
Sakit? Tentu saja.
Pria mana yang akan baik-baik saja setelah selesai menghadiri acara pernikahan wanita idamannya. Garlein bahkan belum pernah mengungkapkan isi hatinya kepada gadis kecil yang sekarang sudah menjelma menjadi ratu itu. Tidak pernah.
Awalnya Garlein berniat melakukan perjalanan ke ibukota bulan depan untuk menjual barang dagangan sekaligus menemui Eve yang sudah lama tidak pulang ke desa. Dan juga, berhubung usianya sudah memasuki dua puluh tahun, Garlein mencoba untuk menjalin hubungan yang lebih dekat. Toh, Margaret sudah mengenalnya sejak dulu. Setidaknya Garlein sudah mengantongi restu dari pihak ibu.
Namun niat Garlein itu harus dikubur dalam-dalam saat melihat selembar kertas berbahan khusus ditempel di papan pengumuman, sore ini. Nama Eve dituliskan dengan detail di sana, bersama dengan marga keluarga bangsawan terkenal yang melekat di akhir kata namanya, dan lebih hancurnya lagi, ada nama lelaki yang juga menyertai selebaran undangan pernikahan itu. Ya, Eve akan menikah, tetapi bukan dengan dirinya.
Fakta mengejutkan bertubi-tubi menyerang pria baru dewasa itu. Yang pertama, Eve adalah anggota keluarga Lumiere. Kedua, dia akan menikah.
Dan fakta terakhir, yang semakin membuat Garlein patah hati adalah saat mengetahui bahwa calon suami Eve ialah Putra Mahkota yang sekarang. Karena Yang Mulia Raja sudah mangkat, otomatis dialah yang akan menjadi raja menggantikan ayahnya.
Lalu Eve akan menjadi ... ratu.
Disaat orang lain berbahagia saat melihat selebaran itu, Garlein justru sebaliknya. Sudah tidak ada harapan. Eve sudah hilang dari jangkauannya sekuat apapun Garlein mencoba untuk meraihnya kembali.
Diantara kerumunan itu, seseorang menepuk pundak Garlein. "Ayah tahu perasaanmu."
Garlein mencoba tersenyum tipis. "Begitu kentara, ya?"
Johan menaikkan kedua bahunya. "Hanya insting sebagai seorang ayah."
"Tetapi aku bahkan belum berjuang sedikitpun."
"Berjuang melupakannya?"
"Tentu saja berjuang untuk mendapatkannya," jawab Garlein kesal yang dibalas kekehan geli dari sang ayah.
"Dia sudah jauh, Lein. Tempat kita, bukanlah dunianya lagi. Terkadang sakit hati akan membawamu kepada sesuatu yang jauh lebih mengagumkan. Daripada bersedih, bukankah jika lebih baik kau melakukan perjalanan?"
"Perjalanan?"
"Untuk melupakannya," jawab Johan bijak. "Kembalilah jika kau merasa benar-benar sudah mengikhlaskan Eve di dalam hatimu."
Garlein menghela napas. "Terdengar sulit."
"Belum tahu jika tidak dicoba."
"Bagaimana jika aku tidak bisa melupakannya?"
"Tergantung seberapa keras caramu berjuang," sahut Johan meyakinkan.
__ADS_1
Garlein menunduk. "Bagaimana jika ... aku merebutnya dari Putra Mahkota?"
"Hei, jangan bercanda. Undangan sudah disebar, lagipula lawan mu ini adalah orang hebat. Bukan bermaksud merendahkan putraku sendiri, tidak. Tetapi mengingat kau dan Eve saja sudah lama tidak bertemu, apakah kau masih yakin dia akan memilihmu ketimbang cintanya?"
Walau sakit, tapi itulah realitanya. Johan berusaha menyadarkan Garlein agar dia mau mengerti. Mau melawan Lucas? Yang benar saja, yang ada dia yang cari mati.
Tanpa mengatakan apa-apa, Garlein yang terlanjur kecewa berbalik pergi meninggalkan Johan lengkap dengan ekspresi murung. Dinding antara dirinya dan gadis itu semakin lama semakin menebal, lalu berakhir buntu seperti sekarang. Jika ada kesempatan, Garlein ingin bertemu Eve sekali lagi. Untuk terakhir kalinya, setidaknya.
Garlein di balik ketertundukannya, tersenyum miris. Keinginannya barusan cukup tidak tahu diri, ya.
"Oi, Garlein!"
Dari jauh Johan kembali memanggilnya.
"Kabarnya besok pagi Margaret ingin menemui putrinya. Apa kau mau ikut? Sekalian, untuk melepas kenangan masa lalu." Di saat seperti itu, Johan masih bisa tertawa renyah.
Keinginannya terkabul.
"Baik!" jawab Garlein kembali semangat. Sebuah senyum lebar, diberikannya tanpa paksaan.
