Mendadak Bangsawan

Mendadak Bangsawan
Penasaran itu Berbahaya


__ADS_3

"Saya dengar tadi ada orang yang berani menerobos kemari, My Lord," ujar Ryan pagi itu, antusias. Pria itu adalah pelayan utama di tempat Ethan. Ceria dan penuh semangat, benar-benar aura yang mampu menghangatkan sekitarnya.


Ryan meletakkan rak dorong berisi makanan itu di samping tempat duduk Ethan, terlihat sesekali pria itu mengernyit samar di tengah pekerjaannya. "Siapa mereka?"


"Kenapa kau ingin tahu?"


Ryan menatap ke arah lain. "Ya ... sebagai pelayan utama di sini, saya rasa saya berhak tahu."


Sayangnya, Ryan adalah orang kepercayaan Zachary. Bahkan sebelumnya dia pernah bekerja di istana. Tidak menutup kemungkinan Ryan juga bekerja untuk raja.


Ethan tertawa renyah. "Mereka adalah putra mahkota dan adikku, Lady Luvena," ungkapnya jujur.


"Putra Mahkota?!" serunya kaget. Namun mengerti akan keheranan Ethan terhadap reaksinya yang berlebihan, Ryan buru-buru menormalkan ekspresinya. "Kepentingan apa yang menyebabkan beliau repot-repot datang kemari? Dan juga, bersama ... Lady Luvena?"


"Mereka saling mencintai. Jadi sudah sewajarnya saling memperjuangkan. Aku kagum dengan kegigihan putra mahkota untuk merebut adikku dari Pangeran Julius. Yah ... sekarang aku menjadi semakin penasaran, apakah mereka berdua sudah berhasil keluar dari sini atau belum, ya."


Ethan mengambil selembar kertas berniat menuliskan sesuatu di atasnya. Melihat hal itu, Ryan buru-buru membantu mengambilkan pena bulu dan tinta celup di dalam sebuah rak khusus.


"Untuk siapa surat itu, My Lord?"


"Untuk Beckett. Kebetulan dia ada di luar. Mungkin bisa melakukan sesuatu."


Ethan kembali menulis. Kali ini lebih serius. Bahkan dia menggunakan tulisan rumit, sebuah tulisan yang hanya bisa dibaca oleh mereka-mereka yang memiliki kasta sebagai bangsawan sehingga Ryan tidak bisa membaca sebagian bahkan satu pun huruf dari isi surat tersebut. Setelah selesai, Ethan menggulung suratnya sendiri lalu memanggil merpati kesayangannya yang memiliki bulu hitam pekat, begitu tersamarkan jika dia terbang di malam hari. Mengikat surat itu tepat di kakinya. Setelah itu Ethan mengelus lembut bulunya yang halus.


"Sepertinya surat rahasia."


"Ya?" Ethan menoleh. Dalam sekejap burung merpati itu terbang bebas di udara usai Ethan menerbangkannya di balkon. Meninggalkan Ethan dan Ryan kembali berdua seperti sedia kala.


"Tentu saja rahasia. Aku tidak ingin ada orang lain yang mendapatkan surat itu lalu membaca isinya tanpa sepengetahuanku atau pun Beckett." Ethan kembali duduk. Kali ini lebih tenang, dia menyesap teh hijau yang masih beruap itu perlahan.


"Untuk apa putra mahkota kemari, My Lord?" Ryan kembali mengulang pertanyaan yang sama. Dia belum puas dengan jawaban yang Ethan berikan sebelumnya. "Pasti ada sesuatu, kan."


"Memang ada sesuatu." Ethan sengaja membuatnya semakin penasaran.


"Jika diperkenankan untuk tahu, apa itu, My Lord?"


"Semakin sedikit yang kau tahu, maka lebih baik," balas Ethan lagi. Sebenarnya itu adalah peringatan terakhir yang Ethan berikan.


Ryan bersikeras. "Anda bisa mengatakan segalanya kepada saya. Anggap saja saya ini adalah tempat curhat Anda, My Lord."


'Ini berita penting. Yang Mulia Raja harus tahu apa yang sedang di perbuat putra mahkota! Aku tidak boleh melewatkannya!' batin Ryan bersemangat.


