
"Teman-temanku kebanyakan bekerja sebagai pemahat aksesori permata. Banyak bangsawan yang menyukai olah tangan mereka. Kita harus ke sana," ujar Lucas bangga. Setelah pria itu menyimpan lencana kentaur miliknya untuk menghindari masalah lain, sekarang mereka kembali berjalan di jalan utama, tepatnya di sentral festival lilin. Di kiri dan kanan berjejer lilin-lilin dan hiasan unik lainnya. Lampion cantik tak kalah menunjukkan eksistensinya di tengah-tengah langit malam yang luas nan gelap.
Eve merapatkan penutup kepala yang dia pakai. "Kau berteman dengan semua kalangan tanpa membeda-bedakan status mereka. Suatu hal ajaib yang dilakukan oleh orang penting di kerajaan."
Lucas terkekeh. "Tidak juga. Aku hanya bergaul dengan orang-orang yang berguna." Dia menoleh, dapat merasakan bagaimana tatapan menusuk Eve mengarah padanya. "Pekerjaanku banyak dan selalu menumpuk, Eve. Tidak ada waktu untuk mengobrol omong kosong sementara masih banyak dokumen yang belum dibaca. Aku tidak bisa hidup sesantai itu, tidak bisa. Aku menanggung sebagian beban mereka, sementara mereka tidak menanggung beban ku sama sekali."
"Ya, kau pangeran. Lagipula status putra mahkota sebentar lagi berada di tanganmu. Pasti tugas-tugas yang datang semakin banyak," ujar Eve mencoba mengerti. "Berarti teman-temanmu yang bekerja sebagai pemahat aksesori ini juga bukan orang sembarangan, iya, kan."
"Cerdas!" Lucas menjentikkan jari. "Tapi jangan tebak siapa mereka."
"Kenapa?"
"Tebakanmu bisa saja benar." Ia menoleh, "Aku tidak ingin kau tahu secepat ini."
Eve mendengus. "Lalu untuk apa kau mengajakku menemui mereka?"
"Hanya iseng," jawabnya setengah berbohong. Sebenarnya Lucas ingin memperkenalkan Eve kepada 'teman-temannya' itu untuk berjaga-jaga. Lucas mengerti waktu. Dan dia tahu suatu saat, di saat yang genting bisa jadi dia tidak berada di samping Eve.
"Ayo kita pergi."
Lucas menggenggam tangan Eve lalu membawanya semakin jauh sampai memasuki area pasar. Biasanya pasar tidak buka jika di malam hari. Tapi berhubung festival sedang berlangsung, seluruh tempat justru terlihat lebih penuh dari hari-hari lain.
Seorang pria kekar kontras dengan tato mawar di pundaknya melambaikan tangan begitu menyadari kehadiran Lucas. Kepalanya digundul rapi, dan sebuah kaos tipis melekat pas di badan.
"Hei, Xerr. Lama tidak kemari. Bagaimana kabarmu?" ujar pria botak itu ramah. Aksen suaranya begitu lembut, sama seperti perempuan.
Lucas mengedikkan bahu, acuh. "Tidak ada yang berubah, Jason."
"Tapi kulihat-lihat sebentar lagi kau akan ada perubahan. Sudah mendapatkan pasangan, ya?" balasnya dengan nada menggoda begitu menyadari tautan tangan antara Lucas dan Eve. Dia berdehem, seperti memergoki dua remaja tengah jatuh cinta. "Nona cantik, siapa namamu?"
__ADS_1
"Luvie." Eve melirik Lucas yang lebih dulu menatapnya. Bukankah sebaiknya main aman saja? Eve tidak ingin memberitahu nama aslinya jika Lucas sendiri saja enggan memberitahu namanya.
"Ok, Nona Luvie! Surai pirang indahmu itu membuatku salah fokus. Sekarang aku merasa begitu tertantang untuk membuat sesuatu yang baru. Sesuatu yang belum pernah dipakai oleh orang lain, seperti...." Jason meletakkan jempol dan telunjuknya yang membentuk centang di bawah dagu sambil memperhatikan perhiasan-perhiasan yang dia buat. "Ini!"
Sebuah tusuk rambut dengan dua buah bunga berbeda ukuran, dilengkapi beberapa butir berlian safir dan juga permata yang dipahat menyerupai tetesan air semakin menambah keindahan benda tersebut. Indah, namun....
Eve mengernyit begitu Jason menyerahkan tusuk rambut tersebut kepadanya. "Bagaimana cara memakainya? Tidak mungkin, kan, aku menusuk kepalaku dengan ini?" tanyanya khawatir.
Mendengar penuturan polos Eve, sontak pria kekar itu tertawa terbahak. "Ya ampun, polos sekali. Xerr, Xerr. Dimana kau mendapatkannya?" Jason lalu kembali tertawa. Membuat Eve cemberut bukan main.
Dia benci diejek.
