Mendadak Bangsawan

Mendadak Bangsawan
Menjadi Teman


__ADS_3

Langit jingga dengan cepat berganti warna menjadi gelap. Angin bertiup lebih dingin dari yang sebelumnya namun bukan berarti hal itu bisa mencegah keluarga Paman Johan dan Lumiere untuk makan bersama langsung di alam bebas, tepatnya di depan rumah mereka yang menyediakan beberapa petak tanah kosong yang bisa dipakai sebagai tempat makan malam.


Berbagai ikan dan daging dibakar di atas arang yang masih menyala, menciptakan aroma khas yang memaksa perut memberikan sinyal agar segera diisi. Lampu hias sepanjang lima meter dipasang di bagian atas sebagai penerangan. Benar-benar sempurna apalagi saat mereka berbincang hangat dan akrab seperti satu keluarga.


Dibantu Eve dan Bibi Sese, Margaret bergabung dengan mereka semua. Beckett yang awalnya sibuk membolak-balik ikan di atas api, sebagai orang pertama yang mengetahui keberadaan Margaret lantas bersuara.


"Eh, Bi— maksudnya mama kenapa kemari? Seharusnya 'kan banyak-banyak istirahat."


Dengan cekatan Ethan memberikan sebuah kursi agar sang duchess bisa duduk di dekat api unggun. Margaret tersenyum simpul, tidak menyangka jika putra Britney ternyata tidak seburuk ibunya.


"Dia benar. Seharusnya kau tetap istirahat di kamarmu sampai benar-benar pulih," ujar Zachary menimpali. Dia mendekat lalu memberikan mantelnya untuk Margaret. "Di sini cukup dingin."


Tersentuh? Tidak, Margaret bahkan tidak pernah mengharapkan kehangatan pria itu lagi.


"Sudah beberapa hari di dalam kamar membuatku sangat bosan jadi apa salahnya bergabung bersama kalian?" Margaret terkekeh. "Sebelumnya Eve juga mengatakan kalimat yang sama seperti kalian kepadaku. Jadi tolong, jangan larang aku untuk bersenang-senang di sini bersama kalian."


"Tentu saja mama bisa bergabung di sini." Ethan mendekap bahu adiknya itu kuat. "Beck, kau tidak perlu melarang mama."


"Sesuai perjanjian kita. Mama harus kembali ke kamar sebelum tengah malam, ya," peringat Eve khawatir. "Aku tidak mau mama memaksakan diri."


"Jangan khawatir, mama lebih kuat dari yang Eve bayangkan." Margaret mengelus lembut surai putrinya.


"Tentu saja, mama bukan wanita lemah. Mama adalah orang yang paling kuat!"


"Kau ini pintar memuji, ya," jawab Margaret tersenyum lalu mengedarkan pandangan. "Eum, Eve. Omong-omong di mana kakakmu?"


Eve tahu betul siapa yang Margaret maksud. Declan. "Mungkin sedang melakukan sesuatu. Sebentar lagi dia kemari. Mama tenang saja."


"Eh, Margaret?" Sarah— istri Johan tersenyum tatkala melihatnya. Wanita itu baru saja datang dari rumahnya, mengambil beberapa perlengkapan makan yang akan digunakan. "Sudah mendingan?"


Margaret mengangguk. "Jauh lebih baik. Kesehatanku ini berkat kalian semua, terima kasih banyak."


"Hoi, makanan sudah matang. Ayo kemari, jangan lupa bawa piring masing-masing!"


"Nah, mari kita makan malam," ajak Sarah sembari membantu Margaret berjalan mendekati meja yang berbaris berbagai macam makanan dari sosis bakar, ikan, bahkan ayam. Sempurna, benar-benar seperti pesta dua buah keluarga.


"Malam ini pertama kalinya kita makan bersama ayah dan kakaknya Eve, ya," sambung Sarah ringan. Dia menusukkan garpunya pada sosis yang masih mengepul lalu meletakkan di atas piring. "Kami harap kami bisa berkenalan lebih jauh terhadap kalian."


Beckett mengangguk cepat sembari melahap ikan tangkapannya hari ini. Rasa ikan yang dia tangkap sungguh berbeda. Lebih lezat tentu saja. Bahkan masakan koki di kastil tidak sebanding. Tentu saja sangat enak, sebab setelah beberapa kali percobaan—yang mana sebelumnya Beckett hanya mendapatkan sampah— barulah dia bisa mendapatkan ikan terbaik ini.

__ADS_1


"Ish, memalukan," cibir Eve terang-terangan. Sontak yang lain tertawa mendengarnya.


"Enak!" balas Beckett tanpa menghentikan kunyahannya.


Selain ikan tangkapan sendiri, ternyata setelah seharian beraktivitas di luar dinilainya cukup efektif membuat makanan semakin lezat. Beckett kelelahan, dan bayaran ikan ini sungguh-sungguh istimewa!


"Ayo ambil lagi. Makanannya masih banyak," ujar Johan senang. Pria itu juga mengambil ayam bakar dan meletakkannya di atas piringnya.


Di tengah kesenangan dua keluarga tersebut, Eve menyadari bahwa Declan maupun Garlein tidak ada di sekitarnya. Mengingat kejadian beberapa jam yang lalu, tidak menutup kemungkinan keduanya kembali terlibat dalam pertengkaran tanpa diketahui oleh siapapun. Memikirkan hal tersebut, Eve menjadi tidak berselera. Dia kembali meletakkan piringnya di atas meja.


"Kenapa? Tidak suka?"


Mendengar teguran dari Duke of Lumiere, baik Johan, Sarah, maupun Margaret sama-sama menatap ke arah Eve.