"Baiklah jika kau memaksa. Sebenarnya aku memang membutuhkan teman curhat." Kali ini Ethan mengambil sepiring panekuk yang berada di sudut meja lain. Camilan pagi yang sengaja dia sisakan. Memotong bagian tengahnya dengan anggun menggunakan pisau dan garpu, sirop mapel di bagian atas langsung saja melumeri kue seperti air terjun.

__ADS_1


"Setelah sekian lama, akhirnya salah satu anggota keluarga kerajaan mau mengakui keberadaan ku. Pangeran Lu— ah, bukan. Putra Mahkota. Dia mempercayakan jabatan penting untukku karena aku berhasil melewati tes rahasia yang dia berikan. Semua yang kudapat ini adalah hasil kerja kerasku, Ryan. Bukan dari bantuan Declan ataupun duke sendiri."


"Ah, jadi Anda akan menggantikan posisi salah satu menteri, begitu?"


"Tidak. Posisi yang ditawarkan putra mahkota jauh lebih hebat dari itu," jawab Ethan bangga. Sama sekali tidak berminat untuk menutupi kesenangannya.


"Dia menawarkan jabatan kepadaku sebagai tangan kanan Ksatria Nyx. Bagaimana, sangat hebat, kan?" Ethan memasukkan potongan panekuk ke dalam mulutnya.


"Ksatria Nyx? Apa hubungannya dengan putra mahkota?"


Ryan mendekat. Mengambil teko naga dari nampan kaca lalu menuangkan isinya ke dalam sebuah cangkir.


"Belum tahu, ya. Putra mahkota adalah orang terhebat di dalam internal pasukan elit itu. Dia sering membunuh tanpa ampun, lho. Apalagi terhadap orang-orang yang menyulitkan jalannya, His Royal Highness tidak akan tinggal diam," bongkar Ethan santai. Bahkan dia bersandar pada kursi kerjanya, menerima cangkir yang disodorkan Ryan. Cangkir berisikan alkohol rendah. Ethan menghabiskannya dalam sekali tenggak.


"Saya baru tahu, My Lord. Sebuah berita yang mengejutkan. Tetapi melihat bagaimana prestasi putra mahkota selama ini, memang tidak mustahil baginya bisa berjaya di antara Ksatria Nyx." Ryan terkagum-kagum. "Ah, iya. Saya harus mengantar teko-teko ini ke dapur dan meminta minuman baru untuk Anda. Kalau begitu saya pamit, My Lord."


Ethan mengangguk, masih tersenyum tenang. "Ya, ya, silakan."


Ryan menunduk hormat. Ia mendorong rak dorong berisikan teko-teko itu dengan perasaan senang. Banyak sekali berita penting yang dia dapatkan dan harus segera dilaporkan kepada Yang Mulia Raja paling lambat sore ini. Alasan Yang Mulia Raja sendiri sehingga memata-matai kedua anak tidak sah Lumiere —Ethan dan Beckett— karena dia membenci keduanya. Sejak awal memang begitu, dan selamanya akan terus begitu. Anak yang tidak diinginkan negeri seperti mereka, tidak boleh berkembang di bawah Sasania selagi Raja Hudson memimpin.


Belum sampai Ryan menyentuh gagang pintu, sebuah pisau dengan tepat mengenai lehernya. Menancap. Perlahan ia meraba belakangnya, dan memang benar ada sebuah pisau berlumuran darah yang tercampur dengan sirop mapel di sana. Dia berbalik, namun betapa terkejutnya Ryan karena kini Ethan sudah berdiri santai tepat di belakangnya.


"M-my Lord, apa maksudnya ini?" Tangannya yang baru saja mengelap darahnya sendiri itu tampak bergetar, begitu juga dengan tatapannya yang gentar berbanding terbalik dengan reaksi yang Ethan berikan.


Ethan mendekat. Dia menepuk kedua pundak Ryan sampai pria yang memiliki tubuh jauh lebih pendek darinya itu semakin bergetar hebat. Senyum tipis tidak sekalipun lepas dari bibir Ethan.


"S-saya berjanji akan tutup mulut kepada siapapun, My Lord. Saya bersumpah!"


"Eum, sayangnya putra mahkota sudah begitu percaya kepadaku sampai-sampai sangat sulit bagi diriku sendiri untuk percaya kepada orang lain. Takutnya ada pengkhianat. Aku minta maaf, ya."


