
Acara berlangsung melebihi harapan. Tepatnya malam ini, saat Eve terlihat begitu cantik dengan gaun putih susu berhiaskan ikat pinggang bertahtakan berlian biru di setiap sisi. Keluarga Aslein bahkan begitu malu saat tahu siapa Eve sebenarnya, wujud perdamaian Sasania dan Brodsway. Setelah memberikan penghormatan kepada raja dan ratu, satu keluarga itu langsung pulang sebelum Keluarga Lumiere menyadari kehadiran mereka.
Sekarang Pangeran Lucas sudah resmi menjadi putra mahkota. Begitu juga dengan Eve yang resmi diumumkan sebagai putri sah Lumiere dan sebentar lagi akan menjalani upacara pertunangan di Brodsway, tepatnya satu bulan dari sekarang.
Semua orang yang terkait dalam hal ini terkejut. Terutama duke yang sejak awal sudah meminta waktu satu tahun kepada raja, namun belum mencapai setengah tahun, pertunangan sudah akan dilakukan.
Zachary menatap tajam sang raja yang duduk di atas takhtanya. Mendebat pria tua itu di sini sama saja dengan melempar bumerang, bukannya berhasil mengembalikan keadaan, yang ada dirinyalah yang nantinya akan dicap sebagai orang yang tidak patuh terhadap keputusan raja.
Eve yang awalnya bisa tersenyum lebar kini seperti dihempas realita. Kedudukannya sebagai bangsawan, tidak lebih dari sekedar dimanfaatkan. Dia tidak bisa bergerak kemana-mana lagi seolah hidupnya sudah diatur oleh mereka-mereka yang memiliki kuasa. Tidak ada lagi bermain di luar sampai larut malam, apalagi sampai berlarian bebas di padang rumput yang membentang hijau sejauh mata memandang. Kehidupan menyenangkan bersama Margaret dan Garlein dulu seperti mimpi indah baginya.
Kehidupan ini ... seolah bukan miliknya lagi. Dan memang itulah adanya.
"Wah, aku jadi semakin tidak sabar menunggumu menjadi istriku, cantik." Pangeran Julius mendekat, lalu memeluk pundak Eve yang terbuka. "Pokoknya setelah hidup di Brodsway, kau akan merasa menjadi ratu di sana. Semua orang akan menganggap dirimu spesial, khususnya di dalam hatiku yang lembut ini. Bahkan jika kau mau, cukup jentikkan jari saja dan seluruh Brodsway akan aku perjuangkan untukmu, sayang."
Bukannya senang, Eve malah merasa geli dengan panggilan aneh yang Pangeran Julius sematkan kepadanya. Berlebihan, Eve tidak pernah menginginkan Brodsway atau apa pun itu. Dia hanya ingin mengembalikan Margaret ke kehidupan lamanya yang nyaman, namun sepertinya pemikiran itu sebentar lagi akan dia tepis. Seiring berjalannya waktu, Eve mungkin akan menyerah. Melihat Margaret sendiri tidak memberinya peluang untuk membantu mengembalikan kedudukan sang ibu, mustahil Eve bisa bergerak sendiri tanpa persetujuan Margaret.
Dan sekarang Eve tahu. Kehidupan bangsawan itu tidak ada enaknya sama sekali. Dia memiliki harta yang lengkap dan bertumpuk, namun bukan berarti semua itu bisa dia nikmati tanpa pengorbanan.
Dari kejauhan Lucas hanya menatap kedua pasangan itu datar dengan segelas arak yang tersisa setengah gelas di tangan kanannya. Untuk sementara dia tidak bisa menghampiri Eve karena bangsawan-bangsawan tua ini dengan cepat mengurumuninya sekadar untuk mengucapkan selamat sekaligus menawarkan putri-putri mereka yang genit itu. Cih, dasar penjilat. Jangan bermimpi bisa mengambil kursi putri mahkota dari Eve, setidaknya itulah yang Lucas katakan di dalam hatinya.