"Benda ini namanya tusuk rambut. Cukup terkenal di daratan Timur yang mayoritas wanita bangsawan di sana menggelung rambut mereka. Bagaimana, kau ingin coba juga?" jelas Lucas dengan suara lembut, berbeda jauh dengan Jason barusan. Bahkan pria itu rela menatap matanya lekat-lekat yang mana hal itu membuat Eve merasa dihargai betul-betul.
Eve mengangguk dua kali. "Aku mau!" ujarnya cepat. "Tetapi jangan sekarang. Suasana hatiku sedang buruk akibat temanmu itu," sambungnya bersungut-sungut. Pelan, namun tatapannya tidak bisa di dustakan.
"Aku tidak berbuat apa-apa!" bela Eve kesusahan. Kedua pipinya sekarang diperlakukan layaknya jeli yang dijadikan mainan oleh anak-anak.
Jason sekarang merasa serba salah. Antara membiarkan kedua orang kasmaran itu tetap larut di dalam kesenangan mereka dan dia tetap diam seperti manekin seolah tidak pernah melihat kejadian apa-apa atau cepat-cepat menyadarkan Lucas dan Eve bahwa dunia ini bukan milik mereka berdua saja. Oh, ayolah, opsi pertama adalah pilihan yang buruk, jadi Jason akan menyadarkan mereka berdua!
"Ekhem!" dehemnya dibuat-buat. Syukurnya hal itu berhasil menghentikan keduanya terbukti dari mereka yang serempak menoleh ke arah Jason.
Katanya kau ingin melihat-lihat tokoku, kan, Xerr." Jason berdiri, mendekati Lucas lalu mengajak mereka untuk masuk lebih jauh ke dalam tokonya.
"Ayo," ajak Lucas lalu menggenggam Eve sekali lagi. Sedangkan yang diseret hanya bisa pasrah mengikuti langkah lebar pria tersebut.
Ruangan yang kurang lebih berukuran 10x10 meter itu banyak dihiasi pernak-pernik yang bergantungan di berbagai sudut ruangan. Lantai dibuat dari marmer putih gading sehingga pantulan lampu gantung raksasa di lelangitan tampak memantul di antara kaki mereka. Benar-benar mendefinisikan sebuah toko perhiasan yang mewah!
__ADS_1
Namun khusus malam ini toko kebetulan sepi. Semua orang sibuk menyaksikan festival lilin di luar sana yang sebentar lagi akan mencapai puncak acara. Memastikan sekali lagi bahwa hanya ada mereka bertiga, Jason tiba-tiba menekan sesuatu di dinding sehingga dinding tersebut bergetar dan terbuka dengan sendirinya. Menampilkan undakan tangga menuju ruang bawah tanah yang gelap tak berujung.
"A-ada apa di sana?" tanya Eve pelan. Sedikit rasa khawatir menghinggapinya. Bagaimana jika Jason bukanlah orang yang baik? Bukan maksud menuduh, hanya saja ... itu tadi. Dia khawatir.
"Ada aku. Jangan khawatir." Lucas meremas telapak tangan Eve yang dipegangnya. "Di awal sudah ku katakan, kita akan mengunjungi teman-temanku, kan. Kebetulan mereka berada di bawah sana, sedang mengerjakan sesuatu. Jadi sebagai kawan yang baik, kitalah yang harus menghampiri mereka lebih dulu. Em, jika kau kurang nyaman dengan gelap, aku bisa membawa obor."
"Jika hanya gelap, aku sama sekali tidak masalah. Hanya sedikit terkejut, itu saja." Eve memberikan senyum tipis.
"Syukurlah. Kalau begitu ayo kita masuk." Lucas masuk lebih dulu sebab lebar tangga tidak muat untuk dua orang yang berjalan bersisian. Dilanjutkan Eve, lalu Jason paling belakang.
Sebelum Eve menyusul Lucas yang sudah masuk, Jason tiba-tiba bersuara.
"Tidak berlebihan jika aku menyebutmu wanita paling beruntung."
Eve menoleh. Dahinya mengerut. "Permisi?"
"Walau usianya jauh lebih muda dariku, tapi aku sangat menghormatinya. Tidak, menjadi pemimpin bukan masalah usia, namun kesanggupan seseorang untuk menanggung setumpuk masalah." Jason beralih menatap Eve kembali. "Dia pria berkomitmen."
"Berkomitmen?"
Jason mengangguk. "Aku tidak hanya mengenalnya sehari dua hari. Anak itu tidak pernah tertarik dengan hal-hal berbau romantis. Hidupnya sangat datar, asal kau tahu," ungkapnya jujur.
Eve menatapnya datar. Tidak pernah tertarik dengan hal-hal berbau romantis? Demi apapun yang ada di dunia ini, sudah tidak terhitung sejak awal mereka bertemu, Lucas itu memiliki mulut manis untuk merayu wanita!
"Dan coba tebak fakta mengejutkan lainnya."
"Langsung katakan saja."
Jason tertawa, "Baik-baik." Dia meredakan tawa.
__ADS_1
"Sejauh ini kau adalah wanita pertama dan mungkin juga akan menjadi satu-satunya yang diajaknya kemari."