Tanpa rasa bersalah, Ethan memegang kepala Ryan kuat-kuat lalu memelintirnya seratus delapan puluh derajat. Ryan tidak sempat berteriak. Rasa yang teramat sakit menghampirinya tiba-tiba. Kepalanya seperti remuk. Lehernya patah. Dalam sekejap, tubuh pria itu melemah, lalu limbung ke lantai tanpa disangga oleh apapun.


Dalam sekejap ia mati.


"Aku berada dalam kesulitan jika Yang Mulia Raja sampai mengetahui segala hal yang ku ceritakan padamu barusan."


Ethan berbalik. Dia menyeka keringatnya dengan punggung tangan, lalu berdecak kesal.


"Ah, padahal aku sedang tidak ingin mengotori tanganku. Tapi dengan penasaran, tanpa sengaja kau lah yang memaksaku untuk melakukannya. Ck, Ryan, Ryan."


Ethan kembali duduk di kursi kerjanya. Membiarkan Ryan terbaring kaku di depan pintu masuk sambil menunggu seseorang untuk datang kemari dan membereskannya. Yah, panekuk miliknya jauh lebih menarik ketimbang pemandangan di depan sana. Akhir-akhir ini karena pekerjaannya menumpuk, Ethan merasa cepat lapar.


"Yah, pisaunya masih menempel di leher Ryan?" Ethan terkekeh. Walau begitu, dia tetap memakan panekuk dengan garpu yang tersisa.

__ADS_1


...----------------...


"Rasanya cukup aneh jika aku tidak berpamitan pada Beckett." Eve menatap bangunan lain yang cukup jauh dari tempat mereka berdiri saat ini. "Tetapi sulit menerobos kamarnya. Selain karena letak bangunannya di depan, melalui jalan yang sering prajurit lewati, Beckett juga sedang tidak ada di sini."


"Aku yakin Ethan akan menjelaskan semuanya. Beckett tidak akan membencimu karena tidak pamitan saja, 'kan?" hibur Lucas menepuk pundaknya lembut.


Sekarang mereka berada di sudut gerbang. Menunggu beberapa prajurit lengah agar bisa keluar tanpa meninggalkan jejak. Namun sayangnya penjagaan sedang diperketat, sehingga memakan waktu yang cukup lama agar bisa terbebas dari kompleks kastil Ethan menuju jalan tikus yang berada di belakang kompleks kastil Declan.


Eve mengangguk. Dia tak mungkin mempersulit Lucas lebih jauh lagi hanya untuk berpamitan kepada Beckett. Ketika mereka ingin bergerak, Lucas menghentikan Eve dengan memegang pundaknya.


"Ada apa?"


Eve berbalik. Dilihatnya wajah Lucas yang kembali serius.


"Aku bisa merasakan bahwa Declan berada di sini. Setelah Ethan dan Beckett, apa kau tidak ingin berpamitan dengannya juga?"


Eve menegang. Jika sampai Declan tahu, mungkin rencananya untuk kabur berakhir gagal. Jelas saja, Declan terlihat sangat royal terhadap kerajaan. Dia patuh. Dan mungkin, keberadaannya sekarang juga diperuntukkan agar semua rencana Lucas tidak berhasil lalu kembali memaksa Eve agar duduk diam di kamarnya selama seharian.


Apa yang harus Eve lakukan sekarang?


...****************...


Halo halo halo!


Gimana nih menurut kalian, Ethan keren gak? keren lah yaaa kan dia kayak psikopat. Main tebas tebas aje gampang banget kayak nebas rumput depan rumah😆


Warning!! jangan ditiru, ya. Buat adik-adik kecil yang imut yang lucu. Cuma cerita, gak boleh di praktekin😉


Mari kita lihat, seberapa banyak pendukung bangsawan-bangsawan kece di sini. Komen kalau kamu pendukungnya, yaa!🤩


Tim Eve si yang paling cantik, mana nih?👋


Tim Declan mana suaranya!👋


Gimana kalau tim Lucas?!👋


Kalau tim Zachary, ada gak?👋


Krik-krik...


O-oke mungkin pendukung Duke of Lumiere belum datang, ya guys ya😭


See you next episode, all👋😉

__ADS_1


__ADS_2