Dan sekarang, untuk pertama kalinya, hati Lucas menciut saat menyaksikan bagaimana tangan Julius sialan itu berhasil mendarat di pundak calon istrinya. Calon istri Lucas maksudnya, bukan Julius. Apalagi saat mendapati bagaimana senyum mesum itu terpatri di bibir pangeran dari Brodsway, Lucas rasa-rasanya ingin sekali menghajar orang itu di sini.
Lucas menarik napas panjang. Tidak, dia harus bisa mengendalikan emosi. Jika kelepasan lalu menghabisi Julius, bukan hanya dirinya yang terkena dampak, namun juga Eve sebagai pihak yang lebih rentan diterpa gosip. Bangsawan baru yang berhasil membuat keributan di antara dua pangeran. Dia tidak ingin itu terjadi.
"Putra Mahkota, apakah terjadi sesuatu?"
Lucas mengarahkan pandangannya kepada orang yang memanggilnya.
Lucas menggeleng. "Tidak ada apa-apa. Lanjutkan saja penjelasan Anda."
"Ini tentang ekspansi ke wilayah Utara, Yang Mulia ...."
Fokus Lucas kembali terbagi kepada pemandangan yang berhasil membuatnya semakin panas. Sudah seenaknya menggandeng Eve, kini Lucas dapat melihat bagaimana Pangeran Julius mulai memaksa Eve untuk menyingkir dari keramaian.
Ini pestanya Eve, dia tidak boleh pergi!
"Jadi bagaimana, Putra Mahkota?"
"Ekspansi ke wilayah Utara cukup penting untukku. Tidak bisa dibahas di sini, kita harus menenangkan diri sejenak dan berpikir matang. Mungkin bisa kita bahas di lain hari, di ruang kerjaku. Salin peta spesifiknya dan besok pagi serahkan kepada Jenderal Nicholas."
"Baik, saya mengerti, Your Highness."
"Kalau begitu aku permisi." Usai bangsawan itu menunduk hormat, Lucas segera menyapukan pandangannya ke segala penjuru aula istana. Hilang, jejak Eve tidak ditemukannya padahal Lucas hanya lengah sebentar. Dia buru-buru naik ke lantai dua supaya bisa memantau ke segala arah. Masih sama, nihil. Sekarang Lucas yakin bahwa Julius membawa Eve keluar dari area aula.
Sialan! ke mana mereka pergi! rutuk Lucas tersengal.
"Putra Mahkota, Anda ingin pergi ke mana~"
Seruan manja dari gadis-gadis bangsawan Lucas hiraukan. Dari kejauhan dia dapat melihat putra-putra Lumiere yang saling berpisah tampak menikmati pesta tanpa adik bungsu mereka. Sekali lagi Lucas ingin mengumpat. Bodoh, apa yang ingin Julius lakukan sampai membawa Eve tanpa sepengetahuan orang-orang?!
Lucas membuka jendela di sisi selatan. Begitu angin malam mengembus wajahnya, Lucas mematung begitu menyadari perbuatan Julius yang berada di bawah sana. Dia masih bersama Eve, namun keamanan gadis itu sekarang sedang terancam.
Tanpa memikirkan keselamatannya sendiri, Lucas melompat dari jendela lantai dua. Tanpa pengaman apa pun yang melekat di tubuhnya. Berkat terdidik di dunia militer, pendaratannya berhasil sempurna tepat di belakang dua orang tersebut.
__ADS_1
"P-pangeran, tolong lepaskan saya," isak Eve yang berusaha memberontak. Tetapi semua itu sia-sia, Julius jauh lebih besar ketimbang dirinya. Begitu mendominasi, sangat memaksa.
"Sebentar lagi kita akan menjadi sepasang suami istri, Lady. Jangan khawatir, aku adalah pria yang bertanggung jawab."
"Luke!"
Bugh!
Dengan satu kepalan tinju yang mendarat bebas di leher belakangnya, Julius segera ambruk tak sadarkan diri tanpa perlawanan sedikit pun. Lucas segera menghampiri Eve yang mematung. Menutupi pakaian bagian atas Eve yang hampir rusak dengan jubah kebesarannya, Lucas dengan sigap membopong tubuh ringkih Eve yang menggigil takut di pelukannya.
