


Declan menaikkan sebelah alisnya, "Maksudmu Lady Aslein?"


Seketika Declan menggeram marah, "Katakan dengan jelas."


"Itu—"


"Ah, Lord Lumiero, ya? Lama tidak berjumpa."


Di ujung ruangan, mereka melihat seorang pria kisaran tiga puluhan sedang menyapa Declan dengan senyum hangat. Dia mendekat, kemudian tersenyum lebar setelah menyadari kehadiran Eve.


"Ah, jadi ini putri tunggal Lumiere itu?" ucapnya tersenyum sumringah.


Declan mengangguk, "Benar, Your Highness. Namanya Lady Luvena Lumiera. Dan Luvena, beliau adalah Pangeran Clainton, putra kedua His Majesty."


Pangeran Clainton? Seketika Eve teringat dengan Beckett yang pernah meledeknya dengan pria ini. Sepintas sang pangeran memang terlihat lebih tua dari mereka tapi tidak bisa juga dikatakan sepantaran dengan Margaret.

__ADS_1


Eve mengangkat ujung gaunnya sembari menunduk, "Senang bertemu dengan Anda, Your Highness."


Declan sedikit terkejut dengan sikap anggun yang Eve perlihatkan. Dari mana dia belajar cara menghormati anggota keluarga kerajaan jika di setiap pelajaran tata krama gadis itu selalu kabur? Tapi sekali lagi, Declan berhasil menyembunyikan keterkejutannya itu di balik wajah datarnya.


"Ah, seharusnya aku yang mengatakan hal itu. Kita keluarga, kan, jadi jangan sungkan-sungkan terhadapku," ujar sang Pangeran ramah. Sedari tadi senyum lebar tidak pernah lepas dari bibirnya. "Kalau begitu, selamat datang di keluarga besar kita, Lady Lumiera. Semoga kau betah di sini. Jika terjadi sesuatu, jangan malu untuk meminta pertolongan denganku, ya?"


"Tentu sa—"


"Tenang saja, Your Highness. Adikku akan aman bersama denganku."


"Hm, benar juga. Lord Lumiero selama ini, kan, tidak pernah dikalahkan." Pangeran Clainton terkekeh. Dengan gestur berbisik, dia mengatakan kepada Eve, "Kakak laki-laki yang posesif itu terkadang membuatmu sulit. Berhati-hatilah!"


Declan berdehem. Mendengar hal itu, sang pangeran tampak tertawa puas.


"Aku bercanda, Lumiere. Teruslah jaga adikmu dengan ketat. Wajah cantiknya ini tidak aman. Jika kau membawanya keluar, pastikan dia selalu memakai penutup wajah, ya?" Pangeran Clainton menghentikan tawanya, "Jika dibiarkan, bisa-bisa Keluarga Lumiere malah mendapatkan menantu yang bukan berasal dari Brodsway."


Declan hanya melirik Eve sepintas, namun dia tahu bahwa adiknya itu merasa tidak nyaman dengan ucapan terakhir sang pangeran yang seolah-olah memperlakukan Eve seperti ... boneka yang harus mengikuti setiap perintah bahkan dalam urusan pernikahan.


Declan kembali menautkan jarinya di antara jari-jari Eve. "Terima kasih atas perhatian pangeran. Tapi sepertinya kami tidak bisa berlama-lama di sini karena His Majesty sudah menunggu. Apa tidak masalah?"


Pangeran Clainton mengangguk, "Tentu saja tidak masalah. Tidak baik membuat His Majesty menunggu lama. Kalau begitu, silakan kalian pergi."


"Baiklah. Kami pergi dulu."


Usai menunduk hormat, baik Declan maupun Eve akhirnya angkat kaki dari sana menuju ruang pertemuan yang sudah disiapkan. Memang bukan acara formal, tapi demi menyambut kedatangan sang putri tunggal, mereka melakukannya dengan antusias.


"Sebagai alat perdamaian, begitu?" Eve tertawa remeh. Lebih ke arah ironi. "Cukup lucu saat mengetahui mereka berusaha mengatur-atur siapa yang berhak menjadi jodohku. Sebenarnya atas dasar apa aku harus melakukan perjodohan ini? Jika demi membalas budi, aku tidak pernah memiliki hutang apapun baik dengan Keluarga Lumiere atau pun dengan keluarga kerajaan."


Eve menoleh ke arah Declan. "Apa kau memiliki pemikiran yang sama seperti mereka, Declan?"


"Siapapun yang akan menjadi jodohmu, maka itu harus dari keputusanmu sendiri." Dengan kaku, Declan mengelus sayang rambut pirang adiknya. "Jika kau ingin, maka akan aku usahakan agar perjodohanmu dengan pangeran dari Brodsway berakhir batal."


......................


Seketika author juga pengen punya abang kek Declan😂

__ADS_1


Bagaimana, apakah menurut kalian part kali ini berakhir manis seperti senyumannya? ahahah, jangan lupa komentarnya, ya!!😆


Doakan author agar bisa istiqamah upload cerita ini setiap hari🤣


__ADS_2