
"Lord Lumiero ada di dalam?"
Prajurit yang berdiri di depan pintu tersentak kaget. Tidak biasanya Eve yang sering menerobos masuk tiba-tiba mau bertanya terlebih dahulu kepada mereka.
Mereka memberikan gestur hormat. Salah satunya menjawab, "His Lordship tidak ada di sini, My Lady. Sejak satu jam yang lalu duke memanggil His Lordship ke perpustakaan."
"Oh, begitu." Eve mengangguk paham. "Kira-kira apakah mereka akan lama?"
"Saya kurang tahu. Mungkin sebentar lagi—"
Belum selesai prajurit tersebut berucap, Eve dengan cepat berbalik lalu pergi dengan langkah lebar terkesan berlari. Jika guru tata kramanya tahu, mungkin Eve akan terkena masalah besar. Untungnya hari ini jadwalnya belajar menyulam, jadi Eve tidak perlu repot-repot untuk bersikap anggun.
"Declan dan His Grace sedang bersama. Kesempatan emas ini tidak boleh terlewatkan!" seru Eve senang. Seperti memanah dua ekor burung dalam satu anak panah, dia bisa mengajak Declan sekaligus meminta izin kepada Duke of Lumiere perihal perjalanan dadakan mereka. Tapi Eve tidak berharap lebih mengingat sifat Zachary yang susah diajak negosiasi.
Yah, setidaknya masih ada gerbang belakang untuknya menyusup keluar. Andai Zachary tidak memperbolehkan dirinya pergi.
Perpustakaan Lumiere terletak di lantai dua ujung kastil ini. Sebuah pintu kayu tua setinggi empat meter membatasi antara lorong dan ruang dengan aroma buku yang khas tersebut. Mengetahui usia keluarga Lumiere yang tergolong sangat muda —karena dirintis langsung oleh Zachary— namun mampu mengambil pengaruh besar terhadap perkembangan Sasania, Hudson selaku raja yang sangat percaya dengan sang adik diam-diam memindahkan buku-buku penting di istana ke perpustakaan Lumiere. Tujuannya tentu saja agar buku-buku penting tersebut tidak jatuh ke tangan orang yang salah mengingat istana sendiri lebih mudah diakses oleh bangsawan mana pun.
Jadi, jika ditanya tentang isi, Perpustakaan Lumiere tentu lebih lengkap dibanding perpustakaan istana. Dan mengenai hal ini, hanya beberapa bangsawan tinggi terpercaya saja yang mengetahuinya. Khususnya bangsawan faksi Pangeran Lucas.
Setelah mencapai pintu, Eve mengatur napasnya yang sempat memburu. Lama tidak berlari membuatnya cepat letih, terlebih kastil Lumiere memiliki lorong yang panjangnya bukan main. Dengan sisa tenaganya, Eve mengetuk pintu kayu tersebut sebanyak tiga kali.
"Masuk!"
Ah, suara itu Eve mengenalnya. Milik Zachary. Setelah berhasil meredakan napasnya, perlahan Eve membuka pintu. Tatapannya disuguhi dengan berbagai rak-rak yang —tentu saja— dipenuhi buku. Hampir tidak ada celah kosong di antara buku-buku tersebut. Semuanya tampak rapi dan terawat. Ditambah lagi aroma kertas tua yang ditangkap indra penciuman Eve, lama-kelamaan dia merasa ingin menetap di sini.
"Mencari aku?"
Eve menoleh ke arah sebuah meja bundar yang terletak di samping jendela dilengkapi dua buah kursi yang masing-masingnya diduduki oleh Declan dan Zachary. Di atas meja, tampak sebuah buku tua dengan kertas berwarna kekuningan dan dua cangkir kopi yang masih mengepul turut menemani mereka.
__ADS_1
Eve mendekati keduanya. Merasa aneh dengan pertanyaan yang sebelumnya Zachary lempar. "Kalian. Aku mencari kalian."
"Eve, bisakah sehari saja kau biarkan aku bekerja dengan tenang? Kali ini masalah apa lagi yang kau lakukan sampai nekat kemari? Padahal aku yakin prajurit yang berada di depan ruang kerjaku sudah mengatakannya padamu. Aku sedang bekerja bersama duke. Tidak bisakah menunggu sebentar?" sembur Declan yang kesal karena akhir-akhir ini Eve selalu menempel dengannya. Tadi pagi dia tidak mendengar suara Eve yang biasanya berteriak di depan pintu kamarnya. Benar-benar bersikap seperti alarm. Declan sudah mengambil napas lega. Mungkin dia tidak akan diganggu. Sayangnya Declan salah besar, Eve sepertinya memang berniat untuk membuatnya susah.
Eve membekap mulut. "Declan, aku tidak menyangka...."
Declan tercenung. Dalam hitungan detik, amarahnya menguap seketika. Tidak seharusnya dia memarahi Eve apalagi adiknya itu perempuan. Dirinya adalah sandaran bagi Eve. Selain kepada ayah mereka yang maniak kerja, kepada siapa lagi Eve bisa mencurahkan isi hatinya?
