Mendadak Bangsawan

Mendadak Bangsawan
Ambisi Eve yang Sebenarnya


__ADS_3

Dua jam berlalu dan akhirnya pembicaraan Declan dan Yang Mulia Raja berakhir. Teh di depannya sudah mendingin sejak satu jam yang lalu. Di dalam ruangan serba kaca itu, Declan menoleh ke luar. Diperhatikannya bulan yang semakin tinggi ke atas, pertanda bahwa malam sudah semakin larut.


"Sudah terlalu malam. Bagaimana jika kalian menginap saja di istanaku?"


Declan menggeleng samar, "Sepertinya kami langsung pulang saja, Your Majesty."


"Baiklah jika itu mau mu, aku tidak bisa melarang," jawab Hudson tidak ingin memaksa. "Oh, satu lagi. Jika ayahmu sudah lebih tenang, tolong katakan padanya bahwa aku ingin bicara."


Declan menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa tidak sekarang selagi His Grace ada di sini?"


Hudson tertawa pelan. "Dia sedang marah dan itu cukup menyeramkan. Lebih baik aku jaga aman, kan?" ujarnya diselingi canda.


Bahkan orang nomor satu di Sasania pun takut dengan Duke of Lumiere? Luar biasa.


Enggan berbelit-belit, akhirnya Declan menjawabnya dengan anggukan singkat. "Akan saya sampaikan."


"Baguslah." Hudson kemudian berdiri, diikuti Declan yang dalam kondisi apapun masih menunjukkan sopan santunnya. Sebagai tanda perpisahan, sang raja menepuk pundak keponakannya itu. Memperlakukan Declan persis seperti putranya sendiri.


"Dengan kecerdasan mu, kedepannya aku yakin kau akan jauh lebih bijak ketimbang Zachary. Jangan sia-siakan jalan yang sudah kau lewati saat ini. Dan biar ku tekankan sekali lagi, jangan biarkan saudara-saudaramu merebut posisi Duke of Lumiere selanjutnya, mengerti?"


"Mengerti, Your Majesty."


"Senang mendengarnya," jawab sang raja sebelum memberikan senyum tipis, lalu pergi dari ruangan tersebut diiringi beberapa pengawal yang berjalan tegap di belakangnya.


Itulah Hudson, pamannya sekaligus raja Sasania yang paling ambisius untuk menjadikan Declan sebagai duke yang menggantikan posisi Zachary. Dia menekan Declan, bahkan melebihi Duke of Lumiere itu sendiri.


"My Lord." Setelah kepergian raja, Rai yang notabenenya adalah pengawal sekaligus tangan kanan Declan itu baru bisa menemui tuannya. Suaranya sarat akan kegelisahan, membuat Declan mengerutkan kening.


"Ada apa, Rai?"


"Her Ladyship dan saudara Anda yang lain sedang bersenang-senang di aula," gumamnya pelan.


"Lalu apa salahnya?"


"Masalahnya Lady Luvena mabuk—" Rai terkejut saat Declan tiba-tiba langsung berlari keluar padahal penjelasannya belum selesai. "Eh, My Lord!"


"Baru ditinggal beberapa jam saja dia sudah berbuat onar?" Declan menggeram marah. Anak tangga ulir yang harus dilewatinya semakin membuat Declan ingin mengumpat sejadi-jadinya. "Bocah satu itu ... awas saja nanti!"

__ADS_1


"Awas!" Rai syok tatkala melihat Declan yang tidak sabaran memutuskan meloncat dari atas daripada menghabiskan beberapa detik waktunya untuk menuruni anak tangga satu-persatu.


Dikarenakan tengah malam, lorong istana pun jauh lebih sepi dibanding saat siang hari. Hanya terlihat beberapa prajurit yang tengah berjaga di sekitar lorong-lorong, membawa obor dan tombak di tangan mereka. Langkah Declan semakin lebar tatkala dia melihat cahaya yang berasal dari dalam aula. Jika terjadi sesuatu pada Eve, Declan tidak akan mengampuni Ethan.


Tidak menunggu lama setelah berada di depan pintu, Declan langsung mendobraknya sama seperti petugas keamanan yang berhasil memergoki gembong narkoba. Di depan sana, di sebuah meja persegi panjang terlihat Ethan dan Beckett yang sama-sama terlihat kacau sambil memegang kendi arak di tangan mereka. Begitu juga dengan Jenderal Nicholas, pria yang berhasil menjadi jenderal di usianya yang terbilang sangat muda itu tampak memangku wajah di kedua tangannya yang diletakkan di atas meja. Sekalipun tatapannya tidak pernah lepas dari Eve yang duduk diapit oleh kedua kakaknya.


Dan Eve sendiri tidak lebih baik dari mereka bertiga.


Menyadari tatapan berbeda dari sang jenderal kepada adiknya, tatapan Declan berubah gelap. Rai yang baru sampai pun dibuatnya kaget dengan perubahan si pewaris Lumiere itu.


"Rai. Cepat jauhkan Jenderal Nicholas dari sini sebelum aku mencongkel kedua bola matanya."


Ucapan Declan terdengar serius. Bahkan Rai sempat merasakan bulu kuduknya berdiri selama beberapa saat. Dengan anggukan terpatah-patah, dia segera menghampiri Declan. "B-baik, My Lord."


Usai memerintahkan hal tersebut, Declan menghampiri Ethan dengan kepalan tangan yang siap didaratkannya di wajah si sulung Lumiere itu. "Ethan sialan, mengapa kau berani mengajak Eve mabuk, ha?!"