"Luke, d-dia...."
"Syut ... kau aman sekarang." Lucas merapatkan tubuh. Berusaha untuk menularkan ketenangan kepada Eve yang terlihat sangat panik.
"Aku akan membereskannya." Lucas terlihat tidak puas hanya dengan sekali mendaratkan bogem mentah kepada pangeran Brodsway itu. Dia berdiri, namun dengan cepat Eve menarik kakinya.
"J-jangan, biarkan saja. kau akan mendapatkan masalah besar...."
"Dia sudah kurang ajar!"
"Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika kau sampai dihukum karena menyakitinya." Eve menepis air matanya yang tidak bisa berhenti mengalir. "Dia bukan orang biasa, Luke. Brodsway akan bergerak jika kau membunuhnya."
"Yah, aku mengalah." Dia kembali berjongkok, mengelus lembut surai pirang Eve yang berantakan. "Aku memiliki bahu sebagai tempat untukmu menangis. Tenang saja, aku akan membalasnya berkali-kali lipat sampai seluruh anggota keluarga kerajaan Brodsway ikut merasakan dampak dari dosa besarnya itu. Aku berjanji."
Perkataan hangat Lucas seolah berhasil meluluhlantakkan semua pertahanan Eve. Dia mulai, terisak. Sampai tangisnya terdengar begitu pilu. Semua kesedihannya selama ini tergabung menjadi satu, dan sisi lemahnya ini hanya bisa dilihat oleh Lucas.
"D-dia berusaha mempermalukan ku. M-memangnya salah memakai baju bagus? Kenapa Pangeran Julius begitu iri padaku sampai-sampai dia berbuat demikian?" jelas Eve masih sesenggukan.
"Bukan ingin mempermalukan, Eve." Lucas membawanya duduk di sebuah kursi taman yang menghadap ke sebuah labirin raksasa. Menjauh dari Julius yang dibiarkan pingsan sendirian. Lucas dengan sabar menyingkirkan anak rambut yang berantakan di sekitar dahi wanitanya.
"K-keuntungan?"
"Cukup padaku, Eve. Jujurlah untuk satu hal ini."
Lucas berusaha tetap tenang walau jantungnya sedang berpacu cepat.
"Bagaimana perasaanmu terhadap Pangeran Julius?"
Terjadi jeda yang cukup panjang di sana. Lucas tidak bisa membaca pikiran Eve karena gadis itu selalu bertindak diluar ekspektasinya. Mengancingkan jubahnya yang melekat di tubuh Eve dengan telaten agar tetap hangat, Lucas kembali menatap gadis itu hingga Eve berhasil dibuatnya salah tingkah.
"A-awalnya aku sudah berusaha keras untuk menerima kehadirannya di hidupku dan juga berdamai dengan keadaan yang mengharuskan ku pergi dari sini. Tetapi setelah semua ini ... entahlah. Seolah semua jalan keluar sudah tertutup untukku." Eve memerhatikan rasi bintang yang menghiasi langit malam itu. Dia tersenyum getir, "tidak ada celah untuk menghindar, Luke. Aku sudah terkunci di sebuah tempat yang perlahan memakan sisi kebebasanku. Tidak ada tempat lain, tugasku hanya menerima apapun yang duke dan raja rencanakan. Hidupku yang sekarang ... apa bedanya dengan hidup sebuah boneka?"
"Aku akan membantumu memutus hubungan dengan Pangeran Julius jika itu membuatmu nyaman." Lucas tersenyum hangat. Perlahan, telapak tangan yang jauh lebih besar itu menggenggam tangan Eve dan menyalurkan kehangatan yang tidak pernah Eve dapatkan dari orang lain. "Jika mereka tetap menolak pun, maka masih ada aku yang bersedia menjadi rumah baru untukmu."
"Rumah baru yang di dalamnya hanya ada ... kita?" Tanya Eve ragu.
"Ya, tentu saja."
Hembusan angin malam menjadi satu-satunya cipta hening yang berhasil membuat keduanya nyaman. Karena tempat ini terletak di bagian dalam arah selatan istana, sangat jarang ada orang yang lewat dan untuk pertama kalinya, Lucas bersyukur akan hal itu.
