Mendadak Bangsawan

Mendadak Bangsawan
Janji di Awal Pertemuan


__ADS_3

"Ksatria Nyx?"


Baik Declan yang berada di sisi kanannya maupun Jenderal Nicholas yang duduk di sebelah kirinya itu serempak mengangguk.


"Yakin memakai jasa mereka lagi? Aku tahu kita pasti akan mendapatkan perbatasan barat kembali, tapi uang yang mereka minta sebagai imbalan juga tidak sedikit." Lucas menghela napas. "Dengan bayaran begitu tinggi, bukankah mereka itu bermaksud untuk memeras kerajaan?"


"Uang yang mereka keluarkan untuk melatih banyak pasukan seprofesional itu juga tidak main-main, Your Highness. Saya rasa wajar jika mereka menginginkan hasil yang setimpal," jawab Jenderal Nicholas, "toh, dalam pekerjaannya mereka juga bertaruh nyawa. Seharusnya tidak masalah, kan, jika menggunakan sedikit kas kerajaan untuk mereka?"


Mendengar opini sang jenderal, Pangeran Lucas pun mengangguk. "Aku mengerti. Lalu bagaimana menurutmu, Lord Lumiero?"


"Dikarenakan sebentar lagi istana akan menggelar peresmian kedudukan Anda sebagai Putra Mahkota, saya rasa tidak masalah untuk menggunakan Ksatria Nyx. Bukan untuk memanjakan prajurit istana, hanya saja untuk momen penting kita harus sebisa mungkin menekan angka kematian di Sasania. Seharusnya disaat-saat seperti ini, pertumpahan darah harus dihindari. Tapi apa boleh buat, kan."


Jenderal Nicholas mendelik. "Saya sempat mengira Anda tidak tahu apa-apa mengenai kejadian di istana akhir-akhir ini, My Lord," ujarnya mengingat sikap Declan yang sebelumnya seperti tidak tahu-menahu perihal Pangeran Lucas yang sebentar lagi akan mengambil alih takhta putra mahkota.


Declan mengangkat bahu. "Mendengar berita seheboh itu tentu membuat keterguncangan terjadi, lebih-lebih bangsawan 'senior'."


"Oh, jadi Anda mengetahuinya dari Duke of Lumiere?"


"Tidak. His Majesty sendiri yang mengatakannya padaku."


Jenderal Nicholas mengangkat tangan. Ok, dia kalah.


"Hah ... apa boleh buat jika kalian seyakin itu." Pangeran Lucas mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. "Tetapi sebagai gantinya, aku menginginkan sesuatu."


"Apa itu, Your Highness?"


"Cari tahu siapa pemimpin Ksatria Nyx." Pangeran Lucas menikmati ekspresi kedua bawahannya yang terdiam kaku. "Anggap saja tugas kali seperti tugas tim. Jadi aku ingin kalian berdua bisa bekerja sama tanpa menjatuhkan satu sama lain. Oh iya, dan satu lagi. Ini tugas rahasia. Garis bawahi, tugas rahasia. Jika kalian mengetahui sesuatu, segera lapor padaku. Pastikan tidak ada satu pun yang tahu informasi yang kalian miliki."


"Baik, Yang Mulia!"


Sang pangeran tersenyum simpul. Untuk dua orang penuh ambisi seperti The Lord of Lumiero dan Jenderal muda Nicholas, Pangeran Lucas yakin mereka akan menemukan siapa pemimpin Ksatria Nyx itu cepat atau lambat.


...----------------...


Usai menghabiskan waktu seharian untuk bersenang-senang bersama kedua kakak tirinya, Eve akhirnya bisa berbaring dengan tenang. Malam mulai larut dan tentu saja tidak akan ada gangguan sedikit pun sebab sebelumnya Eve sudah memerintahkan para pelayan agar berhenti mengikutinya dan beristirahat di kamar masing-masing. Sebagai majikan, Eve cukup baik, kan? Tapi di balik semua itu, Eve menutupi sesuatu.


"Tidak perlu berpura-pura bersembunyi seperti itu. Lebih baik kau keluar sekarang sebelum aku melempar mu dari balkon!" seru Eve lantang dengan mata tertutup. Kedua tangannya dijadikan sebagai bantal, sedangkan separuh badannya jatuh di atas kasur dengan kaki menjuntai.


"Kau mempunyai insting yang bagus, Lady Lumiera." Pangeran Lucas keluar dari tempat persembunyiannya sambil terkekeh.


"Jika kau lupa, aku dulunya hidup di alam liar, Your Highness."

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, kenapa kau tidak berteriak? Seharusnya kau takut jika ada pria asing yang diam-diam masuk dan bersembunyi di dalam kamarmu." Lucas mengedikkan bahu, lalu memperhatikan langit malam melalui balkon yang gordennya dibiarkan terbuka. "Apalagi saat malam hari. Seharusnya kau lebih waspada."


"Itu karena aku mempercayaimu, Pangeran." Eve membuka matanya lalu merubah posisi menjadi duduk. "Lama tidak berjumpa. Bagaimana kondisi istana?"


Lucas membuang napas lelah. Dia memutuskan duduk bersandar di atas meja belajar yang letaknya tepat di samping tempat tidur. "Tidak ada yang spesial. Yah ... paling-paling kejadian Putra Mahkota kabur beberapa hari yang lalu, itu yang berhasil membuat istana sedikit gempar. Sisanya seperti biasa. Sibuk dan membosankan."


Eve membulatkan mata. "Putra Mahkota? Maksudnya Pangeran Felix?!"


Lucas mengangguk membenarkan.


"Tetapi apa yang membuatnya berani kabur?" Eve tercenung. "Sial, bagaimana nasib putra-putrinya?!"