Ethan yang merasa kerah bajunya ditarik Declan hanya bisa menatap adiknya itu sendu. Kemudian mengulum senyum. "Mabuk? Siapa? Eve tidak mabuk, kok. Dia sedang menari di antara bintang-bintang." Ethan menunjuk lelangitan aula. "Lihat, itu adikku. Yang paling cantik."


Sialan, Ethan juga mabuk. Tapi setelah sadar nanti, dia tidak akan selamat dari amukan Declan.


Sepintas melihat Beckett yang kurang lebih seperti Ethan hanya bisa membuat Declan gusar. Tanpa kata, dia menarik Eve ke dalam gendongannya. Melupakan kedua saudaranya yang juga kehilangan kesadaran.


Biarkan saja mereka menginap di sana sampai besok!


Eve yang merasa hangat menyusupkan hidungnya di antara dada bidang Declan yang tertutup pakaian tebal. "Eum, ini aroma Declan. Kau mencuri parfum kakakku, ya?"


Declan meliriknya sekilas, lalu berdecak. "Ck, merepotkan."


"Ya, kau benar. Hidup ini memang merepotkan dan juga membosankan sampai rasanya aku ingin mati saja. Atau memang lebih baik mati, ya? Jadinya 'kan aku tidak perlu pusing memikirkan rencana untuk kedepannya. Hidupku akan bahagia jika tidak melakukan apa-apa!"


Lorong istana yang sepi itu hanya dihiasi oleh celotehan Eve yang tidak penting. Daripada menjawab ucapan orang mabuk, Declan memutuskan untuk diam saja sampai Eve merasa lelah sendiri.


"Hei, karena wajahmu mirip dengan salah satu kakakku yang paling tampan, maka aku akan menceritakan 'sedikit' rencana ku padamu. Sesuatu yang sangat ingin Declan ketahui, rahasia yang tidak pernah aku bagikan kepada orang lain," gumam Eve dengan pipi memerah, tanda dia sedang mabuk berat.


Langkah Declan terhenti. Terhitung sejak Eve yang pernah mengatakan bahwa dirinya memiliki rencana sendiri, Declan selalu menerka-nerka apa kiranya yang Eve inginkan.


Peribahasa bahwa dinding istana memiliki telinga bukanlah omong kosong belaka. Declan tahu jelas akan hal itu. Daripada seseorang mendengar celotehan Eve dan melaporkannya kepada raja Sasania, lebih baik dirinya cepat-cepat bergerak dengan membopong tubuh adiknya itu ke salah satu kamar tamu yang sudah disiapkan raja sebelum menawari mereka untuk menginap.

__ADS_1


Sepertinya Declan harus menerima tawaran sang raja untuk bermalam di istana.


"Sekarang katakan. Apa rencana mu."


Eve berguling nyaman ketika tubuhnya berhasil disatukan dengan ranjang yang empuk. Declan tahu jika cara ini curang. Dia mengorek informasi dari orang mabuk. Tapi apa boleh buat, penasaran semakin melanda dirinya.


Setidaknya Declan harus memastikan agar Eve tidak merencanakan sesuatu yang berbahaya.


"Aku ingin menjadi duke selanjutnya."


Perkataan Eve meluncur begitu saja. Sontak Declan menegang. Dari beberapa kalimat itu, dia tahu apa yang akan adiknya itu lakukan.


"Untuk mama. Tapi aku tahu ini tidak mudah apalagi Duke of Lumiere adalah lawan yang sulit dikalahkan. Tapi yang jelas, aku akan membunuhnya. Suatu hari nanti."


"Tapi ... bagaimana dengan saudaramu?" tanya Declan gemetar.


"Saudara?" Eve terkekeh, "Jika mereka menghalangi jalanku, mungkin mereka akan bernasib sama seperti ayahnya. Apalagi pewaris Lumiere itu." Dia mendesis kesal, "Walau saudara kandung, aku tetap akan berada di pihak mama. Dari yang aku lihat, Declan tidak begitu tertarik dengan kehidupan mama yang jauh dari Carringtown. Dia sibuk memikirkan dirinya sendiri. Bisa dibayangkan jika dia menjadi duke selanjutnya. Disegani, tapi tidak bisa bertindak apa-apa untuk orang terdekatnya. Orang yang sudah melahirkannya."


Mendapati kritik tajam melebihi raja ataupun Duke of Lumiere, Declan merasa tubuhnya seperti disiram air es. Seburuk itukah dirinya di mata Eve?


"Tidurlah." Declan menyerah akan fakta-fakta yang menyerangnya seperti anak panah yang dilesatkan bersama-sama. Dengan lembut, dia menarik selimut hingga sebatas dada untuk Eve yang dalam hitungan detik sudah tertidur pulas.


"Jika kau ingin membunuhku, Eve. Maka lakukanlah." Declan tersenyum getir. Dia mengusap dahi adiknya yang basah karena keringat. "Lakukanlah jika menurutmu aku adalah penghalang ambisimu," ujarnya sebelum pergi dan menutup pintu dengan sangat perlahan.


......................


Tadaa!


Kita kedatangan tokoh baru ya gaes🤣


Buat yang mau liat siapa tokoh barunya, bisa di cek di prolog🙈


See you next episode~


Sebagai author yang perhatian, author cuma mau bilang;


Jangan sampai telat makan😺👍🏻

__ADS_1


__ADS_2