"Luke."
"Hm?"
__ADS_1
"Boleh aku bertanya?"
Lucas menoleh. "Tentu saja."
"Bagaimana perasaanmu padaku?"
Demi Tuhan! Baru kali ini Lucas merasa sulit untuk menjawab pertanyaan ringan. Eh, tidak. Ini kali kedua Eve berhasil membuatnya kaku seperti ini setelah pertanyaannya kemarin di perpustakaan. Tentang cara membuat anak— cukup, jangan diingat!
"Seharusnya aku yang menanyakan hal itu kepadamu lebih dulu, Eve." Lucas mengacak-acak surai pirang Eve sampai gadis itu memberengut kesal.
"Aku ingin jawabanmu lebih dulu," sambung Eve di sisa tangisnya.
"Bagaimana jika jawabannya aku mencintaimu?"
Deg!
"Karena kau sudah tahu isi hatiku, maka dari itu setelah ini kau dilarang pergi meninggalkanku apapun alasannya." Lucas membawa telapak tangan Eve ke bibirnya, lalu mengecup singkat.
"Aku bukanlah pria yang dengan mudahnya mengatakan rasa suka kepada seorang wanita yang disukai, Eve. Aku harap setelah ini kau tetap percaya pada setiap tindakanku."
"Kenapa ekspresimu sepucat itu, Luke?" Eve mencoba tersenyum kemudian menyodorkan jari kelingkingnya di udara. "Jika benar begitu, mau kah kau berjanji padaku untuk selalu bersama-sama?"
Lucas memperhatikan kelingking kecil itu dengan tatapan lucu. "Hm, tapi aku tidak mengetahui apa pun mengenai perasaanmu. Jadi untuk apa saling berjanji jika pada akhirnya kau bisa saja meninggalkanku sewaktu-waktu?"
Wajah Eve memerah. "Aku janji tidak akan pernah meninggalkanmu."
"Apa alasanmu sehingga tidak mau meninggalkanku?" ujar Lucas lagi berusaha memancing.
"K-karena kita memiliki perasaan yang sama." Nada bicaranya merendah. Eve memalingkan muka, dia merasa malu.
"Apa? Aku tidak bisa mendengarmu, lady," goda Lucas berusaha menahan tawa. Reaksi Eve sungguh menggemaskan.
"Luke, jangan pura-pura tidak dengar!" Eve memberengut. Tahu bahwa Lucas berusaha mempermainkannya.
Pada akhirnya tawa Lucas meledak dan Eve terbawa suasana. Begitu menyenangkan, inilah yang Eve inginkan selama ini. Di bawah sinar bulan yang menjadi saksi bisu atas ungkapan rasa suka mereka, kini tanpa ragu Lucas menautkan kelingkingnya pada kelingking Eve. Membentuk sebuah janji yang tidak akan dia ingkari sampai akhir hayatnya.
"Bagaimana jika kita menikah? Mohon jawab permintaanku, lady. Bukan hanya aku yang menunggu, tetapi bulan purnama di atas sana juga sedang menanti jawaban darimu."
Eve tertawa renyah. "Mana bisa aku menolak permintaan pangeran yang paling tampan?"
......................
HORE HORE HORE🙀🎉
Tahukah kamu, bahwa episode kali ini jauh lebih banyak dari episode sebelumnya? yaitu setara dengan dua episode yang lain atau sekitaran 2000 kata🙀
Eh, enggak juga, sih. Kurang dikit-dikit dari 2000 kata, hehe.
Kelakuan Pangeran Julius enggak aku kasih deskripsi yang lebih jelas, ya. Takut konsekuensinya, mueheh. Tapi sebagian pasti paham aja dia mau ngapain Eve jadi sampe berduaan🙄
Tim yang menerima pasangan apa adanya seperti Lucas, mana suaranya!🤩🌟
Tim yang cuma lihat cantik atau gantengnya doang, mah, mending minggir🙄🗡️
__ADS_1
Bisa kasih like, komen, dan vote-nya? Makasiihh, yaaa😆😆
See you next episode👋