Mendadak Bangsawan

Mendadak Bangsawan
Declan, Beckett, dan Pemikiran Mereka


__ADS_3

Hari demi hari berlalu. Di balik dedaunan willow yang tidak lebat, sekelebat cahaya menerobos masuk mengenai wajah Eve yang mendongak kosong. Apa ini, dia tiba-tiba merindukan mama, Garlein, dan juga seluruh warga di Clingeer. Wajah sangar gurunya yang dulu sering mengajari di mata pelajaran yang sering dia bolos pun tiba-tiba juga ikut memenuhi benaknya. Sialan, Eve tidak bisa melupakan mereka!


"Heh, jangan diam terus!"


Tanpa rasa bersalah, Ethan memukul kening Eve yang sebelumnya tertunduk lesu. Merasakan perih yang bersarang di keningnya, sontak Eve bangkit. Mengelus pusat nyeri yang diberikan Ethan sembari menatap ganas pelakunya.


"Sialan Ethan! Sehari saja bisakah kau berhenti menggangguku?!"


Tanpa mau mendengarkan elakan Ethan, Eve berusaha mengejar sekuat tenaga untuk memberikan balasan yang lebih terhadap kakak durhakanya itu. Enak saja main pukul-pukul, dirinya ini tengah bersedih, tahu!


Melihat interaksi konyol antara adik dan kakaknya, Beckett tertawa lepas. Buku filsafat yang sejak tadi dia pegang sudah terlepas di antara rerumputan hijau yang juga dia duduki. "Hei, coba lihat adik kita itu. Marahnya saja menggemaskan, sangat menghibur. Mungkin jika suatu saat aku harus menikah, mungkin aku akan mencari wanita yang mirip seperti adik kecil kita itu agar sisa hidupku tidak membosankan," ujarnya riang.


Declan duduk tak jauh darinya itu ikut melepaskan perhatian dari buku bacaannya. Hari ini demi melihat senyum Eve kembali —karena sebelumnya kecewa akan penolakan Margaret untuk kembali ke kastil Lumiere lagi— mereka bertiga rela mengajak si bungsu Lumiere itu belajar di tempat terbuka dengan pemandangan yang lebih indah dibandingkan di Clingeer.


Puluhan bahkan ratusan pohon willow ditanam rapi di sepanjang perbukitan. Di bawah sana, keindahan kota Carringtown yang menampilkan suasana padat dan sesak dapat dinikmati dari jauh meskipun tanpa menggunakan alat bantu apapun seperti teropong. Mungkin jika datang ke bukit tersebut pada malam hari, pemandangan yang disuguhkan akan terasa lebih indah dengan kelap-kelip lampu di setiap rumah dan toko.


"Jangan berharap bisa mendapatkan wanita seperti Eve," komentar Declan dengan nada suara khasnya; datar. "Wanita aneh sepertinya itu, mana mungkin ada duanya."


Beckett kembali tertawa lepas. "Aku tidak tahu apakah ucapan mu barusan itu memuji atau justru malah menghina." Kedua netra miliknya masih senantiasa membuntuti kemanapun Eve berlari mengejar Ethan. "Setelah kembali dari Clingeer beberapa hari yang lalu, Eve selalu murung. Syukurlah dia sudah kembali seperti dulu. Sikapnya yang seperti itu sempat membuatku terpikir untuk membujuk His Grace agar melepaskan Eve dari kehidupannya sebagai bangsawan. Dia berhak memilih antara hidup di sini ataupun kembali bersama duchess di desa lamanya."


"Permintaanmu itu tidak akan menyelesaikan masalah, justru memberikan dampak yang semakin besar terhadap hubungan baik antara Sasania dan Brodsway," balas Declan rasional, "anggap saja satu orang berkorban demi keberlangsungan satu negara. Itu merupakan tugas mulia."


"Maksudmu, harus Eve yang menjadi korbannya, begitu?" Beckett terkekeh, ironi. "Untuk apa dia melakukan hal itu? Selama ini dia dibesarkan seperti seekor burung lepas, maka selamanya dia harus seperti itu. Lain halnya jika dia dibesarkan seperti burung merak. Harta, keinginan, kemewahan, dan segalanya untuknya. Wajar jika merak itu membayar semua yang diberikan kepadanya dengan kebebasan hidupnya. Tapi bagaimana dengan Eve?" Wajahnya menggelap. "Eve terlahir sebagai merak cantik, namun dibesarkan seperti seekor burung lepas. Jika akhirnya dia dipaksa membayar segala kenyamanan hidupnya dengan pernikahan politik, maka katakan padaku. Kehidupan nyaman mana yang perlu dia bayar sementara selama ini dia tinggal pas-pasan di Clingeer?!"


Declan bungkam.

__ADS_1


"Terlahir sebagai anggota keluarga Lumiere adalah kesialan bagi Eve." Beckett berdiri, menepuk-nepuk bokongnya yang sedikit kotor akibat debu. "Kritik dari adikmu; kau terlalu memikirkan kesejahteraan Sasania yang sejak awal sudah ditanggung oleh Yang Mulia Raja. Sikapmu yang seperti ini tanpa sadar mengacuhkan kesejahteraan orang terdekatmu. Eve berhak bahagia atas pilihannya sendiri. Walaupun kau saudara kandungnya, aku tidak akan segan-segan untuk melawanmu jika itu berkaitan dengan Eve," ujarnya serius lalu pergi meninggalkan Declan. Pria itu memutuskan mengejar Ethan dan Eve yang tersengal-sengal sambil duduk bersandar di sebuah pohon yang cukup jauh dari mereka.


Declan termenung, apa yang salah dari sikapnya?


...----------------...


