
"Tidak."
Jawaban Hudson yang tidak tahu diri itu menciptakan suasana hening. Memuakkan.
"Panggil Putra Mahkota kemari. Hanya Putra Mahkota. Aku ingin bicara empat mata dengannya."
Tanpa banyak protes, Nicholas mengangguk. Lalu dengan penghormatan seadanya, ia melangkahkan kaki keluar dari ruangan tersebut.
Seperginya Nicholas, Hudson kembali merenung. Kekuasaannya sekarang berada di ujung tanduk. Bahkan di dalam istana sebesar ini, Hudson tidak memiliki dukungan apapun lagi entah dari para menteri ataupun barisan jenderalnya. Sebagai pelampiasan, Hudson menendang sebuah kursi yang biasa diduduki oleh salah satu petingginya di ruangan tersebut. Napasnya terengah-engah, antara marah dan kecewa, ia tidak bisa membedakan keduanya.
Apa yang rakyat lihat dari Lucas?
Salahkah jika ia menjadi raja yang mencintai kedamaian?
"Izinkan saya menghadap, Yang Mulia Raja. Semoga Anda hidup hingga seribu tahun lagi." Lucas menunduk, rasa hormatnya tidak akan pernah luntur kepada Hudson, bagaimana pun sikap buruk pria itu padanya selama ini.
Namun lain halnya Hudson yang mendengus saat sapaan itu lebih terdengar seperti sebuah ejekan di telinganya. Menariknya, ketimbang Jenderal Nicholas, Lucas justru tidak ada ubahnya sama sekali. Putranya itu masih tahu bagaimana harus bersikap di hadapan ayah sekaligus rajanya.
"Aku sudah dengar keberhasilanmu dalam merebut Brodsway," ungkap Hudson pelan. "Selamat, kau berhak mendapatkannya."
"Terima kasih, Yang Mulia."
"Sekarang, semuanya sudah selesai."
Hudson mencoba berpura-pura lupa akan taruhan mereka.
"Selanjutnya apa yang akan kau lakukan?"
"Saya akan mengembangkan potensi Brodsway sebaik mungkin. Melihat sumber daya alam mereka yang tidak lebih baik dari di sini, saya berencana untuk mengedepankan pendidikan dan kualitas sumber daya manusia. Dengan begitu, kekurangan mereka dapat ditutupi."
Salah satu alis Hudson menukik. "Kau yakin dapat melakukannya? Mewujudkan keinginanmu itu paling tidak akan memakan waktu paling cepat sepuluh tahun yang akan datang."
Sebagai jawaban, Lucas mengangguk. "Saya tidak pernah seyakin ini."
Mendengar keteguhan sang putra, hati Hudson terenyuh. Apalagi sejak awal memasuki ruangan, Lucas tidak sedikitpun mengungkit tentang janji Hudson yang akan menyerahkan Sasania ke tangan Putra Mahkota. Hudson tahu, Lucas masih mengingat janji itu dengan jelas. Namun dia masih menghormati sang ayah untuk melepaskan jabatannya secara sukarela tanpa desakan.
"Putra Mahkota, kau belum lupa dengan perjanjian kita, kan."
"Saya masih mengingatnya dengan jelas, Yang Mulia."
Hudson menghela napas. Bagaimana pun dia ingin menghindar, cepat atau lambat topik ini pastinya akan dibahas.
"Sebelumnya, katakan. Apa tujuanmu sampai seambisius ini untuk menjadi raja."
Lucas tersenyum. Tipis. Jika Hudson menginginkan kejujuran, maka dia tidak akan segan-segan mengatakannya.
"Banyak hal yang mendorong saya untuk memiliki Sasania. Alasan pertama, saya merasa muak saat mengetahui pemerintahan Anda tidak bisa melakukan apa-apa terkait kegiatan ilegal yang ternyata berasal dari campur tangan para bangsawan sendiri. Jabatan Putra Mahkota saja tidak bisa melepaskan hak bangsawan mereka dan memberikan hukuman berat bagi yang terlibat. Namun dengan menjadi raja, maka saya dapat melakukannya.
Alasan kedua, terkait dengan hubungan Sasania dan Brodsway. Saya pikir sudah saatnya bagi rakyat-rakyat berdamai tanpa menebar rasa benci. Hubungan buruk kita sudah berlangsung puluhan tahun lamanya, sehingga rakyat di kedua belah pihak sampai sekarang masih saling menghujat dan enggan berinteraksi. Jika saya menjadi raja, selain mendamaikan rakyat Sasania dan Brodsway, saya juga akan membuat mereka saling ketergantungan satu sama lain sehingga jarak yang selama ini renggang, perlahan bisa dikikis oleh kebiasaan baru."