Mungkin sudah saatnya melepaskan. Bagaimanapun caranya.
"Kudengar kabarnya besok adikmu akan menikah. Apa benar?"
Derik binatang malam menghiasi suasana hening di sekitar mereka. Api unggun sudah dinyalakan sejak beberapa jam yang lalu, sekadar untuk menghangatkan tubuh sekaligus membantu Felix mengeringkan pakaiannya yang basah total. Ikan-ikan di sungai berenang dengan sangat cepat, sehingga pria itu tidak dapat menangkapnya lalu berakhir tercebur dalam keadaan kepala yang mendarat duluan. Lebih menyebalkannya lagi, teman seperjuangannya, Raphael, hanya bisa menertawakan kekonyolan Felix sampai sakit perut. Sama sekali tidak ada niatan membantu.
Mencegah tatapan penuh tanda tanya itu, Felix pura-pura membalik ikan yang diletakkannya di atas api unggun. Lapar, ia ingin makan sekarang sebelum memasuki topik pembicaraan yang berat.
"Mendadak bisu, Putra Mahkota?" ledek Raphael tidak sabaran.
"Aku bukan Putra Mahkota lagi. Lain kali, jangan panggil aku seperti itu," jawabnya sinis.
"Ho? Bukankah melepas gelar itu adalah keinginanmu sendiri. Mengapa sekarang justru terlihat kesal. Aish, apa jangan-jangan kau menyesal?" tuding Raphael sekali lagi.
"Aku tidak menyesal. Pangeran Lucas pantas mendapatkan takhta itu. Dia berbakat, dan juga pandai bertarung. Dibanding dia, aku ini sama sekali bukan apa-apa," sahut Felix merendah.
"Ei, mengapa begitu pesimis?" Raphael menepuk pundaknya. "Masing-masing ada kelebihan dan kekurangan. Jangan anggap semua kekurangan ada pada dirimu dan segala kelebihan hanya ada pada diri Pangeran Lucas."
"Coba katakan, apa kelebihan ku dibanding Lucas."
Raphael terdiam. Memikirkan.
__ADS_1
"Sudah kuduga seperti inilah reaksimu. Tidak ada yang salah, toh, dia memang benar-benar sempurna."
Felix berdiri, mengambil ikan yang sudah dimasaknya itu lalu memijak sisa api unggun untuk mematikan apinya. Terakhir, bekas ranting-ranting yang dibakar itu ditutupinya dengan dedaunan agar jejak mereka tidak mudah terendus oleh siapapun.
"Ha, mau kemana?!"
"Kemana saja asalkan tidak di sini." Felix memasuki hutan sembari menggigit ikan hasil buruannya itu lahap. "Lucas sepertinya sudah mengirimkan pasukan elitnya untuk menemukanku. Jika menunggu pagi, aku tidak yakin kita masih bisa berlari-lari di hutan lagi seperti sekarang."
"Lalu, kemana tujuan kita?"
"Sementara Desa Macsmare. Lalu rencananya menyebrangi laut menggunakan kapal."
Setelah itu hening. Baik Felix maupun Raphael sama-sama diam tak bersuara.
"Felix."
"Hm."
"Sekarang aku tahu kelebihan mu."
"Jangan aneh-aneh," balas Felix berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Kau satu-satunya orang yang bisa berkelit dari pantauan pasukan elitnya Pangeran Lucas. Mengetahui siapa anak buahnya, mustahil susah menemukan satu orang sepertimu apalagi kau sendiri masih berada di Sasania dan juga orang terkenal. Jika bukan kelebihan, maka itu disebut apa?"
Sang pangeran tersenyum, sembari melangkah ia menatap jauh bintang-bintang yang bertaburan di atas sana.
"Lucas sudah mengendorkan pasukannya untuk mencari ku, tidak seperti mantan raja. Aku senang dengan keputusannya."
"Apakah itu berarti Pangeran Lucas senang atas kepergian Anda? Dia bisa menguasai takhta dengan bebas!" sangka Raphael negatif.
"Ah, bukan begitu. Sebenarnya Lucas itu diam-diam pengertian."
"Pengertian dari mananya?!"
"Sejak dulu memang dialah yang paling tahu bagaimana sifat ku. Apa keinginanku. Semuanya." Mengingat masa kecilnya dengan Lucas, Felix tiba-tiba merindukan suasana itu.
"Dan dia jugalah yang paling mengerti bagaimana aku membenci kekuasaan. Aku tidak pernah ingin menjadi raja, dia juga yang tahu betul tanpa harus aku mengatakannya terlebih dahulu. Maka dari itu ... dia mengerti pilihanku."
Felix berbalik, memberikan senyum lebarnya yang lepas kepada pelayan setianya itu.
"Dia memberikan sesuatu yang tidak bisa aku dapatkan sendiri. Bebas. Itulah yang aku inginkan, Raphael."
__ADS_1