"Mereka masih tinggal di istana dan tidak serta-merta diusir. Jadi tenang saja."


"Lalu bagaimana dengan istri-istrinya?"


"Diwawancarai. Mungkin salah satu dari mereka tahu ke mana tujuan Putra Mahkota pergi." Pangeran Lucas mengambil sebutir apel yang belum dikupas di atas nampan besi lalu memakannya. "Menanyai mereka itu sebenarnya hanya membuang-buang waktu. Mau bagaimana pun, mereka pasti lebih memihak Putra Mahkota sebagai suaminya dan memilih bungkam. Andai bukan karena Yang Mulia Raja aku jelas tidak akan mungkin memerintahkan beberapa orang untuk mewawancarai mereka. Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, cara itu kurang efektif."


Eve tercenung. "Bagaimana jika diberi sedikit ancaman? Barangkali mereka mau berkata jujur."


Lucas menggeleng. "Sesuai peraturan. Jika motif kejahatan belum jelas, anggota keluarga kerajaan tidak berhak disakiti."


"Kau sangat mengkhawatirkan mereka, ya?"


"Eh?" Eve menoleh.


"Bagaimana denganku?"


"Apa yang 'bagaimana denganku'?"


"Apakah kau tidak mengkhawatirkan aku juga?"


"Untuk apa menghawatirkan dirimu!" Eve mendengus. Berusaha sebaik mungkin untuk menutupi kedua pipinya yang memerah. "Kau tidak sakit, jadi tidak ada yang perlu dikawatirkan."


"Aku sakit, loh." Pangeran Lucas melemparkan tatapan berbinar seperti anak anjing yang menginginkan perhatian.


"Sakit apa?"


"Sakit hati karena kau melupakan janjimu," jawabnya disertai seringai geli.


"Janji?" beo Eve. Rasa-rasanya dia tidak pernah menjanjikan apapun. "Janji apa?"

__ADS_1


"Apakah aku perlu mengingatkanmu kembali?"


Pangeran Lucas berdiri. Perlahan menghampiri Eve yang duduk di tepian ranjang dengan perasaan tidak enak. Perasaannya semakin bertalu saat sang pangeran menunduk, mengungkung tubuh kecilnya di dalam kuncian lengan berotot Lucas yang tercetak jelas di balik pakaian serba hitam.


"Apa maksudnya ini, pangeran?!"


"Janjimu di pertemuan pertama kita. Ingat?"


Dengan tatapan kosong yang balik menatap netra abu-abu milik pangeran, Eve berusaha mengingat kejadian beberapa hari terakhir. Tepatnya beberapa mingggu—atau bulan yang lalu.


"Jika kau bisa menemui ku saat festival lilin diadakan, maka aku bersedia mengikuti permintaanmu barusan." Eve tersenyum miring. Saat festival berlangsung, Eve berniat mendekam di dalam kastil seharian penuh. Tidak mungkin pria bersurai hitam pekat di depannya ini bisa menembus pertahanan kastil Lumiere yang ketat. Tantangan yang dia berikan sama saja dengan mustahil. "Selamat tinggal. Aku harap kita tidak pernah bertemu lagi."


"Festival lilin!" kalimat tersebut keluar begitu saja tanpa bisa Eve cegah. Melihat senyum Pangeran Lucas semakin lebar, Eve semakin yakin bahwa yang dia sebutkan barusan tepat dengan maksud pangeran.


"Berita bagusnya, festival lilin diselenggarakan tepat malam ini," sahut Pangeran Lucas bersemangat, "dan aku sudah menemuimu, sama seperti perjanjian. Jadi ayo, sekarang juga kita pergi!"


"Ap-apa? Tunggu dulu!" Eve tidak bisa mencerna semua ini. "Acaranya dimulai malam ini?!"


"Tentu saja. Nah, ayo. Tidak perlu mengeluarkan alasan apa-apa. Sesuai kesepakatan sebelumnya, kau bersedia ikut denganku."


Lucas menggenggam erat tangan Eve dan hampir saja membawanya pergi dari kastil Lumiere.


"Tunggu dulu, Pangeran."


Lucas berbalik. "Huh, apa?"


"Aku ingin mengganti gaunku. Walaupun hanya untuk tidur, tapi gaun ini terlalu mewah untuk pergi ke luar sana," ujar t sembari memperhatikan gaunnya lagi dari atas ke bawah.


Pangeran Lucas mengacak-acak rambutnya lalu mengatakan, "gantilah. Tapi jangan pernah sekali pun berpikir untuk lari dariku."


Eve berdecak. "Ish, tidak akan. Lagipula aku sudah berjanji. Selagi bisa ditepati aku tidak akan ingkar."


Senyum tipis pangeran kembali terukir. Benar dugaannya, bahwa Eve dari keluarga Lumiere, sekaligus sepupunya ini benar-benar gadis spesial. Yang pertama, dia orang yang sederhana. Bukan maksudnya Lucas menginginkan wanita biasa-biasa saja, namun sifat seseorang akan terkuak dari caranya memilih pakaian. Dan yang kedua, Eve tipikal orang yang selalu menepati janji. Lucas sengaja memaksanya agar tahu, bagaimana reaksi Eve terhadap ajakannya. Dan terbukti gadis ini tetap menepati janji yang sudah lama mereka buat. Kira-kira dua bulan yang lalu.


Hah ... kalau begini bagaimana mungkin Lucas bisa tidak mencintainya? Malah pria itu merasa semakin jatuh dan jatuh setiap harinya.


......................


Nyempat-nyempatin up nihh😭🙏🏻


Fresh from word, semoga suka hahaha🙈

__ADS_1


__ADS_2