__ADS_1
Hudson ... tertegun. Dia tak menyangka jika Lucas bisa berpikir matang seperti itu. Jangankan berencana, menyatukan Sasania dan Brodsway saja Hudson menginginkan jalan tengah. Jalan tengah, yang memerlukan pengorbanan dari orang lain.
"Dan alasan ketiga...."
Ekspresi serius yang sejak tadi menghiasi wajahnya, luntur seketika. Lucas tersenyum lebar.
"Saya ingin membahagiakan Lady Luvena. Itu saja. Singkat, namun bagi pribadi saya sebagai seorang pria, sangat penting membuat pasangan senang dari hal kecil, sampai besar."
Sang raja terkekeh. Dia sangat mengerti akan hal itu. Dia juga pernah merasakannya, dulu saat masih bersama ibu kandung Lucas, Ratu Sophia. Hudson sementara melupakan fakta itu. Dibalik cerdik dan hebatnya Lucas, dia tetaplah seorang pria dewasa yang baru saja memiliki seseorang yang dicintai.
"Rencanamu boleh juga. Sekarang, aku bisa menyerahkan takhta secara baik-baik padamu. Tapi...."
Inilah penghalang terakhir yang tidak akan bisa Lucas dapatkan dengan cara berperang. Hudson harap, dia tidak akan mendapatkannya sampai beberapa tahun kedepan.
"Suara rakyat itu jauh lebih penting. Tugasmu, dapatkan kepercayaan mereka dan kalau bisa, buat mereka sendiri yang datang dan meminta aku turun dari jabatan."
Lucas diam, namun tetap santai. Hudson salah menerjemahkan gelagatnya itu, menyangka bahwa Lucas tidak akan mampu melakukan syarat terakhir.
"Bagaimana, Putra Mahkota. Ah, anggap ini sebagai kemudahan. Jika kau bisa melakukannya sekarang, maka aku akan mangkat sekarang juga."
Gotcha! Lucas mendapatkan keinginannya.
"Anda yakin dengan apa yang Anda ucapkan, Yang Mulia?"
"Seorang raja tidak akan ingkar." Entah mengapa, terdengar aneh jika Hudson yang mengatakannya.
"Bagaimana jika saya sudah mendapatkan kepercayaan mereka jauh sebelum hari ini?"
"Saya hanya mengabarkan kebenarannya." Lucas menghela napas. Menghadapi orang keras kepala seperti ayahnya ini memang menyusahkan. "Sekarang, lihatlah ke luar jendela."
Kekhawatiran yang sebelumnya menguap, kini kembali lagi begitu melihat bagaimana kepercayaan diri terpancar kuat dibalik bola mata Lucas yang berwarna gelap. Bahkan Hudson merasa semakin panik.
"Apa maksudmu?!"
Lucas mengangguk. "Saya sudah mengatakannya sejak awal, Yang Mulia."
"T-tidak...." Hudson menatap nanar kerumunan rakyatnya di bawah sana. Dari jarak sejauh ini, dia dapat mendengar bagaimana mereka mengelu-elukan Putra Mahkota dengan rasa bangga.
"Tidak mungkin! Rakyatku tidak mungkin mengkhianati orang yang sudah memberikan segalanya untuk mereka! Selama ini, semuanya. Aku banyak berkorban! Jika sampai seperti ini, pasti ada yang salah. Benar, pasti kau!"
Hudson dengan mata memerah mengacungkan jarinya dengan lantang tepat di depan wajah Lucas.
"Kau menghasut mereka, kan?! Tidak bisa dipercaya, ada musuh di balik selimut. Jika tahu sifat busukmu yang ingin menggulingkan takhtaku secepat ini, sudah sedari kecil kau kupenggal!"
"Yah, bisa dibilang penyebab Anda diturunkan dari kursi raja karena kesalahan Anda sendiri, karena ragu membunuh saya sejak awal." Lucas menjawabnya datar. Toh, selama ini ia sudah terbiasa dengan umpatan sang ayah. Raja Hudson benar mencintai perdamaian —sampai-sampai rela dipijak negeri lain— namun mulutnya tidak akan ramah kepada orang terdekatnya. Termasuk Lucas.
"Tidak akan kubiarkan kesalahan itu terulang dua kali. Mungkin sekarang, adalah waktu yang tepat untukmu menyusul mendiang ratu."
Seolah mendapatkan keberanian dari amarahnya, Hudson akhirnya menarik pedang yang selalu bersembunyi di balik jubah kebesarannya. Pedang tajam itu, dalam hitungan detik sudah berada di depan wajah Lucas, begitu dekat sampai menyisakan beberapa senti.
__ADS_1
"Hentikan perbuatan Anda, Yang Mulia!"
Dari luar, pintu digebrak secara paksa. Seluruh menterinya telah berkumpul. Bagi Lucas kedatangan mereka tentu sangat menguntungkan, namun bagi Hudson jelas sebaliknya. Terlihat jelas bagaimana sang raja ingin menghabisi pewarisnya sendiri, di ruangan paling sakral di dalam istana. Ruang takhta.