"Tidak, bukan begitu. Rasanya kurang lengkap saja jika memakan makanan semeriah ini tanpa ditemani sirup jeruk," alibinya lancar. Untuk melengkapinya, Eve melemparkan senyuman hangat lalu berdiri.


"Kalian makan saja duluan. Aku ingin mengambil sirup di rumah. Tidak akan lama, kok!"


...----------------...


Malam ini langit terlihat begitu gelap. Tak terlihat ada bulan yang menggantung di atas sana, meninggalkan keheningan pekat yang menemani Garlein dalam kesendiriannya. Benar-benar sendiri, dan dia hanya bisa mendengar ringkikan binatang malam yang jauh di dalam hutan.


Garlein tahu bahwa ayah dan ibunya tengah asik bersama keluarga Eve yang selama ini tidak pernah terlihat batang hidungnya itu. Dan dia tidak berniat bergabung bersama mereka. Tidak untuk saat ini.


"Ku dengar di dalam hutan sebelah selatan Clingeer terdapat tiga ekor beruang liar."


Garlein yang terkejut dengan cepat mengalihkan pandangannya menuju asal suara. Dilihatnya Declan masih begitu memukau dengan pakaian sederhananya. Dada pria itu tegap, seperti orang yang berasal dari pasukan militer. Tatapannya pun tajam, bahkan sempat menciutkan nyali Garlein di awal pertemuan mereka.


Garlein memalingkan muka lalu berdecih. "Sok tahu."


"Tidak pernah ada yang salah dari kata-kataku."


"Aneh." Berbanding terbalik dengan gestur menghindar yang baru saja dia perlihatkan, kini Garlein terang-terangan menatap tepat di depan bola mata Declan.


"Banyak hal yang jarang diketahui orang-orang tentang Clingeer, tetapi kau mengetahuinya. Dari mana keluarga kalian berasal, apakah dari desa sekitar sini? Atau memang kalian orang-orang berpendidikan?"


"Lima buah buku setiap hari. Itu kewajiban dari ayahku." Declan memutuskan duduk di samping Garlein yang terkesima akan jawabannya. "Jika tidak sesuai ketentuannya, dia akan memberikan hukuman."


"Tipikal pria yang sangat kejam."

__ADS_1


Mendengar komentar Garlein, Declan terkekeh. "Berkat kekejamannya itu aku berhasil menjadi orang yang berguna."


"Sepertinya kau tahu banyak tentang dunia luar," respons Garlein lagi.


"Yah, begitulah. Selanjutnya, aku akan mengajari Eve tentang dunia luar yang sangat luas. Tempat di mana dia tidak boleh bersikap simpatik apalagi sampai membuat masalah. Itulah caraku ... cara untuk menebus kelalaian ku selama ini terhadap dirinya."


"Apakah aku bisa bergabung?"


"Eh?"


"Aku ingin mengetahui dunia luar juga, Dec," ujarnya penuh harap. Namun Garlein menutupinya sambil menatap langit yang kosong. "Aku mempunyai rencana untuk diriku sendiri. Tinggal di Clingeer benar-benar membuat hidupku terjamin, tetapi aku belum mencoba seperti apa kehidupan di luar sana. Kehidupan tanpa uang orang tua, tinggal di rumah yang berbeda, lalu memilih pasangan berdasarkan cinta. Aku ingin mewujudkan semuanya."


Garlein menurunkan tatapannya. Menendang-nendang kerikil yang berhasil dibuatnya menjauh. Hah ... apa yang bisa dia harapkan dari seseorang yang sudah memiliki imej negatif tentang dirinya? Tadi siang, mereka bertengkar diawali oleh mulutnya yang tidak tahan untuk mencibir. Bukan, menghujat lebih tepatnya. Dan permintaannya barusan terdengar seperti seorang manusia yang tidak tahu diri.


"Tentu saja. Apapun yang ingin kau tahu, kau bisa menuliskan surat untukku."


Garlein mendongak. "Tapi ... aku sudah menyinggung perasaan mu tentang Eve. Bagaimana bisa kau malah membantuku?"


"Apa yang kau katakan tadi siang, itu benar." Declan memejamkan mata lalu menarik napas panjang. "Tidak seharusnya aku bersikap seperti itu."


Hening mengambil alih. Lagi, hanya ringkikan binatang malam yang mendominasi indra pendengaran mereka. Tidak lama setelahnya, mereka mendengar langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah berlawanan. Declan kembali berdiri, siaga. Namun setelah mengetahui siapa yang mendekat, senyumnya perlahan terukir.


"Ah, rupanya kalian di sini. Cepatlah, makan malam sudah siap. Kalau terlambat kalian tidak kebagian!"


"Makanan jatahku, kau saja yang habiskan." Declan mengacak-acak surai pirang Eve tanpa perasaan. Gadis itu dibuatnya berdecak kesal.


"Ish, tidak-tidak. Aku mau makan bersama kalian. Titik." Eve mengarahkan tatapannya kepada Garlein. "Kau juga, Garlein. Jika kalian berdua tidak mau makan, maka aku pun juga tidak akan makan!"


"Hah, kata siapa kami tidak akan makan? Ayo, kita ke sana!" timpal Garlein cepat-cepat sambil menyeret Declan dan Eve bersamaan.


......................


Terlambat update, sorry yaa😭🤣


Episode selanjutnya siap-siap ya. Spoiler dikit, bakal ada adegan Zachary-Margaret berduaan🙈


but, jangan berharap di sini ada adegan ++, bukan yaak🤣


See you next episode👋

__ADS_1


__ADS_2