"Eve aku tidak berniat untuk bicara—"
"Kau bicara panjang lebar, Declan. Woah, suatu pencapaian yang luar biasa bagiku. Eh, tidak. Bagi Sasania. Aku yakin sebentar lagi namaku akan termasuk di dalam daftar penghargaan—"
"Ekhem!" Zachary berdehem keras. Sedikit kesal karena keberadaannya tidak dianggap di antara dua orang ini.
Hei, seumur hidupnya, Zachary tidak pernah diabaikan!
"Untuk apa kau kemari." Pria itu melirik Eve tajam. "Jika tidak ada yang penting, lebih baik bermain saja sendiri di taman!"
"Sendirian?"
"Tidak, aku bersama Declan."
Yang disebut langsung memberikan tatapan maut.
"Apa salahnya? Kau kan putra mama juga," ujar Eve membela diri.
"Katakan, Luvena." Zachary menopang kepalanya di atas meja menggunakan kedua tangan. "Kamu pikir, apa alasanku untuk memperbolehkan mu kembali ke sana?"
"Tidak perlu alasan mu, Your Grace. Suka ataupun tidak, aku akan tetap pergi," sahut Eve kekeuh.
__ADS_1
Zachary menaikkan sebelah alis. "Berani melawan?"
Mengingat syarat agar Margaret bisa tinggal di kastil lagi adalah dengan bersikap baik, Eve perlahan mengubah ekspresinya. Terpaksa. Dia tersenyum lebar, nyaris mengerikan. "Tidak, Your Grace. Tentu tidak. Maksudku ... suka ataupun tidak, aku akan berusaha mengajakmu ikut serta bersama rombongan kami. Pasti sangat menyenangkan. Bukan begitu, Declan?"
Declan yang notabenenya selalu bersikap tenang kini melirik adiknya itu dengan ... aura yang berbeda. Apalagi setelah namanya ikut dipaut-pautkan, rasanya Eve hari ini cukup menyebalkan.
Melihat ekspresi itu, jurus terakhir Eve keluar. Dengan sisa harga diri yang ada, dia menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Manik birunya nan teduhnya itu dengan berani menatap balik netra kakaknya dan ayahnya secara bergantian. "Ayolah, lagipula selama tinggal di sini aku tidak pernah pergi kemana-mana kecuali istana dan beberapa tempat yang memang seharusnya dikunjungi. Biarkan aku menikmati kebersamaan bersama kalian. Tahun depan, aku berjanji tidak akan menyusahkan lagi." Eve melanjutkan sandiwaranya, tersenyum kecut. "Karena selanjutnya aku akan menikahi orang asing yang jauh dari sini. Meninggalkan kalian yang mungkin bahagia atas kepergian ku. Ya, itu pantas. Sejak awal aku memang menyusahkan dan mengganggu, kan."
Baik Declan maupun Zachary sama-sama bertatapan tanpa suara. Jika dipikir-pikir, mereka cukup kasihan dengan nasib Eve berikutnya. Brodsway bukanlah negeri yang menjunjung tinggi kaum wanita tapi bukan berarti mereka memperlakukan wanita seenaknya. Hanya saja kepemimpinan daerah tidak diperkenankan diduduki oleh seorang wanita. Berbeda dengan Sasania yang menyetarakan kedudukan baik itu pria maupun wanita selama ada garis keturunan.
"Kita pergi." Zachary menghela napas, berbanding terbalik dengan Eve yang tersenyum cerah. Sandiwaranya berhasil sukses tanpa membujuk lebih jauh. Declan hanya mengangguk perlahan, malas untuk berdebat apalagi mengeluarkan pendapat —yang menurutnya— tidak penting
"Ini yang terakhir, ingat. Setelah ini akan ada banyak pelajaran kebangsawanan yang harus kau pelajari dan terapkan sebagai persiapan sebelum peresmian mu menjadi anggota keluarga Lumiere dilaksanakan. Mengerti?"
"Baik, aku sangat mengerti!"
Zachary tersenyum kecil. Kedepannya, dia tidak tahu akan bagaimana. Memutuskan ikut pergi ke sana mungkin bisa menjadi bumerang bagi sang duke. Hatinya mungkin belum siap untuk bertemu kembali dengan Margaret. Tapi kesedihan Eve menggoyahkan dirinya.
Ah, mungkin keputusan untuk ikut adalah keputusan yang akan paling Zachary sesali setelahnya.
......................
Maaf, guys. Updatenya lama. Aku kena writer's block soalnya😩
Untuk episode kali ini aja aku sering banget hapus beberapa bagian karena ngerasa itu kurang cocok. Memang nulis tergantung mood, sih. Dan akhir-akhir ini mood ku cukup ambyar.
Ok, sekian semoga kalian bisa ngerti. Btw, tiga orang yang terdiri bapak sama dua anaknya ini bakal nyamperin Margaret. Kalau kalian jadi Margaret, apa yang akan kalian lakukan saat melihat wajah Zachary tiba-tiba muncul di depan rumah?
Ngejar Zachary ala-ala film Bollywood, getok kepalanya, atau ada yang lain?
__ADS_1
Tulis di kolom komentar!😉
See you next episode 👋