"Masuk tanpa izin? Begitu kah cara kalian hormat padaku?!"
Hudson menatap tajam saat orang-orang kepercayaannya itu justru berbalik memihak Lucas. Kemana perginya kesetiaan mereka?
Lalu, sebenarnya siapa yang salah di sini.
"Dengan mengangkat Putra Mahkota sebagai raja baru, bukankah itu tanda bahwa kami masih menghormati Anda? Anda melakukan perjanjian dengan Putra Mahkota, maka sudah selayaknya kami mengabulkan sesuai isi perjanjian itu," sahut menteri dalam negeri yang selama ini ikut prihatin terhadap kondisi rakyat yang dibiarkan seadanya.
"Yang Mulia Putra Mahkota, sebelumnya kami sudah melihat dengan jelas apa yang akan diperbuat Yang Mulia Raja kepada Anda. Dia ingin membunuh Anda, pewarisnya sendiri. Dalam hukum Sasania, seharusnya Yang Mulia Raja mendapatkan hukuman serupa berupa penggal kepala." Menteri hukum ikut berbicara. Sejak dulu, dia memang tidak menyukai Hudson andai keponakannya, Ratu Ashley tidak menikah dengan pria tua bangka itu.
Sang raja —yang kini dianggap telah mangkat— menjatuhkan pedangnya. Lemas. Dengan sisa tenaga yang tak seberapa, ia terduduk tak berdaya di atas lantai yang dingin. Dia sudah kalah. Takhtanya tidak dapat dipertahankan lagi, dan juga hukuman mati sudah ada di depan mata. Mengejutkannya lagi, hukuman mati merupakan saran dari orang kepercayaannya sendiri. Sungguh, Hudson ingin meraung keras sekarang.
Hidup ini sungguh tak adil. Sungguh.
"Dia sudah memberikan banyak kesempatan untukku berkembang cepat di luar istana. Sebelumnya, dia juga sudah berlaku baik kepada mendiang ratu yang merupakan ibuku."
Lucas memapah ayahnya itu untuk kembali berdiri. Hudson masih terdiam. Syok. Dengan lembut, sebagaimana seorang anak memperlakukan orang tuanya, Lucas tersenyum hangat untuk menguatkan.
"Oleh sebab itu, Ayah, saya tidak akan setega itu untuk membunuh Anda. Sebagai gantinya, Mansion la Eriosta sebelah timur Sasania akan menjadi tempat tinggal Anda kelak. Bersama Lady Ashley, tentu saja."
"Benarkah?"
Lucas mengangguk yakin. Semua menteri yang berdiri di depan pintu menganga tak percaya. Siapa yang tidak terkejut. Jaminan hidup mewah akan terus membayangi ayahnya jika dia tinggal di dalam mansion elit itu sampai tutup usia.
"Tetapi aku sudah berniat membunuhmu, Lucas. Seharusnya kau juga menjatuhkan hukuman mati untukku, bukan malah sebaliknya." Setetes demi setetes, Hudson akhirnya tidak dapat lagi menahan air mata yang sejak tadi ia tahan.
Sembari menepuk-nepuk punggung ayahnya agar lebih tenang, Lucas bersuara. "Sebagai seorang anak, tidak layak jika saya melakukannya."
Tangisan Hudson semakin pecah. Dibalik keganasannya, siapa sangka Lucas bisa selembut ini kepadanya. Jujur, Hudson merasa mereka berdua tidak pernah sedekat ini. Hubungan keduanya selalu dibalut keformalan. Sedikit rasa penyesalan juga menyerang hatinya. Hudson menyesal telah melewatkan masa di mana Lucas masih kecil, menginginkan perhatian darinya. Yah, semua itu sudah terlambat. Dan syukurnya, Lucas tumbuh jauh lebih baik dibalik punggung ketidakpedulian sang ayah.
"Lucas, putraku. Sekarang aku akan melepaskan semuanya. Buat leluhur kita iri, dengan segala kehebatanmu itu."
Sebagai akhir, sebelum mereka berpisah, Hudson sempat memberikan senyum terbaik. Tangannya bergerak melepaskan mahkota yang ia pakai, lalu meletakkannya di atas kepala Lucas.
"Selamat berjuang, Yang Mulia Raja Lucas Roosevelt."
...END...
...----------------...
Selesai, guys. Karena temanya fokus ke keluarga ketimbang romantis, maka aku rasa Mendadak Bangsawan sudah cukup sampai di sini. Eits, belum selesai sepenuhnya, ya. Masih ada ekstra part yang menunggu kalian😉
Ada keluh kesah? Tulis di kolom komentar👇🏼
Like, komen, dan kasih vote ya, jari author pegel loh ngetik lebih dari 7000 kata🤪🤣
__ADS_1
See you next episode👋😉