Ruangan super besar dengan lampu hias raksasa bergelantungan di atas langit-langit tentu membuat siapapun yang berada di tempat tersebut berdecak kagum. Namun lain halnya dengan Declan. Pria datar itu berjalan dengan langkah lebar sambil sesekali menanyakan beberapa hal penting terkait pekerjaannya kepada Rai, si asisten pribadi sekaligus tangan kanannya.


"Setelah ini ada pertemuan dewan bersama Jenderal Nicholas dan Pangeran Lucas. Anda diminta hadir di ruang temu."


Declan mengangguk. "Omong-omong, apa benar Putra Mahkota meninggalkan Sasania? Lama tidak bertugas, jadi tolong maklumi pertanyaanku yang sudah sangat terlambat ini."


"Tidak masalah, My Lord." Rai senantiasa berjalan tiga langkah di belakang tuannya. "Berita tersebut masih mengawang, bisa iya dan bisa juga tidak. Belum ada pengumuman resmi dari His Majesty terkait penerusnya. Jika Anda ingin mengetahui lebih detail, saya sarankan untuk bertanya kepada Jenderal Nicholas."


"Ah, Lord Lumiero sudah berhadir."


Panjang umur. Orang yang baru saja mereka bicarakan sudah berdiri siaga di depan ruang temu lengkap dengan sebilah pedang yang tersampir di pinggangnya. Jenderal Nicholas melemparkan senyum tipis sebagai bentuk formalitas.


"Apakah Putra Mahkota ada di dalam?" korek Declan seolah-olah tidak tahu apa yang terjadi.


"Untuk sementara waktu beliau tidak bisa kemari," jawabnya ringan, "jadi beberapa waktu ke depan Pangeran Lucas sendiri lah yang akan membimbing kita."


Declan mengangguk singkat. Bukan rahasia lagi jika Pangeran Lucas memiliki otak yang jauh lebih encer dan cerdas ketimbang Putra Mahkota. Mungkin itulah sebabnya Putra Mahkota kabur dari tanggung jawabnya, merasa minder dengan kejeniusan sang adik? Hah, tidak ada yang tahu. Yang jelas kecerdasan Pangeran Lucas bukanlah omong kosong belaka, sebab hampir sepertiga markas militer rahasia di Sasania dibangun berdasarkan pemikirannya yang dalam.


Hal random tiba-tiba terlintas di benak Declan. Andai Pangeran Lucas pada akhirnya memberontak, apakah Sasania akan hancur begitu mudah? Mengingat segala hal paling rahasia di pemerintahan saja terprogram hanya di luar kepala sang pangeran. Bahkan diantara pangeran-pangeran lain, dialah yang paling mengerti akan politik dan sistem di Sasania.

__ADS_1


Ah, semoga saja hal itu tidak pernah terjadi. Ya, sang pangeran begitu mencintai rakyatnya jadi pemikiran buruk ini pastilah mustahil.


"Pertemuan kali ini akan membahas permasalahan pelik tentang perbatasan barat Sasania yang ingin dikuasai negara tetangga," ucap Jenderal Nicholas sembari mengantarkan Declan ke dalam. Berjalan beriringan dan mengenyampingkan perasaan pribadi yang saling bermusuhan. Mereka benar-benar profesional. "Jumlah pasukan militer semakin berkurang. Oleh karena itu, kemarin sore Yang Mulia Raja secara khusus memintaku untuk menanyakan pendapat kalian; bagaimana jika kita menghadapi pasukan barat dengan bantuan Ksatria Nyx?"


"Separah itukah sampai-sampai kita memerlukan bantuan dari Ksatria Nyx yang tidak diketahui asal-usulnya?" Declan mengernyit, tidak setuju. "Bukankah ksatria dari kerajaan sendiri sudah cukup?"


"Jika melihat dari banyaknya jumlah musuh, ksatria kita belum cukup. Lagipula kualitas Ksatria Nyx ini tidak ada duanya. Tidak pernah diragukan," balas Jenderal Nicholas serius. "Walau pemimpin mereka tidak diketahui, tetapi selama mereka loyal kepada keluarga kerajaan, itu bukanlah suatu masalah besar."


"Ksatria Nyx memang selalu menjadi misteri. Hal apa yang mereka simpan rapat-rapat sampai tidak ada satupun yang tahu bagaimana keadaan di dalamnya." Declan berpikir keras.


"Jadi bagaimana, My Lord?" tanya Jenderal Nicholas setelah terjebak hening dalam beberapa saat. "Menurut Anda, apakah kita perlu meminta bantuan Ksatria Nyx lagi, atau berjuang dengan pasukan sendiri?"


Manik biru Declan mengawang ke segala arah. Berusaha berpikir sebijak mungkin agar korban jiwa tentara Sasania bisa ditekan dan konflik perbatasan segera diselesaikan.


"Kirimkan surat kepada Ksatria Nyx. Kita memerlukan bantuan mereka, secepatnya," jawab Declan. Mutlak.


...----------------...


Halohaa!


Declan sama Beckett adu cekcok tuh buat meluruskan masa depan Eve. Kalau kalian sepemikiran sama siapa? Declan yang mementingkan negara atau Beckett yang mementingkan kebahagiaan anggota keluarganya? komen di bawah👇🏼👇🏼


Last, maaf ga bisa update lancar kek dulu lagi. Udah kelas dua belas, mana semester dua pula, jadi author harus banyak-banyak belajar for better life. Kalau udah selesai *****-bengek menuju perkuliahan ini, insyaallah update bakal lancar jaya kek dulu lagi. Doain yaaa hikss😭🙏🏻


See you next episode👋😭

__ADS_1


__ADS_2